
Pagi pagi sekali Sofi sudah berada di dapur mungilnya dan mulai memasak sarapan untuk Suaminya, untuk menghindari pelakor, Sofi memasak sepagi mungkin dan akan membawanya ke kamar.
Tadi malam, setelah lelah bercinta dengan Suaminya, Sofi pun ke dapur untuk mengambil minum dan beberapa cemilan untuk mengganjal perutnya yang lapar karena kelelahan. Sofi membuka lemari makanan, tapi tidak menemukan makanan ringan kesukaannya. Padahal aku simpan disini, susu kotak di kulkas pun tidak ada, gumam Sofi pelan. Akhirnya Sofi hanya membawa sisa brownies yang masih ada di dalam kulkas, untuk dibawa ke kamarnya beserta sebotol air mineral.
Samar samar Sofi pun mendengarkan percakapan seorang wanita. Sofi pun mencari arah suara itu, ternyata Tiara, yang sedang duduk santai di halaman belakang dengan susu kotak rasa strawberry kesukaan Sofi dan beberapa cemilan yang diambil dari lemari makanan. Sofi melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh anak asisten rumah tangganya itu. Menggunakan fasilitas telepon rumahnya dengan santai duduk di kursi halaman belakang dan bersantai menikmati makanan ringan di sampingnya.
"Iya, gw bersyukur banget, nyokap gw bisa kerja lagi. Kan gw nebeng hidup enak. Mana Bos gw yang cowok ganteng banget. Sumpah!!." ucap Tiara dengan suara yang terdengar sedikit sombong.
"Iya, kata nyokap gw, gw bebas disini. Asal jangan ke kamar Bos gw itu. Gw jadi penasaran deh." ucap Tiara kemudian.
"Gw jalanin aja, secara gw masih muda dan cantik. Masa Bos gw gak tertarik sama gw." ucap Tiara pelan.
Sofi pun geram mendegar semua percakapan Tiara dengan temannya di telepon. Mau mengadu tapi tidak ada bukti. Sofi pun menjatuhkan botol minumnya ke lantai agar Tiara tahu bahwa ada Sofi sejak tadi disana.
"Ehh udah dulu ya Riska, besok malam gw sambung lagi. Ada suara ribut di ruang tengah, gw mau kesana dulu." ucap Tiara mematikan sambungan teleponnya.
Dengan cepat berlari ke arah dalam, namun Tiara tersentak kaget melihat Sofi yang sedang memunguti pecahan kaca dari botol minum yang ia bawa tadi.
Rendy pun keluar kamar dengan tergesa-gesa dan menghampiri Sofi.
"Fi.. kamu gak papa?" tanya Rendy pelan.
Rendy pun berjongkok dan ikut berpartisipasi memunguti pecahan kaca itu. Tiara yang masih diam membeku dengan telepon yang masih ada dalam genggaman tangannya pun terasa ingin dijatuhkan begitu saja.
Rendy menatap tajam ke arah Tiara yang masih diam di depan pintu kaca halaman belakang. Kakinya kaku dan sulit untuk dilangkahkan.
"Kamu? kenapa diam saja dari tadi disitu, bukannya menolong istri saya. Terus itu telepon kenapa di bawa ke belakang?" tanya Rendy dengan ketus.
"Maaf Pak tadi ada telepon masuk saya angkat, tapi salah sambung." ucap Tiara dengan terbata bata.
"Lalu hubungannya kamu bawa ke halaman belakang apa?" tanya Rendy tegas
"Tadi saya lagi mencari sinyal, lalu tidak sengaja terbawa sampai ke belakang. Dan saya mendengar bunyi pecahan botol. Ternyata Bu Sofi yang jatuh." ucap Tiara membela diri.
Bik Karsih pun terbangun dan langsung ikut membantu membersihkan pecahan kaca itu.
"Ayo Fi, kita masuk. Biarkan dibereskan oleh Bik Karsih. Dan Kamu! kembalikan telepon itu pada tempatnya." Ucap Rendy dengan tegas.
Rendy pun membantu Sofi berdiri dan memapahnya ke dalam kamar. Sofi hanya terdiam dan menurut dengan apa yang dilakukan oleh Rendy.
"Fi ... kalau mau apa apa bilang donk. Untung aku kebangun. Tadi mau ke kamar mandi, sadar kamu gak ada. Takut kabur." ucap Rendy pelan lalu terkekeh dan menjawil hidung Sofi.
"Kalau kabur kenapa? Kamu bakal nyariin aku?" tanya Sofi kepada Rendy.
Sofi hanya mendengus dan mengerucutkan bibirnya hingga terlihat menggemaskan.
"Kamu kenapa Sayang? ada sesuatu?" tanya Rendy pelan.
"Apa aku terlihat menyembunyikan sesuatu?" tanya Sofi kemudian.
"Aku mengenal kamu luar dan dalam. Bahkan batin kita sudah menyatu, aku tahu hatimu sedang tidak baik baik saja. Ada apa hemm? cerita sama aku?" tanya Rendy pelan.
Keduanya merebahkan diri dan tidur menyamping saling berhadapan. Tatapan keduanya saling mencinta.
"Aku tidak ingin salah paham Mas. Biarkan aku cari bukti dulu. Tiara punya niat yang tidak baik untuk rumah tangga kita." ucap Sofi pelan.
"Kamu yakin Fi?" tanya Rendy.
"Iya, tadi dia habis pakai telepon rumah untuk ngobrol dengan temannya dan bercerita tentang keadaan rumah ini." ucap Sofi datar, sambil mengingat kejadian tadi, yang begitu cepat dan membuatnya kesal.
Sofi pun dengan segera menyelesaikan memasak sarapannya dan membuat kopi lalu kembali lagi ke kamar untuk sarapan berdua saja dengan Suaminya.
"Assalamualaikum... Mas, aku cuma buat telur dadar rasa cinta." ucap Sofi lembut meletakkan makanannya di meja rias.
"Waalaikumsalam.... iya sayang gak papa. Kamu yakin hari ini mau ke rumah Umi?" tanya Rendy pelan.
"Iya, aku jadi malas dirumah Mas. Kita pasang CCTV Mas?" ucap Sofi pelan.
"Biarkan saja Fi. Kalau berbuat buruk pasti ada karmanya." ucap Rendy pelan. Menenangkan istrinya yang terlihat kesal tadi malam.
"Iya Mas, mau makan sekarang?" tanya Sofi kemudian.
"Suapin aku mau." ucap Rendy yang masih malas untuk bangun.
"Mulai mode manjanya." ucap Sofi.
"Masa iya minta suapin Tiara????" goda Rendy.
"Awas aja kalau berani. Potong itu bijik." ucap Sofi terkekeh.
"Ampun.... Fi ... itu harta Karun Abang, jangan dipotong." ucap Rendy tertawa.
JAZAKALLAH KHAIRAN