
"Jenny?" sayup Jenny mendengar suara berat nan lembut itu memanggil namanya, serasa sebuah sentuhan halus di pipinya, membuat Jenny yang sedang lelap itu sedikit terusik, dia masih cukup mengantuk, namun bagiamana pun dia orang yang mudah terbangun, perlahan dia membuka matanya, samar menemukan sosok gagah di samping dirinya.
Senyumnya mengambang melihat sosok itu, sosok yang memang ingin dia lihat ketika dia membuka matanya, dia lalu segera membuka matanya lebih lebar, Jonathan tersenyum manis padanya.
"Bangunlah, sebentar lagi kita akan segera mendarat," ujar Jonathan dengan senyuman manisnya.
"Ehm, sudah ingin sampai? apakah sudah pagi?" tanya Jenny lagi dengan suara khas baru bangun tidurnya.
"Ya, ayo, bersiaplah," kata Jonathan.
Jenny sebenarnya masih enggan, masih tak ingin pergi dari kehangatan dan kenyamanan ranjang itu, apalagi lepas dari pelukan Jonathan, dari semalam dia pulas dan nyaman dalam perlukan pria ini, dia melirik ke arah Jonathan yang sedang merapikan penampilannya, padahal menurut Jenny tak perlu dirapikan pun, pria itu tampak sudah begitu menggoda.
Jenny bangkit terduduk, dia mengamati ruangan itu, suara deru pesawat masih terdengar, dia perlahan menjejakkan kakinya ke lantai, menyusul Jonathan untuk melihat bagaimana keadaan wajahnya, sedikit sembab khas bangun tidurnya, dia lalu segera ingin ke kamar mandi untuk sekedar menyegarkan penampilannya.
Setelah keluar dari kamar mandinya, Jenny melihat Jonathan sudah tidak ada lagi di kamar itu, mungkin sudah ada di kabin pesawat, Jenny menggunakan syalnya, namun mantelnya hanya dia tenteng saja.
Setelah memoleskan lipstik tipis dan merapikan rambutnya, juga tak lupa untuk membubuhi sedikit pengharum pada tubuhnya, dia segera keluar dari kamar itu, benar saja, pria itu sudah ada di kabin sedang berbicara dengan asistennya.
Sejak Jenny membuka pintu, semerbak wangi manis nan lembut yang mengundang mengalihkan perhatian Jonathan, dia segera melihat ke arah aroma itu berasal, dia tersenyum, menyukai penampilan Jenny yang walaupun baru bangun tidur terlihat begitu cantik, buru-buru dia mendekati wanita itu, seolah sedetik saja dia terlambat dia takut Jenny akan di ambil orang.
"Kita sarapan setelah landing saja ya?" halus Jonathan berbicara pada Jenny.
"Baiklah," kata Jenny menurut, Jonathan segera meletakkan tangannya di belakang pinggang kecil Jenny, menuntunnya segera ke kuris bagian depan untuk mempersiapkan diri, beberapa menit lagi mereka akan segera mendarat.
Jonathan duduk di sebelah Jenny, setelah membantu wanita itu memakaikan sabuk pengamannya Jonathan nyatanya tak mengenggam tangan Jenny, dia ingat permintaan Jenny yang tidak ingin disamakan dengan wanita lain, karena itu walaupun merasa sedikit kosong, Jonathan tetap mengikuti keinginan Jenny.
Jenny melihat ke arah Jonathan yang duduk di sampingnya, mengerutkan sedikit dahinya kenapa dia tidak memengang tangannya saat ingin mendarat.
"Kenapa tidak mengenggam tanganku?" tanya Jenny protes pada Jonathan.
Jonathan segera mengerutkan dahinya menatap Jenny yang hanya tersenyum manis.
"Jika aku yang mau, itu tidak apa-apa," kata Jenny, Jonathan tertular senyuman itu, dia segera mengenggam tangan Jenny dengan erat, yah, akhirnya terasa kembali lengkap.
