Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 54 - Kapan dia bisa tahu kabar Jonathan?



Jenny membuka matanya cepat, pagi sudah mulai menyingsing namun semakin mengarah ke pagi semakin cemerlang matanya, enggan untuk menutup sama sekali.


Dia turun dari ranjang besar beralaskan sutra merah marun, menyibakkan selimut beludru yang tebal dan hangat menyelimutinya, dia melirik ke sebelahnya, Chintia tampak tidur dengan lelap, bagaimana dia bisa tidur begitu lelap padahal ada seorang pria di sana sudah dia celakakan?


Jenny menatap jendela yang tersusun dari kaca-kaca kecil, khas sekali untuk jendela kerajaan, sore tadi dia datang ke kerajaan bersama semua keluarganya, malam ini dia harus menginap di sini, karena bagaimana pun pukul 7 pagi nanti, acara pernikahan Ceyasa akan di mulai.


Jenny tak bisa tenang sedikit pun, pada saat gladiresik pernikahan tadi pun dia terlihat hanya diam dan linglung, untung saja paman dan bibinya mengatakan bahwa dia sedang sakit, hingga dia diperbolehkan lebih cepat beristirahat, Jenny tentu cemas, tak ada detik pun terlewat tanpa memikirkan keadaan Jonathan, bagaimana dirinya? apalagi dia mendengar bahwa Jonathan disiksa oleh Anxel, dia benar-benar tak bisa tenang.


Dia menggenggam ponselnya dengan erat, walau tahu kecil kemungkinannya bahwa kakaknya akan memberikan kabar pukul 4 pagi begini, dia tetap berharap, tak ingin kehilangan kesempatan mengetahui keadaan Jonathan hanya karena dia tertidur.


Jenny hanya berjalan mondar mandir, terkadang dia duduk, sesaat kemudian berkeliling kembali, gusar dia rasakan, hatinya yang perih tak bisa tahan lebih lama lagi.


Saat dia berjalan menyusuri kamar itu, pintu kamarnya terbuka, Jenny tentu kaget, dia segera melihat siapa yang masuk ke dalam kamarnya, sosok Aurora tampak di sana, memperhatikan Jenny dengan wajah lembutnya.


"Apakah kau tidak tidur?" tanya Aurora yang tahu pasti Jenny bukannya terbangun, anaknya ini pasti tak bisa tidur, lingkar hitam di matanya yang lelah terlihat sekali, kesembaban itu nyata di sana.


Jenny memberikan senyuman tanpa arti, menggelengkan kepalanya lemah, dia tak tahu harus berbicara apa, tubuhnya lelah dan berat, namun tak bisa melakukan apapun, setiap detik menunggu kabar, seperti satu cambukan dalam tubuhnya, perih dan sakit.


"Bibi sudah bangun?" kata Jenny basa basi.


"Ya, sudah harus mulai mempersiapkan Ceyasa, kau ingin ikut bersama bibi?" tanya Aurora.


"Baiklah, sebentar aku akan ganti baju dulu," kata Jenny gontai, Aurora hanya mengangguk memberikan senyum tipis namun menenangkan.


Jenny segera keluar, berjalan melawari lorong istana itu, kepalanya jangan lagi ditanya bagaimana sakitnya, namun dia mencoba bertahan, dia menuju ruang khusus tempat Ceyasa bersiap-siap, dia segera membuka pintunya, melihat Ceyasa yang sedang di dandani, Ceyasa melihat pantulan wajah Jenny dari cermin yang ada di depannya.


Ceyasa memberikan senyuman manisnya, menyapa Jenny, Sepupunya yang baru saja dia kenal, Aurora tidak terlihat di sana, padahal Jenny kira Bibinya sudah ada di sana.


"Dimana bibi?" tanya Jenny, mengambil tempat di dekat Ceyasa, duduk di depan Ceyasa.


"Ibu sedang menyiapkan gaunnya dan jas Ayah," kata Ceyasa yang tak bisa bergerak, wajah dan kepalanya sedang ditata.


"Lucu ya, dulu kau bukan siapa-siapa, lalu tiba- tiba menjadi putri, kemudian baru tahu bahwa ayahmu adalah seorang mantan presiden," kata Jenny melihat wajah Ceyasa, walau sudah menerima, baginya Ceyasa masih sungguh asing.


"Kehidupan memang tidak ada yang tahu," kata Ceyasa lagi, sedikit menaikkan sudut bibirnya, menjaga agak ke bar-barannya tak keluar.


"Kau mencintai Archie?" tanya Jenny lagi.


"Tentu, jika tidak kenapa aku menikahinya?" tanya Ceyasa.


"Ya, mana tahu karena kau sudah hamil karenanya, jadi kau terpaksa kembali menikah dengannya," kata Jenny, sifatnya yang blak-blakan itu tidak bisa ditahannya.


"Yah, walau dia tak ada di sini, aku tetap akan setuju menikahi Archie," Ceyasa mengusap perutnya yang rata.


"Bagaimana kau bisa mencintai orang seperti Archie?" tanya Jenny, dia tahu bagaimana sifat Archie, pria itu mau menang sendiri, pemarah, dan rela melakukan apa saja untuk mencapai keinginannya, terbukti dia melakukan hal licik untuk mendapatkan Suri dulu, padahal mereka sepupu.


