Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 19 - Melihat Aurora.



Jenny membuka matanya, setelah dia pulang tadi dia langsung meringkuk di dalam selimutnya dan segera tidur.


Samar dia melihat sosok pria yang berdiri di sampingnya, seperti sedang meletakkan sesuatu di sisi tempat tidurnya, Jenny berasumi itu adalah Anxel, siapa lagi pria yang masuk ke dalam tempat tidur ya.


Jenny hanya memutar tubuhnya, kembali menarik selimutnya, entah kenapa dia setuju pergi ke tempat sedingin ini, pikir Jenny melanjutkan tidurnya karena kepalanya cukup berat sekarang.


Jenny merasa seseorang duduk di pinggiran ranjangnya, meraba dahinya, tangan itu terasa dingin baginya, namun tak sedikit pun dia ingin membuka matanya lagi, ingin cepat bisa esok hari dan semua berakhir.


"Anxel, aku tidak apa-apa," Suara Jenny setengah meracau sambil kembali dalam posisi terlantang, membuka matanya perlahan, awalnya masih begitu buram, namun perlahan wajah itu terlihat jelas sempurna.


Mata Jenny yang besar membulat, dia bahkan terlonjak kaget melihat siapa yang sekarang ada dan duduk di ranjang dekatnya, Karena gerakan yang benar-benar spontan itu, kaki Jenny kembali terasa nyeri, dia meringis kesakitan.


Jonathan yang melihat reaksi Jenny kaget, namun segera berubah ketika Jenny kesakitan, dia bahkan mengangkat tubuhnya dan segera duduk di dekat kaki Jenny, Menyibakkan selimut dan melihat kaki Jenny yang terbalut perban, sepertinya kembali berdarah, Jenny sedikit canggung, apa lagi saat ini dia hanya memakai pakaian tidur yang cukup pendek bagian bawahnya, dia bukan ingin menggoda, hanya saja memang tak ingin lukanya tergesek-gesek celana panjangnya.


"Kenapa kau di sini?" kata Jenny yang baru ingat kenapa Jonathan malah di sini? mana Anxel?


"Ini kamar ayah dan ibuku, tak masalah bukan aku di sini?" kata Jonathan tak memperhatikan Jenny, dia malah sibuk membuka perban luka Jenny, Jenny mendengar hal itu keluar dari mulut Jonathan hanya bisa diam, benar juga, pikirnya.


"Tak perlu, biar aku saja," kata Jenny yang melihat Jonathan perlahan membuka perbannya yang sudah mulai memerah, menarik kaki seketika melarang Jonathan untuk menyentuhnya, namun Jonathan seolah tak mendengar apa perkataan Jenny, bahkan meliriknya pun tidak, dia langsung menahan kaki Jenny, membuat genggaman yang sangat erat, Jenny meringis kembali karenanya, namun Tak mengurungkan niat Jonathan.


Setelah membuka perban itu, terlihat jelas luka itu kembali terbuka, Jonathan segera bangkit, dan melihat ke arah Jenny.


"Tunggu sebentar," kata Jonathan dengan suara rendahnya.


Jenny tak mengiyakan, ataupun menolak, dia hanya melihat pria yang pergi begitu saja tanpa menunggu jawabannya, Jenny mengedarkan matanya, melihat kamarnya yang kosong, kemana Anxel? padahal saat dia tertidur tadi, Anxel-lah yang menjaganya.


Belum sempat dia mengamati semua kamar itu, pintu kembali terbuka, Jonathan kembali masuk dengan membawa kotak putih di tangannya, tanpa meminta izin, Jonathan kembali duduk di bagian kaki Jenny, dia segera membuka kotak itu, mengambil beberapa kasa steril dan membasahinya dengan cairan antiseptik.


"Au, " perih Jenny saat kasa itu menyentuh kulitnya yang sekarang rusak, padahal di di sekitarnya, kulitnya begitu putih, dan mulus, licin tanpa cacat sama sekali.


"Sakit?" tanya Jonathan melirik sekilas lalu perlahan lagi menepuk-nepukkan kasa itu ke luka Jenny.


"Pelan-pelan," ujar Jenny meminta, padahal Jonathan sudah begitu perlahan melakukannya. Jonathan segera menutup kembali luka itu setelah membersihkannya, dia lalu membersihkan semuanya, Jenny hanya memperhatikan pria itu, benar kan? dia bahkan tak bisa menolaknya saat dia melihat pria itu.


