Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 60



Chintia terpaku, cukup kaget dengan berita yang baru saja disampaikan oleh Jonathan, dia hanya melihat keseriusan di mata Jonathan, dia lalu melirik ke arah tangan Jonathan yang menggenggam mesra tangan Jenny yang sekarang berdiri di samping Jonathan, erat bagai tak bisa diputuskan lagi.


Jenny hanya diam, tak ingin memandang Chintia sekarang, memandang wanita itu sama saja merusak suasana bahagia dari dirinya.


"Baiklah, aku akan mengatakan pada keluargaku agar membatalkan pertunangan ini," ujar Chintia pelan, senyuman tipis menerima itu tersungging di bibirnya, membuat Jenny dan Jonathan saling melempar pandang lalu melihat Chintia yang tersenyum tipis.


Benarkah? Jenny menatap harap pada Chintia, Jika Chintia sudah setuju untuk membatalkan pertunangan mereka, artinya kali ini Jenny dan Jonathan akhirnya bisa bersatu.


"Kau serius?" tanya Jenny yang masih tak bisa meyakinkan dirinya sendiri, dia bahkan merasa seperti mimpi, Dia dan Jonathan akan resmi menjadi sepasang kekasih tanpa halangan lagi.


Chintia mengangguk, dia menatap wajah Jenny yang begitu senang, Jonathan nyatanya juga sama, Chintia menggigit bibirnya, setidaknya ada dari mereka yang akhirnya bisa bahagia.


"Maafkan aku, tapi, bolehkah aku tahu apa yang terjadi pada Anxel?" tanya Chintia, sedikit sungkan untuk bertanya karena pancaran bahagia dari wajah Jenny dan Jonathan begitu ketara, tak seharusnya dia menanyakan pria yang sudah membuat Jonathan babak belur seperti itu, namun dia benar-benar ingin tahu, dimana Anxel.


"Aku tidak tahu, mereka membawanya pergi sedangkan aku di bawa ke rumah sakit, mungkin dia ditahan di kantor polisi pusat, tadi saat aku konferensi pers, kepala polisi kantor pusat yang datang ke sana," suara berat Jonathan memberitahukan pada Chintia.


Chintia tampak terdiam, dari hidungnya yang tampak memerah dan matanya yang langsung berkaca, terlihat sekali dia sedang menahan tangisnya di depan Jonathan dan Jenny, dia mengangguk-angguk pelan sambil perlahan memalingkan wajahnya dari sepasang kekasih itu.


"Ya, Ya, baiklah," kata Chintia dengan suara bergetar, sebenarnya sakit sekali dia rasakan, mencoba untuk tidak ambruk dan kembali kolaps di sini, dia menarik napasnya yang dalam, lalu mengeluarkannya teratur, walau rasanya ingin teriak dan histeris namun dia mencoba tegar.


Jenny melihat keruntuhan hati Chintia itu, sekarang mengerti, jika seseorang yang kita cintai mengalami sesuatu, pasti akan sangat sakit rasanya, seolah kita juga mengalaminya, Jenny tak mau menghakimi sekarang, walau logikanya cukup bodoh meratapi orang yang hanya mempermainkan perasaannya, namun bagaimana pun jika cinta, tak akan semudah itu terlupa.


"Chintia," kata Jonathan lagi dengan lebih lembut, Jenny pun melihat ke arah pria yang erat memegang tangannya.


"Hmm?" jawab Chintia yang tampak gamang.


"Terima kasih sudah mengerti," kata Jonathan, memberikan senyum manisnya yang sangat tulus, Jenny hanya menatap keduanya.


Chintia mencoba tersenyum, tampak kesusahan hingga kembali bertampang kecut, dia lalu sekali lagi menganggukkan kepalanya, lalu sedikit tersenyum, dan membalikkan tubuhnya, perlahan melangkah dengan sisa-sisa kekuatannya, keluar dari kamar itu dengan menutup pintunya.


Jenny sebarnya miris melihatnya, karena itu dia hanya melihat ke arah pintu itu bahkan sesaat setelah Chintia pergi, dia masih mengingat sakit yang terasa ketika harus jauh dari orang yang dicinta.


"Nona Jenny, boleh minta minumnya?" tanya Jonathan yang meremas tangan Jenny lembut, berusaha mengembalikan perhatian kekasih hatinya ini pada dirinya, Hal itu sukses membuat Jenny melihat ke arah Jonathan.


"Mau minum, ambil saja sendiri," goda Jenny yang melihat senyum manis menggoda dari Jonathan.


"Benarkah? kau tak ingin mengambilkannya?" tanya Jonathan, wajahnya langsung tampak penasaran.


"Iya, jangan manja," kata Jenny mendekatkan diri, mencolek hidung Jonathan yang bertampang kaget melihat tingkah Jenny yang cukup nakal baginya, ingin main-main rupanya.


