Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 22 - Wanita Aroganku.



Mereka hanya duduk menikmati cahaya utara itu hingga pagi cukup menyinsing, Jonathan melihat ke arah wajah Jenny yang tampak mulai memucat, mungkin karena dinginnya, tangan mereka yang saling mengenggam terasa begitu hangat, sehangat hati mereka berdua.


"Dingin?" tanya Jonathan lembut.


"Ya, bisakah kita pulang sekarang?" tanya Jenny yang sebentar lagi merasa dia akan mulai gemetaran.


Jonathan tak menjawab, sebenarnya tak ingin, karena jika pulang nanti, mereka harus melepaskan satu sama lain, Jenny menatap wajah diam Jonathan, tahu sebenarnya perasaan Jonathan, Jenny pun sebenarnya enggan pulang, namun tak mungkin pula selamanya mereka di sana.


Jenny menyenderkan tubuhnya ke sisi tubuh Jonathan sebelum akhirnya mereka mengudara, meninggalkan daratan dingin tempat semua kenangan tercipta, lagi-lagi tangan mereka saling terkait, tak ingin terlepaskan, tanpa sadarnya Jenny tertidur, ternyata dia baru menemukan tempat ternyamannya, di sisi Jonathan.


Jonathan melihat Jenny yang tertidur pulas, tak tega membangunkannya, karena itu dengan perlahan dia melepaskan sabuk pengamannya, dan setelah itu dia segera mengendong Jenny dengan sangat hati-hati, begitu takut untuk membangunkannya, dia perlahan keluar dari helikopter itu, wajahnya hanya menyungingkan senyuman tipis, tampak ambigu, antara kebahagian dan kesedihan.


Perlahan dia mengendong Jenny yang tampak meringkuk dalam gendonganya, mencari hangatnya di tubuh Jonathan, Jonathan berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam villa itu, melirik kepala pelayan yang berdiri menyambutnya.


"Nona Chintia?" tanya Jonathan.


"Belum pulang Tuan," kata Kepala Pelayan itu.


Jonathan sedikit mengerutkan dahinya namun juga cukup lega, masih ada waktunya bersama dengan Jenny jika begini, mereka memang pulang cukup pagi, ini masih pukul 4 pagi, bahkan cahaya pagi pun belum terlihat, Jenny kembali meringkuk, membuat Jonathan sadar, dia segera masuk, perlahan membawa wanita itu ke lantai 2 dan segera membawa Jenny yang tampak lelap, mungkin terlalu letih semalaman tidak tidur belum lagi tubuhnya harus mempertahankan diri terhadap dinginnya malam.


Jonathan membaringkan tubuh Jenny dengan sangat perlahan, dia memposisikan kepalanya, membuka sepatu yang dipakai oleh Jenny, dia juga sebisa mungkin membuka mantel yang digunakan oleh Jenny, Jenny tampak sedikit terganggu, Jonathan sejenak berhenti, setelah itu melanjutkannya, setelah melakukan hal itu dia menyelimuti tubuh Jenny hingga Jenny tampak begitu nyaman.


Jonathan sedikit tersenyum, mengelus kepala Jenny, membuat Jenny kembali tampak nyaman, dia mengecup hangat dahi Jenny, mencium wangi dari rambut wanita itu yang langsung masuk ke dalam ingatannya, dia juga mengecup lembut bibir Jenny.


"Selamat tidur, gadis aroganku," kata Jonathan tersenyum, namun hatinya miris, dia menarik tangannya yang sebenarnya tak ingin jauh dari Jenny, menegakkan tubuhnya lalu segera ingin berbalik sebelum tangannya di tarik oleh Jenny, Jonathan kaget karenanya, melihat Jenny yang tampak membuka matanya.


"Hei,sejak kapan kau terbangun?" lembut Jonathan bertanya, dia berjongkok di bawah, mensejajarkan kepalanya dengan Jenny yang ada di ranjang itu.


"Sejak kau membuka Jaketku," kata Jenny tersenyum namun dengan sikap manja, meringkuk di selimutnya.


"Oh, kau ingin melihat apa yang aku lakukan ya? kau masih berpikir aku ini tidak tulus denganmu?" tanya Jonathan dengan wajah sedikit pura-pura kecewa.


"Bukan begitu, aku suka tindakan spontanmu, aku butuh elusan kepala lagi," kata Jenny, menarik tangan Jonathan yang dia letakkan di atas ranjang itu, lalu meletakkannya pada kepalanya sendiri.


Jonathan melihat kemanjaan Jenny itu segera tertawa kecil, dia mengusap sedikit keras rambut Jenny, bahkan seperti mengacak-acaknya.


"Bukan seperti itu, yang lembut," pinta Jenny lagi menuntut.


"Tidurlah," kata Jonathan menatap mata lelah Jenny, Jenny membalikkan tubuhnya, menatap Jendela yang masih gelap.


"Kita masih punya waktu bersama, aku tidak ingin menghabiskannya dengan tidur," ujar Jenny, namun dia tidak bergerak dari tempat tidurnya.


"Temani aku hingga esok pagi," kata Jenny.


"Baiklah, aku akan menemanimu, " kata Jonathan.


