Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 9 - Pelukan dan tatapan



"Kenapa langsung masuk, Calon istri? "


Terdengar suara pria yang segera membuat  Jenny mengerutkan dahi , dia langsung memalingkan wajahnya kembali ke arah pintu utama, melihat sosok Anxel yang sedang berdiri di samping mobil itu.


Mata Jenny membesar, tak menyangka calon suaminya itu ternyata sudah ada di sana, kepana permintaannya cepat sekali terkabul?


Jenny melihat Anxel segera berjalan ke arahnya, Jenny menyambutnya dengan senyuman bingungnya dan anehnya, benar-benar tak menyangka, Anxel ada di sana sekarang.


 


 


"Kenapa kau ada di sini tiba-tiba? Bukannya kau katakan kau tidak bisa datang? " tanya Jenny yang mencoba tampak ceria menyambut Anxel, padahal dalam hati bertanya, dia harus senang atau bagaimana?


"Kemarin aku berpikir, setelah mengatakan tidak bisa dan melihat wajahmu yang kecewa, aku jadi merasa cukup bersalah, jadi aku memindahkan semua jadwal pekerjaanku pada teman sejawatku, untunglah para pasien setuju, setelah semua itu aku menyusulmu ke sini, untung saja sebelum pergi aku sempat meminta alamatnya pada Chintia," kata Anxel berdiri di depan Jenny dengan senyuman cukup manis., namun sama sekali tidak menggetarkan hati Jenny.


 


 


Jenny mengerutkan dahinya, kenapa bertanya dengan Chintia? kenapa tak bertanya padanya? Jika memang alasannya untuk membuat surprise untuk Jenny, bukannya esok juga Anxel akan datang? Tidak akan aneh jika dia memintanya pada Jenny, lagi pula, apa Anxel dan Chintia masih sering berhubungan, pikir Jenny sambil menganalisa wajah calon suaminya itu.


Suara motor salju terdengar, tak lama parkir di dekat mereka, Chintia langsung turun dari motor salju yang dikendarai oleh Jonathan.


 


"Anxel, kau datang? Wow! " kata Chintia terdengar riang melihat Anxel di sana.


 


 Anxel dan Jenny segera melihat ke arah pasangan yang baru saja merapat itu, lengkap dengan seluruh baju hangat dan perlindungan dirinya, Chintia dengan semangat mendatangi Jenny dan Anxel, Jenny hanya menggaruk keningnya, melirik ke arah belakang Chintia, melihat Jonathan yang membuka kaca mata pelindungnya, dan melirik tajam pada dirinya dan Anxel, Jonathan segera mengikuti Chintia mendekati Jenny dan Anxel.


 


 


"Ya, aku baru saja datang, sedikit merasa tak enak meninggalkan calon istriku sendirian mengganggu kalian," kata Anxel sambil memegang pinggang Jenny, dia melirik ke arah Anxel, memangnya dia mengganggu, dia tak suka dengan alasannya itu.


"Ah, tidak, aku malah tak enak, karena aku yang mengajaknya, namun Jenny malah merasa bosan sendirian di sini," kata Chintia yang jelas basa basi saja.


 


Jonathan melepas alat pelindung kepalanya, menunjukkan wajahnya pada Anxel, Anxel mengerutkan dahinya, merasa wajah itu cukup familiar baginya.


 


"Ini, Jonathan Medison bukan? dia …. " kata Anxel menatap Chinita dengan wajah berkerut.


"Calon suami Chintia, mereka sudah bertunangan," kata Jenny yang mengambil alih untuk menjawab hal itu, Chintia tampak tersenyum cukup kaku, Anxel memindahkan pandangannya pada Jonathan.


 


"Dunia kita memang sangat sempit yah," kata Anxel menjulurkan tangannya yang segera di sambut oleh Jonathan, tampak sekali senyuman kaki di antara mereka.


 


 


"Baiklah, bisakah kita masuk sekarang, hanya kalian yang menggunakan pakaian tebal, aku tidak, aku sudah mulai kedinginan," kata Jenny seadanya, bukan saja cuacanya yang terasa dingin, suasananya juga dingin.


 


 


"Ya, benar, Jenny pasti merasa dingin, ayo kita masuk," kata Chintia yang langsung masuk ke dalam, meninggalkan dua pria yang saling menatap tajam, di suasana yang sangat dingin, pandangan mereka terasa panas.


