Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 35 - Terima kasih sudah mengantarkannya.



Perasaan jenny tentu masih ragu, namun benar, tak mungkin mereka pergi begitu saja, walau masih dengan perasaan ragu, Jenny mengikuti kemauan Jonathan, genggaman tangan mereka terlepas saat Jonathan sejenak berhenti di depan pintu pesawat mereka, memindahkan tangan itu ke belakang pinggang kecil Jenny, mempersilakan Jenny untuk menapakkan kakinya terlebih dahulu.


Matahari tampaknya masih malas bertengger di angkasa, sinarnya pun masih samar menerangi bumi, udaranya jauh berbeda dengan keadaan di utara, di sini walaupun pagi terasa jauh lebih hangat dari di sana.


Jenny melihat sekelilingnya, matanya membesar melihat sosok yang ternyata sudah ada menunggunya di sana.


Sosok itu berdiri dengan tenang di depan mobil sedan berwarna hitam, matanya tampak tajam namun juga lembut bersamaan, tak ada senyuman yang tersunging, terlihat berwibawa membuat siapapun sedikit gentar menghadapinya.


Jonathan menangkap tatapan elang itu ke arah dirinya, namun dia segera menanggapinya dengan tatapan berwibawanya juga, dia tak tampak sedikit pun gentar, bahkan sebisa mungkin menjaga tatapan matanya agar tetap berhadapan dengan pria setengah baya itu.


"Paman," kata Jenny pelan, berdiri di depan Jofan yang entah kenapa tahu Jenny akan pulang, dan hal aneh pamannya menjemputnya langsung seperti ini, mungkin dia tahu jika Jenny akan pulang dengan Jonathan, dan akibat rasa tak sukanya, Jofan memutuskan untuk menjemput Jenny langsung ke bandara.


Tapi dari mana pamannya tahu dia akan pulang dengan Jonathan, apakah mungkin dari Bibinya? namun Jenny masih tak percaya bahwa bibinya memberitahukan pamannya bahwa dia akan pulang dengan Jonathan, karena bibinya selalu bisa dia percayai.


"Kau sudah sampai," kata Anxel baru turun dari salah satu mobil yang ada di sana, tampak dia baru saja selesai menelepon seseorang, Jenny segera bertampang terkejut, kenapa Anxel ada di sini?


"Selamat pagi, Paman," kata Jonathan bersikap sopan, Jofan yang dari tadi menatap pria itu hanya mengangguk sedikit, menebarkan teror walau hanya dengan tatapannya.


"Selamat pagi," kata Jofan tanpa nada ramah.


"Jonathan, bukannya kau sudah kembali ke negaramu? aku tidak menyangka Jenny akan pulang bersamamu?" kata Anxel berdiri di antar Jenny dan Jofan, terdengar seperti basa basi yang benar-benar basi buat Jenny.


"Aku segera kembali ketika mendengar Jenny mengalami sedikit kendala dan dia hanya sendiri, Maafkan kelalaianku yang membuat Jenny harus tertahan cukup lama di bandara, saat ini aku sudah membawanya dengan selamat kembali ke negara Anda," kata Jonathan, awalnya menjawab pertanyaan Anxel yang tampak sedikit mengerutkan dahinya, namun segera dia memandang ke arah Jofan, memberikan alasan dengan suara dan sikapnya yang tegas berwibawa.


"Benarkah?" kata Jofan melirik ke arah Jenny.


"Ya, aku mengalami sedikit masalah dengan dokumen keberangkatan ku, jadi aku tidak bisa pulang dengan Anxel yang katanya punya pasien yang tidak bisa ditunda lagi, jika bukan karena Jonathan repot-repot kembali lagi dari negaranya untuk membereskan masalahku dan menemaniku, mungkin hari ini aku akan pulang sendirian, lalu? kenapa kau bisa menjemputku sekarang? bagaimana pasienmu?" tanya Jenny mengerutkan dahinya, katanya ada pasien yang tidak bisa di tunda, tapi dia malah muncul di sini dengan pamannya, Jenny jadi curiga, Anxel lah yang memberitahu kedatangan Jenny dan Jonathan, mungkin dia tahu entah dari siapa, dia sengaja mengajak pamannya menjemput dirinya agar Jonathan terpojok di sini, entah kenapa Jenny merasa yakin seperti itu.


