Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 26 -



Jenny segera menyudahi apa yang dia lakukan di kamar kecil itu, tak terlalu ambil pusing dengan wanita yang tiba-tiba saja datang dan mengatakan hal yang tidak-tidak, mungkin dia salah orang, Jenny yakin dia tak pernah melihat wanita itu.


Jenny langsung melangkahkan kakinya keluar, mencoba menyelusuri lorong itu kembali, namun baru beberapa kakinya melangkah, tiba-tiba tubuhnya yang gontai itu ditarik paksa masuk ke dalam suatu ruangan, tampak seperti gudang kebersihan.


Jenny tak sempat menolak apalagi melawan, semua terjadi cepat, dia segera tertarik ke dalam, dan tubuhnya dihempaskan ke dinding ruangan itu, membuat Jenny kaget dan baru bisa menganalisa apa yang terjadi.


Mata Jenny membulat ketika menemukan sosok Jonathan di depannya, pria itu sekarang berdiri di depannya, sangat dekat dengannya bahkan tubuhnya dihimpit oleh Jonathan hingga dia tak bisa lagi bergerak, Jenny yang mendapatkan perlakuan itu hanya bisa menatap wajah Jonathan yang sekarang melihatnya dengan tatapan tajam itu, mata kuningnya begitu indah dan membuat siapa saja tak bisa memalingkan pandangannya.


Jenny terdiam, matanya tampak bergerak-gerak mengamati wajah Jonathan, harum maskulin nan lembut ciri khas tubuh Jonathan tercium menenangkan, entah kenapa seluruh tubuh Jenny seolah mendapatkan candunya, ternyata ini yang dari tadi di cari oleh Jenny, semerbak yang memabukkan.


"Bukannya kata pelayanmu kau sudah pulang? lalu apa ini? apa yang hendak kau lakukan?" tanya Jenny yang merasa terperangkap, susah payah dia keluar dari mata penghipnotis itu hingga bisa mengatakan hal ini akhirnya.


Jonathan tak menjawab, matanya yang seindah batu safir kuning itu mengamati wajah Jenny, begitu rindu dengan segala yang dimiliki wanita ini, ingin rasanya dia segera menerkam Jenny dan melampiaskan semua rindunya, membalas dendam atas gundah gulana yang sudah disebabkan oleh wanita ini.


Jonathan menyelipkan tangannya ke belakang pinggang Jenny, membuat Jenny kaget karena sekarang posisinya sudah terkunci oleh Jonathan, Jonathan menghentakkan tubuh Jenny ke arahnya, kali ini mereka benar-benar saling menempel.


"Jonathan, kau ini apa-apaan sih?" kata Jenny dengan sekuat tenaganya mencoba untuk melepaskan diri, mendorong ke dua dengan kedua tangannya bertumpu pada dada bidang Jonathan, berusaha agar menjauh dari Jonathan karena sedikit saja lebih lama lagi dia begini, dia takut dia tak akan bisa menolak pesona pria ini.


"Jangan bergerak, aku hanya sudah hampir gila karena berjauhan denganmu," kata Jonathan, perkataan itu membuat Jenny diam, dia menatap wajah serius Jonathan, terdengar cukup gombal bagi seorang Jenny, tapi entah kenapa, malah menghangatkan hatinya.


Jonathan tak ambil waktu lama, memegang dengan cukup kasar kedua sisi kepala Jenny, lalu segera mendaratkan bibirnya tepat ke bibir Jenny, kembali ingin melepas candunya pada bibir Jenny yang terasa halus dan lembut itu.


Jenny tentu kaget, ciuman itu terasa kasar, apalagi Jonathan menekan bibirnya pada bibir Jenny begitu keras hingga terasa cukup sakit bagi Jenny, saat Jonathan memaksa untuk masuk ke dalam rongga mulut Jenny, bau alkohol menyeruak, membuat Jenny sekali lagi kaget dan berontak, tak percaya, sepagi ini ternyata Jonathan sudah mabuk.


Mendapat perlawanan dari Jenny yang terus menerus, Jonathan akhirnya cukup kewalahan dan Jenny berhasil melepaskan diri, Jenny menatap wajah Jonathan yang cukup beringas, matanya tampak memerah, ada rasa kesal tersirat, Jenny tak bisa menebak kenapa rasa kesal itu muncul.


Jenny juga tampak bertampang kesal, namun di ujung matanya tampak air mata yang mengumpul, kesal dan sedihnya bercampur, kesal karena mendapatkan ciuman kasar itu dari Jonathan, sedih karena melihat pria itu jadi begini.


Jenny menghapus keras bibirnya menggunakan lengannya, masih menatap dengan kesal pada Jonathan.


"Kau ini apa-apa? kau tak boleh seenaknya melakukan itu padaku!" kata Jenny mendorong tubuh Jonathan.


