Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 53 - Penyelamatan 3.



Anxel yang dari tadi sudah pusing memikirkannya, hanya bisa mengusap kepalanya, modar-mandir memikirkan apa yang harus dia lakukan pada Jonathan, sejujurnya dia tidak punya rencana apapun untuk menyingkirkan Jonathan, dia hanya ingin menahannya untuk menjadi alasan menekan Jenny, namun karena dia melawan, Anxel kehilangan kontrol dan memukul kepalanya, sekarang keadaan Jonathan pasti gawat, mungkin ada peningkatan TIK (Tekanan Intra Kranial \= tekanan di dalam otak akibat sesuatu, bisa karena pendarahan atau tumor) Anxel jadi bingung, jika Jonathan sampai mati, maka keluarganya pasti akan mengusut tuntas hal ini, walaupun dia bisa menghilangkan Jejak, namun bisa saja Jenny tak akan mau menutup mulutnya,dia pasti menuntut balas, dia tak akan takut lagi, karena Jonathan sudah tidak ada, dan Anxel akan tamat.


"Baiklah, aku akan kesana untuk membawa obat untuknya, pastikan dia tidak kabur atau hanya berpura-pura," kata Anxel lagi, takut ini hanya pura-pura Jonathan.


"Tak mungkin, kami sudah memukulinya dan dia tetap saja kejang," kata pria itu lagi.


"Kalian gila, jangan memukulinya, biarkan saja seperti itu, 30 menit lagi aku akan sampai, pastikan tidak akan ada yang curiga," kata Anxel lagi panik.


"Baik Tuan," kata pria itu, lalu prajurit yang memegang ponsel itu langsung mematikan panggilan itu, Pria yang menelepon itu tampak lega ketika Kolonel David akhirnya menarik muncung senjata itu dari wajahnya.


"Baiklah, siapkan protokol pemindahan Tuan Jonathan, sebagian mengawalnya hingga ke rumah sakit, sebagian tinggal untuk penyergapan," kata Kolonel David memberikan perintah bagi pada anak buahnya, mempersiapkan kembali senjatanya agar siap digunakan jika diperlukan.


"Tidak, aku harus ada di sini," kata Jonathan, membuat Kolonel David sedikit kaget dan mengerutkan dahi.


"Kami harus mengutamakan keselamatan Anda, membawa Anda keluar dari sini sudah menjadi prioritas kami, jadi saya tidak bisa membiarkan Anda di sini," kata Kolonel David langsung.


"Kalian ingin menjebak Anxel bukan? jika dia datang kemari dan tak melihat diriku, dia pasti bisa mengelak, jika ada aku di sini, maka mungkin dia bisa melakukan sesuatu padaku dan kalian bisa menyergapnya, saat itu dia tak akan bisa mengelak apapun," kata Jonthan mengatakan pada Kolonel David, mencoba menyakinkannya, Jonathan hanya ingin sedikit melampiaskan rasa marahnya pada pria itu.


"Dia bisa berkilah datang ke sini untuk mengobatiku, banyak hal yang akan keluarganya lakukan untuk menutupi hal ini, tapi saat dia mencoba untuk menyiksaku, kalian punya bukti kuat untuk itu," kata Jonathan lagi. Kolonel David mencoba menganalisanya, benar juga, di bawah komando perdana menteri, tanpa bukti kuat, semua bisa ditutupi.


"Baiklah, tapi saya hanya mengizinkan Anda untuk kembali berpura-pura masih tersekap, jika dia sudah mulai melakukan hal yang tak baik untuk Anda, kami akan bertindak," kata Kolonel David lagi.


"Baiklah," kata Jonathan setuju.


---***---


Mobil Anxel menerobos keheningan malam menuju gubuk kecil yang ada di tepian danau, keadaan sepi bahkan hanya ada dirinya yang menuju ke sana, kabut cukup tebal mengelilingi sekitarnya, suasana khas dini hari itu membuat bulu kuduk sedikit merinding.


Anxel segera turun dari mobilnya, melihat gubuk itu remang, hanya ada lampu kuning kecil di depannya, dia mengerutkan dahinya, kenapa tak ada yang berjaga di depan?


Anxel mengetuk pintu dengan irama, mungkin sebuah kode untuk tahu bahwa dia lah yang datang, beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka, menunjukkan kepala kelompok penyekap yang tampak sangat gugup, bagaimana tidak sebenarnya setiap sudut ruangan itu sudah dikepung pasukan khusus yang dengan lihainya bersembunyi, menunggu aba-aba agar diizinkan keluar.


"Dimana dia?" tanya Anxel yang tampak memakai mantel, mencoba menghalau udara dingin, masih pukul 3 pagi saat ini.


