Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 67 -



Jonathan membawa Jenny keluar dari rumah sakit itu buru-buru, tangannya tegas menggandeng Jenny namun dengan saat yang bersamaan juga begitu hati-hati, memperhatikan langkanya agar tak membuat Jenny kesusahan.


Sesampainya mereka di parkiran, Jonathan berhenti sejenak, memandang pada Aurora yang dari tadi mengikuti mereka, dengan sikapnya yang mencoba sesopan mungkin, dia berkata pada Aurora.


"Bibi, aku tahu aku tak seharusnya berhubungan dengan Jenny, tapi bolehkan aku berbicara sejenak dengannya, aku janji tak akan melakukan apapun padanya, akan ku antar dia langsung dia ke mobil nantinya," kata Jonathan mencoba tersenyum sopan diantara luka hatinya. Aurora melihat ke arah Jenny, wajah anaknya itu berharap pula, dia tak bisa menolak mata yang sayu itu.


"Baiklah, namun mungkin tak bisa terlalu lama, Jofan akan menelepon sebentar lagi, aku akan menunggu di mobil, Jonathan bibi percaya padamu," kata Aurora, kelembutannya kembali lagi.


"Terima kasih Bibi, aku janji tak akan lama," kata Jonathan sedikit terobati hatinya, ada orang lain yang masih percaya padanya.


Aurora melempar senyumnya pada Jenny, dia lalu segera berjalan meninggalkan sepasang kekasih ini, Jenny dan Jonathan hanya memperhatikan Aurora pergi, saat sudah cukup Jauh, pandangan Jenny kembali pada pria yang hangat tubuhnya menyebar dari tangannya menyelimuti seluruh tubuhnya.


Jonathan yang merasa diperhatikan akhirnya menatap ke arah Jenny, tanpa apapun, seolah sudah tahu harus apa, Jenny langsung masuk dalam perlukan Jonathan, pria itu memeluk Jenny dengan satu tangannya yang bebas, memeluk sangat erat hingga terasa begitu hangat dan ketat.


"Aku merindukanmu," ujar Jonathan, padahal baru beberapa jam mereka berpisah namun terasa bagaikan beberapa tahun.


"Aku juga merindukanmu," kata Jenny diantara Isak tangisnya, sebenarnya dia tak ingin menangis lagi, dia ingin Jonathan melihatnya dengan wajah yang cantik, namun entah kenapa, begitu mencium wangi menenangkan dari tubuh Jonathan dia malah kesulitan mengontrol dirinya sendiri.


"Jangan menangis, kita pasti bisa melaluinya, aku rasa ini akan menjadi kenangan yang indah," kata Jonathan seperti ingin menyebarkan aura positif yang membuat Jenny sedikit bisa tertawa.


"Aku khawatir jika ayah Chintia akan benar-benar melaporkanmu," kata Jenny lagi menatap mata indah yang tak pernah tak berbinar ketika melihat Jenny.


"Tak perlu khawatir, jika memang mereka melakukannya, maka biarkan, aku lebih baik ada dia sana dari pada menikahi Chintia, sudah aku katakan bukan, setelah 2 atau 3 bulan kandungan Chintia akan sudah cukup untuk membuktikan aku tak bersalah, kau mau kan menungguku selama itu?" tanya Jonathan lembut, membuat Jenny dengan sadarnya begitu cepat menunggu.


"Bahkan selamanya juga aku akan menunggu, tapi yang aku takutkan adalah keselamatanmu di dalam penjara," kata Jenny lagi.


"Tenang saja, aku tak akan apa-apa, lagi pula keluargaku juga tak akan tinggal diam jika terjadi apa-apa padaku, Jenny, Terima kasih sudah mau menungguku," kata Jonathan, mengecup hangat dahi Jenny, lalu jatuh ke pipi kanan Jenny, dan beralih ke bibir Jenny yang berisi, hanya sedikit kecupan untuk sekedar menghilangkan dahaga Jonathan, masih sadar mereka di tempat umum, Jenny hanya memandang mata kuning itu dengan senyuman kecut, lalu kembali masuk ke dalam pelukan Jonathan, masih enggan terpisahkan oleh Jonathan.


"Bukankah sudah aku katakan padamu untuk membawaku pergi dari sini," kata Jenny yang jika saja mereka melarikan diri, semua hal ini tak akan terjadi.


