
Jenny membuka pintu kamar villa yang mereka sewa, kemarin setelah dari acara pernikahan mereka, mereka siap-siap untuk berangkat ke sebuah pulau pribadi lepas pantai yang sengaja Jonathan sewa untuk bulan madu mereka.
Jenny sedikit takjub dengan kamar yang akan mereka tempati dengan ranjang yang di hias sedemikian rupa, terdapat sebaqouet bunga mawar merah di atasnya, lalu di depan mereka terlihat kolam renang lepas pantai yang jika kita berenang di dalamnya kita bisa melihat lautan luar di ujungnya.
Masih dini hari saat mereka sampai di tempat itu, Jenny membuka pintu geser di villa mereka itu, merasakan semilir angin laut yang cukup dingin menerpa tubuhnya.
Jonathan yang melihat Jenny hanya terpaku dengan keindahan langit malam dan juga kolam renang yang diberikan lampu di dalamnya memancarkan keindahan yang menghipnotis.
"Ayo mandi," kata Jonathan yang langsung melepas kaos yang dia gunakan, Jenny yang tampak kaget mendengar apa yang diucapkan suaminya ini, tengah malam begini dia ingin mandi?
Namun belum selesai kekagetan Jenny, tiba-tiba saja Jonathan sudah mengendong dirinya, dan perlahan dan pasti Jonathan melangkah keluar.
"Nathan, apa yang kau lakukan? turunkan aku, ini masih malam," kata Jenny yang tahu Jonathan ingin melakukan apa.
"Ya, ini malam pertama kita menjadi sepasang suami istri, tentu tak ingin ku habiskan dengan tidur, ayo berenang," kata Jonathan melemparkan tubuh Jenny ke dalam air kolam renang itu, tentu airnya dingin namun bersamaan dengan itu juga terasa hangat.
Jonathan masuk setelah Jenny, Jenny yang awalnya gelagapan langsung berenang keluar dari air, bersaman dengan Jonathan yang juga mencapai permukaan.
Jenny menarik napasnya, memasang wajah kesalnya pada Jonathan yang tersenyum manis, mata mereka perlahan terpaut, membuat sebuah koneksi yang tak kasat mata namun hingga sampai ke hati, perlahan mereka mendekat, saling menatap mengamati wajah masing-masing dengan pancaran cinta dan kasih sayang.
Jenny menggigit bibirnya yang basah, berusaha tetap mengapung di permukaannya, tangan Jonathan yang gagah perlahan dan lembut menyusup ke sela rambut Jenny yang basah, menarik wajah Jenny lebih dekat dengannya, perlahan menggiring dan menyatukan bibir mereka berdua.
Ciuman itu terasa basah, namun tak bisa mengurangi keintimannya, Jonathan perlahan mencium bibir istrinya, tak ingin terlewat satu pun sensasi yang diberikan oleh bibir Jenny.
Jenny pun terbuai dengan permainan lembut Jonathan di bibirnya, cukup lama berpaut, membangkitkan hasrat yang selama ini coba mereka tahan.
Jonathan melepaskan pautannya, lalu segera menarik tangan wanita itu untuk keluar dari kolam renang, menggiring wanitanya untuk masuk ke dalam dan menuju kamar mandi mereka.
Jonathan mendorong kecil tubuh Jenny hingga Jenny menyandar pada tembok, membuka shower yang ada di atas mereka, Jenny memandang sayu wajah suaminya yang memandangnya dengan kilatan nafsu di matanya, tentu sudah tak ada lagi penghalang bagi keduanya, wanita ini miliknya seutuhnya.
Jonathan buas kembali menautkan bibirnya ke bibir Jenny, kali ciuman lebih liar, dia menyapu semua yang ada di dalam mulut Jenny, bermain dengan gemasnya, mencoba untuk menghabiskan semua napas Jenny, bahkan terkadang menggigit kecil bibir Jenny.
Bersamaan dengan itu, tangan Jonathan mulai membuka satu persatu kemeja putih yang masih melekat di tubuh istrinya itu, menyibakkannya perlahan sambil terus mencium istrinya itu, Jari jemari Jonathan mulai menjelajahi jengkal demi jengkal kulit putih nan halus itu, memberikan sensasi yang tak terlukiskan oleh Jenny.
Jenny mendesah tertahan, ketika ciuman Jonathan sudah pindah ke lehernya, mendengar hal itu, Jonathan menatap wajah merah padam yang selalu dia sukai itu. Jenny hanya menggigit bibirnya, membuat Jonathan semakin tak tahan melihatnya.
Jonathan meletakkan tubuh Jenny di atas ranjang pengantin mereka, langsung mengambil posisi untuk ada di atasnya, memandang sendu ke arah Jenny.
"Lelah?" tanya Jonathan dengan lembut, Jenny menggeleng malu-malu, Jonathan tersenyum lalu kembali mencium bibir istrinya tersebut sambil membuka handuk yang digunakan oleh Jenny.
Jenny menggigit bibirnya dalam, merasakan rasa yang belum pernah dia rasakan, setiap sentuhan yang diberikan oleh Jonathan menimbulkan sengatan yang semakin membuat tubuhnya panas.
Jonathan tak ingin buru-buru, tahu bagaimana memperlakukan wanita pada saat pertamanya, menenangkan hingga membuat Jenny merasa nyaman dan dapat menerimanya, itu yang harus dia lakukan.
Mereka saling melemparkan tatapan sendu, Jonathan memeluk Jenny saat dia melihat wanita itu tampak menahan nyerinya, memberikan sebuah ciuman yang menenangkan karena melihat mata Jenny mulai basah.
Mereka bergumul, mencoba untuk menyatukan raga dan perasaan, menjadi satu dalam ikatan, memperkuat cinta dengan rasa yang sangat dalam, perlahan bersama merengkuh kenikmatan yang nyata, hingga akhirnya mencapai surga dunia mereka bersama.
Jonathan memeluk tubuh Jenny dalam dekapannya, memperhatikan wajah istrinya yang tampak masih lemas, Jenny menangkap kedua bola mata kuning safir itu, dia tampak malu-malu.
"Terima kasih sudah memilihku," ujar Jonathan.
"Jangan mencoba merayu lagi," kata Jenny memegang wajah suaminya.
"Tidak akan, kau sudah jadi milikku, ayo tidur, istriku," goda Jonathan, yang disambut tawa kecil dari Jenny, terasa cukup geli mendengarkannya.
Jonathan mendekap Jenny semalaman, membiarkan kehangatan menyelimutinya, hilang sudah segalanya, hanya ada cinta yang indah kedepannya.
___________
Tim : Apaan sih? ini mah part Malam pertama doang Quin. bukan honeymoon!
Quin. : Lah, kan harus malam pertama dulu, besoknya kalau mau honeymoon bisa, ntar tak buat lagi deh, ini Tim protes Mulu, wkwkwk
Tim : Sekarepmu lah Quin୧( ˵ ° ~ ° ˵ )୨, awas kena sensor lagi.
Quin. : Gpp yang penting romantis wkwkwk
Maaf kakak2, ntar aku buat honeymoon romantisnya wkwkkw.