
SELAMAT MEMBACA
💚💚💚💚💚
Aroma nasi goreng yang sudah berada didepan mata pun telah mengunggah selera lidah Sofi. Tapi Sofi enggan memakannya. Moodnya yang tiba-tiba buruk karena Rendy yang sedikit mendiamkannya sejak tadi.
"Dimakan Fi, bukan cuma dilihatin aja." ucap Rendy pelan sambil menyuap satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Iya Mas Rendy. Masih panas, kita gak buru buru kan?" tanya Sofi menyelidik dengan menatap Rendy dengan wajah sendunya.
"Memang kamu mau kemana lagi?" tanya Rendy pelan masih fokus dengan makanannya.
"Jalan dong Mas, ini kan malam Minggu." ucap Sofi sedikit ketus. Nasi goreng seafood yang seharusnya menjadi makanan kesukaannya pun harus terhempas dengan sikap dingin Rendy malam itu.
"Habisin dulu makannya, baru nanti minta jalan. Ayok habisin dulu." ucap Rendy lembut sambil menyuapkan sesendok nasi goreng itu ke mulut Sofi.
"Mas Rendy, tadi kamu turun menemui Ronal kan? terus gimana?" tanya Sofi menyelidik.
"Urusan laki laki. Sudahlah kamu jangan membahas Ronal lagi didepanku. Ronal sudah menjadi masa lalumu. Oke Sofi? INGAT JANGAN BAHAS RONAL!!" ucap Rendy dengan tegas.
"Iya Mas, Sofi mengerti. Senin besok Sofi resign, surat pengunduran Sofi sudah diterima pusat. Sofi hanya ke kantor untuk urus gaji dan hak Sofi yang masih Sofi dapatkan. Kamu mau nemenin aku Mas?" ucap Sofi sedikit memohon.
"Fi, Mas kan juga sibuk, urusan dibali. Kamu sendiri saja ya sayang?" ucap Rendy pelan sambil mengusap pucuk kepala Sofi yang tertutup kerudung.
"Iya Mas." jawab Sofi pelan.
Mereka berdua makan dengan khidmat dan tenang sesekali mereka bercanda dan bercerita. Hingga makanan pun telah habis dan mereka melanjutkan acara malam itu.
Mereka sudah didalam mobil dan masih dalam keadaan hening. Suasananya sudah rusak sejak kejadian tadi ditempat Candra.
Sebenarnya Sofi ingin mengajak jalan Rendy, tapi kalau situasinya seperti ini jadi percuma. Lebih baik pulang ke rumah dan tidur, dari pada pergi dengan orang yang moodnya sedang tidak baik. Apapun yang kita lakukan akan terlihat salah dimatanya.
"Kita mau kemana Fi?" tanya Rendy dengan pelan. Rendy masih tetap dingin walaupun perhatiannya juga tidak hilang.
"Aku mual Mas Rendy, kita pulang saja ya Mas." ucap Sofi pelan tanpa memandang Rendy sedikitpun.
Pandangan Sofi hanya melihat jalan yang gelap, seperti hatinya yang saat ini sedang sedih karena suaminya seperti orang yang berbeda.
Mendengar jawaban itu Rendy pun hanya terdiam, Rendy hafal betul dengan sikap merajuk Sofi selalu seperti ini. Tapi hatinya juga sedang malas, akhirnya Rendy pun membawa mobilnya untuk kembali pulang.
Tidak ada jalan jalan, tidak ada yang romantis, dan tidak ada kehangatan. Hanya ada kesunyian, kedinginan dan kekakuan.
Mobil pun melaju dengan cepat, hingga tak terasa sudah sampai di pekarangan rumah Rendy. Malam itu sudah larut, sudah pukul sepuluh malam, terlalu lama di tempat Candra untuk membahas pesta pernikahannya.
Sofi pun keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah yang sudah gelap, menuju kamar Rendy.
Rendy pun masih dipekarangan rumahnya, dia berjalan gontai ke dalam rumah dan menuju kamar mereka.
Malam ini tidak seperti biasanya. Mereka memendam kekesalan dan kekecewaan dalam diam. Sofi masih didalam kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan sholat Isya.
Iqbal hanya menatap Sofi yang sedang sholat, Rendy pun bangkit dan berwudhu, kemudian ikut melaksanakan sholat Isya.
Sofi duduk terdiam diatas sajadahnya menunggu Rendy selesai melaksanakan sholat Isya. Kemudian mencium punggung tangan suaminya itu. Biar bagaimanapun, Rendy telah menjadi suami Sofi. Ridho istri ada pada ridho Suaminya. Semua peralatan sholat sudah dirapikan dan di letakkan di meja.
