
Jonathan keluar dari pesawatnya, akhirnya setelah beberapa hari di rumah sakit, begitu dia bisa keluar dari sana, dia langsung melangkahkan kakinya menuju ke negara Jenny. Walaupun tak satu keluarganya pun yang setuju untuk dia kembali ke negara ini karena masalahnya masih belum juga selesai, namun bagi Jonathan, dia tak akan bisa tinggal diam, dia harus mencari petunjuk dimana wanitanya berada.
Tubuhnya hampir seratus persen kembali lagi, hanya sesekali kepalanya masih merasakan sakit, Jonathan menatap sekitarnya yang basah baru saja tersiram hujan, menatapnya nanar, lalu matanya berhenti ketika melihat Rian yang segera menariknya untuk turun dari pesawat itu.
Rian segera mendatangi Jonathan, dia mengarahkan Jonathan ke mobilnya yang sudah di sediakan, Jonathan langsung masuk dan mobil mereka segera berjalan.
"Apa kau sudah mendapatkan petunjuk?" tanya Jonathan pada Rian.
"Aku sedang mengusahakan mendapatkan salinan CCTV, banyak kejanggalan yang memang sesuai dengan dugaan Anda, CCTV yang benar-benar menunjukkan nona Jenny tiba-tiba saja seluruh kameranya menjadi blur, yang jelas hanya yang dari jauh, namun menurut manifes pesawat, nona Jenny benar-benar pergi dari sini, ini adalah foto dan juga buktinya," kata Rian menunjukkan foto yang dia dapatkan.
Jonathan melihat gambar cukup jauh hingga terlihat pecah jika di besarkan, dari bentuk tubuhnya memang terlihat seperti Jenny, namun perasaannya masih saja menolak bahwa itu gadisnya.
"Rian aku minta seluruh CCTV di bandara 1 jam sebelum keberangkatannya, juga 1 jam setelahnya, aku juga minta seluruh CCTV Mulai dari Jenny keluar dari rumahnya hingga tiba ke bandara," kata Jonathan menjelaskan, dia ingin tahu, apakah ada yang mencurigakan dengan hal itu?
"Baik Tuan, namun saya butuh waktu," ujar Rian.
"Gunakan waktumu sebanyak mungkin, dan aku mau semuanya," kata Jonathan yang dari wajahnya tampak begitu dingin.
"Baik Tuan, Tuan Jofan dan Nyonya Aurora sudah setuju untuk bertemu dengan Anda, 2 jam dari sekarang, kemana Anda akan pergi sekarang?" tanya Rian.
"Aku ingin bertemu dengan Anxel, bawa aku ketempat dia ditahan," kata Jonathan dengan tegas, bahkan Rian mengerutkan dahinya saat mendengar hal itu, namun dia tak mungkin menyanggah keinganannya.
"Baik Tuan, kita ke rumah tahanan di bagian Utara," ujar Rian memerintahkan supirnya.
Supir itu segera mengangguk, mereka segera berbelok untuk kembali ke arah Utara, di kursi belakang, Jonathan hanya menatap jalanan yang ramai itu dengan nanar, dalam hatinya apa yang menyebabkan wanitanya itu pergi, pasti ada sesuatu, Jenny adalah wanita paling berpikir kritis yang dia tahu, jika dia pergi, pasti ada sesuatu, hingga saat ini tak sedikit pun Jonathan percaya bahwa wanitanya itu hilang begitu saja.
Mobil mereka berhenti di depan rumah tahanan bagian Utara itu, Jonathan segera keluar dan dia langsung di arahkan ke tempat pembesukan untuk Anxel.
Jonathan segera duduk dengan tenang, sengaja meminta untuk mendapatkan tempat pembesukan khusus untuk bertemu dengan Anxel.
Jonathan menunggu, dia mengetuk perlahan meja yang ada di depannya, wajahnya tak pernah sedatar dan juga sedingin ini.
Tak lama pintu itu terbuka dan Jonathan menyipitkan matanya, melihat pria yang sedikit jauh dari bayangannya, rambutnya tampak kurang terurus, baju tahanannya semakin membuatnya Kumal, Jonathan menatap tajam pada pria yang sekarang menatapnya dengan kerutan wajah.
Anxel duduk di depan Jonathan yang hanya menatapnya bergeming.
"Ada apa kau ingin menemuiku?" tanya Anxel melihat ke arah Jonathan.
"Apakah kalian sudah selesai?" tanya Jonathan.
Anxel mengerutkan dahinya, dia tak tahu apa yang dikatakan oleh Jonathan.
