Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 40 MELUNAK



SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Pagi yang cerah, secerah hati kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara. Hari ini mereka akan melakukan perjalanan yang cukup jauh dan cukup lama bersama keluarga Sofi. Semoga saja hari ini, semesta berpihak kepada mereka, dapat meluluhkan dan melunakkan hati kedua orang tua Sofi, hingga restu bisa mereka dapatkan.


Rutinitas pagi Sofi dan Rendy pun berjalan seperti biasa. Usai sholat shubuh berjamaah, Rendy pun tidur di sofa ruang keluarga. Rendy menjaga hubungannya dengan Sofi karena keberadaan orang tua Sofi disana.


Rasanya sungguh tidak nyaman berjauhan, padahal dekat. Kenapa aku jadi memikirkan ucapan Sofi tadi malam. Tiba tiba saja Sofi ingin memberikan kewajibannya, tentu aku tidak akan menolak bila sudah waktunya. Gara gara itu keris kecilku ini tidak bisa dikondisikan. Apalagi pagi hari seperti ini, keris ini selalu menegang dan ingin dibelai lembut, batin Rendy sambil tersenyum tipis.


Lamunannya terbuyarkan melihat Sofi yang melewatinya tanpa menengok sedikitpun, karena ruangan masih gelap, Sofi pun mengira Rendy masih tertidur. Sofi bangun dan keluar kamar ingin membuat sarapan untuk makan bersama pagi ini sebelum berangkat menuju rumah Rendy di kota K.


Rencana keberangkatan setelah shubuh pun ditunda menjadi jam delapan pagi, karena masih lelah dan masih ingin beristirahat.


"Sofi mau kemana kamu?" ucap Rendy pelan memanggil Sofi.


"Lho Mas Rendy, kirain masih tidur. Mau masak buat sarapan pagi sayang, mau bantuin?" ucap Sofi lembut.


"Sini duduk dulu, aku masih kangen sayang." ucap Rendy memelas kepada Sofi.


Mungkin sebentar saja bermesraan dan bermanja dengan Sofi pagi ini bisa membuatku semakin semangat menempuh perjalanan jauh.


Sofi pun mendekat dan duduk di sofa sebelah Rendy, rasa penasarannya selalu membuat Sofi ingin berdekatan dengan Rendy.


Rendy pun bangkit dari tidurnya dan duduk dekat Sofi. Pagi itu masih gelap dan sepi. Lampu pun sudah dimatikan sejak shubuh membuat seluruh ruangan itu gulita dan sunyi.


Rendy yang mulai khilaf, karena keris kecilnya minta segera di asah. Rendy menarik Sofi ke dalam pangkuannya. Sofi hanya menurut saja, karena memang berdekatan dengan Rendy membuat area sensitif Sofi berdenyut dan ingin disentuh.


Rendy mulai mencium Sofi dengan penuh nafsu, tangannya pun ikut nakal memulai aksinya berjalan menyusuri seluruh tubuh sofi. Sofi pun hanyut dengan semua sentuhan Rendy di tubuhnya. Posisi Sofi yang berada dipangkuan Rendy, memudahkan Rendy menyentuh bagian bagian sensitif Sofi yang berdenyut tadi tanpa melepaskan ciuman mereka. Cukup lama,dan cukup menikmati pagi indah itu dengan sedikit hisapan hisapan yang membuat Sofi tanpa sengaja mendesah pelan tapi sungguh membuat ruangan yang sunyi mendadak sedikit rame. Menyadari yang mereka lakukan ditempat umum.


"Seperti ini saja dulu, kita hentikan dulu, sepertinya ada yang sudah bangun." ucap Rendy pelan.


"Ahhh, iya mas..." ucap Sofi pelan dan sedikit kecewa. Sama seperti tadi malam, merasakan nikmat, dan akan mencapai puncak harus terguling ke jurang. Sungguh menyakitkan.


Sofi berdiri membenarkan bajunya dan kerudungnya. Akibat ciuman panas tadi, Sofi merasakan ada yang menegak didekat pahanya.


Sofi dengan cepat melangkahkan kakinya ke arah dapur.


Cetet... lampu ruangan keluarga pun menyala. Rendy yang masih sedikit acak acakan pun terlihat kaget dengan lampu yang tiba tiba terang.


"Rendy, kenapa kamu disitu? gak tidur dikamar?" ucap bude pelan.


"Sstttt bude... tadi malam tidur dikamar, tapi setelah shubuh, Rendy pindah disini. Gak enak kan bude, ada orang tua Sofi. Rendy harus menjaga sikap Rendy." ucap Rendy pelan.


