Hidayah Hijrahku

Hidayah Hijrahku
Bab 70 BELLA SANG SEKRETARIS



"Maaf Pak... Asam Lambung saya naik, saya gak kuat Pak, Panggilkan taksi Pak, tolong saya ingin pulang." Ucap Bella pelan.


Rendy tampak berpikir........


"Rumahmu dimana Bella?" tanya Rendy pelan.


"Di Perumahan Mekarsari Pak." ucap Bella lirih, terlihat wajahnya yang menahan rasa sakit.


"Biar aku antar. Kamu masih bisa berjalan?" tanya Rendy pelan.


"Saya gak kuat Pak. Tolong saya." Ucap Bella pelan.


Rendy pun ke meja kerjanya dan menelepon satpam di lantai bawah, untuk membantu memapah Bella. Rendy tidak bisa bersentuhan dengan wanita lain selain istrinya.


Beberapa menit kemudian, ada dua satpam yang membantu Bella. Bella pun tampak terlihat cemas dan gugup.


"Pak Andi dan Pak Nanang, tolong bawa Bella ke mobil saya, lalu salah satu dari kalian ikut saya untuk mengantarkan Bella ke rumahnya. Saya tidak ingin ada kesalahpahaman, jadi saya harus bawa kalian." ucap Rendy dengan tegas.


Rendy hanya ingin menolong dan membantu Bella yang sedang sakit. Tidak ada niat buruk sedikitpun untuk mencari kesempatan dalam kesempitan. Hatinya hanya untuk seorang Sofia, wanita yang amat dia cintai.


Pak Andi pun, siap untuk ikut mengantarkan Bella ke rumahnya.


"Awas Pak hati hati." ucap Rendy pelan.


Rendy pun melajukan mobilnya menuju rumah Bella, jarak tempuh sekitar setengah jam berlawan arah dengan arah pulang Rendy.


Hari semakin sore dan mulai gelap. Matahari pun mulai perlahan membenamkan ke bawah hingga terlihat sinar kemerahan yang terpancar.


"Pak Andi, sudah off atau jaga malam?" tanya Rendy pelan.


"Sudah off Pak Rendy. Bagaimana Pak?" tanya Pak Andi pelan.


"Bisa bawa mobil?" tanya Rendy kemudian sambil melirik ke arah Pak Andi satpam kantor.


"Bisa Pak." ucap Pak Andi dengan sopan.


"Oke setelah kita mengantarkan Bella, Pak Andi antar saya pulang. Mobil silahkan bawa, besok pagi jemput saya Pak Andi, jangan lupa." ucap Rendy menitah kepada Pak Andi.


Seluruh karyawan tahu, Rendy adalah sahabat Rangga sekaligus tangan kanan Rangga. Rangga akhir akhir ini sibuk mengurus Faiz anak semata wayangnya.


Setengah jam pun terasa lama bila belum pernah melewati jalan ini, dan terasa asing bagi Rendy.


"Ini betul arahnya Bella?" tanya Rendy pelan.


"Iya Pak." jawabnya lirih.


Rendy menatap Bella lewat kaca spion tengah, Bella sedang memandang ke arah luar jendela. Tapi kenapa terlihat biasa saja, wajahnya pun tidak terlihat pucat. Tapi tadi mengeluhkan perutnya sakit karena asam lambung.


"Ekhmmm.... " Rendy berdehem untuk mencairkan suasana. Terlihat jelas raut gugup di wajah Bella.


"Bella, kita mampir ke klinik ya, biar sekalian di periksa." ucap Rendy pelan.


"Tidak perlu Pak Rendy. Rasa sakitnya sudah agak berkurang. Memang saya sering seperti ini." Jawab Bella berbohong.


Rendy mengamati dengan jelas cara menjawab Bella yang terlihat cemas dan panik.


"Itu Pak Rendy yang pagar hitam cat rumah warna biru itu rumah saya. Saya tinggal sendiri disini. " ucap Bella menjelaskan.


"Lalu orang tua kamu dimana?" tanya Rendy menyelidik.


Mobil Rendy pun sudah berhenti di depan rumah Bella. Rumah yang cukup mewah dan elegan untuk seorang Bella.


"Ayok Pak Rendy dan Pak Andi turun dulu. Mampir sebentar saja, lagipula sedang maghrib tidak baik perjalanan pulang saat Maghrib tiba." ucap Bella menasehati.


