Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 47 - Tak bisa lagi menekannya.



"Oh, begitu, rencana yang sangat bagus ya? masalahnya bukan itu yang Anxel ceritakan padaku, kau tahu, dia mengatakan padaku jika dia mendekatimu karena dia ingin menjadi presiden, tapi karena kau memiliki kekurangan, dia tidak ingin lagi melanjutkan hubungan kalian karena tak ingin menjagamu yang sakit-sakitan itu, dia lalu mengincarku dan apa kau tahu, selama presiden menjabat, dia tidak akan bisa menceraikan istrinya karena itu akan membuat citra buruk bagi reputasinya, apalagi pria berambisi seperti dirinya, dia tak akan mungkin hanya ingin menjabat 1 periode saja," kata Jenny lagi pada Chintia, Chintia yang mendengar itu hanya bisa terdiam, Chintia tentu tak ingin mempercayainya, apalagi Jenny terkenal orang yang jika berbicara tak pernah memikirkan perasaan orang lain, tapi setahu Chintia, Jenny tak pernah berkata bohong.


"Tidak mungkin, yang kau katakan tidak mungkin itu terjadi, Anxel begitu mencintaiku, dia benar-benar mencintaiku, mana mungkin yang kau katakan itu benar," kata Chintia yang segera ingin menjauh dari Jenny, tak ingin mendengar apapun lagi dari Jenny.


"Benarkah? kau ingin mendengar langsung darinya?" kata Jenny yang tersenyum sinis pada Chintia, wanita bodoh sepertinya, benar-benar membuatnya kesal.


Jenny mengambil ponselnya, dia segera mencari hasil rekaman yang tadi dia lakukan, saat di mobil tadi, Jenny benar-benar memutar otaknya, mencari cara bagaimana bisa membuat Anxel merasakan pembalasannya, satu hal yang Jenny tahu, pria selalu merasa wanita itu lemah, lebih bodoh dan tak berdaya di banding mereka, jadi mereka selalu meremehkannya.


Saat di mobil itu, Jenny mengaktifkan perekam di ponselnya, dia hanya berpikir mungkin ini bisa menjadi sesuatu yang bisa dia gunakan, terbukti hal itu ternyata memang berguna.


Jenny mendengarkan percakapannya dengan Anxel saat di dalam mobil itu, Chintia membesarkan matanya tampak syok mendengarkan apa yang bisa dia dengar di dalam rekaman itu, matanya liar mencerna pembicaraan itu, Chintia merasakan langitnya runtuh saat dia mendengar bahwa Anxel hanya mendekatinya untuk meluruskan tujuannnya, air matanya yang bening itu mengalir begitu saja, Jenny pun sedikit miris sebenarnya, kenapa pria itu begitu tega membuat mereka seperti ini.


Chintia hanya terdiam, bahkan setelah rekaman itu selesai pun, dia tak bisa melakukan apa-apa, dia hanya terkaku masih tak percaya dengan apa yang dia dengarkan, sekarang keadaannya sama dengan Jenny, sesak hingga tak bisa bernapas.


Namun, Chintia begitu sesak, jantungnya serasa tertekan benda yang begitu berat, dia bahkan tak bisa bernapas, bibirnya biru dan tubuhnya terlihat kaku, Jenny membesarkan matanya, Jenny lupa bahwa sepupunya ini memiliki jantung yang sangat lemah, kabar seperti ini pasti sangat membuatnya syok.


"Chintia, dimana obatmu?" tanya Jenny yang langsung menangkap tubuh Jenny. "Paman, Bibi, tolong, siapa saja," kata Jenny yang bingung harus melakukan apa pada Chintia.


Chintia mengeluarkan sebuah barang, seperti dompet kecil dari sakunya, Jenny yang melihat dompet itu segera membukanya, ada sepapan obat yang terdapat di sana, dia segera mengambilnya, membacanya sejenak, instruksi di sana mengatakan untuk meletakkannya di bawah lidah Chintia, Jenny segera mengambilnya dan membuka obat itu, dia segera mengangkat kepala Chintia.


"Ini, obatmu," Kata Jenny, Chintia membuka mulutnya, Jenny segera meletakkan obat itu di bawah lidah Chintia, bersamaan dengan itu Aurora datang, melihat Chintia yang sudah berbaring di lantai segera langsung panik.


"Kenapa ini?" kata Aurora.


"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja dia begini," kata Jenny, tak mungkin dia mengatakan bahwa Chintia kambuh karena dirinya memberikan kabar yang sesungguhnya tentang Anxel pada Chintia.


"Tolong!" teriak Aurora lagi, Jofan yang mendengar suara minta tolong Aurora langsung berlari, padahal dia baru saja keluar dari ruang kerjanya.


Jofan yang segera sampai di kamar Jenny, melihat Chintia yang tergeletak segera mencoba untuk menggendong Chintia, dia segera meletakkan Chintia di ranjang Jenny, tampak Chintia sudah mulai menenang, mungkin karena efek obatnya.


"Panggil dokter pribadi kita," kata Jofan melihat bibir Chintia yang masih membiru.


"Baiklah," kata Aurora, mengambil telepon di samping tempat tidur Jenny, Aurora langsung ingin menelepon dokter pribadi mereka, namun Chintia seperti ingin mengatakan sesuatu.


