
Jenny kembali menarik napasnya yang susah karena tertutup oleh ingusnya, dia mencoba untuk menutupi suara tangisnya, tak ingin Jonathan mendengarnya di sana, Jenny kembali memengang tangan Jonathan, erat dia mengenggamnya, ingin merasakan kehangatannya, dia hanya ingin mengingat, begini rasanya genggaman tangan Jonathan, begini wangi menenangkannya, dan begitu tampan wajahnya, sakit di hati Jenny semakin menjadi, namun dia sudah tak sanggup lagi jika menjadi sumber kesakitan untuk Jonathan, mungkin memang dari awal seharusnya mereka tak bersama, mungkin dari awal mereka harus melepaskan.
Jenny menarik napasnya dalam, dia lalu segera melepaskan tangan Jonathan, perlahan berjalan keluar dari ruangan Jonathan, dan saat dia keluar, semua orang memandangnya, melihatnya dengan tatapan simpati.
"Dokter bilang, keadaannya stabil dan bisa dibawa dengan pesawat ambulance khusus, kami rasa kami akan membawanya secepatnya," ujar Raphael seperti memberikan pengumuman pada semua orang di sana, tapi mereka hanya diam, melihat ke arah Jenny, seolah pengumuman itu hanya di tujukan padanya.
Jenny mengangguk lemah, matanya kosong dan cekung, Aurora segera tanggap, menopang tubuh Jenny yang lemah dan lemas, seperti separuh nyawanya melayang.
Aurora membiarkan Jenny untuk duduk di sofa, memengang tangan anaknya itu, memandang sendu.
"Apakah kalian juga akan ikut ke sana?" tanya Liam yang harus tahu, dia harus menyiapkan dokumen dan juga pesawat jet mereka.
"Aku mengizinkan kalian membawa Jenny ...." kata Jofan yang mengizinkan Jenny untuk ikut, namun belum selesai dia mengatakannya, Jenny memotong kata-katanya.
"Aku tidak ikut, aku tak bisa ikut sekarang," kata Jenny segera.
Jofan dan Aurora memandangnya, kenapa Jenny tak ingin ikut? semua orang pun kaget mendengarnya.
"Aku akan menyusul, nanti, aku rasa aku belum siap ke sana, mungkin esok atau lusa, aku akan ke sana," kata Jenny memberikan alasannya, mencoba membuat semua orang mengerti.
Semua yang di sana akhirnya cukup mengerti, mungkin memang Jenny merasa cukup tak sanggup, keadaannya memang terlihat lemah, mereka takut di sana Jenny juga malah jadi sakit, Jadi mungkin biarlah Jenny menenangkan dirinya dulu di sini.
"Baiklah, dokter bersiaplah, kita akan menerbangkan Jonathan secepatnya," kata Raphael, Jenny mendengar itu hanya diam saja melihat dokter segera masuk ke dalam ruang rawat Jonathan.
---***---
Jenny memandang kosong pada dinding kaca di ruang bandara itu, tubuh Jonathan baru saja di masukkan ke dalam pesawat ambulance khusus itu, rombongan keluarga Jonathan pun tampak sudah bersiap untuk ikut pulang ke negara mereka.
Jenny sudah tak bisa lagi menangis, matanya hanya kosong dan suram, tak lama pesawat itu bersiap untuk lepas landas, dan Jenny hanya melihat pesawat itu mengudara, begitu pesawat itu tak terlihat, separuh hatinya hilang.
Jared berdiri di samping adiknya, menyadari kedatangan Jared, Jenny hanya memandang sendu ke arah teman lahirnya itu, Jared pun diam, tak ingin berkata apapun, bahkan dari matanya, Jared tahu Jenny begitu terluka.
"Kakak, bisakah kau membantuku?" tanya Jenny menatap harap Pada Jared, Jared mengerutkan dahinya, namun dia segera mengangguk mantap, Jenny memberikan senyuman, lalu dia berlalu begitu saja.
---***---
Jonathan merasa bagaikan berjalan di lorong yang gelap, kosong tak ada apa-apa, mencari namun tak menemukan, hanya bisa mendengarkan sepotong-sepotong suara, suara yang sangat dia rindukan, Jonathan terus bertahan untuk berlari di lorong gelap itu, suara wanitanya itu yang selalu membuatnya bisa bangkit kembali saat dia merasa sudah menyerah.
