
"Aku tidak akan menikahinya! apapun yang terjadi aku tidak akan menikahi wanita itu, kalian sudah lihat semua buktinya kan?" kata Jonathan duduk di depan paman dan ayahnya, Rian yang menunjukkan bukti-bukti CCTV dan juga bukti lain tentang kedekatan Chintia dan Anxel.
"Pria ini yang sudah merencanakan semuanya, dia yang sudah mencelakakan ku, aku yakin dia juga memanfaatkan Chintia untuk mencapai tujuannya, dan aku rasa Chintia juga punya andil dalam rencana ini, Paman, apa kau tetap memaksa aku menikahi wanita yang bahkan ingin membuatku celaka?" kata Jonathan menggebu, tentu dia merasa galau dan juga kalut, karena setelah melihat Jenny terakhir kalinya tadi, sampai sekarang dia tidak bisa menghubungi wanita itu lagi.
"Lalu kenapa kau mau bertunangan dengannya dulu?" kata Raphael yang meletakkan dokumen yang diserahkan pada Rian, sudah selasai membacanya, walau cukup kaget namun dia bersikap senetral mungkin.
"Itu memang kesalahanku, aku setuju bertunangan denganya karena aku kasihan tentangnya, dia punya penyakit dari kecil dan dia mengatakan tidak ada pria yang ingin bertunangan dengannya, aku benar-benar kasihan dan karena pernah menyukainya, aku meminangnya dan semua itu sebelum aku bertemu dengan Jenny, setelah aku lepas dari penyekap itu, aku sudah mengatakan pada Chintia bahwa aku ingin membatalkan pertunangan dengannya, saat itu dia sudah setuju, hingga tiba-tiba saja dia mengaku dia hamil denganku," kata Jontahan menjelaskan bagaimana bisa dia melakukan hal itu.
"Walau kita bisa menunjukkan bukti-bukti ini, kita tidak bisa lepas dari hal ini, bagaimana jika mereka tetap bersikukuh bahwa anak Chintia adalah anak Jonathan, belum ada yang bisa memastikan bahwa itu adalah anak Anxel, karena bagaimana pun sekarang Jonathan lah tunangan Chintia," kata Raphael yang tampak berpikir.
"Kita bisa melakukan tes DNA bukan? seperti yang kita lakukan saat Melisa sedang mengandung Jonathan," kata Clara yang tahu tentang masalah Melisa dan Liam dulu.
"Kehamilan Chintia baru saja masuk 4 minggu, pemeriksaan DNA paling tidak dilakukan 10-12 minggu, kita harus menunggu 2 bulan lagi untuk bisa melakukan hal itu, aku tidak yakin keluarga Chintia akan mau menunggu selama itu, lagi pula kita harus hati-hati, bagaimana pun keluarga Chintia punya kekusaan di sini, pamannya adalah presiden sekarang bukan? walaupun kita bersikeras, Jonathan bisa saja tetap disalahkan, ingat ini bukanlah negara kekuasaan kita," kata Raphael melirik ke arah Jonathan yang berwajah ketat, lalu dia melemparkan lirikannya pada Liam.
"Ya, aku tahu, negara ini sungguh kacau," kata Liam yang tahu bagaimana banyaknya masalah di negara itu.
"Keadaanmu sangat terjepit Jonathan, Jofan pun sepertinya sudah cukup marah tentang hal ini, aku tak yakin dia akan bersedia membantu kita, walaupun dia tahu Jonathan tidak bersalah, Jofan tak akan mungkin melawan keluarganya, apalagi ada Jenny, dia pasti akan melindungi keponakannya itu," kata Raphael yang tahu bagaimana Jofan melindungi Jenny tadi.
"Ya, aku tahu," kata Jonathan yang tampak berpikir, walaupun nantinya hal ini selesai, Jonathan yakin Jofan pasti kembali memiliki pandangan buruk tentangnya, padahal beberapa hari yang lalu Jofan sudah bisa menerimanya, sepertinya dia harus kembali berusaha dengan kuat agar Jofan kembali bisa menerimanya. Sebuah tantangan baru yang harus dia taklukkan.
