Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 65



Jenny berjalan di lorong rumah sakit yang baunya menusuk dan keadaannya mencekam, dengan langkah berat dan hatinya yang berat akhirnya dia setuju juga untuk datang ke tempat Chintia.


Bibinya dengan setia untuk menemaninya dan dengan susah payah Aurora menyakinkan Jofan untuk tidak ikut akhirnya Jofan menyetujuinya, karena menurut Aurora jika Jofan ikut dia bisa saja kembali emosi lagi.


Mereka berhenti di sebuah ruangan, saat Aurora membukanya, semua mata langsung melihat ke arah mereka, Jenny menarik napasnya dalam, melihat seluruh keluarga bibinya ada di sana, bahkan kakak Aurora yang berstatus presiden pun ada di sana, memandang Jenny dengan pandangan yang rata-rata tajam menghakimi, jika tahu begini, Jenny pasti menolak untuk datang ke sini.


"Boleh aku bicara berdua dengan Jenny?" suara lemah Chintia terdengar, membuat Jenny melihat Chintia yang sekarang terduduk di ranjang perawatannya.


"Kau yakin?" suara ayah Chintia sedikit khawatir, mereka tahu bagaimana Jenny, gadis arogan yang dari kecil selalu saja berbicara sesuka hatinya, mereka takut Jenny melukai Chintia lagi, mungkin bukan dengan kontak fisik, namun dengan kata-kata pedasnya.


"Ya, aku ingin bicara dengannya," kata Chintia lagi.


Mendengar itu, semua orang di sana hanya bangkit, tak lepas tatapan kesal dan marah mereka pada Jenny, namun mereka menghargai Aurora untuk tidak melontarkan caci maki pada wanita yang dengan kejam dan teganya mengambil tunangan sepupunya sendiri.


Semua perlahan keluar, hanya tinggal Jenny, Aurora, dan Chintia, Aurora lalu melihat ke arah Jenny yang wajahnya cukup berantakan hari ini.


"Bibi akan menunggu di luar, percayalah, Bibi tak akan membiarkan mereka menyentuhmu sedikit pun, jadi jangan takut tentang hal itu," kata Aurora yang tahu persis bagaimana kakak-kakak dan iparnya memandang Jenny tadi.


"Ya, Bibi, tenang saja, aku tidak takut," kata Jenny, dia tak peduli, mau mereka melihatnya bagaimana pun, mereka hanya tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tatapan hina itu seharusnya mereka berikan pada wanita yang berpura-pura lemah namun licik ini.


"Jenny, bisa kau serahkan ponselmu pada Bibi," kata Chintia, dia tak mau apa yang sekarang dia katakan akan direkam lagi oleh Jenny, Jenny menggenggam erat ponselnya meremasnya karena tahu apa tujuan Chintia, Jenny mau tak mau menyerahkan ponselnya pada Bibinya.


Aurora melangkahkan kakinya, perlahan dia meninggalkan Jenny, Chintia mengamati pintu itu, setelah merasa benar-benar tertutup, dia baru melihat ke arah Jenny yang hanya diam menatapnya tajam, Chintia menggigit bibirnya.


"Apa yang ingin kau katakan lagi padaku? belum cukup kau membuatku seperti sampah di hadapan keluargamu?" tegas Jenny langsung.


"Maafkan aku, Jenny," kata Chintia dengan suara lemahnya, Jenny segera memotongnya.


"Kau selalu meminta maaf, namun selalu mengulanginya, mungkin aku awalnya tertipu, tapi kali ini tidak lagi," kata Jenny yang bahkan enggan menguncapkan nama Chintia.


"Dan kau dengan teganya sekali lagi menumbalkan aku dan Jonathan, Chintia ternyata dibalik wajahmu yang polos, kau benar-benar iblis," kata Jenny kesal, lagi dan lagi, Chintia melakukan hal itu, dia benar-benar gadis yang egois.


