Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
86.



Jonathan tersenyum manis, memeluk wanitanya sangat erat.


"Tapi izinkan aku untuk mengucapkan perpisahan untuk orang-orang yang ada di sini," kata Jenny ingin mengurai pelukan itu namun Jonathan masih enggan melepasnya, Jenny jadi tertahan dipelukan Jonathan.


"Baiklah, tidak masalah, kita bisa pulang besok pagi," kata Jonathan tersenyum manis.


"Ehm, di sini banyak anak-anak, tak enak jika mereka melihat kita berduaan seperti ini, sebentar lagi akan makan siang, mereka akan datang kemari," kata Jenny lagi dengan senyuman manisnya.


"Ya, aku mengerti," kata Jonathan, sebenarnya masih tak rela melepaskan wanita itu, namun apa yang dikatakan oleh Jenny benar. Lagipula dia adalah seorang pendatang, dia harus menghargai apa yang ada di sini.


Dan benar saja yang dikatakan oleh Jenny, tak lama anak-anak segera masuk memenuhi tempat itu untuk makan siang, Louise pun masuk ke dalam ruangan kantin tersebut. Tak banyak tempat yang ada di sana, karena tak mungkin membawa Jonathan langsung berbicara berdua di kamar, maka Jenny membawanya ke kantin tempat tersebut, tahu betul jika sebelum jam makan tempat itu pasti kosong.


"Kau akan pulang?" tanya Louise lembut, lagi-lagi membuat Jonathan tak nyaman, sekali lihat saja dia tahu pria ini punya perasaan lebih pada wanitanya, pria mana yang tak jadi waspada?


"Ya, dia sudah setuju untuk pulang bersamaku," kata Jonathan mengenggam tangan Jenny erat, tak mengizinkan wanita itu mengeluarkan suaranya karena Jonathan yakin, pria-pria juga bisa terpikat karena suara wanita, pria ini akan senang jika Jenny yang menjawabnya. Jenny mengerutkan dahi melihat tingkah Jonathan.


"Baiklah, kalau begitu, MALAM INI KITA AKAN BUAT API UNGGUN!" teriak Louise mengisi semua ruang kantin yang tak terlalu besar itu, semua bersorak Sorai, api unggun adalah kegiatan menarik.


"Untuk pesta perpisahan mu," ujar Louise tersenyum melirik Jenny penuh arti, Jonathan hanya bisa menahan dirinya.


"Terima kasih," kata Jenny membalas senyuman dari Louise itu, Jonathan meremas tangan Jenny, tak erat namun cukup membuat Jenny memalingkan wajahnya, menatap aneh pada pria ini, kenapa? hanya sebuah senyuman? apakah itu sudah bisa membuat Jonathan cemburu?


Jonathan hanya memperhatikan Jenny untuk mengemasi barang-barang yang dia ingin bawa sambil duduk di ranjang Jenny yang kecil, Jenny yang memintanya untuk diam saja agar dia bisa lebih cepat merapikan semuanya. Namun, sejak keluar dari kantin itu, wajah Jonathan tampak sedikit berubah, matanya tajam setiap melirik ke arah Jenny.


"Siapa pria itu?" tanya Jonathan ketus.


"Louise?" tanya Jenny sambil memasukkan bajunya yang tak terlalu banyak.


"Ya, pria yang tampaknya menyukaimu? apa dia pernah menggodamu?" tanya Jonathan lagi.


"Ehm, dia pria yang pemalu, kami jarang berbicara," kata Jenny seadanya karena masih fokus dengan pekerjaannya.


"Tak terlihat pemalu saat aku melihatnya," ujar Jonathan lagi.


Jenny berhenti melakukan pekerjaannya, memandang wajah pria yang sedikit terlihat kesal padanya, Jenny mendekati pria itu, sedikit menundukkan badannya, mencolek hidung Jonathan sambil tersenyum manis.


"Cemburu ya? dulu kau tak pernah cemburu," ujar Jenny menggoda membuat Jonathan menaikan satu alisnya, Jenny hanya tersenyum manis, dia langsung ingin berbalik namun pinggangnya langsung dipeluk oleh Jonathan dari belakang.


"Karena aku tahu rasanya kehilanganmu, aku tidak akan membiarkan ada peluang untuk kehilangan dirimu lagi," kata Jonathan sambil menyandarkan sisi kepalanya ke punggung Jenny seolah ingin memanjakan dirinya, menikmati rasanya begitu dekat dengan wanitanya. Rindunya masih belum bisa tersalurkan semuanya.


