
Jenny terdiam, bagian antara kedua alisnya berkerut, memandang dalam pada pria ini, tak berubah, itulah yang Jenny langsung pikirkan, bagaimana dia bisa segampang itu mengatakan membatalkan pertunangan ini?
"Kau tidak berubah, bagaimana bisa kau segampang itu mengatakan membatalkan pertunanganmu dengan Chintia semudah kau memutuskan wanita-wanitamu dulu, kau pikir bagaimana nanti perasaan Cinthia? dan apa ini rencanamu pula? membuat aku akan merasa sangat bersalah melihat sepupuku sendiri hancur dan sedih, dan akulah sebabnya?" tanya Jenny pada Jonathan dengan sedikit emosional.
Ya, Benar dia memiliki perasaan yang lebih pada Jonathan, pria itu diam-diam punya tempat khusus di hatinya, namun sayangnya, Jonathan juga adalah tunangan sepupunya sendiri, jika dia memilih maju dan mempertahankan Jonathan, bukannya itu akan menghancurkan sepupunya? padahal dari dulu dia paling membenci wanita yang merebut pasangan orang lain, sekarang, akankah dia menjadi wanita itu?
"Tapi aku baru sadar bahwa selama ini kau lah yang aku inginkan," kata Jonathan lagi lembut dan penuh perasaan, emosi tertahan itu tampak di wajahnya, mencoba untuk menyakinkan Jenny bahwa dirinya lah yang dia inginkan.
"Lalu kenapa kau bertunangan dengan orang lain jika kau punya perasaan denganku?" tanya Jenny menatap Jonathan.
"Aku mengakui awalnya aku menyukai Chintia, dia orang yang pertama yang aku suka, tapi aku tak tahu kenapa? semenjak bertemu denganmu, aku tak bisa mengeluarkanmu dari pikiranku, aku berubah demi mu, lebih dari 5 tahun ini aku hanya memikirkan mu," kata Jonathan lagi dengan segala emosinya, membuat Jenny menahan napas mendengarnya.
"Memikirkan diriku? atau memikiran cara untuk menaklukan gadis sombong yang pernah mencacimu? Kalian pria hanya suka tantangan, kalian suka dengan wanita yang menggoda namun. sulit kalian dapatkan, ya, aku tahu itu, itu yang selalu aku gunakan untuk menjebak pria, dan rasanya aku tak sepenuhnya kalah," kata Jenny menatap Jonathan dengan serius, menahan air mata yang rasanya sudah mendesak ingin keluar.
"Kau mencintai Anxel?" tanya Jonathan pelan mendengarkan kata-kata Jenny yang sedikit menamparnya.
"Tidak ada yang pernah menikah karena cinta dalam keluargaku, Ibuku merelakan pria yang dia cintai dan dijodohkan dengan ayahku, pamanku menikahi gadis yang bahkan 18 tahun tak pernah bisa dia sentuh, kakakku menikahi istrinya juga karena ada maksud untuk memperkukuh posisi keluargaku, tak ada yang menikah karena cinta Di keluargaku, dan aku rasa aku pun begitu," kata Jenny pada Jonathan, mantap dia berbicara, membuat Jonathan mengerutkan dahinya.
"Lalu siapa pria yang kau cintai?" tanya Jonathan, mata memancarkan keseriusan yang sangat, menatap wajah Jenny yang tampak kaget mendengar apa yang diajukan oleh Jonathan, Jenny ingin menjawab, tentu tak mengatakan yang sebenarnya, namun entah kenapa lidahnya terasa Kelu, dia bahkan tak bisa mengucapkan apapun.
Jenny menatap mata kuning itu, entah kenapa merasa begitu sakit ketika melihatnya, Jenny memalingkan matanya saat air matanya tak mampu lagi dia tahan, Jonathan yang mendapatkan jawaban itu malah tampak lega, dari gerak gerik Jenny dia tahu jawabannya.
"Kau juga mempunyai perasaan itu padaku kan? aku akan membatalkan pertunangan ini," kata Jonathan menatap dengan wajah yang menampakkan kebahagiaan, ternyata cintanya terbalas, Jenny juga mencintainya.
"Nathan, jangan membuat sejarah berulang, jangan membuat cerita antara ayahmu, ibumu dan bibiku terulang, " kata Jenny dengan bibir bergetar, bukan karena dingin, namun karena menahan sakit di dadanya, air matanya mengalir begitu saja, membasahi pipinya yang merah.
"Karena itu aku ingin menegaskan semuanya, aku tak akan seperti ayahku," kata Jonathan.
