Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 15 - Jangan Sentuh



"Salju sudah mulai turun, itu bisa menutupi jejak kita dan yang mencari kita akan kesulitan," ujar Jonathan sekali lagi mencoba melompat, namun sia-sia, kembali mencari sesuatu yang bisa dia pakai dalam untuk keluar dari sini, tapi nyatanya juga tak ada yang berhasil, bahkan Suaranya mulai serak karena berteriak terus menerus.


Jonathan duduk frustasi di samping Jenny, napasnya cukup terengah, dia mengeluarkannya dari mulutnya, membuat uap hangat tampak keluar.


Jenny dari tadi hanya bisa diam saja, mengamati Jonathan yang sibuk mencari jalan keluar, dia takut berbicara, karena bagaimana pun dia yang sudah membuat hal ini terjadi.


"Maafkan aku," kata Jenny, setelah mengalahkan semua hal di kepalanya yang saling berargumen, cukup lama dia bergelut dalam dirinya sendiri hingga akhirnya bisa mengucapkan hal itu, sebenarnya sedari awal dia sudah mendorong dirinya untuk mengucapkan maaf, tapi ntah kenapa tak juga keluar dari mulutnya.


Jonathan melirik ke arah Jenny, sekilas saja melihat wajah bersalah Jenny, dia lalu kembali menatap ke depan, melihat ke atas tepian lubang itu.


"Seharusnya kau tidak seceroboh ini, bukannya kau tahu jika tempat seperti ini akan berbahaya," kata Jonathan yang sebenarnya cukup kesal, namun ditahannya karena Jenny juga sedang terluka.


"Aku hanya ...." Kata Jenny tiba-tiba terdiam, tak bisa mengeluarkan alasannya.


"Hanya apa?" kata Jonathan melirik kembali Jenny yang berwajah kesal, kesal pada dirinya sendiri.


"Hanya tak suka jika perhatian kalian bukan padaku," kata Jenny pelan, dia iri jika ada wanita lain yang lebih diperhatikan dari pada dirinya, selama ini dia selalu menjadi pusat perhatian, semua hal adalah tentangnya, bahkan di keluarganya sendiri, dia adalah wanita yang paling di sayang baik oleh pamannya apalagi kakaknya.


Jonathan mengerutkan dahinya, menatap tak percaya dengan apa yang menjadi alasan Jenny bertindak begitu bodoh, hanya karena ingin diperhatikan?


"Kau ini? bodoh sekali mempertaruhkan nyawamu hanya untuk mendapatkan perhatian, aku kira dulu kau wanita yang cerdas tapi ternyata kau hanya wanita yang haus perhatian," ujar Jonathan tambah kesal, tak bisa lagi menutupinya, dia terjebak di sini, bertaruh nyawa di kondisi cuaca ekstrim karena hanya kebodohan.


"Lalu untuk apa kau mengejarku, kau bisa tak memperdulikan ku, lagi pula aku bukan siapa-siapamu, bukannya kau juga bilang kau tak akan lagi mau membantuku? aku tak butuh bantuanmu jika kau tak ikhlas dan memarahiku" kata Jenny masih keras kelapa, memindahkan tubuhnya lebih jauh dari Jonathan.


"Karena aku tidak bisa tak peduli padamu," kata Jonathan tersulut api amarahnya, menatap tajam pada Jenny yang sedikit kaget mendengar suara Jonathan yang meninggi, dia sampai diam saja, padahal Jenny berencana pergi lebih jauh dari Jonathan.


Namun sebenarnya yang membuat Jenny benar-benar tercengang adalah kata-kata yang keluar dari mulut Jonathan, dia tak bisa tak peduli pada Jenny? maksudnya?


Jonathan menekan kedua bibirnya, pernyataannya barusan keluar begitu saja, ya, tak mungkin dia bisa tak peduli dengan wanita yang satu ini, dia yang sudah mengubah seorang Jonathan yang selalu rendah diri menjadi pria yang jauh percaya diri, pria yang awalnya tak punya motivasi, tiba-tiba jadi memiliki tujuan yang lain.


Dia ingat bagaimana Jenny mencelanya dulu, namun dibalik itu pula wanita ini yang memberikannya kata-kata yang bahkan diingat Jonathan hingga kini.