"Jangan berpura-pura tidak tahu, atau memang keluargamu tidak mengatakan padamu apa yang sudah kalian lakukan pada kami?" tanya Jonathan yang segera mencondongkan tubuhnya ke arah Anxel, menunjukkan dia benar-benar serius.
"Kau salah mendatangi orang jika kau ingin menanyakan hal itu, aku terkurung di sini, kau ingat? kau dan keluargamu yang melakukannya, atau keluarga yang hampir saja menjadi keluargamu," kata Anxel yang mengatakannya dengan senyum sinis.
"Aku tahu kau sangat pintar berpura-pura, tapi sayangnya tidak bisa menipuku, kau sengaja meminta Chintia untuk memaksaku menikahinya karena kau tak ingin aku mendapatkan semua cita-citamu itu, menyewa beberapa orang untuk bisa kembali memberikan pelajaran padaku, lalu setelah itu mengancam Jenny agar aku dan dia tak bisa bersatu, Kau pria yang pengecut," kata Jonathan.
"Kau bicara apa? aku tak mengerti sama sekali," ujar Anxel mengerutkan dahinya.
"Jangan pura-pura tak tahu, aku masih bisa mendengar semua percakapan mereka sebelum aku benar-benar jatuh koma, mereka mengatakan namamu," kata Jonathan.
Anxel tampak terkejut, matanya membesar, menunjukkan rasa takut yang membuat Jonathan menangkap hal itu.
"Aku masih tak mengerti apa maksudmu," kata Anxel namun kali ini ada rasa ragu yang terdengar di suaranya.
"Jangan berpura-pura, tak bisa kah kau meninggalkan kami untuk saling mencintai, kami tak punya masalah apapun dengan kalian, tapi kenapa kalian harus membuat kami menderita," kata Jonathan dengan sangat serius, Anxel menarik sedikit sudut bibirnya dengan sinis, dia menepuk tangannya pelan.
"Hah .... benar kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, aku kira ini akan menjadi baik, ternyata tetap saja tak semulus pikiranku, Baiklah, kami memang merencanakan semuanya, kau sudah menghancurkan cita-citaku juga keluargaku, kau kira kami akan diam, tentu tidak, kau adalah biang semuanya, awalnya aku sangat ingin menyingkirkanmu, tapi setelah tahu latar belakangmu, sebagai anak yang tak pernah diharapkan, bagaimana membuatmu menderita lebih dari kematian, dan aku tahu jawabannya, namun kau keras kepala, maka aku harus memberikan penuntasan sekali lagi untukmu," kata Anxel tersenyum puas.
Jonathan diam, sebenarnya dia tak mendengar apapun, tak sedikit pun dia ingat tentang penyiksaannya, namun intuisinya menggiringnya ke pria ini, dan benar, ternyata masih dialah dalang semuanya.
"Kenapa kau memaksa Chintia menerima pinangan ku?" tanya Jonathan lagi.
"Simpel, karena aku baru tahu dari Chintia kau punya obsesi dengan Jenny semenjak kalian masih bersekolah dulu, aku sudah memprediksi kau akan menjadi batu sandunganku, namun tak ku sangka Jenny juga jatuh cinta padamu, semua ini karena dirimu, jika kau tidak muncul dan mendekati Jenny, semua akan selesai dengan baik," kata Anxel lagi.
"Semua ini ternyata sudah kau rancang dari awal," kata Jonathan yang mengepalkan tangannya dengan sangat erat.
"Ya, tapi jangan salahkan aku dengan hal ini, aku hanya melakukan eksekusi padamu, namun yang membuat Jenny hingga seperti itu, bukan aku, kalau kau cukup pintar, kau akan tahu harus bertemu siapa setelahnya," kata Anxel berdiri dan memanggil petugas, dia memberikan senyuman sinisnya. Jonathan berdiri lalu dia tersenyum.
"Kau tahu, kau salah tentang sesuatu, aku mungkin anak yang tak di inginkan, tapi tenanglah, aku rasa aku bisa menerima anakmu dengan baik, aku hanya ingin tahu, bagaimana rasanya seorang ayah yang tak akan pernah dianggap ada oleh anaknya," kata Jonathan.
"Kau akan menikahi Chintia?" kata Anxel melihat tak percaya dengan Jonathan.
"Untuk apa kau pikirkan, nikmati saja harimu di penjara," kata Jonathan yang segera pergi dari sana, meninggalkan Anxel yang hanya menatapnya tajam, rasa cemburu itu tiba-tiba datang.
-----
Hai kakak2 ku tercinta, maaf kemarin dan sekarang upnya dikit ya, iya, maaf, tapi saya usahain up malam ini lagi kak