Jenny hanya diam, merasakan kepala Jonathan yang menempel dipunggungnya menimbulkan sensasi yang berbeda, detak jantungnya tentu tak karuan, semenjak dia melihat Jonathan hingga sekarang, rasanya jantungnya memompa lebih keras dan sekarang, rasanya jantungnya akan meledak.


"Baiklah, jika begini terus aku tak akan selesai mengemasi barangku," ujar Jenny yang ingin melepaskan pelukan Jonathan, namun bukannya terlepas, Jonathan malah membanting lembut tubuh Jenny pada ranjang di sebelahnya, dan entah bagaimana Jonathan sudah ada di atasnya.


Mata mereka kembali terpaut, keduanya menikmati saat-saat mengamati wajah keduanya, napas keduanya terdengar berat, suasana yang panas tambah gerah karena apa yang terjadi pada mereka.


"Jenny, setelah pulang dan menemui keluargamu, aku Kan membawamu bertemu keluargaku," ujar Jonathan lembut perlahan.


"Secepat itu?" tanya Jenny, bukankah itu terlalu terburu-buru?


"Cepat? aku menunggu 2 tahun untuk bisa melakukan itu," kata Jonathan lagi, ada nada kesal saat dia mengatakan hal itu.


Jenny tertawa kecil mendengarnya, dia lalu menggigit bibirnya, lalu mengangguk pelan, Jonathan langsung tersenyum senang karena hal itu.


"Jadi, bisakah kau sekarang melepaskanku agar aku bisa berkemas dan kita pulang lalu secepatnya bertemu keluargamu?" tanya Jenny pada pria yang seolah tak akan pergi dari dirinya itu.


"Baiklah, tapi dengarkan aku, aku tahu kau punya kemampuan membuat pria jatuh cinta padamu, tapi mulai sekarang jangan coba-coba melakukannya lagi, karena kau sudah jadi milikku," kata Jonathan.


"Lalu Jika aku tetap melakukanya, memangnya kau ingin apa?" goda Jenny lagi, kemampuannya yang dulu ternyata tak pernah hilang.


"Aku tak akan segan-segan melakukan sesuatu pada mereka karena sudah berani jatuh hati pada wanitaku," kata Jonathan tiba-tiba melakukan serangan mencium leher Jenny yang tampak jenjang, putih terbuka. Hal itu membuat Jenny mengelinjang kegelian, Jenny sedikit berteriak, mendorong tubuh pria yang ternyata juga menyelidiki pinggangnya, membuat Jenny tertawa geli karenanya.


Dorongan Jenny cukup kuat membuat Jonathan akhirnya tergeser dan Jenny melarikan dirinya, Jenny melirik sedikit kesal pada Jonathan yang sudah menggelitikinya. Jonathan membuat gerakan menggertak yang langsung membuat Jenny refleks menjauh, itu membuat Jonathan tertawa melihatnya.


"Jangan coba-coba lagi ya! Jonathan biarkan aku berkemas," kata Jenny menunjuk batang hidung Jonathan yang tampak jahil padanya, Jenny menyipitkan matanya, tanda tak percaya pada pria di depannya ini, Jonathan hanya tersenyum, ternyata juga merindukan tatapan curiga itu.


"Baiklah, aku tak akan melakukannya, aku janji akan membiarkanmu berkemas," kata Jonathan berdiri mendekati Jenny, Jenny merasa tak yakin akan Janji Jonathan, dia mundur seiring langkah Jonathan ke arahnya, sialnya dia tak bisa mundur lagi karena terhalang tembok.


Apa yang dipikirkan Jenny bahwa Jonathan kembali akan menghimpitnya ternyata tak terjadi, pria itu hanya berhenti di depannya dengan jarak tak terlalu dekat, Jonathan perlahan mengambil tangan Jenny, memasukkan sebuah cincin bertahtakan berlian yang entah sejak kapan ada di tangannya, Jenny hanya bisa kaget membesarkan matanya ketika cincin itu dimasukkan ke jari manisnya.


"Aku tak akan bertanya apakah kau ingin menikahiku? aku hanya ingin mengatakan, Nona Jenny, aku memaksamu menikahiku, karena kau sudah membuatku tergila-gila padamu," kata Jonathan yang membuat Jenny tak bisa mengatakan apapun lagi, menatap pria itu dengan dalam, dan tanpa sadarnya langsung memeluk pria itu erat sekali. Ternyata dia pun begitu mencintai beruang kutub ini.