
Hai Para readersku tersayang ... 💚💚💚
Jangan lupa ya untuk Like, Komentar dan Vote seikhlasnya.
Tidak lupa untuk memberikan Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Jangan lupa Kritik dan Sarannya, karena saran dari kalian itu sangat penting bagiku.
Aku tunggu jejak kalian di kolom Like dan Komentar ....
Berikan Saran dan Kritikan kepada author untuk membangun cerita ini lebih baik lagi.
Baca Juga Kisah Nyata lainnya ...
Kesucian Syahadat
Dahsyatnya SHOLAWAT
Angkringan Cinta
Kopi Paste
Ketabahan Aisyah
Amanah Terindah
Kalam Hikmah
Selamat Membaca ....
💚💚💚💚💚💚
Kesalahannya fatal hingga mereka semua harus mempertanggungjawabkan dengan mendekam di balik jeruji besi yang dingin dan menakutkan itu.
Menyesali??? Terlambat ....
Tiga Bulan Kemudian ...
Sofi dan Rendy masih berada di villa keluarga Asmah. Rendy rutin melakukan terapi agar lengannya bisa berfungsi kembali normal. Sofi yang selalu setia menemani Rendy saat down hingga kesehatannya kembali pulih.
Usia kandungan Sofi pun makin bertambah saat ini sudah menginjak jalan bulan keenam. Perutnya terlihat lebih besar dibandingkan dengan wanita hamil pada umumnya. Dua anak yang sehat sedang tumbuh kembang di perut Sofi.
Sofi pun rutin melakukan pemeriksaan kandungan dengan Asmah calon kakak ipar sekaligus sahabatnya.
Saung Kang Rendy pun kini berkembang pesat seiring makin dikenalnya Saung tersebut di kota kelahiran Rendy.
Pagi hari setelah melaksanakan sholat shubuh berjamaah. Sofi pun kembali duduk santai di sofa kamar bila tersebut. Rendy yang sudah terlihat gagah dan segar menghampiri istri gemesnya yang mulai terlihat mudah kelelahan.
Rendy pun berjongkok di depan Sofi menghadap arah perut buncit istri gemesnya itu. Satu tangannya menyingkap pakaian tidur Sofi dan mengusap perut itu dengan pelan dan lembut. Tidak ada jarak antara telapak tangan dan kulit perut Sofi tersentuh dengan bebas oleh Rendy.
Sesekali dikecupnya perut itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Rendy mengusap perut itu dengan gerakan memutar, tendangan halus dan kuat sesekali mengenai telapak tangannya hingga terasa geli dan nikmat tak terucap. Rasa syukurnya selalu diucapkan kepada Allah SWT karena telah memberikan dua kehidupan sekaligus di perut wanita yang ia cintai ini.
Selesai memijat Sofi, Rendy pun bangkit berdiri dan duduk di sebelah Sofi. Sofi menatap Rendy dengan senyuman yang sangat manis. Bajunya masih terbuka dan di biarkan seperti itu. Sofi ingin Rendy tetap memperhatikan dirinya dan kedua anaknya dengan fokus. Begitu juga bagi Sofi, Rendy adalah prioritas dalam hidupnya. Kesembuhan Rendy adalah tujuan Sofi saat ini.
"Fi ... Makasih sudah menemani aku hingga saat ini. Kamu memang wanita terbaik buat aku. Mau menerima aku tanpa berpikir aku ini siapa. Rela memutuskan tunangan kamu saat itu demi kita." ucapnya pelan. Kepalanya bersandar di bahu Sofi, satu tangannya masih setia mengusap perut buncit Sofi.
"Semua karena Allah SWT. Aku mencintaimu karena Allah SWT. Aku menjadi seorang muslim karena hidayah dari Allah SWT. Aku ikhlas dan aku senang bila cinta kita didasari cinta terhadap Allah SWT." ucap Sofi dengan lembut. Satu tangannya menggapai pipi Rendy dan mengusap pelan pipi itu.
Duduknya pun kini saking berhadapan, seakan mereka sedang rindu berat. Mereka berdua saling berpelukan dengan erat, takut terpisahkan oleh manusia, jikalau harus terpisah itu semua karena maut bukan karena manusia.