Sofi pun sudah berbaring ditempat tidur dengan terlentang, selimutnya sudah menutupi seluruh tubuh dan wajahnya.
"Mendiamkan suami sampai tidur maka akan dilaknat oleh Allah SWT." ucap Rendy tegas.
Sofi yang masih terjaga pun sontak merasa kaget dan ucapan itu ditunjukkan kepadanya. Sofi menyibakkan selimutnya dan menatap Rendy yang sudah ada disampingnya.
"Kenapa? Mau marah? marah aja." ucap Rendy dengan tenang.
Setelah sholat isya dan bermunajat kepada Allah SWT. Hati Rendy pun bagai tersiram air es yang dingin, membuat hati menjadi sejuk dan semakin tenang. Kesalahpahaman dengan istrinya bisa memicu pertengkaran di dalam rumah tangganya. Rendy sebagai kepala keluarga ingin mencontohkan agar segala sesuatu itu dibicarakan dan dicari solusi terbaik. Dan hanya malam hari sebelum tidur, waktu yang tepat untuk berbicara dengan aman, tenang dan nyaman.
"Kamu kenapa sih Mas, aku udah berusaha mengikuti alur kamu, aku diam, tapi kamu malah tambah diam. Aku salah apa?" ucap Sofi sedikit kesal dan menumpahkan semua kekesalannya kepada Rendy .
"Maafin aku ya Fi. Aku tadi terbawa emosi, masalah Ronal." ucap Rendy penuh penyesalan.
"Kamu kan sudah bilang, biarin aja masalah Ronal. Yang penting kita sudah punya bukti kuat ditambah kejadian tadi. Itu sudah sangat membuat dia malu dan kesal dengan kita." ucap Sofi ketus.
Rendy pun menarik pinggang Sofi hingga menabrak dada bidang Rendy. Aroma maskulin pun tercium membuat hasrat Sofi pun meningkat drastis. Nafasnya yang tadi memburu pun mulai melemah. Hatinya pun mulai menurut dan terkendali.
Di Ciumnya rambut Sofi, agar wanita itu lebih tenang dan rileks.
"Aku gak mau kamu marah marah, nanti cepat tua sayang." ucap Rendy pelan menahan tawanya.
"Iya kalau aku sudah tua, kamu mau cari yang muda lgi gitu?" ucap Sofi yang tersulut lagi emosinya.
"Sayang dengarkan aku dulu. Aku itu mencintai kamu karena Allah SWT. Mau ada bidadari berapa pun cintaku ke kamu tidak akan pernah goyah, kecuali kamu yang meninggalkan aku Fi." ucap Rendy sedikit mendesah.
Posisi Sofi yang sudah berada diatas Rendy pun memudahkan Rendy mengecup bibir Sofi.
"Kamu janji sama aku, jangan suka marah yang gak jelas. Aku gak suka Mas?" ucap Sofi pelan.
"Iya sayang, besok aku berangkat ke Bali. Kamu mau urus resignmu? setelah itu nyusul ke Bali ya? Ada kejutan buat kamu." ucap Rendy penuh semangat.
"Mas, besok aku mau cari lokasi buat buka pemancingan bersama Umi." ucap Sofi pelan.
"Kok kamu gak bilang Mas, mah buka pemancingan?" ucap Rendy menyelidik.
"Tadinya mau buat surprise Mas. Rencana habis resign aku kesini lagi. Mau cari rumah sekalian jualan Gamis. Menurut Mas gimana?" ucap Sofi meminta pendapat.
"Bagus. Kamu gak tinggal di Bali bersama Mas, Sofi?" ucap Rendy pelan.
Tidak mungkin kan, pengantin baru suami dimana istri dimana. Keinginan Rendy, Sofi selalu siap mendampingi Rendy dimanapun bertugas.
Namun berbeda dengan pemikiran Sofi. Memutuskan resign bukan berarti karirnya berhenti saat bekerja. Sofi ingin memberikan nilai plus sebagai seorang istri dengan membuka usaha.
Hal ini memang perlu pembicaraan yang serius, bukan sekedar berbicara konyol. Penyatuan pendapat setelah berumah tangga itu tidak semudah yang dibayangkan. Sifat egois di dalam diri masing berkembang, jadi perlu adanya kata mengalah. Mengalah untuk kebaikan, agar keluarga tetap utuh dan bersama.
------------
TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