Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 46 HALAL TAPI??



SELAMAT MEMBACA


💚💚💚💚💚


Mereka larut dalam kemesraan dan kehangatan hingga lupa diri karena sebenarnya mereka memang sudah halal tapi janji Rendy untuk tidak membobol gawang pasangannya ini pun sedikit agak diragukan. Mereka terlalu bernafsu seperti telah menahan hasrat yang begitu lama.


Kerinduan untuk mencicipi sebuah keintiman sudah sangat membuncah dalam pikiran dan hati mereka. Mereka betul betul terlena, dengan hasrat kebutuhan biologis mereka.


Sofi yang terbiasa tidur dengan piyama tipis dan pendek membuat Rendy selalu ingin menerkamnya. Sedangkan Rendy yang selalu tidur menggunakan celana pendek dan kaos singlet pun terlihat menggairahkan.


Sama sama ingin tapi? ..... seminggu lagi, saat ini harus menahan. Cukup hanya ciuman bibir, leher dan bagian bagian tubuh lain yang membuat mereka nyaman disentuh dan dicium.


"Mas Rendy, sudah ya, Sofi gak mau terlalu jauh takut dosa Mas." ucap Sofi yang sangat polos.


Rendy pun yang masih asyik dengan leher Sofi pun mendongakkan kepalanya, matanya menatap sendu mata Sofi.


"Fi, kita ini sudah halal, mau berhubungan intim juga sudah diperbolehkan, dan itu gak dosa sayang, bahkan kamu mendapatkan pahala." ucap Rendy masih mengecup pipi Sofi hingga basah.


"Mas, aku lebih senang bila dilakukan setelah pesta itu selesai. Kepuasanku benar benar menjadi istrimu yang SAH dan sesungguhnya." ucap Sofi setengah berbisik.


"Fi, kamu gak kasian apa lihat Mas seperti ini? minta hak aja sampai ngemis begini Fi." ucap Rendy lirih.


Bagaimanapun sesuai dengan janji Rendy yang telah diucapkan harus ditepati.


"Kamu menciummu apa belum puas Mas?" ucap Sofi meledek.


"Lihat nih Fi, punya Mas udah keras begini" ucap Rendy sambil menarik tangan Sofi untuk memegang kepemilikannya.


"Aawwww Mas, itu apa? kok keras keras gimana gitu?" ucap Sofi begitu polos.


"Kamu gak penasaran?" tanya Rendy menyelidik.


"Penasaran sih tapi?" ucap Sofi pelan.


"Gak penasaran rasanya diaduk gimana?" ucap Rendy terkekeh.


"Apaan sih Mas Rendy, diaduk, emang blender." ucap Sofi cemberut.


"Jangan salah ini blender modern ala milenial. Semua orang suka, baik yang halal atau gak halal semua suka." ucap Rendy mantap.


Posisi Rendy sudah diatas Sofi. Posisi yang sudah siap sepak terjang. Lagi lagi harus merayu yang punya gawang.


"Mas Rendy, seminggu lagi ya. Bertahan!!" ucap Sofi pelan.


Mereka saling berpandangan, satu Minggu untuk pasangan halal menahan gejolak hasrat itu sungguh sulit. Tapi itulah keinginan si pemilik gawang, sang pembawa bola pun harus mengikuti aturan agar tembakan penalti dilakukan satu Minggu lagi. Jadi sekarang banyak olah raga, pemanasan dan atur nafas untuk stamina satu Minggu ke depan.


"Sofii.... sofiii, ini mama Nak? kamu sudah pulang?" ucap Mama Sofi pelan sambil mengetuk pintu kamar dari luar.


"Iya Ma, ada apa, sebentar." ucap Sofi panik.


Pakaiannya yang sudah tidak rapih, belum rambutnya sedikit kusut akibat pemanasan Rendy yang begitu bergairah. Rendy pun berlari masuk ke dalam kamar mandi, selain mengumpat dari Mama Sofi, Rendy ingin mendiamkan adiknya yang sudah bangun dan tidak ada yang mau bertanggung jawab.


Sofi pun berlari ke arah pintu kamar dan membukanya.


"Sayang ini buatan Umi katanya gelas yang merah untuk Rendy dan gelas yang hijau untuk kamu. Ramuan orang tua, biar jos." ucap Mama Sofi pelan sambil mengedipkan satu matanya ke arah Sofi.


"Ramuan apa Ma? Jangan aneh aneh dong Ma." ucap Sofi pelan.


"Udah ikutin aja petunjuknya, minum sampai habis." ucap Mama Sofi menegaskan.


Kedua ibu itu sudah meracik jamu untuk diminum pasangan muda ini, maksudnya biar kuat sampai beberapa ronde. Kita lihat saja, apa yang mereka inginkan berhasil tidak.


