
"Banyak omong kau!" kata pria itu, segera memberikan bogem mentahnya pada rahang Jonathan, Jonathan segera tersungkur jatuh, tak bisa melawan karena kedua tangannya terborgol, belum hilang rasa sakit yang langsung merobek bibirnya itu, mereka segera menyiksanya, menendang punggung dan perutnya tanpa ampun, salah satu dari mereka malah memukulkan tongkat baseball ke kepala Jonathan yang membuatnya hilang kesadaran seketika.
"Sudah cukup, perintahnya hanya memberikan pelajaran padanya, kita tidak dibayar untuk membunuhnya," kata pria yang sepertinya ketua kelompok itu. mereka melihat tubuh Jonathan yang sudah babak belur, wajahnya sudah penuh dengan luka lebam dan darah, di udara dingin, di antara ilalang-ilang yang bergoyang tertiup angin malam, mereka meninggalkan begitu saja tubuh Jonathan yang tak sadarkan diri.
---***---
Jenny akhirnya terlalu lelah untu bisa membuka matanya, awalnya dia menyangka dia tak akan bisa tidur lagi malam ini, namun entah bagaimana, secepat itu dia bisa kehilangan kesadarannya.
Jenny membuka matanya seperti kaget, merasakan sentuhan di pipinya yang halus, dia lalu terduduk dan matanya membesar melihat sosok yang sekaran sudah ada di depan matanya.
"Jonathan, bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Jenny kaget, dari mana Jonathan masuk, kenapa tiba-tiba ada di dalam kamarnya, apa dia membobol jendela, tapi kamarnya ada di lantai dua rumah mereka.
"Srtt ...." Jonathan memberikan gestur untuk diam, membuat Jenny kembali mengerutkan dahinya, namun dia mengikuti maunya Jonathan, dia diam.
Tangan Jonathan menyentuh pipi Jenny, menyibakkan rambutnya yang terurai, sentuhan tangan itu entah kenapa terasa tak sehangat biasanya, malah cendrung dingin.
"Jonathan, ada apa?" tanya Jenny yang bingung.
Jonathan hanya tersenyum, dia tak mengatakan apapun lagi, hanya menyelipkan tangannya ke tangan Jenny lalu tak lama berdiri dan dia pergi perlahan meninggalkan Jenny, Jenny yang melihat itu tentu kaget, dia segera ingin mengejar Jonathan, dia menyibakkan selimutnya dan hendak turun dari ranjangnya, namun tiba-tiba saja dia seperti jatuh, jatuh jauh sekali ke dalam lubang yang gelap, dan saat dia terhempas, dia membuka matanya kaget hingga langsung terduduk.
Suasana hening, napasnya terengah, suara jantungnya seperti terdengar di telinganya, apa yang baru saja dia alami, sepertinya dia sudah mimpi buruk sekali, Jonathan, apa Jonathan benar-benar ada di sini?
Jenny panik dan segera turun dari ranjangnya, dengan cepat dia membuka pintu kamarnya dan melihat lorong kamarnya gelap, dia segera keluar, menuruni anak tangga satu persatu, memperhatikan keadaan rumahnya yang sepi dan remang, namun sosok itu tak terlihat, benarkah itu hanya mimpi? apa maksud mimpi itu? dan sekarang hati Jenny benar-benar tak tenang.
---***---
Raphael tak bisa tidur sama sekali, Clara pun begitu, setia dia menemani suaminya yang bahkan tak ingin masuk ke dalam kamar tidur mereka, Liam pun hanya bisa mondar-mandir saja. Mereka sudah menghubungi pengecara yang akan mendampingi dan membela Jonathan, namun dia baru akan ke sana pagi nanti juga.
"Aku harus melihat keadaan Jonathan," kata Liam sudah tidak sabar, walaupun dia harus ditahan juga, rasanya dia harus bertemu dengan Jonathan.
"Liam, ini sudah dini hari," kata Raphael pada sepupunya itu.
"Baiklah, kami ikut denganmu," kata Raphael, Liam segera mengangguk , Raphael dan Clara masuk sejenak untuk menyiapkan diri, tak lama mereka segera pergi dari sana.
Mereka segera pergi menuju kantor polisi pusat tempat dimana katanya Jonathan di tahan, setidaknya itulah yang dikatakan polisi-polisi itu, mereka berasal dari kantor polisi pusat, tak menunggu lama, setelah mobil mereka berhenti, Liam, Raphael dan istrinya segera masuk ke dalam kantor polisi itu, mereka langsung di sambut oleh polisi yang sedang berjaga dini hari itu.
"Kami keluarga dari Jonathan Medison yang tadi malam dibawa ke sini," kata Liam bahkan sebelum polisi itu menanyakan maksud kedatangan mereka.
Polisi itu mengerutkan dahinya, memandang wajah-wajah cemas di depannya, dia ingat tadi malam adalah malam yang tenang, seingatnya tak ada penangkapan atau apapun, namun dia mencoba memeriksanya, ingin tahu apakah dia salah mengingat atau mungkin tersangka datang sebelum dia bertugas.
"Tunggu sebentar," kata polisi itu, dia segera memeriksa semua catatan, bahkan tahanan sementara yang ada di sana, tak satupun bernama Jonathan.
"Maaf Tuan dan Nyonya, sepertinya Anda salah, karena tadi malam tidak ada penangkapan apapun, lagi pula di daftar tahanan sementara di sini, tidak satu pun tahanan yang bernama Jonathan Medison," kata polisi itu sopan.
Liam dan Raphael langsung berwajah kaget, bagaimana tidak ada, di depan mata mereka sendiri Jonathan diborgol dan diseret pergi, dan mereka berdua yakin, polisi-polisi itu berasal dari sini.
"Tidak mungkin, ada 4 orang polisi yang mengaku dari sini, mereka membawa anakku, ini bukti foto dari surat penangkapan anakku, tertulis kantor polisi pusat bukan?" Kata Liam mulai panik.
Polisi itu segera mengambil ponsel Liam, mereka melihat ke arah surat penangkapan itu, sekali lihat saja mereka sudah tahu bahwa surat itu palsu.
"Tuan, surat ini palsu, kami tidak mendapatkan pengaduan dari siapapun atas nama Jonathan Medison, dan dia tidak ada di sini," kata Polisi itu lagi yang langsung membuat Liam lemas, Raphael yang mendengar itu langsung mengambil tindakan.
"Kalau begitu keponakanku di culik, aku ingin kalian mencarinya sekarang," kata Raphael segera.
"Baik Tuan, kami akan memasukkan laporan Anda," kata polisi itu segera.
Liam memandang ke arah Raphael, dia seperti sedang memutar otaknya.
"Aku harus bertemu dengan Jofan sekarang," kata Liam yang merasa hanya Jofan yang bisa membantunya sekarang, dia segera meninggalkan Raphael yang sebenarnya ingin mengejar Liam, namun dia tetap harus memasukkan laporan tentang penculikan Jonathan itu.