
Jonathan mengenggam tangan Jenny saat pesawat mereka akan terbang, Jenny melirik tangannya yang dipegang erat oleh Jonathan, beberapa hari yang lalu saat mereka berangkat ke sini, Jonathan masih mengenggam tangan Chintia, saat ini tangannya lah yang di genggam oleh pria ini, Jenny menggigit bibir dalamnya, entah kenapa menjadi tak suka dengan hal ini, membuat suasana hatinya memburuk.
Jenny menarik tangannya perlahan dari genggaman Jonathan, membuat Jonathan melihatnya dengan kerutan di antara kedua alisnya.
"Ada apa?" tanya Jonathan melihat perubahan wajah Jenny.
Padahal dari tadi mereka banyak menghabiskan waktu, dan wajah Jenny terlihat cukup senang, namun kenapa sekarang Jenny terlihat enggan kembali.
"Tidak, aku hanya lelah," kata Jenny yang menunggu agar bisa melepaskan sabuk pengaman itu.
"Oh, ya sudah setelah ini tidurlah," kata Jonathan, walaupun merasa sedikit tidak mempercayainya, bisa jadi memang Jenny lelah karena ini sudah cukup malam, dan kemarin mereka sama-sama tak tidur, tidur siang tak bisa menggantikan tidur malam hari.
Jenny hanya tersenyum tipis lalu segera mengangguk saja, masih tak tenang perasaannya.
Pramugari memberitahukan bahwa mereka sudah di izinkan untuk membuka sabuk pengamannya.
"Nona, Tuan, apakah ingin makan malam?" tanya Pramugari itu.
"Oh, tidak, aku tidak ingin makan lagi," kata Jenny melihat pramugari itu lalu melihat Jonathan yang sedang menatapnya.
"Kau belum makan malam kan?" tanya Jonathan.
"Ya, tapi aku dari tadi sudah makan begitu banyak, aku benar-benar sudah kenyang dan hanya ingin tidur sekarang," rengek Jenny yang sudah mulai tahu bagaimana sifat Jonathan, pria ini pasti akan menyiapkan makanan untuknya, padahal dia sedang tak ingin makan apapun.
"Baiklah, kami tidak makan malam, bisa bawa air putih saja ke kamar," tanya Jonathan.
"Baiklah, Tuan," kata Pramugari itu dengan patuh.
"Ayo, tidur di kamar," kata Jonathan pada Jenny, tangannya sudah ditarik oleh Jonathan.
"Tidak, aku tidur di sini saja," kata Jenny, ingat kemarin saat mereka pergi, kamar itu digunakan oleh Chintia, entah kenapa dia enggan menggunakan atau mendapatkan perlakuan yang sama dengan Chintia, rasanya kesal namun juga bersalah.
Jonathan tak langsung menjawab perkataan Jenny, dia malah membungkuk mengarahkan wajahnya ke arah Jenny, menatap wanita itu dengan serius.
"Tidur di sini tak akan nyaman, kau sudah tak tidur kemarin," kata Jonathan mencoba bernegosiasi dengan Jenny.
"Tidak, aku lebih suka di sini," kata Jenny bersikukuh.
"Haruskah aku menggendongmu lagi agar kau mau masuk ke kamar?" tanya Jonathan bahkan seperti mengancam.
Jenny langsung mendengus kesal, dia tahu kalau Jonathan sudah begitu, dia pasti akan melakukannya, dari pada dia digendong lalu mereka akan diperhatikan oleh asisten dan juga pramugari, lebih baik dia menurut dengan pria ini.
Jenny dengan malas bangkit, matanya marah pada Jonathan, dengan langkah kesal dia berjalan ke arah kamar yang ada di pesawat Jet itu, Jonathan yang melihat langkah berat Jenny hanya tersenyum, walau kesal Jenny patuh padanya, Jonathan lalu membukakan pintu itu untuk Jenny.
Jenny melihat sekitarnya, ruangan itu cukup mewah dengan design minimalis, Jenny lalu membuka mantelnya, Jonathan membantu membukanya dari belakang, dia bahkan mengantungkan mantel itu, Jenny mendapatkan perlakuan itu langsung melirik ke Jonathan.
Jonathan yang baru selesai menggantung mantel Jenny segera melirik dengan senyuman tipis, akhirnya mengerti kenapa wajah Jenny begitu masam.
