Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 49 -



"Benar, lagipula esok adalah pernikahan putri kami, kau belum pernah mengenalnya bukan, tinggallah bersama kami malam ini dan kita akan merayakannya esok hari," kata Jofan.


"Benar, sore nanti kita bisa ke istana untuk membantu sepupu baru kita," kata Jenny, untung saja pamannya sudah meminta Chintia untuk bersama mereka, jadi Jenny bisa mengawasi wanita ini lebih sering.


"Ya, ide yang bagus, ehm, ada yang harus aku bicarakan tentang pekerjaan, untunglah kau sudah datang Jared, ayo ikut Paman ke ruang kerja, kita rapat sekarang," kata Jared melihat ke arah Jared, Jared langsung tahu apa sebenarnya yang pamannya ingin lakukan, karena tak ada masalah sama sekali dengan perusahaan mereka.


"Baik Paman," kata Jared, Jenny melihat kepergian kakaknya dengan sedikit kerutan dahi, bagaimana dia bisa melacak Jonathan secepatnya jika pamannya mengajaknya rapat sekarang, tapi Jenny hanya bisa melihat Jared dan Jofan yang pergi dari sana.


"Kalian belum makan kan? Bibi akan memerintahkan pelayan mengambil makanan kalian ke sini, Jenny bisa menjaga Chintia sejenak?" kata Aurora pada Jenny, Jenny hanya mengangguk, sedangkan Chintia tampak sedikit keberatan, berdua dengan Jenny sungguh membuatnya tak enak.


Aurora tersenyum, bangkit dari duduknya, lalu segera keluar dari kamar itu, begitu pintu kamar itu tertutup, suasana kian canggung, membuat Jenny dan Chintia sesaat tak berkata apa-apa.


"Maafkan aku," kata Chintia lemah, itu memang harus dikatakannya.


"Lebih baik mengatakannya pada Jonathan, dia yang sangat menderita dengan semua perbuatan kalian," ujar Jenny, dia berusaha sekali untuk tetap bisa berkata dengan nada ramah, namun jatuhnya, tetap saja terdengar ketus.


Chintia menarik napasnya panjang, melihat Jenny yang sama sekali tak ingin melihatnya.


"Aku sudah mengatakan pada Anxel untuk tidak melukainya, jadi aku rasa dia akan baik-baik saja," kata Chintia lagi.


"Bagaimana kau tahu, dia bahkan berani mengatakan mencintaimu padahal dia hanya mempermainkanmu, lagi pula, apa kau masih bisa percaya dengan kata-katanya?" tanya Jenny lagi, sibuk entah melakukan apa saja asal dia tak melihat Chintia, dia takut dia akan kembali kehilangan kontrol dan membuat Chintia kembali terkena serangan jantung.


Chintia hanya mengulum bibirnya, dia tak tahu apakah dia masih bisa percaya dengan Anxel atau tidak,tapi kenyataannya pria itu tak pernah mencintainya, hanya memanfaatkannya saja.


Suara dering ponsel terdengar, Jenny yang tadi enggan melihat ke arah Chintia akhirnya teralihkan juga, Chintia dengan gugup melihat ke arah ponselnya, nama Anxel terpampang di sana.


Jenny diam, tahu dari wajah Chintia yang gugup pasti pria itu yang menelepon Chintia.


"Halo?" tanya Chintia dengan suara lemahnya, dia langsung men-loudspeaker-kan ponselnya.


"Halo? kau dimana?" tanya Anxel.


"Aku sedang di rumah Jenny, seperti yang kau minta," kata Chintia melirik Jenny, Jenny hanya berwajah datar, benar bukan, pria itu yang mengutus Chintia kemari, karena walaupun mereka sepupu, Chintia bukan orang yang sering datang mengunjungi mereka.


"Oh, baguslah, bagaimana dirinya?" kata Anxel.


"Dia, dia, baik-baik saja, tapi mengunci diri di kamar, dia tak mengizinkan siapapun untuk masuk," kata Chintia lagi mengarang, Jenny mengangguk setuju, "Kau tidak bertanya bagaimana kabarku?" tanya Chintia dengan sedikit nada manja.


"Ya, pastikan dia tidak melakukan apapun, biarkan saja dia di kamarnya saja, tunggulah, jika bisa kau harus terus menjaganya," kata Anxel.


Chintia menggigit bibirnya, dia yakin Anxel bukan tak mendengar perkataannya tadi, Tapi Anxel memang tak peduli padanya, padahal di sini dirinya lah yang sedang sakit.


"Baiklah, ehm, apa Jonathan baik-baik saja?" kata Chintia, dia tahu dari wajah Jenny, Jenny sangat ingin tahu keadaan pria terkasihnya itu.


"Kenapa kau malah bertanya keadaannya? dia membuatku kesal, dia memukulkan kepalanya ke kepalaku membuat dahiku memar dan aku masih merasakan sakit kepala hingga sekarang, aku terpaksa melumpuhkannya dengan memukul kepalanya, hingga sekarang sepertinya dia belum sadar," ujar Anxel.


Mendengar hal itu, Jenny membesarkan matanya, menutup mulutnya agar suaranya tak terdengar, dia sudah bisa membayangkan bagaimana keadaan Jonathan, dia pasti terluka, pandangan Jenny kembali berkabut, dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya lemah.


"Kalau dia bertindak baik, aku juga tak akan melakukannya, sudah, lakukan saja tugasmu, aku ingin istirahat," kata Anxel dan panggilan itu terputus begitu saja.