"Oh, kabar yang bagus, bukankah itu artinya jadwalmu bisa ditunda? kalau begitu kenapa kau membuatku menjadi sungkan karena sudah membuat Jonathan harus menemaniku, seharusnya itu tugasmu sebagai calon suamiku," kata Jenny melirik tajam pada Anxel, Anxel terdiam, ternyata Jenny memang bukan wanita seperti umumnya yang akan menyimpan apa yang mereka pikirkan, dia bahkan bisa mengeluarkan semuanya pemikirannya dimana saja, bahkan di depan orangnya sekali pun.


"Maafkan aku, pihak rumah sakit yang tiba-tiba menjadwalkan ulang semuanya," kata Anxel, merasa tak bisa menang saat ini dalam melawan perkataan Jenny.


"Tak perlu minta maaf, itu sudah terjadi, sekali lagi aku berterima kasih dan maaf sangat merepotkan Anda, Anda harus kembali lagi karena ku," kata Jenny pada Jonathan, Jonathan hanya tersenyum tipis, sifat inilah yang Jonathan suka pada Jenny, terlalu berbeda dengan wanita lainnya.


"Itu sudah tanggung jawabku sebagai orang yang sudah mengajak kalian pergi, lagi pula ada hal yang baru saja aku tahu dan aku harus selesaikan di sini," kata Jonathan, melirik Anxel dengan sedikit tajam, lalu berpaling ke arah Jofan.


"Kalau begitu aku di sini harus mengucapkan terima kasih sudah menjaga putriku hingga mengantarnya ke sini dengan selamat, aku yang mengambil alih tanggung jawab di sini," ujar Jofan yang dari tadi mengamati, tanpa berucap apapun, dia membukakan pintu mobil itu untuk Jenny, Jenny tahu apa maksud pamannya.


"Sama-sama Paman, sepertinya aku sudah bisa meninggalkan Anda Nona Jenny, sampai jumpa lagi," kata Jonathan tersenyum manis.


"Terima kasih," kata Jenny melirik ke arah Jonathan sebelum masuk ke dalam mobilnya, Jonathan hanya membalas dengan senyuman simpul, melirik ke arah Jofan yang hanya menggunakan mimik wajahnya untuk mengisyaratkan dia akan pergi, Jonathan hanya mengangguk memberikan salam, setelah Jofan masuk, mereka segera pergi dari sana.


"Terima kasih sudah menjaga calon istriku, by the way, besok kami akan segera bertunangan, aku sudah membicarakannya dengan pamannya," kata Anxel menatap Jonathan cukup sinis.


"Benarkah? selamat kalau begitu," kata Jonathan nyatanya tak terpancing.


"Yah, penerbanganmu dari bagian utara ke negaramu, jarak tempuhnya tak berbeda jauh dengan jarak tempuh bagian utara ke sini, hebat sekali kau bisa sampai ke Negera mu, lalu kembali lagi, dan sekarang sudah mendarat di sini bersama calon istriku, apa pesawat yang kau gunakan? roket kah?" tanya Anxel sambil mengunakan wajah sedikit songongnya.


"Tidak perlu Anda tahu bagaimana aku bisa sampai di sini bersamanya, aku rasa Anda hanya cemburu, yang penting dia sudah selamat sampai di sini, bukankah itu yang paling penting Tuan Anxel?" kata Jonathan lagi-lagi tak terpancing, padahal di dalam hatinya dia cukup kesal, Jenny Tak bisa menerimanya karena Jenny begitu memikirkan perasaan Anxel dan Chintia, padahal mereka berdua pun punya sesuatu di belakang dirinya dan Jenny.


"Benar juga, terima kasih kalau begitu, aku tak akan lupa memberikanmu undangan di acara pertunangan kami, aku harap kau datang," kata Anxel dengan senyuman sinisnya yang kembali mengembang, dia langsung berjalan menuju ke arah mobilnya, dan segera meninggalkan Jonathan sendiri.


Jonathan menatap sedikit sinis ke arah pria itu, dari awal melihatnya dia tahu ada sesuatu yang sangat mencurigakan dari pria itu, dia hanya perlu bukti dan waktu untuk mengungkap semuanya, karena bagaimana pun, bagi keluarga Jenny, pria itu adalah pria sempurna untuk mendampingin Jenny, dan ini adalah tugas Jonathan untuk mematahkan semua pemikiran itu.