"Entahlah, pernahkah kau menyukai seseorang?" tanya Ceyasa balik pada Jenny.


Jenny diam, tentu, dia sudah jatuh hati pada Jonathan. Diam Jenny menjadi jawaban buat Ceyasa.


"Lalu apa alasanmu menyukainya?" tanya Ceyasa lagi.


Suka, tentu semua orang akan menyukai Jonathan yang begitu sempurna, namun dibalik itu, ke spontanitasannya, kekeras kepalannya, cara dia menjaga Jenny, hingga sikapnya yang bertanggung jawab, tentu hal itu cukup membuat siapa saja jatuh cinta.


"Bagaimana rasanya menikah dengan orang yang kau cintai?" kata Jenny melirik ke arah Ceyasa.


"Sejujurnya, itu sedikit aneh, untuk kasusku, Archie adalah orang paling menyebalkan sedunia, dia sesuka hatinya, dia kadang suka marah tanpa alasan dan mengatakan Hal-hal yang akan disesalinya, tapi entah kenapa aku selalu bisa menerima semua sifat jeleknya itu, aku marah, tapi saat bangun dan melihat dirinya di sampingku, aku lupa akan marah itu, dan malah tersenyum melihatnya, aku bisa mentolerir semua kelakuannya, karena yang aku ingat bagaimana saat aku tidak ada bersamanya, bagaimana perjuangannya untuk bisa bersamaku, jadi menurutku, menikahi orang yang aku cintai, seperti menelan buah yang asam tapi entah kenapa kau menyukainya dan ketagihan atas dirinya," kata Ceyasa.


Jenny sedikit terdiam, hanya menatap Ceyasa yang hanya mengulas senyuman manisnya, benarkah seperti itu? mungkin itu yang juga dirasakan oleh Bibinya, dulu Jenny merasa bibinya bodoh karena bertahan begitu lama dengan pria yang bahkan tak pernah memandangnya, setia disampingnya, tapi mendengar dan juga merasakan hal itu sekarang, sepertinya Jenny mengerti, bibinya bukanlah orang yang bodoh, namun dia orang yang mengerti apa yang dia inginkan, dia mencintai prianya dan hanya ingin bersamanya, karena mungkin sakit yang ditimbulkan jika meninggalkan pamannya akan lebih parah dari pada bertahan. Lagi pula pamannya juga tak buruk, dia hanya tak menggubris perasaan bibinya.


"Benarkah bisa seperti itu?" tanya Jenny lagi.


"Tentu, aku rasa aku tak akan mau menikahi pria yang tak aku cintai, karena bagiku, nantinya sebaik apapun dia pasti akan selalu salah di mataku itu karena dari awal aku tak menyukainua, jadi aku lebih baik menerima orang yang aku cintai tapi selalu membuatku jengkel, daripada seorang yang manis namun membuatku merasa tak nyaman," kata Ceyasa lagi.


"Ehem, kalian membicarakan ku?" Tiba-tiba Archie muncul begitu saja diambang pintu, tentu dandanannya masih seperti orang baru bangun, Ceyasa saja sedikit kaget Archie sudah bangun jam segini.


"Apa yang kau lakukan di sini! pergi sana! bukannya sudah dibilang kau tidak boleh ke mari," kata Ceyasa membesarkan matanya melihat suaminya itu ada di sana, padahal sudah jelas kemarin mereka berjanji untuk tidak bertemu sampai saat pernikahan mereka karena Ceyasa mau Archie tercengang melihat dirinya nanti.


"Ya itu sebelum aku tahu ada wanita ceroboh yang meninggalkan kalung untuk pernikahannya di kamar," kata Archie meletakkan kotak perhiasan di meja rias yang dipakai Ceyasa, melirik Ceyasa yang masih setengah di dandani, belum selesai saja istrinya sudah cukup membuatnya terkesima.


"Kau kan bisa meminta Gerald membawakannya?" kata Ceyasa membuka kotak perhiasan itu, berisi kalung permata yang Archie berikan, milik ibunya.


"Ehm, ya ... biar aman saja," kata Archie yang sebenarnya memang punya tujuan ingin melihat Ceyasa, semalam saja tidak tidur di samping istrinya dia merasa tak enak.


"Ah, bilang saja kau kangen padaku kan?" goda Ceyasa dengan wajah jahilnya.


"Tidak, sudahlah, kau ingat makan dan juga minum susu, suplemennya juga, jangan sampai terlewat, aku tak mau anakku kurang nutrisi karena ibunya yang ceroboh," ujar Archie tampak sedikit salah tingkah melihat wajah jahil Ceyasa, dia lalu segera pergi meninggalkan istrinya itu, membuat Ceyasa tertawa sedikit geli, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Jenny yang melihat interaksi Ceyasa dan Archie hanya bisa tersenyum manis, akankah dia bisa begitu dengan Jonathan? Jenny melihat ke arah ponselnya, masih belum ada kabar apapun, sinar mata Jenny meredup kembali, kapan dia bisa tahu kabar Jonathan?