"Maafkan aku," kata Chintia lagi melihat Jenny yang menangis, tampak frustasi dan tak percaya, dia bahkan kesusahan untuk bernapas, rasanya dia bisa merasakan penderitaan dan sakit yang di rasakan oleh Jonathan, Lunglai tubuhnya hingga dia jatuh terduduk, menangis merasa nyeri di sekujur tubuhnya, apa yang sudah diperbuat Anxel pada Jonathan?


___***___


Jofan duduk di kursi kerjanya, Jared duduk di depannya bersebelahan dengan Kiran.


"Paman sudah tahu bukan?" tanya Jared yang yakin seratus persen pamannya sudah tahu, dia menatap serius pada pamannya yang juga tampak berpikir.


"Ya, Jenny sangat berbeda dan mencurigakan seharian ini, karena itu aku memerintahkan Kiran untuk mencari tahu, tak aku sangka anak itu melakukan hal seperti ini," kata Jofan lagi membalikkan tatapan serius itu.


"Lalu bagaimana?" tanya Jared melirik Kiran.


"Aku sudah menjalankan protokolnya, mencari lokasi Tuan Jonathan dan orang-orang terdekatnya," kata Kiran.


"Hal ini sedikit menguntungkan untuk kita, sejujurnya aku tidak terlalu setuju dengan pertunangan ini, aku tahu tujuan utama mereka mengikat Jenny, hanya saja tidak menyangka mereka terlalu berambisi," kata Jofan membuka suara.


Jared hanya diam, dia tentu tahu kenapa pamannya tidak setuju, jika Jenny menikahi Anxel maka rencana pamannya untuk mecalonkan Jared sebagai presiden akan terhambat, sekali lagi pamannya nyatanya sudah punya rencana untuk membuat tahta itu terus jatuh di keluarga mereka.


"Jonathan adalah penerus tunggal keluarga Medison, keluarganya punya kuasa yang hebat di negaranya dan merupakan keluarga terkaya di sana, bahkan di negara ini mereka memiliki aset yang bisa dikatakan sangat besar, jika mereka tahu dirinya di sekap, akan menjadi suatu hal yang sangat menggemparkan, apalagi jika kita memang bisa membuktikan orang yang menyekapnya adalah anak pedana menteri, bukan hanya Anxel yang tamat reputasinya, bahkan ayahnya juga akan bisa langsung diturunkan dari posisi pedana menteri," ujar Jared pada pamannya, Jofan sedikit tersenyum, setuju dengan analisa Jared, sengaja memang dia diam, ingin tahu bagaimana Jared menyelesaikan hal ini.


"Karena itu aku rasa jika memang ingin memanfaatkannya, maka sebisa mungkin kita buat penyelamatan ini terlihat tidak menyangkut pautkan pada keluarga kita, biarkan kita yang bergerak namun menggunakan nama keluarga Jonathan sehingga kita tidak akan terkena imbas apapun," ujar Jared lagi menganalisa keadaan semua itu, Jofan semakin tertawa puas, Jared nyatanya memiliki pemikiran yang sama dengannya.


"Tuan Jonathan memiliki seorang Asisten, namanya Rian, hingga saat ini dia masih mencoba mencari keberadaan Tuan Jonathan, aku akan memerintahkan beberapa orang untuk berhubungan dengannya," kata Kiran mengerti tanpa harus di perintahkan.


"Baiklah, itu benar-benar menguntungkan, minta Rian untuk menghubungi keluarga Jonathan, pastikan mereka mendapatkan kabar ini dengan baik, selain itu siapkan pasukan Khusus, katakan pada mereka jika mereka ditanya, maka yang memberikan perintah adalah dari keluarga Jonathan, Jebak Anxel hingga dia tidak bisa berkutik, satu lagi, dan pastikan berita ini sampai ke wartawan sebelum dan sesudah penyelamatan," kata Jofan tersenyum sedikit sinis.


"Baik Tuan," kata Kiran patuh.


"Lebih baik untuk terus memantau keadaan, aku kira Chintia juga terlibat, maka kita juga harus memperhitungkannya, Juga Jenny, aku ingin penjagaan khusus baginya agar tak mendekat atau ikut campur dalam urusan ini, sadap ponsel Jenny dan Chintia untuk mengetahui apakah pria itu mengancam Jenny dengan cara yang lain atau memberikan informasi pada Chintia," kata Jared memandang pamannya lalu beralih ke Kiran.


"Akan saya laksanakan."


"Lakukan secepatnya sebelum mereka sempat mengumumkan pertunangan Anxel dan Jenny, akan sangat sulit membatalkannya jika sudah keluar ke publik, publik akan merasa kita bekerja sama dengan mereka jika itu terjadi, aku minta penyelamatan ini selesai paling lama pada saat pernikahan putriku esok hari karena rencananya mereka meminta pengumuman pertunangan saat jumpa wartawan setelah pernikahan Ceyasa," kata Jofan.


"Kami akan melakukan semuanya sesuai keinginan Anda," kata Kiran lagi.


"Baiklah, laksanakan, ingat buat seolah-olah kita sama sekali tidak tahu dan terlibat dalam semua ini," kata Jofan mengingatkan.


"Siap Tuan," kata Kiran, berdiri, memberikan hormat ala militer pada Jofan, lalu setelah anggukan mempersilakan dari Jofan, Kiran keluar dari ruang kerja itu.


Jofan lalu menatap Jared, dia cukup bangga dengan keponakannya ini, setelah semua yang dia ajarkan, akhirnya dia yakin, Jared sudah siap.