Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 73 BUKAN SAINGAN YANG TEPAT



"Awas aja kalau berani. Potong itu bijik." ucap Sofi terkekeh.


"Ampun.... Fi ... itu harta Karun Abang, jangan dipotong." ucap Rendy tertawa.


"Makanya, jangan bawa nama perempuan di kamar. Apalagi bawa perempuan ke kamar ini. Habis itu bijik Mas. Inget ya!!" ucap Sofi dengan nada mengancam.


Rendy pun hanya menelan ludahnya dalam dalam, mendengar ancaman Sofi yang tidak main-main.


"Mau nyiapin aku gak?" tanya Rendy kemudian.


"Makan sendiri, aku mau dandan dulu, biar gak kalah cantik sama sekretaris mu itu. Siapa namanya?" tanya Sofi dengan ketus.


"Bella namanya, Fi." ucap Rendy lembut dan mulai memakan nasi goreng buatan istrinya.


"Mas, kita tidak bisa sampai sore. Nanti malam itu acara kita." ucap Sofi pelan.


"Iya Mas tahu. Kemarin juga sudah ijin Rangga." ucap Rendy dengan lembut.


"Sudah selesai? Kita berangkat sekarang ya." ucap Sofi pelan.


" Ke rumah Umi kan?" tanya Rendy memastikan.


"Iya sayangku. Bawel amat sih." ucap Sofi dengan gemas.


Sofi pun mengamok tas nya dan membawa piring dan gelas kotor ke dapur.


"Bu Sofi, ini sarapannya sudah siap." ucap Tiara dengan lembut.


"Tidak usah repot-repot Tiara, untuk aku dan Mas Rendy sudah aku siapkan dengan tanganku sendiri." ucap Sofi dengan tatapan sinis.


Tiara pun merasa kecewa dan kesal kepada Sofi yang sepertinya sudah paham niat buruknya di rumah ini.


"Fi.. ayok." panggil Rendy dengan mesra.


"Iya sayang sebentar." jawab Sofi pelan.


Tiara pun berlari ke arah rumah tamu dan berbicara dengan Rendy.


"Pak Rendy boleh saya menumpang?" tanya Tiara pelan.


Rendy pun menatap Tiara sekilas lalu pandangannya terarah pada saku celananya dan mengeluarkan lembaran biru kemudian diberikan kepada Tiara.


"Alangkah baiknya kamu pergi menggunakan kendaraan umum. Uang ini sepertinya cukup untuk membayar ongkos sampai tempat kerjamu." ucap Rendy pelan dan meninggalkan Tiara begitu saja setelah memberikan uang tersebut.


Sofi yang melihat sikap tegas Rendy pun mengulum senyum dibalik cadarnya.


Tiara nampak kecewa dan kesal, ada guratan amarah yang membuat tubuhnya mendidih. Kekesalannya semakin membuncah tadi dengan Sofi dan sekarang dengan Rendy.


Sofi pun melewati Tiara dengan sikap cuek dan jutek.


"Kalau mau cari lawan itu yang seimbang. Perbaiki niat kamu, jangan merawat niat buruk di dalam hati kamu." ucap Sofi dengan ketus.


Tiara hanya diam dan menatap kebencian kepada Sofi yang terus berjalan menuju teras depan.


Sofi pun naik ke dalam mobil dan duduk sambil mendengarkan musik yang mengalun indah. Wajahnya tampak sedikit kaku dan senyumnya pun masih terlihat kecut. Merawat calon pelakor di rumahnya sendiri, sama saja bunuh diri.


"Kenapa diam saja?" tanya Rendy sambil memegang tangan Sofi lalu dipindahkan ke dadanya.


Terasa detak jantung yang berdetak mengikuti alunan musik yang melow.


Sofi menoleh ke arah Rendy dan tersenyum manis.


"Apa aku salah, mempertahankan kami dari calon pelakor?" tanya Sofi lembut.


"Mereka manusia Fi. Punya perasaan dan hati. Jika menolak tentu harus secara harus bukan dengan cara kasar. Ada juga by mereka akan lebih berani bertindak lebih jauh." ucap Rendy pelan, bibitnya pun mencium tangan Sofi dengan penuh kasih sayang.


"Kamu yakin akan selalu bersamaku Mas? Aku takut suatu saat kamu tergoda dengan yang lain." tanya Sofi pelan, duduknya pun berpindah dengan menghadap ke arah Rendy.


"Kenapa harus bertanya seperti itu? Apa keyakinanmu mulai terkikis?" tanya Rendy pelan.


"Aku senang bila istriku bergantung padaku, tandanya kamu mencintaiku dengan setulus hatimu." ucap Rendy pelan.