Namun di suatu ketika, kepalanya pusing sekali, dia menemukan cahaya terang yang menariknya, dan tiba-tiba saja matanya terbuka.
Semua hening, bau ruangan yang penuh dengan bau antiseptik menyeruak, mata Jonathan liar melihat segalanya, tubuhnya kaku seperti sangat susah di gerakkan, dia melirik ruangan yang remang karena hanya mendapatkan cahaya dari cahaya matahari yang menembus kaca dihalangi gorden tipis di dekatnya, Jonathan mencoba melihat ke arah kanan dan kiri, tubuhnya tak lagi dibalut perban, wajahnya sudah pulih sepenuhnya, namun entah kenapa dia baru merasakan sakitnya sekarang.
Valery melihat ke arah Jonathan, matanya membesar namun wajah bahagianya terlihat sekali, dia seperti tak percaya.
"Kakak! kau sudah sadar, Kakak!" kata Valery menghambur, memeluk tubuh kekar kakak sepupunya itu, membuat Jonathan sedikit bingung, kenapa begitu senang, dia baru tidur sehari saja bukan?
"Ehm ... " kata Jonathan kesusahan mengeluarkan suaranya, serasa tenggorokannya begitu kering, sangat kering hingga dia kesusahan untuk bicara.
"Mau minum?" tanya Valery, "jangan dulu, aku harus memanggil dokter dan juga memberitahu ayah, ibu, dan Paman Liam, mereka akan senang kau sudah sadar, Kami sudah menunggu lama sekali," kata Valery dengan gaya, dia segera menekan tombol panggil untuk dokter, dia juga segera mengambil ponselnya, menelepon ayahnya.
Jonathan memegang kepalanya, rasanya begitu nyeri, apa benar dia tak sadar begitu lama, lalu dimana Jenny? kenapa dia tak ada di sini? pikir Jonathan.
"Valery, Jenny?" tanya Jonathan yang langsung membungkam Valery, apa yang harus dia katakan sekarang.
"Ah ... Aku ... ehm," kata Valery bingung, untungnya tak lama pintu terbuka, tim dokter masuk dengan cepat, Valery hanya berharap ayah atau pamannya segera datang.
"Tuan Jonathan, bagimana keadaanmu?" kata Dokter itu.
"Aku hanya mengalami sakit kepala," kata Jonathan yang menerima seluruh periksaan pada tubuhnya.
"Baguslah, tampaknya cidera kepalanya tak meninggalkan kerusakan berarti di kepala anda," kata Dokter itu, Jonathan mengerutkan dahinya, kenapa dokter ini menggunakan bahasa negaranya.
"Ini di mana? berapa lama aku tak sadar?" tanya Jonathan.
"Apa dia mengalami disorientasi?" tanya salah satu dokter pada dokter yang lain.
"Kalau begitu kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, Kita lakukan CT-Scan kepala," kata dokter itu merasa Jonathan mengalami disorientasi.
"Bukan, bukan, aku tak apa-apa, terakhir hal yang aku ingat adalah aku dipukuli di negara X, tapi ...." kata Jonathan.
"Mereka membawa anda kembali ke Negera Anda, sekarang anda berada di Rumah sakit Crown pusat," kata Dokter yang akhirnya tahu ini bukan disorientasi.
"Bagaimana bisa? sudah berapa lama aku koma?" tanya Jonathan yang mulai panik, jika dia di negaranya, bagaimana dengan Jenny? pantas saja dia tak ada di sini.
"1 bulan 2 Minggu, Anda sudah tak sadar 54 hari," kata Dokter itu menjelaskan, Jonathan menarik napasnya, pantas saja tubuhnya sudah tak lagi menggunakan perban dan berat, sudah 54 hari dia tak menggerakkannya, walau rasanya dia hanya berada di sana 1 hari, ternyata dia sudah begitu lama koma.
Jonathan melirik Valery yang berdiri di ujung ruangan, Valery hanya terdiam.
"Dimana Jenny?" tanya Jonathan yang hanya ingin tahu dimana wanitanya itu sekarang.