"Kau tahu, kau punya mata yang bagus, sayang sekali penampilanmu jauh dari kata oke, kau seharusnya merubahnya, kau bisa ke gym, membentuk sedikit tubuhmu, Mengganti kaca matamu yang tebal itu, dan buang pagar dari gigimu itu, dan perhatikan gayamu, tinggalkan semua yang kampungan dan sudah ketinggalan zaman ini, jika kau lakukan, aku rasa kau akan jadi orang yang lumayan, saran saja, karena kau sahabat baik sepupuku,"


Jonathan ingat betul saat itu, Jenny melucutinya habis-habisan, kaca matanya di buang Jenny ke kotak sampah, rambut Jonathan yang bergaya sangat rapi itu di acak-acaknya, kemejanya dia tarik keluar, hingga Jonathan lebih bisa terlihat lumayan, bukan bergaya seperti anak cupu yang tak sesuai umurnya.


"Maksudmu?" tanya Jenny pelan memandang wajah pria itu dengan wajah kaget.


"Kenapa malah jawabnya tidak? seharusnya kau menjawab ku, kalau begini sama saja kau menyiksaku, penasaran itu tidak enak," kata Jenny lagi.


"Untuk apa kau penasaran? seharusnya kau tidak peduli, aku juga bukan siapa-siapamu," kata Jonathan asal saja tak menatap Jenny yang wajahnya sudah merajuk.


"Ya, kalau aku tak peduli padamu, aku tidak akan melakukan hal bodoh ini, tapi ini juga salahmu, kalau kau tidak melakukan hal seperti tarik ulur itu padaku, aku juga tak akan peduli padamu," Kata Jenny mengeluarkan semua yang ada di otaknya, terhenti ketika melihat wajah Jonathan yang mengamatinya.


"Maafkan aku pernah mengejekmu dulu, Ya, mungkin aku masih terlalu arogan saat remaja dulu," kata Jenny lagi, sekarang nadanya lebih bersahabat.


"Bukannya sekarang masih?" kata Jonathan tersenyum mengejek.


"Ya, tapi tak separah dulu, tapi seharusnya kau berterima kasih padaku, tanpa aku katakan seperti itu, kau tak akan menjadi pria penahluk wanita seperti ini," tuntut Jenny lagi, kali ini mengundang tawa kecil Jonathan.


"Ya, terima kasih, tapi sebenarnya aku hanya ingin menaklukkan satu wanita," kata Jonathan, senyum manis berpasangan dengan tatapan tajam penuh arti, entah kenapa selalu saja tatapan itu bisa membuat Jenny kaku seketika.


"Ehm, siapa?" kata Jenny sedikit berdehem, entah kenapa muncul pengharapan, dialah wanita itu.


"Kira-kira siapa? aku rasa aku sudah menahlukkannya," kata Jonathan dengan sedikit senyuman, senyuman yang entah kenapa langsung membuat hati Jenny sakit, Jenny yang tadi sangat berharap tiba-tiba harapan itu hancur berkeping-keping, senyumnya yang tadi sudah dia persiapkan ternyata harusangsung dikulumnya, nyata sifat terlalu pedenya kali ini membuat hatinya remuk.


Jenny memalingkan wajahnya, bersandar ke dinding lubang itu, dia meringis sedikit karena sedang mengubah posisinya agar lebih nyaman.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Jonathan mendengar ringisan dari Jenny, Jonathan ingin kembali memeriksa kaki Jenny.


"Jangan sentuh," kata Jenny segera, membuat Jonathan mengerutkan dahinya, Jenny yang refleks mengatakan hal itu langsung tersenyum sedikit, "Jangan sentuh lagi, biarkan saja," kata Jenny yang tak mau lagi berharap apapun, nyatanya sepertinya dia memang menyukai Jonathan, perasaan tak terbalaskan ini rasanya tak nyaman, dia tak ingin membuat rasa suka ini berkembang lagi, dan kenyataannya, dia benar-benar kalah dan patah hati sekarang.


"Baiklah," kata Jonathan, Jenny menelan rasa sakitnya, ternyata sakit di hatinya lebih parah dari nyeri di kakinya sekarang, jika mereka tidak dalam lubang yang sama, mungkin dia sudah akan menyuruh Jonathan pergi dari sana.


"Bagaimana hubunganmu dengan Anxel?" tanya Jonathan.


"Ya, kami berjalan baik, setelah ini kami akan melakukan pertemuan keluarga, aku rasa aku akan meminta saat itu untuk langsung mengadakan pertunangan, setelah ini kami akan langsung mengadakan pernikahan," kata Jenny lagi, padahal rencana itu baru saja terpikir olehnya sekarang.


"Benarkah? kapan?" lirik Jonathan pada Jenny.


"Secepatnya, aku akan memberikan undangannya padamu," kata Jenny dengan senyuman manisnya, menutupi sakit hatinya.


"Baiklah," kata Jonathan tak menggubris lebih jauh.