Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 71 -



Liam hanya diam, dia lalu segera pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Jenny membuat Jenny mengerutkan wajahnya begitu cemas, wajahnya langsung tampak sedih tak rela, dia melihat pamannya, namun pamannya pun tak memberikan penjelasan apapun, hanya mengambil mantel panjangnya keluar dari rumahnya yang di sambut cahaya pagi yang perlahan mengusir sang gelap dari muka bumi, tak lama suara mobil terdengar jelas meninggalkan rumah itu.


Jenny hanya menatap nanar ke arah pintu yang terbuka lebar, dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Aurora yang tahu keadaan Jonathan, dia lalu memeluk Jenny yang awalnya diam namun segera berontak, dia tak suka rasa seperti ini, apa yang terjadi!


"Bibi, apa yang terjadi?" tuntut Jenny.


Aurora menarik napasnya, lekuk kesedihan itu kental terlihat, Jenny tak suka, dia tak suka menebak-nebak, tapi yang pasti, dia yakin terjadi sesuatu pada Jonathan.


"Bibi! tolong jangan berkata yang menyenangkan ku, katakan yang sejujurnya! ada apa dengan Jonathan?" tanya Jenny yang awalnya cukup histeris namun berakhir dengan nada tegar, walau kesusahan bahkan untuk menelan napasnya.


"Jenny, Jonathan dianiaya seseorang, dan sekarang dia tak sadarkan diri, dia ada di rumah sakit," kata Aurora yang juga tampak basah matanya.


Jenny merasa hening sejenak, telinganya langsung terasa berdenging setelah mendengarkan perkataan bibinya, seluruh lingkungannya serasa berputar dan tak jelas, Jenny bahkan merasa gamang, dia lalu menurunkan dirinya bersandar pada pegangan tangan tangga itu, dia duduk di tangga dengan lemas, matanya langsung kosong, ingat mimpinya, mungkin saat itulah Jonathan sedang mengalami siksaan itu.


"Jenny? Jen?" tanya Aurora yang tahu seharusnya dia tak memberitahu Jenny, tapi sampai kapan mereka tak mengatakannya, jika terjadi sesuatu pada Jonathan, Jenny pasti Tak akan memaafkannya karena menutupi segalanya.


"Aku ingin bertemu dengannya," pinta Jenny pelan dan lirih.


"Setelah kita tahu dia dirawat dimana, bibi akan meminta untuk pergi ke sana," kata Aurora yang benar-benar miris melihat keadaan Jenny, Jenny hanya melihat ke arah Aurora, tak ada air mata, hanya tatapan kosong yang malah semakin membuat orang semakin khawatir.


Aurora hanya bisa menemani Jenny yang tetap saja diam di sana.


---***---


Jenny setengah berlari menyusuri rumah sakit yang cukup ramai itu, dia ditemani oleh Aurora dan kakaknya, setelah tahu pengobatan Jonathan di pindahkan ke Rumah sakit mereka, Jenny segera bergegas, untung saja dia bisa kembali bangkit dan meneguhkan hati dan dirinya untuk bisa bertemu dengan Jonathan.


"Mereka segera kembali masuk ke dalam lift khusus yang membawa mereka ke dalam lantai khusus perawatan milik keluarga Jonathan, sesampainya di sana, Jenny langsung menghambur melihat paman Jonathan dan Juga pamannya yang ada di depan salah satu ruangan.


Jenny langsung mengarah ke sana, dia menatap Raphael dan Jofan dengan tatapan menuntut.


"Jenny, Jonathan ada di dalam, tapi tunggu sejenak, Clara dan Liam masih ada di dalam, dokter meminta untuk membatasi orang yang boleh masuk ke dalam ruangan Jonathan karena dia masih butuh ketenangan, sebentar lagi pasti Clara akan keluar," kata Raphael yang melihat wajah cemas Jenny yang sangat, namun dia memang harus mengikuti perintah dokter.


"Bagaimana keadaan Jonathan?" tanya Aurora pelan pada Jofan, Jofan berwajah muram.


"Sedikit mengkhawatirkan," ujar Jofan, Aurora hanya diam, jika Jofan sudah mengatakan seperti itu, pasti memang keadaan Jonathan mengkhawatirkan.


Jenny tampak sedikit tak sabar sebenarnya, namun dia mencoba untuk menunggu, karena dia harus mengikuti kata-kata dokter juga, untunglah beberapa menit kemudian Clara keluar, dia sedikit terkejut melihat keadaan ruangan yang sudah ramai dengan orang-orang di sana.


Clara langsung menangkap sosok Jenny yang sangat berharap, Clara segera menebarkan senyuman manis.


"Aku yakin dia menunggumu juga," kata Clara.


Jenny berdiri di samping ranjang Jonathan, di sisi lain ada Liam yang akhirnya menyadari kedatangan Jenny, Liam berwajah begitu muram, namun dia hanya diam saja.