"Aku mencintaimu Fi. Sejak pertama kali aku bertemu di kantor. Aku langsung cinta sama kamu. Aku selalu berusaha mendekatimu, namun aku sempat kecewa karena aku tahu kita berbeda keyakinan saat itu. Aku selalu berdoa, aku sholat istikharah meminta petunjuk dari Allah SWT. Walaupun aku salah telah mencintai seorang wanita melebihi cintaku pada Allah SWT. Mungkin ini semua sudah takdir jalan kehidupan kita. Aku bersyukur memilikimu. Aku bersyukur memiliki mereka." ucap Rendy pelan dan serak lalu menunjuk ke arah perut Sofi.
"Aku juga mencintaimu Mas Rendy. Tetaplah menemaniku disini hingga aku menua nanti." ucap Sofi pelan dan lembut. Tangannya mulai mengalungkan ke leher Rendy yang duduk disebelahnya.
Rendy pun memegang pinggang Sofi yang mulai melebar dan membesar. Dikecupnya kening dan pipi istrinya satu per satu. Lalu menautkan kedua kening mereka. Ada kelegaan setelah rentetan kejadian yang mereka alami, akhirnya bahagia itu tiba.
"Aku mencintaimu Sofi ... Tidak ada wanita lain yang mampu menemaniku disaat jatuh bangun melanda rumah tangga kita" ucap Rendy lirih, bibirnya pun mulai mendekati bibir Sofi.
Sofi pun reflek memejamkan kedua matanya dan menikmati hembusan hangat napas suaminya di dekat bibirnya. Degup jantungnya pun mulai turun naik seperti baru akan melakukan sesuatu untuk pertama kalinya.
Bibir mereka telah menyatu dengan sendirinya, mereka menikmati ciuman itu bukan karena nafsu tapi karena rasa rindu dan rasa sayang serta rasa cinta yang mereka tanam dan selalu mereka pupuk. Decitan saliva mulai terdengar lirih membuat bulu kuduk keduanya pun meremang dan menginginkan penyatuan yang lebih dari sekedar bibir atau ciuman.
Rendy tidak mau melepaskan ciuman itu, bahkan tangannya yang semula mengusap dua buah hatinya pun sudah berpindah ke arah dua buah yang lain. Kali ini meremasnya bukan hanya nikmat saja, tapi juga ada kepuasan batin yang tersalurkan.
Sofi pun tampak pasrah dan tampak mulai kelelahan karena kekurangan oksigen. Bibir mereka pun terlepas satu sama lain. Sudah lebih dari empat bulan Rendy berpuasa batin, mungkin rasa rindu ingin menyentuh istrinya dan menjenguk kedua buah hatinya membuatnya semakin bersemangat dan bernafsu.
Sofi pun membuka matanya lalu tersenyum. Dirinya sangat menikmati sentuhan dari suaminya itu. Sofi pun rindu akan semua perhatian dan kasih sayang dari suaminya. Sempat tersentak kaget sentuhan itu terhenti saat Sofi masih menikmatinya.
"Kecewa? Aku berhenti?" tanya Rendy yang melihat guratan kekecewaan di wajah istrinya.
Sofi pun mengagguk dengan malu-malu.
"Apa aku boleh menyentuhmu Fi? Menjenguk anak-anak kita?" tanya Rendy pelan. Satu tangannya memegang dagu Sofi agar menjawab pertanyaan Rendy tepat menghadap ke wajah suaminya.
Wajahnya memerah karena malu, rasa ingin disentuh tapi malu mengakui tersirat lewat Roma pipi Sofi yang memerah disana.
Tanpa dijawab pun, Rendy sudah bisa menebaknya. Mungkin kali ini harus benar-benar dituntaskan dengan maksimal. Empat bulan bukan waktu yang sebentar menunggu gembok itu boleh dibuka kembali.
Hanya terdengar suara rintihan nikmat karena puas dan rindu menjadi satu. Cukuplah hanya mereka yang tahu dan yang bisa menikmati. Tak perlu berbagi jika hanya membuat dosa bagi yang lain.
JAZAKALLAH KHAIRAN
💚💚💚💚💚
Jangan Lupa tinggalkan jejak kalian sebelum melanjutkan ke Bab berikutnya.
Biar aku makin semangat menulisnya ...
Yang mau kenalan sama author bisa gabung ke GC HUMAIRAH BIDADARI SURGA atau PC atau pun FOLLOW IG @Humairah_bidadarisurga.
Yang mau tanya tanya atau sharing seputar Novel Karya Author atau hal lain juga boleh.
Ditunggu ya ...
Terima Kasih ....