"Kau ini apa-apaan?" tanya Jenny yang langsung kaget melihat Jonathan sudah ada di atasnya, pria ini cukup kasar, pikirnya.


"Kau yang bilang agar aku mengambil minumku sendiri, katakan Nona Jenny, apakah sekarang aku sudah pantas menjadi pria pendampingmu?" tanya Jonathan yang tak ingin lepas sejenak saja dari wanita cantik di depannya.


"Ehm, aku masih memikirkannya, pantas atau tidak," kata Jenny yang tak mau kalah dengan Jonathan.


Jonathan memutar bola matanya, padahal sudah dia kunci Jenny di bawahnya, namun wanita ini masih bersikap seperti itu, minta diterkam ternyata, pikirnya.


"Jawaban yang salah!" kata Jonathan, menyelipkan tangannya yang kekar di bawah kepala Jenny, lalu segera menaikkan paksa kepala Jenny, mendaratkan bibirnya ke bibir Jenny yang selalu membuatnya haus, memuaskan dahaganya, bagaikan orang yang baru saja mendapatkan Oase di tengah padang pasir.


Cukup ganas awalnya, Jonathan menekan bibirnya, menyapu semua yang ada di dalam mulut Jenny, menghisap seluruh napas Jenny hingga dia kesusahan untuk bernapas, seolah memberikan hukuman atas jawaban yang tak sesuai yang dilontarkan oleh Jenny.


Jenny tak bisa mengimbanginya, untung saja perlahan Jonathan memperhalus gerakan dan ciumannya, perlahan melepaskan Jenny, membiarkan wanita itu menarik napasnya sesekali tanpa melepaskan pandangan mata mereka, dia mengecup bibir Jenny, kembali beradu tatapan cinta, berulang kembali seperti itu, dan hal itu ternyata malah membuat Jenny semakin sesak, tak bisa bernapas dengan benar, tatapan, kelembutan, dan juga napas hangat yang terasa, begitu nyaman dan syahdu, menimbulkan hasrat dan nafsu.


"Pintu belum dikunci," kata Jenny yang ingat bagaimana Chintia masuk tadi, bagaimana jika ada yang masuk saat mereka dalam posisi begini atau mungkin saja saat mereka melakukan lebih.


Jonathan melirik ke arah pintu yang masih tertutup, dia lalu tersenyum, sadar wajah merah bersemu di pipi Jenny, sangat menggoda hingga terkadang hampir menjebol pertahanannya.


"Lalu?" tanya Jonathan yang kembali memikat Jenny dalam sorot mata yang menghipnotisnya.


"Jika ada yang masuk dan nantinya melihat kita ... " kata Jenny, tak menemukan kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan posisi mereka sekarang dan mungkin apa yang akan mereka lakukan nanti.


Jonathan mengerutkan bagian di antara kedua alisnya, memandang ke arah Jenny yang napasnya masih berburu, dia lalu tersenyum kecil.


"Memangnya kita mau ngapain?" kata Jonathan kembali menggoda Jenny, dia segera berdiri dan melepaskan Jenny dari kunciannya, Jenny melihat perubahan Jonathan yang segera mengambil minum lalu berjalan ke arah pintu itu, Jenny hanya memandangnya kesal.


"Kau ini, dasar! memangnya aku tak tahu kau ingin melakukan apa?" kata Jenny melemparkan bantal ke arah Jonathan yang mengunci pintu kamar Jenny.


"Aku ingin apa? aku hanya ingin istirahat, dari kemarin aku belum tidur, Nona Jenny, anda terlalu buru-buru, tak bisakah menunggu hingga kita menikah?" kata Jonathan sambil mengambil posisi untuk tidur, dia bahkan menarik selimutnya, menyelimuti dirinya dengan nyaman.


"Kau ini!" kesal Jenny sekali lagi melempar bantal kecil yang ada di ranjangnya, Jonathan menangkisnya sambil tertawa, gadisnya begitu menggemaskan.


"Kemarilah, kau pasti sangat lelah, ayo istirahat, sekarang semuanya akan baik-baik saja," kata Jonathan, nada bicaranya sudah mengayomi, meminta Jenny dengan tulus. Jenny masih memasang wajah merajuknya, dia menyambar air minum dan meminum sedikit, untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering akibat ulah Jonathan, selesai itu dia patuh naik ke atas ranjang, berbaring di atas tangan Jonathan namun tidur dengan posisi membelakangi Jonathan, Jonathan tersenyum manis, mengecup pipi Jenny sejenak, lalu berbisik.


"Selamat tidur, calon istriku," kata Jonathan seketika membasuh kekesalan Jenny, membuatnya hanyut terbawa kemesraan, Sejenak saja, Jenny sudah tertidur nyaman di samping Jonathan, Jonathan pun begitu, akhirnya cinta mereka akan segera bersatu.