Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
72 -



Jenny menutup kembali luka di tubuh Jonathan, air matanya jatuh lagi seperti mengalir begitu saja. Sesaat hanya diam saja menatap keadaan pria itu.


Jenny segera menghapus air matanya, dia berdiri lalu segera menuju pintu kamar Jonathan itu, semua orang yang sedang berkumpul di sana melihat langsung ke arah Jenny, Aurora refleks mendekati anaknya.


"Aku ingin ke kamar mandi dulu," kata Jenny sedikit mengulas senyumannya.


"Oh, ya, baiklah, aku akan menjaga Jonathan," kata Clara yang segera menawarkan dirinya.


Jenny segera masuk kembali ke ruangan itu, Clara juga mengikutinya, Jenny lalu berjalan ke kamar mandi, saat di dalam kamar mandi, Jenny hanya mencuci wajahnya yang sangat kusut, dia mengambil sedikiti perwarna bibirnya, ingin tetap terlihat cantik jika nantinya Jonathan sadar, tapi begitu dia merogoh tas kecilnya, ponselnya bergetar.


Sebuah pesan video tampak di layar ponselnya, Jenny mengerutkan dahinya, melihat nomor yang tidak dikenalnya.


Jenny membuka pesan tersebut, matanya membulat sempurna, melihat video tentang penganiayaan Jonathan, di sana dia bisa melihat jelas bagaimana Jonathan dipukul, di tendang, dan juga tangannya dibeset oleh pisau yang cukup besar, Tangan Jenny bergetar, saat dia masih belum bisa memikirkan apapun, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar, di bawah video itu kembali masuk pesan yang membuat Jenny tambah tak bisa bernapas.


...Ini baru permulaannya, jika kalian masih tetap saja bersama, mungkin kami tidak akan akan memberikan kesempatan lagi untuk kalian....


...Kau bebas melaporkan tentang pesan ini, tapi percayalah, itu akan membuat kami makin brutal, Jonathan ada di Rumah Sakit Crown, lantai khusus bukan, sangat mudah mencabut nyawanya saat ini, Nona Jenny, kau harus menyiapkan gaun hitammu. Cinta dibayar Nyawa, atau Cinta dibayar pengorbananmu? pilihlah dengan bijak Nona Jenny, satu suntikan, akan bisa membuatmu kehilangan Jonathan selamanya....


...Cobalah jika tidak percaya....


Jenny menutup mulutnya, dia langsung panik dan hampir tidak bisa berdiri dengan tegak, tangannya benar-benar getar hebat, hingga tak sadarnya menjatuhkan ponselnya yang langsung terbanting ke lantai, Jenny melihat ke arah sekitarnya yang kembali rasanya berputar hebat, apa yang harus dia lakukan?


Jenny menarik napasnya dalam dan mencoba mengatur napasnya, mencoba untuk lebih tenang dan berpikir lebih jernih, bagaimana bisa mereka mengetahui keberadaan Jonathan, artinya kemungkinan ada yang memata-matai keberadaan Jonathan sekarang, Apa yang harus dia lakukan? pikir Jenny menggigit bibirnya, Jenny segera mematikan keran air yang dari tadi mengucur deras, lalu dia segera mengambil ponselnya yang retak, mengurungkan niatnya untuk sekedar terlihat lebih segar, dia segera keluar.


Saat dia buru-buru keluar dari kamar mandi itu, dia mendengar suara Clara yang sedikit berbisik, Jenny terdiam, mendengar apa yang sedang Clara bicarakan.


"Kita selalu hidup dengan sangat damai, dari kita bertemu hingga sekarang, keluarga kita begitu tenang tanpa ada musuh sama sekali, bahkan Jonathan tak pernah mengalami hal ini sama sekali, kenapa semua begitu kacau, jika Melisa ada di sini, pasti dia akan sangat kecewa melihat anaknya seperti ini, sebelum dia meninggal, di memintaku untuk menjaga Jonathan," suara Clara lemah, ada rasa kecewa dan sedih di nada suaranya.


"Kuatkan lah dirimu," Suara Raphael terdengar.


