Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
80.



2 tahun kemudian.


Semilir angin kering yang bahkan terasa panas masuk melalui jendela kayu yang hanya ditutupi oleh kain gorden yang sudah tak tahu lagi apa warna aslinya, yang pasti terlihat usang dan juga tipis.


Perlahan dengan tangannya yang terlihat lembut, dia meletakkan sebuah daun mint di atas makanan yang tertata begitu indah, setelah meletakkannya dia tampak begitu puas.


"Apakah sudah selesai?" tanya salah satu dari tiga anak pria yang dari tadi matanya terfokus dengan makanan yang seperti buatan koki-koki yang ada di restoran yang sangat mewah.


"Belum, tunggu dulu," kata Jenny mengusap pipinya yang halus.


Sekarang semua berbeda, tak ada lagi hiasan mata yang membuat matanya begitu menarik, hanya ada mata polos tanpa sedikit pun sentuhan riasan, padahal dulu hanya dengan satu lirikan mata, Jenny mampu memalingkan fokus semua pria padanya.


Wajahnya polos, bahkan tanpa menggunakan bedak apapun, bibirnya yang dulu selalu berhiaskan lipstick berwarna merah, kini hanya diberikan sedikit pelembab tanpa warna, menunjukkan warna alami bibirnya yang pink natural.


Rambutnya yang dulu begitu indah tertata dengan gelombang sekarang hanya diikat kuncir kuda, meninggalkan sedikit poni dan anak-anak rambutnya.


Tak ada lagi wangi manis yang menyengat, berganti wangi tepung dan susu, juga sedikit coklat karena dia baru saja memasak kue coklat untuk anak-anak ini.


Tak ada lagi gaun indah yang menonjolkan segala kelebihan yang dia punya, hanya kemeja putih dan celana kain yang terlihat nyaman, ditutupi oleh celemek putih, Jenny benar-benar berubah.


"Kakak, aku sudah sangat ingin memakannya," ujar salah satu anak yang lain, wajahnya memelas, sudah sangat ingin melahap bolu coklat yang akan mengundang liur siapa pun yang melihatnya.


"Tidak sebelum kakak ...." kata Jenny menuangkan sedikit coklat yang cair ke sekitarnya.


"Wah ... " kata ketiga anak itu berdecak kagum melihatnya, pasti enak sekali, mereka bahkan sampai harus menelan ludahnya.


"Sudah, silakan," kata Jenny menyodorkan kue coklat itu pada mereka.


"Aku rasa aku sayang untuk memakannya," kata salah satu anak yang duduk di tengah.


"Kalau begitu biar aku saja yang memakannya," kata anak yang ada di sebelah kanannya.


"Enak saja, aku juga mau," kata yang lain protes.


"Berbagilah, bawa dengan hati-hati ke kamar kalian, setelah ini jangan sampai ada yang melihat kalian, karena kakak tidak akan bisa membuat lebih banyak lagi," kata Jenny sedikit tersenyum, tersenyum begitu tulus, tak ada lagi senyuman menggoda.


"Baik kakak," kata anak yang ada di tengah, dengan cepat mengambil piring itu sebelum teman-temannya, dia -temannya mengikutinya dan segera berjalan keluar dari dapur itu, saat mereka ingin keluar, pintu dapur itu terbuka, teman-teman anak itu hampir saja menabrak pintu namun untungnya mereka tak jadi menabraknya dan masih sempat mengkhawatirkan tentang makanan yang dia bawa.


"Berhati-hatilah," suara pria itu terdengar, dia mengacak rambut anak-anak itu, dan mereka tersenyum.


"Baik kak Louise," kata mereka segera keluar.


Jenny melirik sejenak pada pria yang baru masuk ke dalam dapurnya, dia tak terlalu memperdulikannya, membereskan semua alat yang dia gunakan, lalu segera membersihkannya.


"Ya, mereka memaksaku, tapi aku sudah katakan untuk tidak memberitahu yang lain," kata Jenny tak memperhatikan pria itu, dia hanya membereskan semuanya.


"Jenny, apa lagi yang ingin kau lakukan?" tanya Louise yang dengan sabar menunggu Jenny membersihkan perlengkapannya, setelah merasa Jenny sudah selesai, dia baru menanyakannya.