Jenny tersenyum, dia merentangkan tangannya, meminta untuk Jonathan memeluknya, Jonathan tersenyum manis, membuka dulu mantel yang dari tadi dia gunakan, melemparkannya ke salah satu kursi yang ada di dekatnya, segera dia masuk ke dalam selimut dan Jenny segera memposiskan dirinya agar mudah di peluk oleh Jonathan, Jenny meringkuk, kepalanya tepat di dada bidang Jonathan, mendengarkan suara detak jantung dan suara napas Jonathan yang menenangkan, kepalanya dielus lembut oleh Jonathan, yang hanya bisa diam.


"Anxel dan Chintia belum pulang?" tanya Jenny yang tak ingin lepas dari tempat nyaman itu.


"Belum, sepertinya mereka menginap di hotel yang sudah aku siapkan untuk kita berempat," kata Jonathan lagi, sebenarnya tak ingin membicarakan mereka, mengingatkan kenapa dia tak bisa bersatu dengan wanita yang sekarang ada di dalam dekapannya ini.


"Sejak ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan, aku sering mengalami mimpi buruk, saat kecil, bibiku akan masuk dan menemaniku tidur, bahkan hingga sekarang aku masih suka memintanya tidur denganku," kata Jenny bercerita.


"Tidurlah, malam ini aku ada di sini untuk mu, tak perlu takut," kata Jonathan, sendu rasanya, dia tak ingin menemani Jenny hanya malam ini, dia ingin seterusnya.


Jenny pun mendengar itu hanya menggigit bibirnya, seperti ada sesuatu yang memancing air matanya, matanya segera berkaca-kaca, dia menghirup wangi masukulin yang dia sangat nikmati ini, ingin mengingatnya lebih lama, namun apa daya, terhalang dengan keadaan.


Jonathan terus mengelus kepala Jenny, membiarkan dia merasa nyaman dalam pelukannya, namun elusan kepala itu malah membuat air mata Jenny tak terbendung, Jonathan mengerutkan dahinya, melirik ke dalam pelukannya, sweater yang dia pakai sudah basah karena tangis Jenny.


"Kenapa menangis, aku tidak ingin kau menangis? bukannya sudah aku katakan, aku tak bisa melepasmu dengan tenang jika kau tidak tersenyum," kata Jenny.


"Tidak, ini hanya sedikit menyesakkan," kata Jenny yang bangkit dari tidurnya, mengusap air matanya dengan cukup keras.


Jonathan pun mengikutinya, duduk di samping Jenny, menatap wajah wanita itu yang sudah entah berapa kali menangis malam ini, benar-benar tak rela, namun bagiamana lagi?


"Katakanlah padaku untuk bertahan, maka aku akan bertahan untukmu," kata Jonathan memegang kedua pipi Jenny, mengadahkan wajah Jenny agar melihat ke arahnya.


Jenny mengamati mata kuning itu, mata itu tajam namun tampak bergerak-gerak, menganalisa wajahnya, memandang dengan tatapan yang begitu berharap, mencoba untuk menyakinkan Jenny dengan segala perasaannya, pelahan tapi pasti tampak berair.


Jenny menunduk, tangisnya kembali menjadi, ingin! sangat ingin dia mengatakan untuk bertahan, untuk bisa bersama dengannya, bagaimana pun Jonathan lah pria yang pertama kali membuatnya bisa merasakan hal ini, sedih, senang, nyaman dan takut kehilangan dalam waktu bersamaan, namun dia tak bisa mengabaikan tamparan kenyataan, hubungan mereka tak mungkin bisa bertahan, rintangan itu terlalu besar terbentang.


Jonathan tak bisa menahan tangisnya, air mata itu lolos saja dari matanya, padahal sekuat tenaga semalaman itu dia tidak ingin menangis, dia menekan kedua bibirnya, membuang pandangannya dari Jenny yang menunduk saja, tahu kerasnya hati wanita arogannya ini, jika dia sudah memutuskan untuk tidak, sepertinya tak ada yang bisa mengubahnya.


Jonathan menyibakkan selimutnya keras, membuat Jenny segera menaikkan wajahnya, menatap Jonathan yang segera keluar dari ranjangnya, dia berhenti sejenak, berdiri membelakangi Jenny, menghapus air matanya perlahan, menarik napasnya dalam.


"Tak ada gunanya, ini semua malah akan menyakiti kita bersama, Baiklah, waktuku sudah selesai, Nona Jenny, selamat tinggal, " kata Jonathan, dia segera meninggalkan Jenny yang hanya bisa terdiam, menatap punggung pria itu menjauh darinya, meninggalkannya sendiri dalam kesedihan, nyatanya, sakitnya bahkan beribu kali lipat sekarang, sakit hingga menghujam jantung, serasa sesak namun dengan jantung yang berburu, napasnya benar-benar berat, wangi aroma tubuh Jonathan yang masih bisa dia cium ternyata membuat sakitnya semakin menjadi, Kenapa? kenapa dia harus jatuh cinta dengan pria yang sudah milik wanita lain? kenapa harus jatuh cinta di saat yang tak tepat? kenapa harus jatuh cinta dengan seorang Jonathan?


Jenny tak pernah mendapatkan jawabannya, sakit kepalanya mencari-cari semuanya, namun dia tak menemukan apapun, hingga begitu lelah dan tertidur dengan air mata yang masih mengalir dari matanya yang tampak bengkak.