Pendaratan mereka berjalan mulus, setelah kapten mengatakan bahwa pintu telah boleh dibuka dan tanda kenakan sabuk pengaman sudah dimatikan, Jonathan segera membuka sabuk pengamannya, tak lupa membantu Jenny untuk membukanya, Jenny diam sesaat memandang Jonathan yang sedang membantunya, entah kenapa merasa setelah ini, perhatian ini akan sangat sulit dia dapatkan lagi, rasa tak relanya kembali lagi.
"Kenapa?" tanya Jonathan yang melihat wajah Jenny yang berubah sedikit lesu.
"Sedikit enggan untuk pulang," kata Jenny menatap mata kuning safir itu.
"Kenapa enggan pulang?" kata Jonathan lagi, berjongkok di depan Jenny yang masih tak mau lepas dari kursi pesawat itu, mensejajarkan arah padannya dengan Jenny.
"Aku sedikit merasa hanya ... takut kehilangan," kata Jenny, tak menemukan kata-kata yang tepat, dia merasa sangat nyaman di sisi Jonathan, tapi di luar sana mereka tak akan bisa begini, apalagi setelah keluar dari pesawat ini, maka Jonathan dan dia sudah memiliki kehidupan berbeda, inilah yang Jenny takutkan, dia tak bisa lagi lepas jika sudah merasakan begitu nyaman, padahal tadi pagi dia masih bisa menolak pria ini, sekarang, bahkan dia tidak ingin kembali ke tempatnya.
"Hei," kata Jonathan lembut sambil mencolek hidung Jenny yang berwajah muram di depannya, "tidak ada bedanya aku di sini atau di luar nanti, mungkin statusku akan berbeda tapi aku akan tetap memperlakukanmu dengan sama, percayalah, malah aku yang ragu kau akan berubah kembali, tapi bagiamana pun aku berjanji tetap akan mengejarmu nanti," ucap Jonathan dengan senyuman simpulnya.
"Bisakah kita pergi saja dari sini sekarang?" tanya Jenny yang cukup kehilangan akal sehatnya, terlalu candu hingga tak ingin kehilangan, sejak dia kecil dia sudah kehilangan sosok ayah, walaupun paman dan kakaknya berusaha untuk menggantikannya namun Jenny marasa dia masih belum menemukan kenyamanan itu, dan sekarang barulah dia bisa menemukannya pada diri Jonathan.
"Kemana kau ingin pergi?" kata Jonathan sabar meladeni Jenny yang dia tahu sepertinya memang sedang tak ingin berpisah dengannya.
"Kemana saja, kita bisa pergi kemana saja, jika kita keluar, kita bukan siapa-siapa, aku punya Anxel, dan kau sudah terikat dengan Chintia," kata Jenny menggebu, menuruti perasaannya dan tak lagi menggunakan logikanya.
"Lalu bagaimana dengan bibimu? pamanmu? kakak kembarmu? yakin kau bisa meninggalkan mereka yang akan sedih kehilangan dirimu? dan yakinkah kau mereka tidak akan menemukan kita? jika mereka menemukan kita, maka pandangan pamanmu tentangku akan semakin tidak baik, Jenny, aku ingin mencintaimu dan mendapatkan dirimu dengan cara yang baik, bukan ingin membuat kau jauh dari keluargamu, maafkan aku tak bisa mengikuti hal itu," kata Jonathan pelan memberikan pengertian pada Jenny, mengenggam erat tangan Jenny.
Jenny terdiam, apa yang sudah dia pikirkan, benar, apa yang dikatakan oleh Jonathan semuanya benar, jika saja Jonathan pergi membawa Jenny, sejauh apapun mereka pindah, pamannya pasti bisa menemukannya, lalu apa, tentu mereka akan dipisahkan selamanya dan juga pamannya akan semakin memandang buruk tentang Jonathan, tapi ... diluar sana, dia dan Jonathan bukanlah siapa-siapa.
"Jangan khawatir, seberat apapun nanti aral melintang, aku akan terus berusaha untuk mendapatkanmu, jadi jangan khawatir, kita pulang sekarang," kata Jonathan menarik lembut tangan Jenny agar Jenny bangkit dari duduknya.