"Maka aku akan menjadi pria paling pengecut, aku tak akan membiarkan diriku sendiri menjadi pengecut, karena artinya aku tak pantas mendampingimu," ujar Jonathan begitu lembut, Jenny mendusel lebih dalam ke pelukan Jonathan, mencari kehangatan pada pria


Jonathan tersenyum senang melihat tingkah gadisnya, dia memeluknya kembali dengan tangan kirinya, diam sejenak sebelum sesaat kemudian Jonathan yang menyadari waktunya telah cukup lama bersama Jenny, mengiring Jenny yang ada di dalam pelukannya menuju ke parkiran mobil Jenny.


"Jangan menangis, aku pastikan ini bukan akhir, bahkan jika perlu melintasi separuh dunia untukmu, aku akan melakukannya," ujar Jonathan, Jenny tersenyum kecut, nyatanya gombalan Jonathan itu membuat dirinya merasa kehangatan, aneh sekali bukan? dalam cinta rasanya segala logika jadi gila dan terbalik semua.


"Janji ya?" tuntut Jenny.


"Tentu, sekarang pulanglah, berjanjilah padaku untuk tidur, aku akan menghubungimu sebisa ku," kata Jonathan walau belum tahu harus bagaimana cara agar bisa menghubungi Jenny,"masuklah, bibimu pasti sudah menunggu lama."


"Baiklah," kata Jenny menghapus air matanya, akhirnya senyuman manis itu tersungging juga, dia lalu masuk ke dalam mobil yang dibuka oleh Jonathan, Aurora tampak menyambut Jenny.


"Maaf sudah membuat anda menunggu lama Bi," kata Jonathan memberikan hormat tanda minta maaf, karena itu Aurora malah sungkan.


"Jonathan, ini kartu namaku, ponsel Jenny sedang tak bisa dia gunakan, jika kau ingin tahu keadaannya, silakan hubungi Bibi, Bibi akan menyerahkannya pada Jenny," ujar Aurora, dia melihat perpisahan yang tampak menyayat hatinya, Jonathan menerimanya dengan sangat senang, akhirnya cara itu datang sendiri.


Jenny melemparkan senyumannya, sebelum mobil mereka berjalan, dan Jonathan hanya menatap mobil itu menjauh, belum lagi hilang mobil itu dari ujung pandangnya, sudah menumpuk Kembali rasa rindunya.


---***---


Jenny dan Aurora masuk ke dalam rumah mereka, Jofan yang sudah cemas menunggu dari tadi kepulangan istri dan juga keponakannya itu tampak berdiri di ambang pintu, bersiap menyambut Ratu dan putrinya.


Mobil segera berhenti, Jofan sendiri yang membukakan pintu untuk Aurora, Aurora tersenyum manis menerima perlakukan dari Jofan, Jenny menyusul setelahnya, Jofan melihat wajah letih Jenny, Jenny hanya berwajah datar, masuk ke dalam rumah mereka, kepalanya penuh dengan hal-hal tentang Jonathan, terutama tentang bagaimana jika benar Jonathan akan dilaporkan nantinya.


"Jared datang bersama Suri, tapi Suri sudah tidur," kata Jofan memberitahu Aurora bahwa putra mereka datang.


"Benarkah? kami terlalu lama di luar, dimana Jared?" tanya Aurora dengan mata berbinar, senang didatangi menantu dan anaknya.


"Mungkin ada di ruang tengah, masuklah, sudah malam, udara dingin sekali," kata Jofan penuh perhatian, Aurora tersenyum hangat mendengarkan hal itu, dia mengangguk, dan segera masuk, di sampingnya Jonathan merangkul pinggang kecilnya.


Jenny menyusuri rumah megah mereka, saat baru saja ingin menuju kamarnya, dia melihat sosok kakaknya yang bangkit dari duduknya saat Jared melihat Jenny. Sesaat mereka saling pandang, dan dengan segala keletihannya menanggung semua masalah ini, Jenny menghambur memeluk Jared, Jared tentu hanya diam saja, tapi dia tahu, dari dulu Jenny selalu begini jika dia sedang sedih, terutama jika dia merindukan kedua orang tua mereka.


"Ada apa?" lembut Jared menangani adiknya, Jenny memandang kakaknya, dia menggeleng lemah, sangat mengherankan sekali, akhir-akhir ini Jenny berubah, biasanya dia selalu akan mengeluarkan semua hal yang dia rasakan, bahkan yang terkadang tak seharusnya dia keluarkan tapi tetap dia keluarkan, sekarang, Jenny lebih banyak memendam.