Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
89



Jenny segera membaca tulisan yang tertulis rapi di atas kertas itu.


Hai, Jenny.


Aku sudah yakin bahwa Jonathan pasti bisa menemukanmu, aku tidak tahu bagaimana aku bisa mengatakan hal ini padamu dan aku yakin jika kau membaca surat ini artinya aku sudah tidak bisa mengatakannya langsung padamu.


Jenny, aku meminta maaf padamu tentang semua yang aku lakukan, aku tahu aku berbuat sesuatu yang sangat bodoh dan semua yang kau katakan padaku benar, aku hanya wanita yang egois.


Jenny, dari kecil aku sangat-sangat iri denganmu, kau punya segala yang aku tak punya, kecantikan, kepintaran, keberanian melakukan apapun, kau gadis yang tegas, kau selalu bisa mengutarakan apa yang kau mau dan tentunya karena kau selalu bisa menarik semua pria, terutama Jonathan.


Semenjak dia bertemu denganmu, entah dia sadari atau tidak, dia menjadi begitu terobsesi padamu, dan tentu itu yang membuat diriku sangat iri.


Jenny, bahkan setelah kau pergi, Jonathan tetap mencarimu, dia bahkan tak pernah lagi mendekati siapa pun lagi dan hanya fokus mencarimu, dia sangat mencintaimu dan aku yakin itu. Semua wanita pasti akan dengan mudah jatuh cinta dengan Jonathan tapi membuat seorang Jonathan jatuh cinta adalah hal yang paling sulit, dan hanya kau yang bisa membuatnya jatuh cinta, aku yakin kau adalah wanita yang palin beruntung karena dicintai pria seperti Jonathan, aku doakan kalian selalu bersama, sekali lagi Maafkan aku untuk semuanya.


Chintia.


Jenny mengerutakan dahinya,melirik ke arah Jonathan yang juga baru selesai membaca semua surat itu.


"Apa Chintia ...?" tanya Jenny pada Jonathan.


"Dia menyerahkan surat ini saat terakhir aku melihatnya, Chintia dipindahkan oleh ayah dan ibunya untuk menutupi kehamilannya, dia diasingkan ke salah satu villa keluarganya, selama itu dia menjalani kehamilannya di sana dan dia meninggal beberapa hari setelah melahirkan," kata Jonathan.


"Lalu bagaimana dengan anaknya?" tanya Jenny yang sedikit kaget mendengar hal ini.


"Keluarga Chintia ingin langsung menyerahkan anaknya pada panti asuhan dan tidak ingin mengakui anaknya, karena itu dia menghubungi aku dan meminta tolong untuk menyelamatkan anaknya, saat itu dia juga menyerahkan surat ini dan aku berjanji padanya untuk menjaga anaknya, lalu aku juga ingin mengatakan hal ini padamu, aku mengambil anak Chintia dan merawatnya sekarang, apa kau keberatan dengan itu?" kata Jonathan memandang Jenny dengan dalam.


Jenny hanya diam, matanya bergerak-gerak mengamati wajah pria yang ada di sampingnya.


"Dimana dia sekarang?" kata Jenny.


"Ada di negaraku, aku sengaja membawanya ke sana karena aku tak mau baik keluarga Chintia atau keluarga Anxel tahu dia ada di sana," kata Jonathan,"apakah itu akan mengganggumu? kalau memang iya, aku bisa menitipkannya ditempat keluargaku yang lain," kata Jonathan lagi dengan wajah berharapnya.


Jenny diam sejenak, dia lalu tersenyum melihat wajah serius calon suaminya itu.


"Tidak, tidak masalah, lagi pula seharusnya aku yang menjaganya, bagaimana pun dia adalah keluargaku," kata Jenny tersenyum menatap sayu mata Jonathan. Jonathan membalas senyuman itu menarik bahu Jenny untuk masuk ke dalam pelukannya.


"Aku sudah memberitahu keluargaku bahwa aku akan membawamu untuk memperkenalkanmu pada mereka, 2 hari lagi adalah hari ulang tahun ayah pamanku dan keluarga kami akan berkumpul, kita akan datang ke sana, bagaimana?" kata Jonathan.


"Baiklah," kata Jenny melirik ke arah Jonathan yang menatapnya penuh perasaan.


"Besok aku akan minta izin pada pamanmu," kata Jonathan lagi, Jenny hanya mengangguk dalam pelukan hangat itu. "Ya, sudah, sebentar lagi akan pagi, istirahatlah, pasti keluargamu akan ingin bertemu denganmu nanti," kata Jonathan memberikan kecupan hangat pada dahi Jenny, melepaskan pelukannya dan meninggalkan Jenny sendirian untuk bisa beristirahat.