Jonathan yang telah selesai melakukan tugasnya menatap Jenny sejenak, Jenny yang di tatap dengan tatapan itu hanya mencoba untuk tidak salah tingkah.


"Sudah selesai kan? Terima Kasih, sekarang aku ingin tidur, bisakah kau keluar?" tanya Jenny, kembali dengan kewarasannya.


"Anxel? Anxel?" teriak Jenny mencari Anxel, kemana pria itu.


"Anxel dan Chintia pergi melihat Aurora," kata Jonathan terdengar tanpa nada, membuat Jenny langsung terdiam, itu artinya hanya dia dan Jonathan di sini.


"Bagaimana bisa dia meninggalkanku?" gumam Jenny.


"Kau sedang tidur dan saat itu aku merasa tubuhku belum kuat untuk kembali ke udara dingin, karena itu Chintia meminta Anxel untuk menemaninya," kata Jonathan lagi menjelaskan, membuat Jenny harus menerimanya.


"Baiklah, kalau begitu aku mau tidur kembali, permisi, bisakah kau keluar?" usir Jenny untuk yang kedua kalinya.


"Kau sudah bangun dan aku juga merasa baikan, bagaimana jika kita pergi untuk melihat Aurora juga?" tanya Jonathan pada Jenny yang baru mengambil ancang-ancang untuk kembali tidur.


Mendengar hal itu Jenny sedikit terhenti, berpikir sejenak, ehm, Itu adalah tujuannya ikut liburan ini, melihat cahaya Utara yang indah itu.


Sedikit dalam diri Jenny sangat ingin dan mengiyakan ajakan itu, namun dia langsung ingat, dia akan bersama dengan pria ini nantinya, dan dia yakin keadaan nantinya akan menjadi sesuatu yang sangat tak menguntungkan baginya.


"Tidak, aku hanya ingin tidur," tolak Jenny lagi memposisikan dirinya untuk tidur membelakangi Jonathan, Jenny merasakan Jonathan berdiri, di hatinya sedikit lega, akhirnya pria itu pergi dan menyerah juga. Jenny menghela napasnya, perasaannya beradu, sebagian tak ingin Jonathan meninggalkannya sendirian, namun di sisi lain, jika pria itu tetap di sana, maka ... mungkin dia tak bisa lagi menahan dirinya.


Jenny nyatanya salah, tiba-tiba dia merasakan sesuatu menyusup di antara belakang tubuh dan belakang pahanya, menariknya langsung dari ranjangnya yang empuk dan juga hangat, membuat Jenny hingga terpekik, namun suaranya itu langsung tertahan saat dia melihat wajah Jonathan yang sudah ada di dekatnya, memandangnya dengan sangat lekat, membuat Jenny terkaku dalam gendongan Jonathan sekarang.


Sesaat mereka hanya diam saling memandang sebelum Jenny sadar bagaimana posisinya sekarang.


"Hei, kau ini apa-apaan, turunkan aku sekarang!" kata Jenny dengan wajah kesal, dia melihat lantai di bawahnya, sakit tidak ya jika jatuh dari sana?


"Aku tidak suka ditolak, jika kau tak mau, aku akan tetap membawamu kesana," kata Jonathan menatap tajam pada Jenny.


"Ini pemaksaan namanya! turunkan aku!" kata Jenny sambil berontak di dalam gendongan Jonathan, sayangnya Jonathan menahannya dengan sangat erat hingga Jenny tetap ada di dalam gendongannya. Jenny akhirnya berhenti dan menyipitkan matanya menatap Jonathan yang tampak serius.


"Apa kau ingin aku paksa juga untuk memakai pakaian hangatmu?" tanya Jonathan dengan suara sangat serius membuat Jenny membesarkan matanya, sepertinya Jonathan benar-benar serius dengan hal ini, karena itu Jenny hanya mengangguk patuh.


Mendapat anggukan patuh itu Jonathan sedikit mengangkat sedikit ujung bibirnya, memperlihatkan senyuman tipisnya, dia lalu menurunkan Jenny perlahan, melihat sejenak apakah jenny sudah bisa berdiri, ternyata dia sudah bisa berdiri dengan baik.


"Baiklah aku tunggu 20 menit di bawah, jika kau tidak turun, aku akan langsung menggendongmu kembali untuk turun," kata Jonathan yang tanpa berpamitan langsung pergi keluar dari kamar itu, Jenny tentu kesal dia di paksa begitu oleh Jonathan, dia mendengus kesal sambil melemparkan bantal ke arah pintu kamarnya itu, apa sih maunya beruang kutub itu sekarang, pikir Jenny.