Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 61



Chintia duduk di ruang pembesukan, benar kata Jonathan, Anxel ditahan sementara di kantor pusat. Chintia duduk dengan sedikit gugup, dia mengetuk-ngetuk meja yang ada di depannya, cukup lama dia menunggu, mungkin hampir 20 menit hingga akhirnya pintu ruangan itu terbuka.


Chintia segera memalingkan wajahnya, melihat ke arah pintu yang perlahan terbuka menunjukkan sosok Anxel yang kaget melihat siapa yang datang.


Chintia langsung berdiri, dia menatap wajah Anxel yang tampak cukup kusut, dia yang biasanya selalu tampak rapi dengan setelan kemeja dan jas dokternya kali ini hanya menggunakan baju tahanan, tangannya pun di borgol lalu dengan tatapan tak percaya.


Anxel memang cukup kaget melihat kedatangan dari Chintia, saat para polisi mengatakan bahwa ada wanita yang ingin menemuinya, dia kira ibunya lah yang akan menemuinya, namun dia salah, malah Chintia yang datang kemari.


Polisi segera membuka borgol Anxel, meninggalkan mereka berdua di dalam ruang kunjungan itu, Chintia tak berkata apapun, nanar memandang Anxel yang juga hanya diam, tak ada senyuman atau sapaan, hanya memandang dengan wajah diam masing-masing.


Namun tanpa aba-aba Chintia mendaratkan tamparan keras di pipi Anxel, menumpahkan semua rasanya, benci, marah, kesal, rindu, namun juga khawatir dalam waktu bersamaan, namun setelah menampar Anxel dan melihat wajah prianya itu, Chintia langsung memeluk Anxel erat.


Anxel awalnya ragu membalas pelukan Chintia, namun mencium harum tubuh wanita yang sedang mendekapnya, dia jadi memeluknya, tak menyangka dia merindukan wanginya, Anxel membalas pelukan erat itu, membiarkan wanitanya menangis tersedu di dalam pelukannya.


Awalnya Anxel memang hanya ingin memanfaatkan Chintia, gadis lemah yang terobsesi dengan cerita-cerita cinta, namun seiring waktu dan lamanya mereka bersama, Anxel baru menyadari, ternyata ada yang hilang saat dia tak ada.


Apalagi mendapatkan ketulusan cinta Chintia, bahkan mungkin dia lebih mencintainya dari pada orang tuanya sendiri, gadis itu menangis tersedu.


"Apa yang Jenny sudah katakan padamu?" tanya Anxel, dia yakin Jenny sudah mengatakan semuanya pada Chintia.


"Semuanya, awalnya aku tidak ingin percaya, namun dia memberikan rekaman suaramu,"kata Chintia mengurai pelukan, menghapus air matanya yang tumpah berderai, walau sakit dengan kenyataan, tapi dia lebih merindukan sosok Anxel. Baju bagian depan Anxel basah karena air matanya.


"Maafkan aku," lembut Anxel berbicara, menghapus dan mengusap pipi lembut Chintia.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan tanpamu?" tanya Chintia, dia tahu dia bodoh untuk mempertahankan mencintai Anxel, tapi apakah kau yakin kau juga akan sanggup meninggalkan seseorang yang sudah memberimu beribu rasa dan kenangan indah?


"Chintia ..." kata Anxel dengan senyum manisnya, meletakkan anak rambut Chintia ke belakang telinganya, Chintia hanya memandang nanar pada Anxel, "Jangan menungguku, nikmatilah hidupmu, jangan habiskan waktumu untuk ku."


Chintia yang mendengar itu membesarkan matanya, dia lalu menggelengkan kepalanya, "Aku tidak sanggup untuk menjalani ini semuanya sendirian."


"Maka carilah orang lain yang akan menemani hari-harimu, jangan menungguku, itu hanya akan menjadi sia-sia," kata Anxel lembut.


"Tapi ...." kata Chintia.


"Aku bukan Tuhan, tapi aku tahu keadaanmu, aku berharap kau akan bahagia, demiku, tolong nikmati hidupmu," kata Anxel tersenyum manis, tangannya dengan cepat menekan tombol yang ada di sana, tombol untuk memanggil petugas.


Chintia tampak sedikit tak rela, dia belum rela Anxel pergi lagi darinya, namun tak lama petugas datang, Anxel memberikan tangannya, mereka kembali memborgolnya dan walaupun Chintia mencoba memelas menatap Anxel dengan matanya yang berlinang, dia hanya bisa melihat Anxel yang menatapnya sambil digiring kembali masuk ke dalam sel tahanannya.


