
"Apa maksudmu? jadi kau di sana sendirian? Anxel meninggalkanmu? bagaimana bisa dia meninggalkanmu?" tanya Aurora yang segera panik, bagiamana anaknya di tinggalkan sendiri di luar negeri. Jenny bisa mendengar nada khawatir di suara bibinya.
"Oh, ya, dia ada urusan yang tak bisa dia batalkan lagi, dia punya pasien yang mendesak," kata Jenny menjelaskan.
"Lalu bagaimana dengan Chintia? dia tak menemanimu?" tanya Aurora lagi, Jenny mengerutkan dahinya, benar juga, kenapa Chintia tidak menemaninya? kenapa malah memilih pulang bersama Anxel.
"Ya, Bibi, tapi aku baik-baik saja, aku akan pulang hari ini juga, mungkin besok akan sampai di sana, Bibi jangan khawatir ya," kata Jenny manis, Jonathan di sampingnya merasa sedikit bersalah, karena dirinyalah bibi Jenny jadi cemas.
Tanpa basa-basi Jonathan mengambil ponsel Jenny, Jenny membesarkan matanya, melihat Jonathan yang segera meletakkan ponsel itu di telinganya, Jenny langsung gugup karenanya, apa maunya Jonathan ini sebernanya.
"Halo, Bibi, aku Jonathan," kata Jonathan langsung saja, membuat Jenny langsung kaget, kenapa dia malah berbicara dengan bibinya?
"Jonathan?" kata Aurora kaget, Jonathan segera men-loudspeaker-kan ponsel Jenny, Jenny memandang Jonathan kesal, Jonathan hanya melirik Jenny yang gelagapan.
"Ya, aku hanya mengatakan aku minta maaf karena sudah membuat Jenny pulang terlambat karena masalah dokumen ini, tapi aku minta Bibi tak perlu khawatir, aku ada di sini untuk membereskan dan menjaga Jenny, bahkan aku akan mengantarkan Jenny sampai kembali ke sana, Jadi Bibi tak perlu khawatir tentangnya, ada aku di sini," kata Jonathan lagi dengan nada suara tegas penuh wibawa, Jenny terdiam melihat keseriusan suara Jonathan, dia sedikit terkesima, pria ini tak takut apapun, sikapnya yang bertanggung jawab begitu terasa, sekali lagi dia berhasil menyentuh hati Jenny.
"Benarkah? kalau begitu aku bisa tenang sekarang, tolong Jaga Jenny di sana ya," kata Aurora sedikit bernapas lega, walaupun dia kaget ada Jonathan di sana karena Jenny sama sekali tidak mengatakan tentang Jonathan, tapi untuk saat ini dia mencoba mempercayain Jonathan, setidaknya ada pria yang menjaga Jenny.
"Baik bibi," kata Jonathan lagi.
"Bisakah bibi berbicara dengan Jenny sekarang?" kata Aurora yang berpikir sekarang ponsel Jenny sedang pada Jonathan.
"Baiklah," kata Jonathan, menggeser sejenak ponsel lebih dekat pada Jenny,, Jenny baru saja ingin mengambilnya namun Jonathan menjauhkannya, Jenny menekuk Wajahnya seolah berkata kembalikan, namun Jonathan menjawab dengan ekspresi wajah dan gerakannya, menyatakan agar Jenny berbicara dengan begini saja, mungkin agar Jonathan tahu apa yang dibicarakan, Jenny memutar bola matanya, belum apa-apa saja Jonathan sudah begitu overportektif.
"Halo bibi?" kata Jenny lagi.
"Ya, bagaimana Jonathan bisa ada di sana? bukannya Jenny mengatakan pada Bibi jika pergi hanya dengan Chintia dan Anxel?" kata Aurora yang merasa penasaran, kenapa tiba-tiba ada Jonathan di sana.
Jenny melirik Jonathan yang menatapnya, alis Jonathan dinaikkan satu, namun wajahnya seolah mengejek Jenny, dia tak tahu bahwa Jenny tak memgatakan bahwa dia pergi dengan Jonathan, bukannya Liburan ini seluruhnya diakomodasi olehnya, tega sekali Jenny tak mengatakan ada dirinya di sini, dia juga ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Jenny tentangnya?