"Dia ada di ruangannya, sudah menenang," kata Kepala kelompok itu gugup dan suaranya bergetar, Anxel mendengar suaranya itu menghentikan langkahnya, melirik ke ketua kelompok itu.


"Ya, ya, dia ada di dalam Tuan," kata Kepala kelompok itu sedikit kesal dan sudah tak tahu lagi harus apa.


Anxel segera masuk, melihat Jonathan yang terlihat lunglai, dia segera menaikkan sudut bibirnya, sudah sadar ternyata, untungnya keadaannya tak seburuk pemikirannya.


Anxel mendekati Jonathan, semua orang di sana tampak dalam posisi siaga. Anxel berlutut satu kaki di depan Jonathan, dengan kasar mengangkat dagu Jonathan, melihat wajah Jonathan yang lemas, lemah, dia sangat puas.


"Akhirnya kau tahu siapa aku," kata Anxel tersenyum dengan sinis, senyum dengan menaikkan satu sisi bibirnya.


"Lepaskan aku, Kenapa kau malah menculikku?" ujar Jonathan lemah.


"Hah! sedikit benturan dan kau sudah lupa kenapa aku menculikku, aku menculikku karena kau sudah menghalangi jalanku untuk menggapai tujuanku!" kata Anxel mulai mengeluarkan kearoganannya.


"Tujuan?" tanya Jonathan berusaha mendapatkan semua informasi dari bibir Anxel, senjata agar nantinya dia tak bisa berkutik.


"Ya, Tujuanku untuk bisa menjadi presiden, kau kira kau siapa berani menghalangiku," kata Anxel menghempaskan wajah Jonathan, Jonathan hanya diam dan tanpa peringatan, Jonathan segera melayangkan sebuah pukulan yang Telak terkena bagian rahang Anxel, Anxel tentu tak menduga hal itu, yang dia tahu Jonathan masih terikat di kayu penyangga rumah itu karenanya dia tak sempat untuk mempertahankan dirinya.


Pukulan itu sangat keras walau hanya menggunakan tangan kiri Jonathan, Anxel yang notabene tak pintar berkelahi itu sedikit terpental hingga terjatuh ke lantai, sakitnya sungguh membuatnya hingga pandangannya buram.


Jonathan segera berdiri memandang marah ke arah Anxel, bersamaan dengan itu 5 orang tentara yang bersembunyi di dekat mereka segera mengacungkan senjata Laras panjang mereka ke arah Anxel yang tentu kaget, dia benar-benar terjebak.


"Sekarang kau tahu siapa aku?" kata Jonathan, meludah ke arah Anxel.


"Tuan Anxel Bernando, Anda ditangkap atas penculikan dan penganiayaan Tuan Jonathan Medison, adalah hak Anda untuk diam, setiap kata yang Anda keluarkan sekarang bisa dijadikan bukti memberatkan anda dipersidangan," kata Kolonel David, memberikan perkataan yang biasa disebutkan saat polisi menangkap penjahatnya, agar menimbulkan kesan mereka bukanlah pasukan khusus.


"Apa yang kalian lakukan, kalian tidak tahu siapa aku? aku adalah anak pedana menteri," kata Anxel yang panik dipaksa bangun dan tangannya diborgol, dalam pikirannya semua pasukan ini adalah polisi, polisi tentu dibawah komando ayahnya.


"Sekali lagi kami tegaskan Tuan Anxel, perkataan Anda bisa sangat memberatkan di pengadilan, lagi pula siapa pun Anda, kami hanya berpihak dengan keadilan, Anda sudah memalukan keluarga Anda," kata Kolonel David lagi menatap Anxel yang tampak marah, gugup namun lebih ketakutan.


Anxel membesarkan matanya, dia baru saja mengatakan hal yang tidak baik, jika itu keluar ke publik, maka seluruh keluarganya akan hancur, dia hanya memandang mata Jonathan dengan sangat tajam sebelum di seret keluar dan diamankan bersama 5 orang kaki tangannya.


"Tuan Jonathan semua sudah selesai, kami harus kembali ke markas, keluarga Anda akan segera menemui Anda di rumah sakit, kawal Tuan Jonathan hingga ke rumah sakit dengan selamat," kata Kolonel David memerintahkan segera.


"Baik, terima kasih," kata Jonathan, akhirnya walau hanya bisa memukul rahang Anxel, setidaknya emosinya yang tertahan sedikit terlampiaskan, Jonathan tak akan melepaskan pria itu, bahkan dia akan menghancurkannya hingga tak bersisa, pikirnya sambil cukup tertatih berjalan menuju ke arah mobil khusus tentara itu, mereka lalu segera melaju ke rumah sakit.