"Bukankah itu malah membuatmu ilfil, karena aku jadi gak mandiri." ucap Sofi kepada Rendy.


"Fi... wanita tetaplah wanita yang lemah lembut, membutuhkan pasangan hidupnya untuk saling mengisi dan saling mendukung tanpa pamrih. Kodrat wanita tetap di belakang pria tapi mendukung setiap langkah menuju sukses dalam segala hal terutama dalam hal membina rumah tangga." ucap Rendy menjelaskan.


Sofi hanya terdiam mendengar ucapan Rendy, hingga mobil Rendy pun sudah terparkir di depan rumah Umi.


"Mas Rendy, Sofi disini ya. Kabarin Sofi kalau sudah sampai kantor atau ada rapat mendadak." ucap Sofi dengan mencium punggung tangan suaminya.


"Iya sayang. Kamu yakin gak mau ke Saung?" tanya Rendy kemudian.


"Gak Mas.. kecuali bersama kamu. Aku pengen kita selalu bersama bukan masing-masing. Lalu apa gunanya menikah kalau kita sibuk dengan urusan kita masing masing." ucap Sofi pelan.


"Kok makin pinter sih istri Abang." ucap Rendy terkekeh. Satu ciuman pun mendarat di kening Sofi, lalu turun ke pipi dan di bibir Sofi diluar cadarnya.


"Hanya diluar ngecupnya?" goda Sofi kepada Rendy.


"Abang takut khilaf Neng. Mau kerja buat nafkahin istri." ucap Rendy pelan mengusap pucuk kepala Sofi.


"Hati hati Mas. Jangan ngebut." ucap Sofi pun menasehati.


"Iya sayangku. Pasti doakan Abang mu ini. Assalamualaikum.... " ucap Rendy berpamitan.


"Waalaikumsalam... " jawab Sofi dengan pelan.


Sofi pun menatap kepergian Rendy dengan segala doa terbaik untuk suaminya yang di ucapkan dalam hatinya. Sofi pun membalikkan tubuhnya dan.... bruukkk..... tubuh Sofi pun terhuyung ke belakang kemudian berpegangan pada pohon disampingnya.


"Maaf Sofi, saya tidak sengaja." ucap Kang Tatang pelan.


"Astaghfirullah, iya Kang Tatang tidak apa-apa. Sofi yang salah, tidak melihat jalan." ucap Sofi lembut.


"Boleh aku bantu?" tanya Kang Tatang pelan.


"Tidak usah Kang Tatang. Terima kasih. Umi ada?" tanya Sofi mengalihkan pembicaraannya.


"Ada didalam. Masuk aja, ada Abah juga." ucap Kang Tatang dengan lembut.


"Baiklah. Permisi, Kang Tatang, Sofi masuk dulu ke dalam." ucap Sofi lembut dengan segera meninggalkan Kang Tatang yang sepertinya masih ingin berbicara banyak dengan Sofi.


Jauhkanlah dari semua godaan Ya Allah, gumam Sofi dalam hatinya.


"Assalamualaikum.. Umi..." ucap Sofi dengan sopan.


"Waalaikumsalam... Sofi sayang..." ucap Umi pelan menghampiri by anak menantunya itu. Sofi pun mencium punggung tangan kedua orang tua itu secara bergantian.


"Sama siapa kesini Fi?" Tanya Abah pelan ke arah Sofi. Tangannya masih memegang secangkir kopi yang masih harum sekali wanginya.


"Dengan Mas Rendy Abah. Tapi langsung berangkat kerja. Sofi lagi ingin disini bersama Umi." ucap Sofi pelan.


"Ada apa Sofi, pasti ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan." tanya Umi menyelidik.


"Umi.... kok nanya begitu dengan Sofi?" tanya Sofi pelan.


"Tadi pagi Rendy sudah menelepon Umi dan Abah. Baiklah, asisten rumah tangganya akan Umi ganti. Sementara Bik karsih dan Tiara biar di rumah Umi." ucap Umi bijak memberikan solusi.


"Maafkan Sofi ya Umi. Bukan maksud Sofi tidak menghargai Umi, tapi ini semua demi kebaikan rumah tangga Sofi dan Mas Rendy." ucap Sofi dengan jujur dan sopan.


Umi dan Abah hanya tersenyum mendengar pengakuan dari menantunya ini.


"Kami mengerti kok Sofi. Kami pasti mendukung bila itu memang terbaik. Keluargamu tidak datang ke acara resepsi pernikahan kalian." Tanya Umi dengan lembut.


"Datang, sudah sewa mobil dan supir. Jadi langsung kesini, tadi pagi sudah berangkat mungkin baru akan sampai sore ini. Sofi kasih alamat Umi." ucap Sofi lembut.


JAZAKALLAH KHAIRAN