Mereka bertiga pun turun, dengan reflek Pak Andi pun ingin memegang Bella yang sedang sakit.


"Tidak perlu pegang saya Pak Andi. Saya sudah lebih baik." ucap Bella dengan ketus.


Bella pun berjalan mendahului Pak Andi dan Rendy. Membuka pintu rumahnya dan memanggil asisten rumah tangganya.


"Bik... bubuk, buatkan minum dua, ada tamu. Ayo Pak Rendy masuk." ucap Bella pelan.


"Duduk disini saja Bella, diteras saja. Saya hanya menunggu adzan saja, kemudian pamit pulang untuk mampir sholat di masjid." ucap Rendy mantap.


Suara adzan pun nyaring terdengar, seperti dekat dengan masjid, hingga suara angin pun kalah dengan suara adzan. Lima belas menit kemudian adzan pun berhenti dan Rendy berpamitan untuk undur diri dengan alasan kasihan istrinya yang menunggu di rumah.


Rendy dan Pak Andi pun segera meninggalkan rumah Bella untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Hari sudah mulai gelap.


"Pak Andi nanti mobil saya bawa. Kita pulang ke rumah saya dulu. Nanti kalau istri saya bertanya jawab saja dengan jujur. Hari ini baru pertamakali kerja dan saya harus pulang selarut ini." ucap Rendy dengan gusar.


"Iya Pak. Sepertinya Bu Bella, menyukai Bapak." ucap Pak Andi dengan polos.


Sontak Rendy pun menoleh ke arah Pak Andi dan menatap tajam meminta penjelasan yang lebih detail.


"Maksud Pak Andi apa ya? Saya baru satu hari bekerja disini jadi gak mungkin kan Bella memiliki rasa dengan saya. Pak Andi jangan fitnah saya." ucap Rendy semakin gusar.


"Maafkan saya Pak. Sebenarnya ini bukan pertama, Bapak di jebak oleh Bu Bella. Beberapa karyawan yang pernah bekerja disini pun pernah dijebak dengan cara seperti ini. Tapi setelah itu pada resign. Jadi tidak tahu bagaimana kelanjutannya." ucap Pak Andi menjelaskan.


Rendy pun manggut-manggut mendengarkan penjelasan Pak Andi. Dan mengulang kejadian hari ini. Mereview kembali runtutan kejadian. Apa maksud semua ini.


Satu jam berlalu, waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. Ponsel pun sudah lowbat sejak sore. Pikiran Rendy tertuju pada Sofi yang seharian ini tidak memberi kabar.


Mobil sudah masuk ke Perumahan milik Rendy, dengan secepat kilat mobil diberhentikan dan parkir rapat di depan pagar. Rendy meminta Pak Andi untuk turun dan masuk ke dalam rumah.


"Ayok Pak Andi kita ngopi dulu." ucap Rendy sopan.


Walaupun jabatannya sebagai satpam tetap saja umur Pak Andi lebih tua jauh dibandingkan dengan Rendy.


"Assalamualaikum.... Fi... " ucap Rendy mengetuk rumahnya beberapa kali.


"Waalaikumsalam... Mas Rendy. Kok jam segini baru pulang?" tanya Sofi pelan.


"Tadi mengantarkan teman sakit pulang ke rumahnya. Kenalin ini satpam di kantor yang bantu mengantarkan teman pulang." ucap Rendy sambil mengedipkan satu mata ke arah Sofi.


"Ayok masuk dulu. Kebetulan Sofi masak banyak. Kita makan dulu ya Pak. Ayok Mas" ucap Sofi pelan.


Langkah kakinya segera menuju dapur dan menyiapkan satu piring lagi untuk tamu Rendy.


Rendy dan Pak Andi pun mulai mengambil nasi dan lauk pauk tanpa malu malu. Sepertinya menahan lapar sedari tadi. Sofi pun bangkit berdiri untuk mengambil gelas di rak piring.


"Ini airnya Pak... ini buat kamu Mas." ucap Sofi pelan.


"Permisi Bu Sofi, Pak Rendy...." ucap Mutiara pelan.


Mutiara pun berjalan sambil lalu sambil terus tersenyum.


JAZAKALLAH KHAIRAN