"Jenny, Kau punya segalanya yang tak aku miliki, kau gadis yang cantik, punya pesona, punya keberanian dan kau punya banyak waktu untuk bisa menikmati hidupmu, aku hanya gadis yang punya penyakit yang setiap saat bisa merenggut hidupku, apalagi saat hamil seperti ini, aku tidak bisa menerima pengobatanku dengan baik, aku sudah memutuskan untuk tetap mempertahankan bayiku, dan aku menolak pengobatanku, dengan kata lain, bisa saja umurku tak lama lagi, Jenny, aku hanya ingin mengatakan, tak akan ada pria lain yang akan menginginkan wanita hamil dengan penyakit mematikan sepertiku," kata Chintia yang tak terpancing dengan kata-kata pedas Jenny.


"Apa maksudmu?" tanya Jenny mengerutkan dahinya, di otaknya muncul pemikiran yang dia tak suka sama sekali.


"Jenny, kau masih punya banyak waktu, banyak pria yang akan jatuh hati padamu, mungkin lebih dari pada Jonathan dan satu-satunya pria yang bisa aku harapkan sekarang hanyalah Jonathan, Jenny, aku minta lepaskanlah Jonathan untukku," kata Chintia dengan mata berkacanya, Jenny menekuk wajahnya lebih dalam, raut wajah tak percaya dan marahnya terlihat jelas, apa yang ada dipikirannya ternyata benar, wanita ini menggunakan kehamilan dan penyakitnya menjadi sebuah hal yang harus diberikan simpati.


Jenny meringis merasakan sakit di dadanya, dia lalu tertawa tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengarkan, sungguh bagaikan drama yang tak pernah dia sangka akan dia dengar di kehidupan nyatanya.


"Apa kau gila! jika kita balik posisinya sekarang aku yang meminta Anxel darimu, apa kau rela memberikannya padaku? Chintia! aku tidak perduli bahkan jika hidupmu tinggal 1 hari lagi, aku tak akan menyerahkan cintaku padamu, kau kira dunia ini seperti novel, aku tidak akan menyerahkannya! Jonathan hanya milikku! dan kau seharusnya meminta pertanggung jawaban pada ayah dari bayi yang kau tanggung, bukan menjebak pria lain untuk menanggung dosa kalian berdua!" kata Jenny histeris hingga membuat semua orang yang ada di luar segera kaget.


---***---


Jonathan memasuki lorong rumah sakit itu, dia juga diminta untuk datang ke rumah sakit karena menurut keluarganya Chintia ingin berbicara dengannya, apa lagi Chintia sudah sadar, setelah Raphael dan Clara membujuknya, barulah Jonathan mau datang ke rumah sakit ini.


Jonathan segera berhenti sejenak melihat begitu banyak orang yang berada di luar ruang Chintia, saat dia menuju ke sana, seluruh mata langsung menatapnya, mata-mata kesal dan marah itu.


Ayah Chintia nyatanya tak bisa lagi menahan kesalnya melihat Jonathan yang sama sekali tidak peduli dengan anaknya, bahkan saat Chintia meregang nyawanya di sini tadi, Jonathan sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya, bahkan dia baru saja ingin datang ketika mereka memintanya, itu pun lama sekali pria ini baru muncul di hadapan mereka.


Ayah Chintia segera mendekati Jonathan yang berhenti mengamati keadaan, dia memang datang sendiri karena dia tak ingin menyusahkan keluarganya karena masalah yang dia buat.


"Dari mana saja kau, dasar laki-laki tidak bertanggung jawab! tunanganmu dan anakmu sedang meregang nyawa, kau bahkan tak menunjukkan banyanganmu sama sekali," teriak Tuan Gionardo Hosten, Ayah Chintia berang, Tuan Gerrick Hosten selaku kakanya mencoba menahan adiknya itu untuk tidak melakukan tindakan anarkis, Aurora pun mencoba menahan kakak keduanya itu.


"Anak itu bukan anakku," kata Jonathan dengan tegas.


"Apa kau bilang! kau adalah tunangannya, siapa lagi kalau bukan kau ayahnya," kata Gionardo berteriak lebih kencang, namun sayangnya suaranya kalah dengan suara Jenny yang histeris di dalam sana, membuat semua orang mengalihkan fokus mereka, Jonathan yang mendengar suara Jenny pun kaget, dia tak tahu Jenny ada di dalam sana.