"Namun ... keluarga mereka begitu penuh dengan masalah dan juga penuh dengan intrik, aku rasa aku tak sanggup masuk ke dalam dunia seperti ini, bukannya kau juga menghindari politik karena tak ingin mengalami hal seperti ini?" tanya Clara lagi dengan suara begitu khawatir dan cemas.


Jenny yang mendengar hal itu menggigit bibirnya, cinta mereka ternyata berimbas pada semua orang, Jenny merasa semangatnya hilang, tubuhnya begitu lemas sekarang, apalagi setelah mendapatkan pesan mengancam itu, dan sekarang mendengarkan keluhan dari bibi Raphael, ya memang, hidup Jonathan serasa begitu baik-baik saja sebelum mereka bersama, mungkin jika tanpa kehadiran Jenny, dia akan punya kehidupan yang indah, tak akan ada tangan yang patah, atau cedera kepala serius seperti ini, apalagi percobaan pembunuhan.


Dari awal mereka bersama, Jonathan memang sudah mengalami banyak hal, dia harus di jahit 14 jahitan hingga sekarang terbaring tak sadarkan diri, ini semua karena dia dekat dengan Jenny, sepertinya dirinya benar-benar membawa kesialan bagi Jonathan.


Jenny menarik napasnya, dia berjalan ke arah tempat Jonathan di rawat, kehadirannya membuat Clara dan Raphael sedikit kaget seolah takut tertangkap basah, Jenny memberikan senyuman manisnya, Clara yang sedang duduk di samping Jonathan lalu bangkit dan tersenyum.


"Paman, Bibi, bolehkan aku meminta sesuatu?" tanya Jenny sendu.


"Ya?" jawab Raphael.


"Paman, bolehkah membawa Jonathan pulang ke Negera kalian, Jonathan pasti lebih aman di sana, lagi pula di sana dia pasti akan dirawat dengan baik bukan?" suara Jenny bergetar hebat mengatakan hal itu, dia menahan tangis dan sakitnya yang menohok tenggorokannya, membuat napasnya tersekat, bahkan seperti duri yang menyangkut di tenggorokannya.


"Jenny, apa kau serius?" tanya Raphael dan Clara sambil saling melempar pandang.


"Ya, jika ... keadaan Jonathan memungkinkan ... tolong bawa dia dari sini, dia ... pasti lebih aman di sana kan?" tanya Jenny, air matanya berbulir jatuh begitu saja, dari wajahnya terlihat sekali dia merasakan sakit, namun mencoba tegar, Clara bisa merasakan hal itu, Clara datang dan memeluk Jenny, Jenny yang sudah berusaha menahan akhirnya jebol juga pertahanannya.


"Baiklah, aku akan memanggil dokter dan membicarakan hal ini," kata Raphael yang merasa itu adalah ide yang bagus, di negara mereka, mereka punya kuasa, lagi pula pasti lebih baik di sana, keluarga mereka banyak, dan Jonathan juga pasti sembuh dengan cepat.


Jenny yang baru mengurai pelukannya dari Clara hanya mengangguk, Clara lalu mundur dan mendekat ke arah suaminya, mereka mengerti keadaanya, lalu segera keluar membiarkan Jenny untuk berdua dengan Raphael sejenak.


Jenny berjalan ke arah Jonathan, berdiri di samping pria itu, Wajahnya hanya menatap sendu ke arah Jonathan, melihat pria itu tampak tidur dengan sangat nyamannya, napasnya teratur, membuat dadanya terangkat perlahan, dia mengelus perban yang ada di kepala Jonathan, mencium pelan luka-luka lembam di wajah Jonathan, Jenny berbisik lembut pada telinga Jonathan.


"Aku tidak akan membiarkanmu seperti ini lagi, berjanjilah untuk kembali, sembuhlah, lalu ingatlah aku sangat mencintaimu," ucap Jenny pelan sambil menarik hidungnya yang basah, kembali mencium Jonathan, rasanya tak ingin melepaskan, namun keberadaan Jenny hanya membuat sakit bagi Jonathan, dia tak akan sanggup melihat apalagi yang bisa mereka buat pada Jonathan, dia dan keluarganya, memang tak seharusnya menerima hal ini.-