"Kok kamu berantakan gitu, dan itu leher kamu kenapa merah gitu? Sofi ganas sama kamu?" ucap bude terkekeh sambil berlalu ke arah dapur tanpa memperdulikan jawaban Rendy.


Waduh, malu banget, sumpah apalagi bude yang menegur, ini Sofi kenapa juga nyosor sampe merah gini, batin rendy sedikit panik.


Rendy pun beranjak menuju kamarnya untuk mandi dan siap-siap, tidak lupa menutup tanda kemerahan di lehernya.


Sofi pun telah selesai membuat sarapan dan menyiapkannya di meja makan. Semua orang dipanggil untuk sarapan bersama di meja makan.


Semua orang sudah berkumpul dimeja makan dan mulai sarapan. Sarapan yang tenang dan damai.


"Kamu kenapa Sofi, mama lihat kok gak tenang gitu?" tanya mama.


"Ini mama, Sofi pengen pipis. Sofi ke atas dulu." ucap Sofi pelan segera berlari ke atas menuju kamar.


Sofi masih di atas, masih mondar mandir menahan nyeri di perutnya. Pantes pas ciuman tadi bagian bawah basah, gak taunya datang bulan, batin Sofi menyesal.


"Sofi sudah siap belum? ini mama dan bapak sudah beres tinggal kamu aja." ucap Rendy setengah berteriak ke arah kamar Rendy.


Akhirnya perjalanan mereka pun akan dimulai dari sekarang. Semua orang telah berpamitan pada bude, termasuk Sofi dan Rendy, berpamitan sambil dengan mencium punggung tangan bude secara bergantian antara Rendy dan Sofi.


"Hati hati dijalan, dalam untuk Abah dan ummimu Rendy." ucap bude pelan.


"Siap bude." ucap Rendy penuh semangat.


Didalam mobil, hanya mengalun senandung pop kesukaan Sofi. Bapak duduk di depan dekat Rendy, Sofi, mama dan Krisna dibelakang. Belum ada pembicaraan setelah setengah jam perjalanan.


"Bagaimana Sofi, hubunganmu dengan Ronal?" ucap mama kepada Sofi.


Mereka berdua hanya saling berpandangan, karena bingung harus menjawab apa.


"Sudah kubilang pada bapak, Ronal itu tidak baik. Nanti Mas Rendy akan menjelaskan kepada kalian." ucap Sofi pelan.


"Kamu sudah mantap dengan Sofi?" ucap Bapak Sofi kepada Rendy pelan.


"Saya mantap Pak. Dan sangat mantap sekali." ucap Rendy mantap sambil melirik Sofi dari kaca spion tengah dengan senyum manisnya.


"Kamu Sofi?" tanya bapak dengan lembut.


"Aku juga mantap Pak dengan mas Rendy." ucap Sofi jelas.


"Nanti bapak pertimbangkan, seminggu ini bapak memikirkan ini, bapak juga bingung. Kalau melihat kalian saling mencintai dan saling perhatian, rasanya bapak menjadi orang yang paling jahat bila memisahkan kalian. Tapi bapak tidak punya pilihan lain untuk meneruskan perjodohan ini." ucap bapak pelan.


"Maaf pak, hutang bapak ada berapa? Insya Allah, Rendy bereskan dengan orang tua Ronal bila bapak mengijinkan." ucap Rendy dengan tenang.


"Bapak akan coba merestui kalian. Jalani saja dulu." ucap bapak pelan.


"Kalau boleh saya ingin langsung menikahi Sofi, dirumah saya, mumpung bapak dan mama ada. Saya sudah bicarakan ini dengan Abah dan ummi dirumah." ucap Rendy serius.


"Bapak tidak ingin egois, bapak senang melihat kalian berdua bahagia, seperti tadi pagi." ucap bapak sambil tertawa.


"Tadi pagi?" ucap Rendi dan Sofi serentak, dan tersipu malu.


"Jangan biasakan bermesraan di tempat umum, bila ada yang melihat bagaimana? Untung bapak yang lihat. Jangan diulangi." ucap bapak melirik Rendy yang sudah pucat, cemas dan malu.


Pasalnya kejadian itu begitu penuh gairah dan nafsu.


" Maafkan saya Pak, maka dari itu saya ingin segera menikahi Sofi. Saya takut khilaf pak?" ucap Rendy pelan.


"Nak Rendy, sebenarnya bapak.....


---------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