
Jonathan mengenggam tangan Jenny erat, memimpin jalannya keluar dari lorong kamar kecil itu, mereka segera menuju suatu ruangan, di sepanjang jalan itu Jonathan tanpa rasa sungkannya memegang erat tangan Jenny yang hanya bisa menatap pria itu dari belakang, wajahnya memerah, aneh sekali, Jenny merasa seperti anak ABG yang baru pertama kali dipegang tangannya oleh pria, padahal entah sudah berapa pria yang menggenggam tangannya, namun baru kali ini rasanya berbeda.
Jonathan melirik Jenny yang berjalan tak jauh di belakangnya, Jenny tampak pasrah dan tertunduk ke mana Jonathan membawanya, lalu Jonathan berhenti di tengah kerumunan orang yang ada di bandara kecil namun padat itu.
Jenny tentu kaget dengan sikap Jonathan yang tiba-tiba saja berhenti, saat dia mendongakkan wajahnya, Jonathan ternyata sudah berdiri di depannya, menatap Jenny dengan wajah sedikit serius.
"Ada apa?" tanya Jenny bingung ditatap begitu oleh Jonathan.
"Kau tak suka berjalan bersamaku?" tanya Jonathan mengerutkan dahinya.
"Ehm ... apa maksudmu?" tanya Jenny yang bingung.
"Kenapa menunduk?" tanya Jonathan, tangannya masih hangat menyelubungi tangan Jenny, sesekali meremasnya.
"Bukan, di sini sangat ramai, bagaimana jika ada yang kenal denganmu atau kenal denganku dan melihat kita begini," kata Jenny yang walau merasa sangat berbeda namun juga tak benar, merasa sedikit aneh jika berjalan berdua dengan Jonathan, sedangkan mereka sudah punya pasangan masing-masing, logika dan perasaannya seolah berkecambuk sekarang.
"Lalu?" kata Jonathan.
"Apa kau tidak merasa ini semua salah?" kata Jenny lagi, Jonathan diam sejenak, dia mengamati wajah Jenny yang biasanya penuh percaya diri, terlihat sedikit kehilangan hal itu sekarang.
"Yang salah hanya ada di pikiranmu saja, bagiku menunjukkan cinta tak ada salahnya, jika ada orang yang mengenalku atau mengenalmu, maka itu baik, mereka akan tahu kau adalah milikku, dan aku adalah milikmu," kata Jonathan lagi menatap mata Jenny yang sekarang kembali terperangkap dalam tatapannya.
"Yah, tapi kau kan sudah bertunangan," kata Jenny lagi, ternyata begini rasanya berjalan dengan pria milik orang lain, ada rasa was-was dan takut yang selalu terasa, sangat tak tenang.
Jonathan membuang napasnya sedikit keras, dia melirik ke arah Jenny kembali.
"Aku memang tunangan seseorang, namun hatiku padamu, lagi pula sudah ku katakan aku akan terus mengejarmu, kau sudah tahu artinya itu bukan?" tanya Jonathan serius.
"Setidaknya jangan menggandengku seperti ini, ini terlalu frontal dihadapan banyak orang," Kata Jenny, dia benar-benar tak ingin ada orang yang mengenali Jonathan dan dia tahu bahwa Jonathan sudah bertunangan dengan Chintia, bisa saja, dia akan mengatakannya pada Chintia, atau paling buruknya pada keluarga Chintia, dan bagaimana jika keluarganya tahu ternyata wanita yang berjalan berpegangan tangan dengan Jonathan adalah Jenny, bukankah itu akan menjadi konflik keluarga nantinya, dan yang pasti paman dan kakaknya pasti tak senang dengan hal ini.
"Tidak akan aku lepaskan," kata Jonathan keras kepala, malah mengetatkan pegangan tangannya, Jenny hanya mengerutkan dahinya.
Suara seorang wanita langsung membuat perhatian Jonathan dan Jenny teralihkan, mereka menatap sepasang lelaki dan wanita yang sudah berumur tampak tersenyum ke arah mereka, lelaki itu merangkul pundak wanita itu dengan sangat mesra. Mereka tersenyum begitu ramah.
"Eh, kami tidak ...." kata Jenny yang mencoba menarik tangannya dari genggaman Jonathan, namun Jonathan ternyata lebih cepat, dia segera menarik Jenny ke arahnya, membuat Jenny masuk dalam pelukannya.
