Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
X-tra Part - Honeymoon - 2



Jenny baru saja bangun, melihat ke arah suaminya yang masih tertidur pulas, dia tersenyum menatap wajah tampan suaminya yang malah semakin menarik saat dia tidur.


Jenny menatap terus wajah prianya itu, mencium dengan gemas bibir Jonathan yang berhasil membuat Jonathan menggeliat dan perlahan membuka matanya.


"Selamat pagi, sudah lama bangun?" tanya Jonathan yang sedikit menggeliat baru saja bangun tidur.


"Tidak, baru saja," ujar Jenny yang segera dipeluk kembali oleh Jonathan. "Aku ingin keluar membersihkan tubuh," kata Jenny, tidak terlalu percaya diri berbicara pada Jonathan dengan kondisi baru bangun tidur seperti ini.


"Jangan, aku masih ingin bersamamu," kata Jonathan menarik tubuh Jenny kembali ke dekapannya, Jenny memandang Jonathan dengan senyumanya, melihat pria itu manja padanya.


"Tapi aku ingin membersihkan diri dulu," ujar Jenny menutup mulutnya.


"Kenapa?" tanya Jonathan yang melihat istrinya itu menutup mulut.


"Aku baru bangun, tidak nyaman jika tidak menggosok gigi dulu," ujar Jenny terdengar protes pada Jonathan.


"Kenapa aku juga belum gosok gigi, sudah itu tidak masalah," ujar Jonathan menarik tangan Jenny, memandang istrinya dengan tatapan sendunya.


Jenny kembali menutup mulutnya ketika Jonathan sudah mulai mendekatkan wajahnya, Jonathan hanya tersenyum sekali lagi menarik lembut tangan Jenny menjauh dari bibirnya.


"Apakah kemarin itu sakit?" tanya Jonathan lembut pada istrinya yang sekarang ada tempat di dekatnya, sentuhan dan gesekan kulit mereka yang polos malah membangkitkan gairahnya kembali.


"Sedikit nyeri," kata Jenny pada suaminya.


"Boleh melakukannya lagi?" tanya Jonathan meminta izin.


Jenny tersenyum bahkan cendrung seperti tertawa, belum dia menjawab Jonathan sudah terlanjur gemas dengan istrinya, dia langsung mencium leher Jenny yang membuat Jenny langsung tersengat geli namun juga kembali merasakan perasaan yang perlahan tersulut seperti semalam. Perlahan mereka kembali mengulangi kejadian kemarin.


Jonathan dan Jenny duduk di tepian pintu kamar mereka memandang Lautan luas berwarna biru cocok dengan langit yang sama birunya tanpa awan sama sekali, cerah dan indah.


Suasananya hangat, sangat hangat dimana Jenny sedang menyandarkan tubunya di dada suaminya, dan Jonathan duduk di belakangnya, Jenny hanya menutupi tubuhnya dengan selimut tipis milik mereka, sedangkan Jonathan hanya melilitkan handuk di atas pinggulnya.


"Indah sekali ya," kata Jenny nyaman bisa mendengarkan irama jantung suaminya yang menenangkan.


"Ya, benar, lebih indah karena ada dirimu seperti ini." kata Jonathan.


"Daasar, penggombal, kau sudah sering ke sini?" tanya Jenny memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan suaminya.


"Tidak juga, hanya beberapa kali dengan ibuku, itu juga saat aku kecil, saat itu aku mengatakan pada ibuku bahwa jika aku menikah, aku akan membawa istriku ke sini," kata Jonathan menatap Jenny.


"Oh," kata Jenny akhirnya mengerti kenapa tiba-tiba Jonathan merencanakan bulan madu merka di pulau ini.


"Jenny, apakah kau yakin untuk pindah ke negeraku nantiny?" tanya Jonathan menatap wajah Jenny dalam.


"Ya, kenapa?" tanya Jenny yang melihat keraguan di mata suaminya


"Tapi bukannya pamanmu ingin kau mulai mengantikannya di TM? itu akan sangat mengecewakannya jika kau menolaknya," kata Jenny memegang dada bidang suaminya.


"Itu tidak masalah, aku masih punya banyak sepupu, lagi pula dia akan mengerti," ujar Jonathan.