"Tidak ada, mungkin aku ingin berpikir untuk masakan nanti malam atau esok hari," kata Jenny sedikit memberikan senyumannya pada pria itu.


Pria dengan tinggi di atas rata-rata, bahkan Jenny yang sudah tak pernah lagi menggunakan high heelsnya terlihat hanya sebahunya, wajahnya manis, kulitnya terlihat eksotis terbakar matahari di daerah yang panas ini.


"Ehm, ayo berjalan-jalan sore, mataharinya akan terbenam sebentar lagi, dan itu akan sangat indah, lagi pula makan malam sudah di masak oleh koki yang lain bukan, kau juga perlu istirahat," ujar Louise.


Jenny menatap pria itu, terlihat sekali sungkan untuk mengajaknya keluar, dia sudah mengenal pria ini lebih dari 1 tahun yang lalu, dan yang dia tahu, pria ini adalah pria yang pemalu.


"Baiklah," kata Jenny.


Louise sedikit terkejut, tak menyangka ajakannya untuk melihat matahari tenggelam disetujui oleh Jenny, sudah lama dia ingin mengajak wanita itu untuk keluar bersama, berjalan-jalan, makan atau setidaknya mengobrol berdua, hanya saja dia tidak punya keberanian yang cukup hingga hari ini.


"Kau setuju?" pasti Louise lagi.


"Ya, tapi tunggu sebentar, aku akan menyiapkan diri dulu," kata Jenny tersenyum manis.


"Oh, baiklah, aku akan menunggu di depan sana, baiklah, ehm, jangan terburu-buru, aku tidak apa-apa menunggu," ujar Louise tampak gugup namun bercampur senang yang amat, dia lalu keluar dari dapur bersih itu.


Jenny melepas apronnya, menggantungnya di dekat westafel, dia lalu mencuci tangannya, memandang sedikit ke kaca yang sekarang ada di depan wajahnya, polos sekali, namun tak bisa menutupi kecantikan alami yang di punya.


Sorot matanya kembali menyuram, sudah begitu lama dia menghilang, menghindar dari segala sesuatu tentang kehidupannya dulu. Pesta, hura-hura, pergaulan yang bebas seperti yang sering dia lakukan dulu, sudah tak pernah lagi dia lewati, sekarang, tak akan ada yang menyangka seberapa sederhananya hidup Jenny.


Jenny melepas ikatan rambutnya, menggoyang-goyangkan sedikit kepalanya agar rambutnya jatuh sempurna, Jenny sedikit menatanya agar terlihat lebih sedap di pandang.


Jenny segera memutuskan keluar, tak ingin membuat Louise menunggu lebih lama, dia membuka pintu kayu dapur itu, melihat sosok pria itu sedang menunggunya dengan sabar di atas mobil jeep milik tempat kamp pengungsian itu, ya, sekarang Jenny adalah seorang relawan di tempat penampungan anak-anak yatim piatu, dia mengikuti suatu organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan, sudah begitu banyak tempat yang dia kunjungi, dan di sini dia sudah menghabiskan waktu 3 bulan.


"Ayo naik," kata Louise lagi.


"Baiklah," kata Jenny, segera menapakkan sepatu boot nya ke pijakan mobilnya, sedikit menarik dirinya untuk bisa langsung naik ke atas Jeep itu, segera setelah dia duduk dengan mantap, mereka segera pergi dari sana.


Perjalanan di tempat tandus itu sedikit membakar kulit karena memang jeep itu tidak beratap, debu dari tanah merah yang entah sudah berapa lama tidak disetuh hujan berterbangan saat mereka melewatinya.


Tempat ini bukanlah tempat yang indah, seluas mata memandang hanya ada ilalang yang gersang, belum lagi tumbuhan di sana tak satu pun berwarna hijau terang, semua daun tertutup oleh debu yang menyelimuti mereka.


Louise memberhentikan mobilnya, Jenny berdiri melihat mata hari yang tampak mulai berubah jadi oranye namun masih cukup panas terasa, bulat sempurna dan sangat besar terlihat, terlalu lelah dan sebentar lagi akan masuk dalam peraduan.