"Iya sudah. Makasih ya Ma." ucap Sofi pelan.


"Ingat yang merah untuk Rendy dan yang hijau untuk kamu. Jangan sampai salah ya, akibatnya bisa fatal." ucap Mama Sofi lembut.


Sofi menerima baki berisi dua gelas itu. Bau rempah-rempah nya sangat menyengat. Sofi pun meletakkan dua gelas itu di meja rias.


"Sudah Mas." ucap Sofi datar sambil susuk di tepi ranjang.


"Ini apa Fi? dari Umi ya?" ucap Rendy menebak.


"Iya kok kamu tahu? dari waktu nikah siri dulu Umi paling semangat buat ramuan buat aku, biar kuat katanya. Tapi gak aku minum. Takut gak ada yang mau tanggung jawab, ini kayak ini nih jadi repot kan." ucap Rendy sekenanya.


Sofi memandang arah yang ditunjuk Rendy. Ada sesuatu yang menyundul hendak keluar dari celana dalamnya karena terlihat penuh sesak.


"Kamu sudah menginginkan Mas?" ucap Sofi pelan.


Rendy pun berjalan mendekati Sofi berlutut didepan Sofi.


"Aku pria normal Sofi. Aku akui aku membutuhkan kepuasan. Tapi aku tidak mau egois disaat pasangan halalku belum siap dengan status ini." ucap Rendy lembut.


Rendy tidak ingin menyalahkan Sofi yang belum siap untuk menjadi istri seutuhnya dengan melayani suami diranjang. Cintanya yang tulus kepada Sofi, membuat Rendy mampu menahan segala hasratnya. Tidak dipungkiri setiap melihat Sofi, nafsu Rendy pun meningkat tapi Rendy selalu berhasil meredamnya dengan istighfar.


"Aku egois ya Mas, kita sudah cukup lama SAH sebagai suami istri, tapi aku tidak bisa mengerti tentang hal ini. Aku terlalu memikirkan diriku sendiri. Sekarang disaat orang tuaku sudah merestui pun aku masih menunda untuk satu Minggu lagi. Ya Allah, ampuni hamba, hamba telah salah terhadap suami hamba." ucap Sofi menangis.


"Jangan menangis Fi, kalau belum siap, Mas mengerti kok. Sekarang kamu tidur ya? Besok kita harus kembali untuk bekerja." ucap Rendy pelan.


Sofi hanya menggelengkan kepalanya. Sofi masih bimbang dengan ini semua. Tugas istri yang paling utama adalah melayani suami dengan baik.


"Mas Rendy, Sofi siap memberikan hak mu sebagai suami karena itu sudah menjadi kewajiban Sofi Mas. Lakukanlah Sofi siap." ucap Sofi mantap.


Rendy mendengar penuturan Sofi pun ikut mendelik, karena kaget.


"Kamu serius Fi?" ucap Rendy pelan, masih memegang kedua tangan Sofi dengan lembut.


"Apa aku terlihat bercanda Mas?" ucap Sofi pelan dengan mengecup pipi Rendy.


"Aku tidak mau kamu terpaksa Sofi, aku ingin kamu melakukannya dengan ikhlas, tulus dan penuh kasih sayang. Agar kita bisa sama sama menikmatinya. Bukan aku yang puas atau kamu yang puas saja. Kita harus bersama sama menikmati." ucap Rendy pelan.


"Aku mengerti Mas, aku cukup paham untuk hal ini. Aku sudah dewasa Mas, bukan anak SD." ucap Sofi tertawa renyah.


"Yakin?" tanya Rendy menyelidik.


"Sangat yakin suamiku tersayang." ucap Sofi tersenyum.


"Kita minum ramuan Umi ya? biar kuat?" ucap Rendy terkekeh.


"Terjamin gak Mas?" ucap Sofi pelan.


"Nyatanya ada aku dan zahra, menurutmu ampuh gak?" ucap Rendy menggoda.


"Sangat ampuh!!!" ucap Sofi lembut.


"Ini sama saja Fi?" ucap Rendy pelan.


"Kata Mama yang buat kamu yang gelasnya merah, dan buat aku gelas hijau." ucap Sofi menunjukkan.


Rendy pun mencium aromanya. Dan memang berbeda, miliknya lebih amis, sepertinya dicampur telur ayam kampung entah berapa biji sehingga baunya masih terasa amis.


Kedua ramuan itu telah habis diminum Sofi dan Rendy pun kembali ke tempat tidurnya. Mereka berdua hanya terdiam dan saling pandang dan akhirnya tertawa bersama.


Ini benar-benar konyol.


---------------


TERIMA KASIH SUDAH MELIPIR BACA


JAZAKALLAH KHAIRAN


💚💚💚💚💚