"Kenapa aku tak boleh? kau menyukaiku juga kan? kita saling mencintai, tapi kau yang memberikanku batasan, kenapa?" kata Jonathan melontarkan semua rasanya, suara beratnya segera menggema di ruangan kecil itu.


"Ya! aku sudah gila!" kata Jonathan, dia bahkan menekan tubuh Jenny ke tembok hingga Jenny kaget dan tak bisa apa-apa, hanya bisa melihat wajah Jonathan yang sangat-sangat beringas itu, menatapnya seolah benar-benar menerkamnya, Jenny tak pernah melihat Jonathan seperti ini, sepertinya dia benar-benar mabuk.


"Lepaskan aku Jonathan, kau mabuk!" kata Jenny berusaha untuk berontak.


"Ya, aku mabuk karena hanya dengan ini aku bisa merasa aku waras, aku sudah gila karena mencintai orang sepertimu! mulai sekarang aku tegaskan padamu, Jenny, tak akan pernah aku menyerahkan dirimu pada orang lain, bahkan sehelai rambut pun dan mulai saat ini aku tak akan menyerah mencintaimu, cobalah!" kata Jonathan dengan napas yang berat, tercium aroma alkohol yang kuat, Jenny jadi cukup takut karenanya namun juga miris, pria ini begini karenanya.


"Kau benar-benar mabuk," Kata Jenny memanglingkan wajahnya, dengan cepat Jonathan segera memegang pipi Jenny, mengarahkannya pada wajahnya.


"Aku tak pernah sewaras ini, Jenny, mulai saat ini sekuat apapun kau mendorongku, aku tak akan pernah menyerah, bahkan tak akan ada yang akan bisa melarangku, seumur hidupku aku akan berusaha untuk mendapatkanmu apapun taruhannya, aku akan mendapatkan cintamu dan dirimu," kata Jonathan lagi yang membuat Jenny terdiam, dari sorot mata Jonathan terlihat sekali dia begitu serius.


"Tapi kau dan aku, kita sudah terikat dengan orang lain, terimalah, kita tak bisa bersama," kata Jenny yang air matanya mengalir keluar, tak tahu sedih karena melihat keadaan Jonathan sekarang, atau karena mengatakan hal barusan.


"Aku tak perduli, bahkan jika harus memakan seumur hidupku untuk mendapatkanmu, Maka akan ku lakukan, Jenny, aku benar-benar mencintaimu, aku tak pernah tergila-gila mencintai seorang wanita seperti ini, aku sangat tersiksa bahkan hanya karena berjauhan denganmu pagi ini, apa kau juga tak tersiksa karena ini?" tanya Jonathan, sekarang sorot matanya menyuram, penuh luka dan kesedihan, Jenny bahkan bisa merasakan sakit yang di derita Jonathan, sakit yang sama yang juga dia rasakan, air mata Jenny meleleh deras melihat mata Jonathan yang sendu dan basah itu.


Tangan Jonatan melepaskan pipi Jenny, dia mundur sedikit menarik napas dengan sangat dalam dan menunduk, terdengar berat dan susah, Jenny pun hanya bisa menangis diam, tahu betapa beratnya itu.


"Sakit, apa kau tak juga merasakannya?" kata Jonathan lirih.


Jenny diam sejenak, ingin sekali berhambur masuk ke dalam pelukan pria ini, menenangkan sakitnya dan sakit dirinya, karena Jenny tahu benar mereka adalah obat bagi diri mereka masing- masing, namun bukankah memberikan harapan yang mungkin nantinya malah menambah luka akan semakin menyakitkan.


"Lepaskanlah, kita hanya terjebak oleh obsesi kita sendiri," Tolak Jenny yang masih saja merasa hal ini semua tak mungkin terjadi.


Dia dan Jonathan akan mengalami banyak hal jika ingin bersama, Chintia akan terluka, keluarganya juga akan memandangnya sebagai wanita perebut pria milik sepupunya sendiri, belum lagi bagaimana bisa pamannya menerima anak yang ingin merebut istrinya sendiri, begitu banyak penghalang yang harus mereka lewati, sanggupkah?


Jonathan yang mendengar itu menegapkan dirinya, dia memandang Jenny kembali dengan mata merah seriusnya, perih menahan rasa tangisnya.


"Aku sekarang sangat berharap bahwa perasaanku padamu hanyalah sekedar obsesi hingga aku tak perlu menjadi begini, sialnya, perasaanku padamu, bukan sekedar obsesi," kata Jonathan serius.


Lagi- lagi Jenny tak punya kata untuk menjawab perkataan Jonathan, dia hanya diam membuang pandangannya ke bawah, menutup pancaran sedih dengan bulu matanya yang lentik.


Saat itulah dia mendengar namanya dipanggil dari arah luar, membuat Jenny dan Jonathan sedikit teralihkan perhatiannya.