 


---***---


 


 


 


 


Jenny memutar otaknya, bukannya dia tak ingin tidur dengan Anxel, tapi dia dan Anxel belum begitu mengenal, hanya beberapa kali bertemu dan langsung memiliki hubungan seperti ini, dan malam ini dia harus tidur di sampingnya, terasa aneh bagi Jenny.


 


 


Anxel keluar dari kamar mandi itu, melirik ke arah Jenny yang langsung pura-pura bermain ponselnya, pria itu hanya menaikkan satu sudut bibirnya, Jenny melirik ke arah Anxel yang hanya menggunakan sweater berawarna biru mudanya, tampak cukup menarik perhatian Jenny, calon suaminya ini ternyata tak kalah mencuri perhatian juga.


 


 


Anxel berjalan menuju ke arah balkon, membuka pintu kaca yang menjadi pembatas itu, membiarkan udara dingin masuk ke dalam  ruangan itu, membuat Jenny segera menggigil karena tak terbiasa.


 


 


Jenny memperhatikan Anxel, dia tampak menikmati udara dingin itu, dia bahkan menikmati hujan salju dan juga pemandangan yang ada di sana, dia lalu melirik kembali ke arah Jenny.


 


 


"Kemarilah, di sini indah sekali," kata Anxel.


 


"Ya, aku sudah tahu, " kata Jenny malas mendekat karena dinginnya udara di sana.


 


"Kemarilah, temani aku di sini," kata Anxel lagi dengan senyumannya, kali ini mau tak mau Jenny berdiri dan mengikuti kemauan Anxel, dia berjalan menuju pintu kaca itu, udara dingin berhembus cukup kencang, dia memeluk dirinya sendiri, berjalan keluar kamar itu, napasnya saja berasap ketika keluar dari sana.


 


"Lihatlah," kata Anxel, menadahkan tangannya sambil mempung beberapa salju yang berjatuhan di sekitar mereka, Jenny mengerutkan dahinya, yang benar saja? pikirnya, terakhir kali dia melakukannya saat dia berusia 8 tahun, bukannya hal ini sedikit ke kanak-kanankan, , namun sepertinya Anxel benar-benar menyukainya, menikmati pemandangan dari balkon itu dengan antusiasnya.


 


 


Jenny mengedarkan matanya, melihat semua yang bisa dia lihat dari atas sana, dan tiba-tiba dia menangkap sosok pria yang bahkan melihat lekuk tubuhnya saja dia tahu itu siapa, dia sepertinya sedang mendengarkan laporan dari asistennya, mungkin merasa di perhatikan atau bagaimana, Jonathan membalikkan tubuhnya dan dengan segera melihat ke arah Jenny berdiri.


 


Jenny yang tahu hal itu segera memeluk tubuh Anxel, takut tertangkap basah sedang memperhatikan Jonathan, lagi pula dia juga ingin menunjukan seberapa mesra dia bisa bersama calon suaminya ini, bukan dia saja yang bisa bukan?


Tindakan random Jenny ini tentu membuat Anxel kaget, kenapa tiba-tiba Jenny memeluk dirinya?


 


"Ada apa? " tanya Anxel yang kaget, jenny memeluknya begitu erat, Anxel ragu sebenarnya inigin mmebalas pelukannya atau tidak, namun Anxel putuskan untuk membalasnya.


"Terima kasih sudah datang," kata Jenny yang mencoba mencari alasan kenapa dia memeluk Anxel, tak ada salahnya kan? mereka juga akan menikah sebentar lagi, Jenny juga harus membiasakan dirinya, menghirup wangi tubuh Anxel yang lembut, tapi entah kenapa matanya malah hanya menatap pria yang sedang memperhatikan mereka dari bawah itu.


 


Jonathan hanya menatap pemandangan yang ada di atas balkon itu, melihat pelukan hangat nan mesra Jenny dan Anxel di bawah salju, wanita itu tampak manja dalam pelukannya, Jonathan segera menurunkan pandangannya, mengedarkannya sejenak ke segala arah seperti mencari sesuatu, dan sekilas kembali ke pemandangan itu, dia menekan kedua bibirnya sebelum masuk.


"Ya, tak masalah," kata Anxel melirik ke belakang Jenny, menangkap sosok Chintia yang ternyata ada di balkon lantai dua itu.


Di sisi lain, Chintia pun hanya menatap dari belakang Jenny, melihat Anxel yang memeluk Jenny dalam pelukannya, Anxel yang menemukan sosok Chintia itu hanya tersenyum melihat Chintia yang duluan tersenyum padanya.