"Oh, ya, Dia ... dia bergabung dengan kami setelahnya, bibi, akan ku ceritakan di rumah nanti, aku harus mengurus semuanya agar aku bisa kembali cepat, bibi, aku permisi dulu ya," kata Jenny terus melirik ke arah Jonathan yang mengerutkan dahinya, pintar sekali mencari alasan.
"Baiklah, Bibi akan menunggumu," kata Aurora.
"Baiklah, Bibi, bolehkah jangan mengatakan tentang Jonathan pada Paman, hanya bibi saja yang tahu, kabari saja aku akan pulang, itu saja," kata Jenny dengan nada lemah, melirik Jonathan yang berwajah datar menatapnya, Jonathan segera membuang pandangannya, membuat perasaan tak enak bagi Jenny.
"Baiklah, sampai jumpa bibi," kata Jenny, mematikan ponsel itu lalu memandang Jonathan.
Jonathan tersenyum sedikit kecut, namun dia segera mengembangkan senyumnya agar terlihat lebih manis, Dia mengubah posisinya agar berhadapan dengan Jenny.
"Maaf, aku tidak bermaksud," kata Jenny yang bingung harus mengatakan apa, pamannya pasti langsung berpikiran yang tidak-tidak jika tahu bahwa Jonathan bersamanya, dan hal itu bisa menjadi masalah baru nantinya.
"Tidak apa-apa, makanlah, sebentar lagi dingin," kata Jonathan sedikit mengacak rambut Jenny, membuat Jenny sadar sudah banyak makanan di depannya.
"Kenapa menyiapkan makanan?" tanya Jenny mengerutkan dahi, perasaannya masih tak enak melihat Jonathan tadi.
"Karena tadi pagi kau tak makan banyak, kau hanya menghabiskan susumu bukan?" kata Jonathan lembut, matanya memandang penuh pancaran kasih sayang.
Jenny tertegun memandang wajah yang lembut itu.
"Eh, kau memata-matai aku ya?" tanya Jenny kembali dengan wajah curiganya, menutupi dadanya yang sesak karena detak jantungnya yang berdetak begitu memburu ulah dari perlakuan Jonathan yang sangat menyentuh hatinya.
"Tidak, aku tidak memata-mataimu, hanya memperhatikan dirimu," kata Jonathan, sekali lagi begitu lembut dan perlahan, membuat Jenny semakin salah tingkah, dia langsung mengambil sendok, mengambil beberapa makanan yang tentunya terlalu banyak untuk dirinya sendiri, dia sudah tak tahan di tatap begitu oleh Jonathan.
Jonathan yang melihat kegugupan Jenny hanya sedikit tertawa kecil, dia mengambil sumpit yang tersedia, mengambil satu buah daging berpotongan dadu, lalu mengarahkannya pada Jenny, Jenny yang melihat itu mengerutkan dahi.
"Ayo buka," kata Jonathan, Jenny merasa hal ini sedikit kekanak-kanakan, dia adalah wanita mandiri, jadi disuapi begini bukanlah gayanya, namun dia mencoba mengikuti kemauan Jonathan, dia membuka bibirnya, Jonathan tampak senang ketika selesai menyuapi Jenny, membuat Jenny juga jadi ikut lucu melihatnya.
"Itu hidangan utamanya, ini hidangan penutupnya," kata Jonathan tiba-tiba saja mengecup bibir Jenny, sejenak saja namun begitu manis, membuat Jenny terdiam, bahkan menghentikan aktifitas mengunyahnya, Jonathan suka melihat gaya Jenny yang mati Kutu karenanya, belum habis rasa terkejutnya, Jenny dikagetkan lagi dengan tingkah Jonathan yang tiba-tiba saja membaringkan tubuhnya, merebahkan kepalanya ke pangkuan Jenny.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jenny bingung.
"Izinkan aku tidur, dari kemarin aku belum bisa tidur sama sekali," kata Jonathan mulai menutup matanya, Jenny yang melihat wajah Jonathan begitu dekat dalam pangkuannya langsung bertambah merah wajahnya, jantungnya pun sudah serasa ingin berontak keluar.
"Kau menculikku hanya untuk tidur?" tanya Jenny lagi
"Sejujurnya aku tak punya rencana apapun, hanya ingin dekat denganmu, bangunkan aku setelah kau selesai makan ya, aku hanya tidur sejenak," kata Jonathan, terkesan sangat manja, dia tak peduli melihat wajah kesal Jenny, tak lama napasnya teratur, dan Jenny tahu pria itu sudah terlelap dalam pangkuannya.