Chintia hanya bisa menangis tersedu-sedu, tak rela namun tak bisa melawan.


---***---


Jenny melirik ponselnya, belum ada apapun di dalam ponselnya, dia lalu segera kembali melihat dirinya di dalam cermin, dia sudah siap, dengan gaun putih potongan A, bermotif flora dominasi bunga berwarna pink, dia tampak begitu cantik, Jenny tersenyum manis, Benar-benar sempurna.


"Hai," kata Jenny.


"Sudah siap? aku sudah menunggumu di bawah," suara Jonathan terdengar di seberang.


"Tentu, sebentar aku akan menggunakan sepatuku dulu," kata Jenny menyambar sepatu stiletto-nya yang berwarna nude, dia duduk di tepi ranjangnya, menggunakannya segera, setelah itu dia segera mengambil tasnya, lalu berjalan keluar dari rumahnya, hanya ada dia di rumah itu, paman dan bibinya masih tinggal di istana namun setahu Jenny, sekarang paman dan bibinya sedang ada didalam perjamuan untuk bertemu keluarga Jonathan, ingin membicarakan tentang hubungan mereka.


Jenny segera membuka pintunya, melihat Jonathan yang sudah menunggunya, Jonathan segera keluar menatap dengan sangat kagum dengan penampilan Jenny, terlalu memukau bahkan untuk seorang Jonathan yang sudah biasa melihat wanita-wanita cantik.


"Maaf lama," kata Jenny.


"Tak apa-apa," kata Jonathan membuka pintu mobilnya, tak ingin terlalu lama, sudah tak sabar membawa Jenny untuk bertemu keluarganya untuk mempertegas hubungannya dengan Jenny, apalagi sekarang paman Jenny sedang bertemu dengan pamannya yang merupakan pemimpin keluarganya.


Jenny segera masuk dan Jonathan segera menutup pintunya, masuk ke dalam mobilnya duduk di samping Jenny, mengenggam tangan Jenny dan tak bisa memalingkan wajahnya dari Jenny, mobilnya segera dijalankan oleh supir Jonathan.


"Siapa saja keluargamu yang datang?" tanya Jenny, semerbak wangi tubuh Jenny membuat Jonathan mabuk kepayang.


"Hanya pamanku dan istrinya, ayahku juga ada di sana," kata Jonathan.


"Ayahmu juga ada?" tanya Jenny lagi.


"Ya."


Jenny menatap ke arah Jonathan, dia mengerutkan dahinya, bagaimana pertemuan ini akan terjadi, Pamannya dan Ayah Jonathan dalam satu ruangan, akankah terjadi sesuatu?


"Ada apa?" tanya Jonathan yang tahu Jenny sedang memikir sesuatu.


"Tidak apa-apa," kata Jenny sedikit tersenyum.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja," kata Jonathan mencoba menenangkan Jenny, Jenny hanya tersenyum, dia cukup gugup bertemu kembali dengan Ayah Jonathan dan juga akan bertemu dengan Paman Jonathan dan bibinya.


"Sudahkah kau mengatakan pada keluarga Chintia bahwa kalian tak jadi bertunangan?" tanya Jenny lagi yang baru ingat hal itu.


"Belum, tapi aku sudah bertanya pada Chintia, katanya dia akan mengatakannya sendiri, aku akan ke keluarga Chintia setelah pertemuan ini karena pamanku harus segera pulang ke negara kami, aku memprioritaskan tentang hal ini dulu," kata Jonathan menjelaskan.


"Baiklah," kata Jenny menarik napas panjang, Jonathan hanya mengetatkan tangannya, mencoba menenangkan Jenny yang tampak cukup gugup.


Mobil mereka akhirnya berhenti di parkiran suatu restoran mewah yang memang sengaja di sewa untuk pertemuan ini, Jonathan seperti biasa membukakan pintu untuk Jenny walaupun satu tangannya masih saja tersanggah, kata dokter dia harus cukup lama menahan tangannya agar tulangnya segera kembali menyatu.


Mereka segera masuk ke dalam ruangan mewah yang megah itu, saat mereka masuk ke dalam, semua mata tampak tertuju pada mereka, namun anehnya semua tampak tegang dan tak ramah.