Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 44 - Pertunangan paksa.



Jenny enggan keluar dari mobil itu, dia melihat mobil asing  yang sudah terparkir di depan rumahnya, itu pasti mobil ayah dan ibu Anxel, Anxel yang sudah ingin keluar berhenti sejenak melihat Jenny yang bergeming duduk di sampingnya, dia lalu mendekati Jenny.


"Turun, apa harus terus aku ingatkan siapa yang harus kau jaga sekarang," kata Anxel berbisik dengan suaranya yang mengancam.


Jenny melirik Anxel tajam, benar-benar sudah sangat membenci pria ini, tapi mau tak mau dia harus keluar dari tempat itu, dia segera keluar setelah pintu dibukakan oleh supir Anxel, dia lalu berjalan ingin masuk ke dalam rumahnya, namun sebelum dia memasukkan kode untuk membuka pintunya, tangannya digenggam oleh Anxel, Jenny menarik tangannya, melirik jijik pada pria yang ada di sebelahnya.


"Jangan terlihat seperti itu, bisakah?" kata Anxel berbicara lembut seolah tak ada apa-apa, Jenny benar-benar begah melihat sikap pria ini, benar-benar aktor yang sangat hebat.


Pintu rumah itu terbuka, Jenny hanya bisa pasrah mengandeng tangan Anxel, walau terlihat berjalan beriringan, wajah Jenny tampak tak ikhlas sama sekali, sangat-sangat murung, raganya mungkin ada di sini, tapi pikiran dan perasaannya sedang ada di tempat Jonathan, bertanya-tanya pria itu bagaimana sekarang kabarnya?


Anxel membawa Jenny ke ruang tengah, kedatangan mereka membuat seluruh pandangan ke arah mereka, Jofan duduk di kursi kesukaannya, di dekatnya ada Aurora yang mengerutkan dahinya memandang Jenny yang tampak bergitu murung, ayah dan ibu Anxel ada di sisi yang lain.


"Baru saja dibicarakan sudah datang ternyata," kata ibu Anxel berdiri, Jenny mengamati wanita yang seumuran dengan bibinya itu, cantik tentunya, dengan penampilan terjaga, seorang ibu perdana menteri memang harus selalu bisa dipamerkan bukan.


Ibu Anxel datang mendekati pasangan itu, Anxel melirik Jenny yang bahkan hanya diam saja dengan wajah yang murung, Anxel menggoyangkan tangannya, Jenny meliriknya malas, Anxel memasang wajah senyumnya, Jenny tentu tahu, Anxel ingin Jenny tersenyum, Jenny mencoba tersenyum, senyum sangat kaku untuk menyambut ibu Anxel.


"Lihatlah, gadis yang sangat cantik, Anxel benar-benar pintar mencari calon pendamping," kata ibu Anxel melihat Jenny dari atas hingga bawah, mengamati wanita yang akan mendampingi anaknya nanti, terlihat sekali ibu Anxel pun hanya melihat fisik Jenny, Aurora merasa perlu mendekati anaknya itu sekarang.


"Terima kasih, Jenny, bagaimana keadaanmu, bukannya tadi kau mengatakan kau sedang tidak enak badan hingga harus bertemu dengan Anxel, sekarang bagaimana? kau masih pusing dan mual?" tanya Aurora, mengarang bebas, ingin membawa anaknya ketempat lain, karena dia merasa dari pandangannya Jenny terlihat sangat terpaksa dengan hal ini.


"Oh, ya, aku sedikit kelelahan," kata Jenny lagi, menangkap sebuah kesempatan untuk lari dari keadaan ini, jika dia sakit, tak akan ada yang memaksanya sekarang bertunangan kan.


"Maafkan aku ibu perdana menteri, putriku baru saja pulang dari daerah utara, di sana sangat dingin, mungkin perubahan cuaca membuatnya menjadi begini," kata Aurora yang ingin membawa Jenny keluar dari ruangan itu.


"Benarkah? kau tidak mengatakan hal itu tadi di rumah sakit, kau malah ingin bertunangan denganku secepatnya, jadi apa kita harus mengulurnya? aku tidak masalah jika kau ingin mengulurnya," kata Anxel memandang Jenny dengan senyuman manisnya, namun Jenny tahu apa maksud dari senyuman itu, senyuman penuh ancaman, semakin di menyulutnya, semakin lama Jonathan nanti akan disekap, Jenny tidak bisa lagi berkata apa-apa.