Liam menarik napasnya panjang, lalu dia berdiri dengan susah payah, dia memberikan sedikit senyum yang langsung pudar.


"Aku akan meninggalkan kalian berdua," kata Liam yang memutuskan untuk keluar, dia bahkan tak menunggu jawaban dari Jenny.


Jenny memutari ranjang Jonathan, namun matanya tak lepas memandang prianya itu, dia lalu duduk di tempat Liam tadi duduk, mengambil tangan Jonathan yang di lengannya tampak memar, tangan kanannya kembali disangga.


Ruangan itu sangat tenang, terlalu tenang malah mengusik Jenny, dia meletakkan tangan Jonathan, hangat tak seperti mimpinya, dia membuat seolah-olah tangan Jonathan mengelus pipinya, dia lalu mencium punggung tangan Jonathan, punggung tangan itu basah karena air mata Jenny.


Jenny benar-benar sedih, bagaimana mempertahankan cinta bisa begitu mencelakai, membuat luka yang awalnya tak tampak, sekarang malah hampir membuat melayangnya sebuah nyawa.


Jenny menangis sedih, tersedu begitu mengiris hati, dia tak tahu kenapa? dan apa yang salah? kenapa hanya ingin bersatu saja begitu susah.


"Apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Jenny lirih memegang lengan atas Jonathan, namun tak ada respon apalagi jawaban.


Jenny menekan kedua bibirnya, mencoba mengentikan tangisnya, entah sudah berapa banyak tangis yang dia keluarkan, walau matanya terasa begitu lelah dan juga panas, namun nyatanya air matanya yang hangat tetap saja bisa mengalir.


"Jangan pergi meninggalkanku tanpa salam perpisahan, jika kau melakukannya aku akan membencimu seumur hidupku, Jonathan! bangunlah, aku sudah ada di sini, kau bilang kan akan selalu bersamaku?" suara Jenny lirih bergetar, namun sama seperti tadi, tak ada jawaban sama sekali.


Jenny mengigit bibirnya, kembali meletakkan tangan Jonathan ke pipinya, kali ini dia tak ingin berkata-kata, pria ini melewati semua demi dirinya, jika saja dia tak bersikeras atas cintanya pada Jenny, mungkin dia tak akan mengalami hal ini, jika saja mereka tak menentang siapapun, mungkin mata seindah safir kuning itu masih bisa Jenny lihat bercahaya.


"Jonathan, bangun, kau tak akan pergi seperti dalam mimpiku kan? berjanjilah untuk tetap di sini," kata Jenny yang sekarang sungguh takut mimpinya jadi kenyataan. Dia meremas jari jemari pria yang selalu menggenggamnya erat. Dia ingin sekali Jonathan membalasnya.


Cukup lama Jenny hanya diam, memandangi Jonathan, mengamati kalau mana ada gerakan dari pria itu, namun berjam-jam dia duduk, tak ada sedikit pun gerakan muncul.


Jenny lalu berdiri sejenak, tekatnya ingin selalu ada di sana, namun tubuhnya juga punya batasnya, dia baru saja ingin keluar untuk meminta seseorang menjaga Jonathan sedangkan dia ingin pergi ke kamar mandi, namun saat dia membuka pintu, dia mendengar Pamannya, Paman Jonathan, kakaknya dan ayah Jonathan sedang berdiskusi.


"Penganiayaannya sungguh parah, mereka tak main-main untuk menyiksa Jonathan, bahkan kata dokter, mereka juga punya keinginan membuat Jonathan antara hidup dan mati," kata Raphael memandang Jofan.


"Benarkah?" kata Jofan.


"Ya, kau ingat luka dalam di atas lipatan sikunya, mereka memotongnya, dan di sana ada arteri besar, darah yang dikeluarkan bisa membuat dia kehabisan darah perlahan-lahan, artinya mereka ingin Jonathan mati juga dengan perlahan-lahan, jika tak cepat di temukan, mungkin nyawa Jonathan sudah melayang," kata Liam menjelaskan.


"Apa kau yakin mereka menyebutkan bahwa Gionardo yang menyuruh mereka," kata Jofan lagi, Jenny mendengarkan itu membesarkan matanya, dia tak tahu tentang luka itu, dia lalu segera mendekati Jonathan, mencoba menemukan luka yang dimaksud oleh Liam.


Mulut Jenny menganga melihat perban yang masih meninggalkan resapan darah di tangan kanan Jonathan, ternyata hal itu benar-benar mereka lakukan, ayah Chintia bukan hanya ingin memenjarakan Jonathan, bahkan dia ingin melenyapkan pria itu, bagaimana itu bisa terjadi? melenyapkan seseorang hanya karena mempertahankan cinta, Jenny tak akan bisa hidup tenang kalau saja itu benar-benar terjadi.