Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
90



Semilir angin sore yang menenangkan membuai siapapun, dahan-dahan pohon Willow yang menjuntai laksana menari mengikuti alunan angin yang membuatnya bergerak, Jenny menatap ke arah pandang rumput melihat bagaimana mereka tersapu oleh angin yang juga menerbangkan rambutnya perlahan menyapu wajahnya.


Jonathan menyentuh tangan Jenny, membuat Jenny yang tadi terbuai lalu memandang ke arah pria itu, Jenny menatap ke arahnya, Jonathan sedang mengendong seorang anak perempuan yang tampak sangat lucu, pipinya menggembung, hidungnya mancung, matanya berbinar besar, Jenny langsung tahu ini pasti anak Chintia, begitu mirip dengan ibunya.


"Siapa namanya?" tanya Jenny yang merasa gemas, dia refleks ingin mengendong bayi perempuan yang baru saja berumur 1 tahun dan bayi itu pun langsung nyaman dalam pelukannya.


"Amber, diambil dari nama batu amber," kata Jonathan yang sekarang tersenyum melihat Jenny menimang Amber yang diam saja di dalam pelukan Jenny, sesekali hanya menggeliat, sangat lucu dan menggemaskan.


"Dia sangat baik, tidak menangis digendong siapapun, " ujar Jenny


Jenny sedikit ingat nasibnya, mungkin sedikit lebih baik Amber, karena dia tak sempat mengetahui apa yang terjadi pada ibu dan ayahnya, tapi bagaimana pun dia tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua.


"Ya, dia jarang sekali menangis, mungkin karena dia tahu bagaimana keadaanya, dia jadi anak yang pendiam dan penurut," ujar Jonathan mengelus pipi putih Amber, membuat Amber tampak sedikit merespon geli.


"Amber mengantuk?" ujar Jenny mencium kepala Amber yang tampaknya mulai hanyut oleh timangan dan juga semilir angin yang membuatnya seketika mengantuk setelah tadi diberi susu oleh pengasuhnya, dia menguap cukup besar untuk menjawab pertanyaan Jenny.


"Sepertinya dia sudah tahu siapa yang akan menjadi ibunya, dia terlihat begitu nyaman denganmu," kata Jonathan.


Jenny hanya tersenyum, terus menimang Amber yang perlahan dan pasti menutup matanya, membuat Jenny semakin gemas melihatnya, sangat lucu, mengingatkannya pada keponakannya yang lain yang kemarin juga baru ditimangnya, Xander, tapi bedanya Xander begitu aktif bahkan tidak bisa diam dalam gendongannya, mungkin itu bedanya anak perempuan dan laki-laki, pikir Jenny.


Jonathan hanya tersenyum, kembali merangkul tubuh Jenny yang masih menimang Amber walau dia sudah tertidur lelap, dia sudah bisa membayangkan bagaimana indahnya nanti rumah tangganya.


---***---


Jenny melirik dirinya dalam Cermin bundar di depannya, menatap dirinya yang sebentar lagi akan bersiap untuk di make-up untuk acara pernikahannya nanti sore.


Gaun indah berpotongan sederhana dengan bahan satin dan sedikit ukiran-ukiran indah di sampingnya sudah terpajang indah di sana, dia masih menggunakan kimono pernikahannya, menanti detik-detik momen bersejarah dalam hidupnya.


Namun saat pikirannya melayang entah kemana, Ponsel Jenny tiba-tiba berdering, memunculkan satu notifikasi yang membuat wajahnya langsung mengkerut, nomornya tidak dikenali.


Jenny membuka pesan dari ponsel itu, mata Jenny kembali membesar, dia tak percaya dengan apa yang dia baca.


Pergi ke taman belakang hotel ini jika kau masih ingin melihat calon suamimu hidup, datanglah sendirian! kau akan terkejut melihatnya!


Jenny menggelengkan kepalanya, wajah paniknya terlihat jelas. Tidak lagi, apalagi ini? padahal tinggal 2 jam lagi dia akan menikah, siapa lagi yang membuat hal ini padanya? apakah tak bisa mereka bersatu seperti orang-orang lain yang tampak begitu mudahnya bersatu.


Jenny segera berdiri, memegangi kepalanya yang serasa cukup pusing, dia lalu segera keluar dari kamar hotelnya, mencoba menghubungi nomor Jonathan namun tak tersambung sama sekali. Dia melihat sekeliling tempat hotel itu, namun sama sekali tidak orang di sana, apakah dia benar harus pergi ke sana sendirian?


Jenny segera turun dan mencoba untuk cepat menuju ke halaman belakang hotel yang akan dijadikan tempat pernikahan mereka, Jenny mencoba menghubungi pamannya, sialnya pamannya juga tak mengangkat panggilannya, mungkin terlalu larut dalam persiapan pernikahan ini.


Jenny berpikir keras, siapa lagi yang ingin dia tak menikah dengan Jonathan, Chintia sudah tidak ada, apa mungkin Anxel? apa mungkin dia tahu bahwa anaknya ada pada Jenny dan Jonathan sehingga dia ingin anaknya kembali pada dirinya dan dia ingin Jonathan dilenyapkan agar Jenny kembali padanya untu1k mengurus anaknya bersama?


Jenny tak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi, bagaimana pun dia tak akan menikahi Anxel!


Wajah cemas dan panik Jenny begitu terlihat, dia bahkan hanya mengunakan kimono penggantinya yang berbahan satin, beerlarian di lorong-lorong hotel itu hingga tiba di halaman belakang hotel.


Jenny memandangi halaman belakang hotel yang sebenarnya adalah tempat yang indah, di sini juga tempat pernikahan mereka akan dilangsungkan, tempat itu berbatasan langsung dengan Lautan luas, rencananya mereka akan mengikat janji sehidup semati saat matahari tenggelam, tapi jika begini, apakah itu akan terjadi?


Jenny melihat sekeliling, tempat itu masih sepi, hanya ada dekorasi pernikahannya nanti, namun tak terlihat orang sama sekali, dimana Jonathan? apakah dia terlambat dan mereka sudah membawanya pergi?


pikir Jenny yang menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, mencoba untuk tak menangis, dia tak boleh panik, dia harus mencari Jonathan sekarang.