"Tidak apa-apa Bibi, aku rasa aku masih sanggup, kita lakukan saja pertunangan ini," kata Jenny yang menatap mata Aurora dengan matanya yang berkaca, Aurora menangkap tatapan sedih itu, merasa tak benar tapi dia bisa apa, Jenny yang sudah mengatakan hal itu.


Jenny menarik napasnya, ada suara tarikan yang berair dari hidungnya, menahan tangisnya hingga membuat hidungnya berair.


"Ya," katanya tegas, namun mencabik hatinya, demi Jonathan dia harus melakukan hal ini.


"Bagus sekali, tak menyangka akhirnya kita benar-benar bisa menjadi saudara, itu impianku selama ini," kata Dion pada Jofan, Jofan menyambutnya dengan seyuman tipis namun segera hilang ketika melihat ke arah Jenny, serasa ada yang tak beres dengan semua ini.


"Sebelum kemari, kami juga sudah mencari cincin pertunangan kami, Jenny yang memilihnya sendiri tadi," kata Anxel menunjukkan kotak cincin yang dia siapkan tadi, Jenny hanya tersenyum tipis mendengar hal itu.


"Baiklah, kita lakukan saja pertunangannya sekarang, toh menunda-menunda hal bahagia seperti ini tidaklah bagus, jadi, bagaimana?" kata Dion menggebu-gebu, istrinya kembali ke sisinya, sedangkan Aurora hanya bisa berdiri melihat ke arah Jenny, meletakkan tangan hangatnya ke pundak Jenny, membuat Jenny hampir tak bisa menahan tangisnya, tapi jika dia menangis, dia bisa membahayakan Jonathan.


"Kami serahkan semuanya pada Jenny," kata Jofan melirik ke arah istrinya, istrinya seolah menolaknya, namun Jofan tak bisa mengatakan apa-apa, karena itu dia harus menyerahkan semuanya pada Jennya.


"Ya, kita bisa lakukan semuanya saja sekarang, akan lebih baik," kata Jenny, bergetar suaranya, namun mencoba untuk tegar.


"Bagus sekali," kata ibu Anxel, Aurora benar-benar merasa ada yang salah.


"Jenny, kau yakin, pertunangan dan pernikahan hanya terjadi sekali dalam hidupmu, kau yakin," kata Aurora pelan, lembut mencoba mempertanyakan hal ini. Anxel mengetatkan tangannnya yang menggenggam tangan Jenny, Jenny sadar akan hal itu.


"Ya, Ya, aku yakin," kata Jenny lagi, nanar menatap mata bibinya, mulutnya sangat ingin mengatakan tolong, namun tak bisa sama sekali.


"Baiklah, kalau begitu, kami menerima pertunangan ini," ujar Jofan, Aurora menggigit bibirnya, dia melepaskan tangannya dari pundak Jenny, kembali berdiri dekat suaminya, mereka berdiri di sisi putra dan putri mereka masing-masing.


Anxel mengurai genggaman tangannya pada Jenny, mengambil cincin manis bertahtakan berlian itu, dan segera mengambil tangan Jenny, Jenny hanya meggertakkan giginya, ingin sekali menarik tangannya namun tak bisa,  Anxel perlahan memasukkan  cincin itu di tangan Jenny, Jenny serasa ingin pingsan sekarang, ya, mungkin dia bisa pingsan sekarang! benar! dia lalu segera melihat ke arah Anxel, kepalanya segera berputar, Anxel adalah seorang dokter dia akan tahu jika Jenny benar-benar pingsan atau tidak, jika dia ketahuan, pasti Anxel akan melakukan hal yang tidak baik nantinya.


Tangan Jenny gemetaran saat dia mengambil dan harus memasukkan cincin pertunangan itu di jari Anxel, perlahan dia memasukkannya namun Anxel segera mendorong cincin itu dan ayah dan ibu Anxel terlihat bergitu senang, Jenny terdiam, serasa semua tiba-tiba hening dan hampa dan kepalanya sakit sekali serasa seluruh dunianya kosong dan berputar putar, tiba-tiba menggelap, dan dia tak bisa menahan dirinya, ambruk begitu saja.