"Tapi apa kau bisa membayangkan perasaan Chintia, dia akan sama terpukulnya seperti ibumu, apa kau bisa membiarkannya? seorang wanita akan begitu patah hati apalagi dia adalah sepupuku, bagaimana kita bisa bahagia dengan semua hal itu, lagi pula aku rasa keluargaku dan keluargamu tak akan bisa menerima hubungan kita, jangan buat Chintia menjadi seperti ibumu, dan aku menjadi seperti bibiku, aku mohon, itu sangat menyakitkan, biar saja perasaan kita yang baru ini mati perlahan-lahan, jika kita teruskan, kau sudah tahu hasilnya bukan?" kata Jenny tersedu, tangihnya pilu, tak rela namun harus merelakan, mereka jatuh cinta disaat dan waktu yang tak tepat.
Jonathan menarik Jenny dalam pelukannya, sebegitu sakitkah hanya karena mencintainya? Jonathan tak tahu bagaimana cintanya bisa membuat Jenny begitu tersiksa, Sekali lagi dia baru tahu, ternyata dari segalanya, dia paling tak bisa melihat Jenny terluka seperti ini, karena dia merasakan luka yang jauh lebih parah.
"Izinkan aku mencintaimu malam ini saja, hanya malam ini saja, setelahnya, aku akan melepaskan semuanya," kata Jonathan menahan rasa sakitnya, yang bahkan membuat dia tak bisa bernapas. Matanya yang basah beberapa kali dia kerjabkan, merasa perih dengan seperih hatinya.
Jonathan mengurai pelukannya, memandang pipi dan hidung Jenny yang memerah, pria itu memaksakan senyuman, begitu juga Jenny, menatap mata terang itu yang perlahan mendekatinya, Jonathan memegang pipi Jenny, sekali lagi melepas candunya terhadap bibir penuh Jenny, memadukan napas mereka berdua.
Jonathan melepaskannya, menatap ke arah Jenny yang sekali lagi baru membuka matanya, Jonathan tersenyum, Jenny masuk ke dalam pelukannya, Jonathan tersenyum senang, namun juga takut, waktunya dengan Jenny hanya tinggal 6 jam saja.
Mereka hanya duduk menikmati segala perasaan mereka di dekat api unggun, menikmati cahaya Utara yang terus menyuguhkan keindahannya, Jenny duduk manja di dalam pelukan Jonathan, sesekali pautan bibir itu tercipta, sekejab saja namun seperti tak pernah puas.
"Setelah malam ini, berjanjilah untuk melupakanku, apa pun yang terjadi malam ini harus kita lupakan selamanya," kata Jenny di sela mereka menatap api unggun.
Jonathan hanya diam saja, melihat ke arah api yang seluruh kayunya sudah terbakar, sebentar lagi akan padam, seperti perasaannya yang terpaksa harus di padamkan.
Jenny bangkit dari pelukan Jonathan, menatap pria itu yang berwajah datar, tampak tak ingin menjawab pertanyaan Jenny.
"Berjanjilah padaku untuk kembali menyukainya, kau sudah menyukainya begitu lama, aku hanya perasaan sesaat," kata Jenny sebenarnya sedih mengatakan hal itu.
Jonathan tersenyum namun tak melihat ke arah Jenny, dia melemparkan sebuah batu masuk. ke dalam nyala api, membuat Jenny mengerutkan dahinya.
"Aku tak menyangka aku akan menjadi seperti ayahku, aku selalu membencinya karena tak bisa tulus mencintai ibuku, dia selalu menyimpan foto wanita lain di dompetnya, itu yang selalu membuat ibuku harus menghela napas, aku tak menyangka aku juga akan begitu," kata Jonathan.
"Terkadang hidup memang tak sesuai dengan apa yang kita inginkan," kata Jenny lagi mencoba untuk tidak lagi meneteskan air mata, nyatanya malam ini bukanlah malam yang membuat mereka berdua senang, namun malah menambah sesak keduanya.
"Bisakah kita tak membahasnya sekarang, kesempatanku mencintaimu hanya tinggal beberapa jam, aku ingin mengakhirinya dengan membuatmu senang, dengan begitu aku bisa tenang," kata Jonatan dengan tatapan sendunya, merentangkan tangan agar Jenny kembali dalam pelukannya, Jenny menarik napasnya, dia tersenyum sedih, dan kembali masuk dalam pelukan hangat pria itu, entah kenapa dia yang sekarang tak rela hal ini hanya terjadi semalam.