"Dokterku," kata Chintia, menyerahkan kartu nama yang ada di dompet obat itu, dia meminta untuk dokter yang menanganinya selama ini yang datang, Aurora yang melihat itu segera mengangguk, dan langsung menghubungi dokter yang tadi diberikan oleh Chintia.


Jenny hanya melihat ke arah Chintia yang tampak sangat susah bernapas walaupun tidak sesusah awalnya, Jenny hanya bisa diam, apalagi Chintia melihat ke arahnya dengan tatapan sedihnya, Jenny merasa sedikit bersalah sudah menyebabkan Chintia seperti ini.


Sekitar 20 menit kemudian, dokter itu akhirnya tiba di sana, dia segera memberikan oksigen yang di bawa olehnya, juga memeriksa keadaan Chintia.


"Dia memberikanku obat ini, sesuai instruksinya aku memberikannya di bawah lidahnya," kata Jenny menjelaskan, memberikan bungkusan obat yang tadi dia berikan.


"Ya, Isosorbid dinitrate," kata dokter itu sedikit tersenyum, langkah yang diberikan oleh Jenny sudah tepat. "Chintia, istirahatlah, aku sudah mengatakan padamu bahwa kau tidak boleh stress bukan, bernapas lah dengan baik, maka keadaanmu akan segera membaik," kata dokter itu dengan senyuman yang sangat teduh menenangkan, Chintia hanya tersenyum mengangguk lemah dengan wajahnya yang masih pucat, untungnya bibirnya yang membiru sudah tidak lagi terlihat.


Dokter itu memandang semua yang ada di sana, dari matanya saja langsung terlihat ada yang ingin dia sampaikan, melihat hal itu, Aurora, Jofan dan Jenny segera mengerti.


"Chintia, istirahatlah, kami tidak akan mengganggumu," kata Aurora lembut penuh perhatian, Jenny hanya memandang Chintia yang juga memandangnya lemah, perlahan menutup matanya, menarik napas panjang dari kanula oksigen yang melintang di hidungnya.


Jofan menutup pintu kamar Jenny dengan perlahan, dia mempersilakan dokter itu untuk menuju ke ruang tengah rumah mereka, setelah tiba di sana, mereka segera mengambil tempat mereka masing-masing.


"Bagaimana keadaannya, dokter?" tanya Aurora sedikit cemas.


"Sama seperti sebelumnya, sejujurnya keadaan Chintia bagaimana pun akan terus memburuk," kata Dokter itu terlihat berbeda sekali saat di depan Chintia tadi, kali ini wajahnya terlihat putus asa sekali.


"Memburuk, sebenarnya apa yang dia derita? Jantungnya lemah bukan?"  tanya Jenny yang hanya tahu bahwa Chintia punya penyakit jantung yang lemah, dari dulu itulah masalah gadis itu, bolak balik pergi ke rumah sakit karena terlalu seringnya pingsan.


"Tidakkah keluarga Anda memberitahu?" tanya dokter itu menatap mereka semua.


"Tidak," kata Aurora polos saja.


"Kalau begitu saya tidak bisa memberitahu kalian semua, ini adalah privasi pasien," kata dokter itu, dia hampir saja membocorkan keadaan Chintia.


Jenny hanya diam, apa sebenarnya yang dialami oleh Chintia, sepertinya ini bukan hanya sekedar jantung yang lemah.


"Dokter, kami adalah keluarganya juga, kami harus tahu bagaimana cara kami memperlakukan Chintia, hari ini aku sudah membuatnya mengalami serangan seperti itu, itu semua karena ketidaktahuan kami akan penyakitnya, tapi jika kami tahu, kami pasti akan berhati-hati, atau jika memang sangat parah, pasti kami akan membuatnya selalu bahagia," kata Jenny, mencoba merayu dokter itu untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya.


"Benar, bagaimana kami akan mengerti keadaannya jika Anda tidak memberitahu kami, kami takut kami akan melakukan kesalahan lagi," kata Jofan, mencoba untuk membantu keponakannya, selain dia memang cukup penasaran.


Dokter itu kembali memanang mereka, menatap wajah memohon dan menuntut di depannya, dia akhirnya mengangguk, ada benarnya perkataan mereka, pikirnya.


"Keadaan Nona Chintia bukan sekedar kelemahan Jantung, beberapa bulan lalu kami mengetahui bahwa keadaannya jauh lebih buruk, Nona Chintia menderita Cardiac Sarcome, sebuah kanker jantung yang sangat langka dan paling susah di obati, apalagi sekarang kankernya sudah menyebar ke otak," kata dokter itu menjelaskan.


Membuat Jenny dan Aurora sampai tak bisa menutupi wajah terkejutnya, dibalik tubuhnya yang ringkih itu ternyata Chintia sedang melawan penyakit yang begitu mematikan, pantaslah kemarin dia melihat Chintia mengeluarkan darah yang begitu banyak.


"Walau kami masih berusaha, namun harapan hidup Nona Chintia hanya tinggal sedikit, kita hanya bisa berdoa semoga ada kejaiban untuknya, untuk saat ini, saya hanya minta untuk tetap menjaganya, bagaimana pun keadaannya memang sudah terlanjur begitu buruk," kata dokter itu sedikit tersenyum.


"Baiklah Dokter, kami akan menjaganya," kata Jofan berdiri, dokter itu juga langsung berdiri, setelah bersalaman, dokter itu meninggalkan mereka, Jenny hanya bisa diam, artinya dia tak bisa lagi menekan Chintia.