---***---


Jenny mengenggam erat tangan Jonathan, dia cukup gugup untuk bertemu dengan keluarga Jonathan yang menurutnya sudah berkumpul di belakang villa keluarga mereka.


Di ujung tempat itu tampak beberapa orang yang berkumpul di sana, di dekat sebuah tempat yang tampak indah dengan marmer putih dan juga taman yang indah.


Saat mereka menuju ke sana, semua orang menatap mereka, senyum-senyum heran namun juga bahagia tampak di sana, salah satu yang bisa diingat oleh Jenny hanya Valery, Liam dan tentu Raphael juga Clara.


Liam segera mendekati mereka, Jenny menatap calon ayah mertuanya itu, tidak ada yang berubah dengan pria itu, masih saja semenarik yang bisa Jenny ingat.


"Senang melihatmu kembali," kata Liam menyambut Jenny.


Jenny langsung disambut dengan sangat hangat di pertemuan keluarga itu. Jenny melihat ke arah seorang pria yang sudah sangat berumur.


"Itu ayah pamanku, Kakek Valery, Hari ini ulang tahunnya dengan kembarannya, namun kembarannya sudah berpulang beberapa tahun yang lalu," Jelas Jonathan.


"Oh," kata Jenny yang hanya bisa canggung di acara tersebut.


"Jenny, benarkan?" tanya Seorang wanita yang tampak seumuran dengan Clara.


"Benar," kata Clara tersenyum pada wanita itu.


"Bibi Meadow, dia adik perempuan Paman Raphael, tenang saja dia tak perlu dirisaukan," bisik Jonatha pada Jenny pelan, memperkenalkan satu persatu keluarga dekat mereka.


"Kau tahu, aku hampir saja mengira Jonathan akan menjadi penerus cerita percintaan ayah dan ibuku, ayahku harus menunggu bertahun-tahun untuk bisa menikahi ibuku, untunglah Jonathan cukup beruntung, hanya menunggu 2 tahun dan dia sudah bisa membawamu ke sini, Jonathan, jangan sampai lepas lagi," lirik Meadow sambil memainkan matanya pada Jonathan, semua tertawa gembira mendengar dan melihat candaan Meadow.


"Kau membicarakan apa?" tanya Ayatha dengan suara rentanya, mengambil potongan kue yang hampir saja Andra makan lalu menyerahkannya pada Meadow. "Jangan terlalu banyak makan manis, ingat usiamu sudah bertambah lagi tahun ini," ujar Ayatha lagi lembut.


"Baiklah, Meadow jangan berikan papa kue lagi," ujar Andra menyalahkan Meadow yang hanya mengerutkan dahinya, Ayatha tertawa, tahu bahwa itu hanya alasan suaminya saja.


"Iri sekali melihat mereka," ujar Jenny berbisik pada Jonathan.


"Kau tak tahu apa yang mereka jalani untuk bisa bersama, bahkan kau tak akan bisa membayangkannya," kata Jonathan lagi.


"Benarkah?" tanya Jenny melirik kembali pasangan yang menurutnya adalah pasangan cinta sejati itu. Jonathan hanya mengangguk pelan.


"Clara, dimana suamimu?" tanya Ayatha yang tak lagi melihat Raphael di antara mereka.


"Ada pekerjaan yang harus dia kerjakan Bu, dia minta waktu sebentar bersama Nathan dan Liam untuk mengurusnya, Chendrick juga ada di sana," kata Clara.


"Hah, maafkan keluarga kami Jenny, ini sudah keturunan dari pria-pria di keluarga kami yang memang semuanya gila bekerja, jika sudah menikah nanti, jangan biarkan Jonathan juga mengikuti Jejak kakek dan ayah mereka," kata Ayatha memberikan nasehat lembut pada Jenny. Andra hanya tersenyum mendengar sindiran istrinya itu.


"Benar, dan ingat Jonathan, ucapan istri selalu benar, bahkan jika dia salah, kau tak perlu mengatakan itu salah, cukup menerima, nanti juga mereka akan mengakui kesalahan mereka, satu yang pasti jangan pernah memarahi mereka dengan suara keras, atau kau akan menyesal selamanya," kata Andra memberikan wejangan pada pasangan ini, disambut cubitan kecil dari Ayatha.


"Baik kakek, sekali lagi selamat ulang tahun ke 79 tahun," kata Jonathan mengangkat gelasnya, memberikan sebuah penghormatan untuk acara ini, mereka melanjutkan kebersamaan yang cukup hangat ini.