Jonathan tak menjawab, dia berjalan ke arah Jenny dan berhenti di depannya, tangannya langsung mengarah ke arah syal yang masih ada di leher Jenny.
"Kau cemburu?" tanya Jonathan, suka dengan hal itu.
"Tidak, hanya tak suka disamakan, aku tak suka kalau kau memperlakukan aku seperti dia," kata Jenny lagi, lebih baik Jonathan terkesan cuek, dari pada dia mendapatkan perlakuan yang sama dengan wanita-wanita Jonathan itu karena dia tak sama dengan mereka.
Jonathan tertawa kecil, jelas sekali itu artinya Jenny cemburu dan hal itu membuatnya semakin gemas melihat Jenny yang memasang wajah merajuknya.
"Tidak, aku tidak melakukan hal ini padanya, aku hanya menyuruhnya tidur, dia bilang untuk menemaninya di sini hingga tidur, lalu ...." kata Jonathan menjabarkan apa yang terjadi di kamar itu beberapa hari yang lalu sambil dia melepas syal itu dari leher Jenny, menunjukkan leher jenjang nan putih itu.
"srtt! sudah, aku tak ingin mendengar apa lagi, pokoknya aku tidak suka diperlakukan sama dengan yang lain," kata Jenny dengan bibir yang dia kerucutkan ke depan.
Jonathan bertambah gemas, dia langsung memeluk Jenny, mengetatkan sedikit pelukannya, hingga Jenny menepuk tubuh Jonathan, dia baru melepaskan wanita itu.
"Kau mau membuatku mati sesak ya?" dengan lirikan kesal Jenny memandang Jonathan.
"Karena kau begitu menggemaskan, sudahlah, tidur, bisa-bisa aku tak akan melepaskanmu," kata Jonathan yang seolah ingin mengontrol dirinya, melampiaskan rasa gemasnya pada dirinya sendiri, Jenny hanya mengulas senyuman tipis, tingkah Jonathan lucu sekali.
"Kau tidak istirahat?" tanya Jenny yang melihat Jonathan sudah hendak meninggalkan kamar itu.
"Sebentar lagi, ada yang harus aku kerjakan, tidurlah dulu, aku akan menyusul," kata Jonathan dengan senyuman manisnya sebelum keluar dari kamar itu, meninggalkan Jenny yang tersipu dengan senyuman itu.
Jonathan menutup pintu kamar itu perlahan, saat dia melihat ke arah kabin pesawat itu, asistennya sudah berdiri menunggunya dengan sebuah tablet di tangannya.
"Bagaimana?" tanya Jonathan yang berjalan ke arah Rian, dia lalu duduk di salah satu sofa di dekat kamar Jenny, Rian pun mengikuti Tuannya, menunjukkan hasil yang dia dapat.
"Seperti perkataan Nona Valerie, Tuan Anxel dan Nona Chintia datang ke sana pukul 5 sore sesuai dengan kepergian mereka dari Villa," kata Rian menjelaskan pada Jonathan, menunjukkan beberapa CCTV yang menunjukkan kedatangan mereka. Jonathan mengamati keadaan mereka.
"Lalu?" tanya Jonathan.
"Mereka Check-in untuk 2 kamar yang sudah Anda sediakan, namun bisa terlihat mereka hanya menggunakan 1 kamar itu, Tuan Anxel awalnya ada di kamar 2013 namun dia pindah ke kamar 2015 setelahnya," kata Rian menjelaskan lagi, menunjukkan CCTV yang memperhatikan Anxel perlahan keluar lalu berpindah ke kamar Chintia.
Jonathan mengerutkan dahinya, untuk apa Anxel ke sana? namun dia masih berpikir mungkin Anxel datang untuk menemani Chintia.
"Berapa lama mereka di sana? kapan mereka keluar dari kamar?" tanya Jonathan.
"Tuan Anxel ada di sana lebih kurang 3 jam, lalu mereka keluar dan makan malam di restoran kita, tak lama mereka keluar dari hotel," kata Rian.
Jonathan yang tadi mencondongkan tubuhnya untuk melihat video itu merasa itu masih dalam tahap yang wajar, dia lalu menyandarkan tubuhnya ke sofanya, mengerutkan dahinya, jika mereka keluar melihat Aurora, kenapa mereka salah menyebutkan warna Auroranya?