"Ya, sebenarnya kami tidak sedang bertengkar, dia hanya merasa canggung karena ini pertama kalinya kami jalan berdua, kami baru saja bersama, jadi dia ingin aku melepaskan pegangan tangan kami dan aku bersikeras untuk tidak melakukannya," kata Jonathan yang menyerobot pembicaraan begitu saja, Jenny yang dipeluk lalu mendengar hal itu membesarkan matanya, enak sekali membuatnya menjadi alasan.
"Wah, jangan begitu, seharusnya kau bersyukur dia ingin selalu memegang tanganmu, itu tandanya dia sangat menyayangimu dan bangga memilikimu," nasehat wanita tua itu pada Jenny, Jenny yang mendengarnya hanya bisa mengerutkan dahinya, jika tadinya hubungan mereka normal saja seperti pasangan kekasih yang lain, mungkin Jenny akan sangat bersenang hati, bahkan mungkin melakukan lebih dari sekedar berpegangan tangan seperti ini, tapi mereka kan bukan pasangan biasa, bisa dibilang malah pasangan selingkuh. Jenny mengerutkan hidungnya, serasa sangat risih memikirkan mereka adalah pasangan selingkuh sekarang dan dia adalah wanita perebut tunangan sepupunya sendiri.
"Kau dengar?" tanya Jonathan yang semakin mengetatkan pelukannya, Jenny yang menerima itu hanya nyengir kuda sambil mencubit bagian pinggang Jonathan sedikit membuat Jonathan sedikit kaget.
"Lalu, kau juga jangan terlalu memaksa, perlakukan dia lembut, mungkin dia hanya belum terbiasa, berikan sedikit pengertian dan waktu, nanti juga dia akan mengerti," giliran lelaki itu yang memberi nasehat, mereka berdua tampak begitu senang melihat pasangan Jenny dan Jonathan yang menurut mereka begitu manis.
"Tuh denger, jangan MEMAKSA," kata Jenny yang menekan kata memaksa, membesarkan matanya hingga terlihat melotot ke arah Jonathan mencoba melepaskan diri dari pelukan Jonathan, Jonatan yang melihat itu hanya mengerutkan dahinya namun tertawa kecil.
"Masalahnya jika dia tak dipaksa, dia tak akan mau padaku, benarkan SAYANG?" kata Jonathan yang sekarang membalas menekan kata sayang, memandang Jenny dengan senyuman yang dibuat-buat, tetap menahan Jenny yang berulang kali berontak ingin keluar dari pelukan pria itu, Jenny menyipitkan matanya pada Jonathan, memandangnya sinis dengan wajah kesalnya.
"Ah, benar-benar pasangan muda yang manis, kalian sangat cocok berdua, kami doakan kalian akan selamanya bersama, kami harus segera ke ruang boarding, sampai jumpa," kata wanita tua itu lagi melihat Jenny dan Jonathan tampak begitu manis, Jonathan mendengar itu langsung tampak bahagia, sedangkan Jenny mengerutkan dahi, dimananya mereka tampak manis?
"Terima kasih, semoga perjalanan Anda menyenangkan," kata Jonathan senang sekali mendengar doa dari wanita itu, mereka melambaikan tangannya, Jonathan membalasnya dengan sumringah.
Setelah pasangan itu menghilang masuk ke dalam ruangan boarding, Jonathan melihat Jenny yang masih ada di dalam pelukannya, berwajah masam menatap dirinya.
"Dengar bukan kita adalah pasangan manis," kata Jonathan tak lepas senyum dari bibirnya.
"Jika mereka tahu kau siapa dan aku siapa? aku yakin mereka pasti mendoakan kita untuk berpisah," kata Jenny lagi. Jonathan mengerutkan dahinya, Jenny benar-benar keras kepala.
"Kalau begitu jangan sampai ada yang tahu," kata Jonathan lagi, Dia lalu melepaskan Jenny dari pelukannya, namun segera kembali memegang erat tangan Jenny, seolah tak ingin melepaskannya apapun yang terjadi, Jenny yang mendapatkan itu hanya bisa pasrah walaupun masih kesal dengan Jonathan, toh berontak pun tak ada artinya, malah memancing perhatian orang-orang, Jenny hanya berdoa apa yang dia takutkan tidak terjadi.