"Kita akan lihat selanjutnya bagaimana? aku hanya berharap agar Chintia bisa mengatakan yang sesungguhnya, walaupun aku rasa kecil kemungkinan untuk melakukannya, aku merasa selain memang harus mencari pertanggung jawaban untuk anaknya, menutupi aibnya, ada sedikit dendam yang ingin dibalaskan Chintia untukmu dan Jenny, karena dia ingin memisahkan kalian berdua, jika kau tak menikah dengannya, bisa saja dia akan membuatmu sama dengan nasib Anxel," kata Raphael mencoba membaca situasi ini semua.
"Walau aku harus mendekam di penjara, aku tidak akan mau menikahi wanita itu," kata Jonathan benar-benar serius, bahkan Raphael harus menarik napasnya karena hal itu.
"Kami akan berusaha agar itu tidak akan terjadi, percayalah, kebenaran akan terungkap," kata Clara mengelus punggung bidang keponakannya itu. Jonathan hanya melirik Bibinya, tak membalas sama sekali, kenapa dia harus terjebak hal seperti ini?
-----***-----
Hari berganti malam, suasana semakin mencekam, Jenny hanya mendekam di kamarnya, ponselnya juga disita oleh Jofan agar dia tidak bisa berhubungan dengan Jonathan untuk sementara, Jofan hanya mengatakan kalau Jenny hanya diizinkan kembali berhubungan dengan Jonathan jika saja dia sudah bisa menuntaskan semua masalahnya dengan keluarga Chintia, menurut Jofan dia tidak ingin keluarganya ikut campur atau diseret dengan masalah Jonathan dan Chintia.
"Bibi, aku tidak ingin makan," kata Jenny yang berpikir bibinya datang untuk merayunya makan.
Aurora mendekati Jenny dengan senyuman menenangkannya, dia lalu segera duduk di tepian ranjang dekat Jenny, tangannya yang lembut, halus membelai kepala Jenny, Jenny menarik napas dari hidungnya yang mampet, dia tak ingin melihat bibinya.
"Jenny," kata Aurora pelan.
"Hmm?" saut Jenny kembali menarik napas dari hidungnya, membuat dia kesusahan bernapas.
"Chintia ingin bertemu denganmu," ujar Aurora.
Jenny menekuk kedua alisnya, awalnya tak ingin melihat bibinya, namun akhirnya dia melirik ke arah Aurora juga, dia lalu segera duduk, menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan bibinya barusan, Chintia ingin bertemu? untuk apa?
Aurora hanya memandangi Jenny sesaat, melihat matanya yang sembab dan juga basah, suaranya pun terdengar sengau karena terlalu banyak menangis.
"Untuk apa dia ingin bertemu denganku?" tanya Jenny dengan wajah kesal, kesal mendengarkan nama wanita itu.
"Bibi juga tidak tahu, tapi ayahnya tadi menelepon dan mengatakan bahwa dia ingin bertemu denganmu saat dia sadar," kata Aurora lembut agar Jenny bisa mendengarnya dengan baik.
"Aku tidak ingin bertemu dengannya," kata Jenny tegas, dia segera kembali ke posisinya, enggan untuk melihat wajah bibinya lebih lama, dia tahu bibinya sedang mencoba untuk merayunya.
"Jenny," kata Aurora lagi, kembali mengelus kepala Jenny.
"Aku tidak ingin bertemu dengannya, Bibi, aku hanya ingin sendiri, tolong Bibi jangan menggangguku," kata Jenny cukup kesal, tak ada yang mengerti dirinya sekarang, jika memang dia tak boleh berhubungan dengan Jonathan, maka dia juga tak ingin berhubungan dengan siapa pun juga.
"Jenny, temuilah Chintia, mungkin saja ini akan menjadi yang terakhir kalinya," kata Aurora pada Jenny dengan suara simpati.
Jenny melirik bibinya, walaupun masih ada berkas kekesalan di matanya, namun mendengar kata-kata Aurora, Jenny tak bisa mengatakan apapun lagi. Jenny menggigit bibirnya, dia menarik napas panjang yang hanya bisa sedikit-sedikit masuk ke dalam hidungnya, dia lalu mengangguk walau sebenarnya masih begitu enggan.