"Tidak, jangan, dia sangat ingin kau yang meneruskannya, lagi pula aku juga menyukai negaramu, tentang keluargaku, mereka tahu aku dimana, jadi kapan pun mereka bisa datang, dan kapan pun aku juga bisa pulang, aku akan ikut denganmu kemana pun kau ada," kata Jenny tersenyum.


Jonathan membalas senyuman itu, lalu mengecup dahi istrinya, "terima kasih sudah bisa mengerti."


Jenny hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Ehm, sudah cukup siang, ayo, kita akan terlambat," kata Jonathan.


"Terlambat? memangnya kita mau kemana?" tanya Jenny bingung, dia kira bulan madu mereka akan hanya di pulau ini.


"Kau akan terkejut, ayo, aku akan membantu kau membersihkan dirimu," kata Jonathan berdiri, memberikan tangannya pada Jenny.


Jenny menyambut tangan Jonathan walaupun wajahnya masih sedikit berkerut, penasaran dengan apa lagi yang suaminya ingin lakukan.


Setelah mandi bersama mereka segera bersiap-siap, Jonthan membawa Jenny ke dermaga pulau tersebut, Jenny mengerutkan dahi melihat ke arah kapal pribadi yang sudah terparkir di sana.


"Ayo, kita berangkat," kata Jonathan.


Jenny hanya mengerutkan dahi sambil tersenyum pada Jonathan yang sudah melingkarkan tangannya pada pinggang kecil istrinya, perlahan membantu Jenny untuk naik ke atas kapal pribadi miliknya. Tak perlu waktu lama mereka segera mengarungi lautan yang luas.


Jenny berdiri di dek depan kapal itu, melihar ke arah lautan indah yang luas tak berujung, panansnya cukup menyengat namun tak bisa mengurangi keinginannya untuk bisa menikmati pemandangan yang di suguhkan.


Tiba-tiba dia merasakan kedua tangan menyelip, mengapit pingangnya, dia lalu melirik ke belakang, siapa lagi kalau bukan suaminya.


Tak ambil waktu cukup lama, mereka sampai di salah satu pulau kecil di sana, dan lagi-lagi pantai juga lautnya begitu indah, jernih hingga saat berdiri di pasir putih yang lembut itu kita bisa melihat terumbu karang dan juga ikan-ikan yang berenang ke sana kemari.


"Wow, ini sangat indah," kata Jenny yang merasakan pasir panas di bawah kakinya.


"Ayo, kita bermain," kata Jonathan menarik tangan Jenny, mereka segera mendatangi ombak yang menggulung kecil, menghempaskan kembali pasir-pasir yang dibawanya pergi.


Air pantai yang hangat namun juga lebih dingin di dalamnya membuat segar dirinya, melihat beberapa ikan yang lalu lalang, Jenny melihat Jonathan yang bersinar dibawah kilauan matahari siang itu, ternyata suaminya benar-benar sempurna.


Jenny mengambil airnya, dengan sedikit jahil menyipratkannya pada Jonathan yang masih menikmati pemandangan laut indah di depannya. Cipratan air itu tentu membuatnya kaget,


"Awas ya!" kata Jonathan sambil membalas menyipratkan air yang banyak ke arah istrinya. Jenny hanya bisa menangkisnya karena Jonathan benar-benar menyipratinya dengan sangat cepat.


"Sudah! sudah!" kata Jenny namun tak digubris oleh suaminya, akhirnya Jenny menyerah dan berlari dari Jonathan, namun Jonathan malah mengejar Jenny, tentu lari Jenny tak sebanding dengan Jonathan, sehingga Jonathan dengan cepat bisa menangkap pinggang Jenny dan mengangkat istrinya dan tertawa lepas, memutarkan tubuh Jenny namun Jonathan kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam laut dangkal itu, tubuhnya beralaskan pasir pantai dengan Jenny di atas tubuhnya. Mereka masih tertawa lepas.


Jonathan lalu mengangkat tubuhnya, sedikit mengosongkannya ke arah Jenny, yang langsung di sambut ciuman hangat yang dihadiahkan oleh Jenny untuk Jonathan dengan penuh cinta, di Benar-benar bulan madu yang sempurna.