
Jonathan menatap Jenny yang sedang asik bercengkramah dengan anak-anak yang mengelilinginya, sedikit mengerutkan dahinya melihat perubahan Jenny yang cukup drastis menurutnya, dulu jika melihat Jenny, wanita itu pastilah dikelilingi oleh pria-pria dan juga teman-teman kelas atasnya, namun sekarang dia malah dikelilingi anak-anak.
"Ingin minum?” tawar Louise yang mendekati Jonathan, jika dilihat seperti ini ternyata tinggi tubuh Louise mendapat imbangnya juga, Jonathan hampir setara dengannya.
“Terima kasih,” ujar Jonathan mengambil minuman yang disuguhkan oleh Louise itu, dia meminumnya sedikit.
“Kau sangat beruntung mendapatkan wanita sepertinya,” ujar Louise memandang Jenny yang bahkan tidak sadar dia sedari tadi menjadi pusat perhatian dua pria ini.
“Ya, sama-sama, terima kasih sudah memberitahuku tentang dirinya di sini,” kata Jonathan pada Louise lagi, Jonathan sudah tahu pasti pria ini punya perasaan lebih pada gadisnya, dia bisa saja tidak melaporkan hal itu padanya karena takut Jenny akan berpaling darinya, namun pria ini tetap memberitahunya dimana Jenny.
“Kau tahu, aku sudah mengenalnya lebih dari setahun ini, dan aku langsung jatuh hati padanya,” ujar Louise yang langsung disambut tatapan cukup tajam dari Jonathan, Louise hanya tersenyum, itu bagus jika dia mendapatkan tatapan tajam itu, artinya dia tak salah menyerahkan wanitanya ini. Dia sudah ada di tangan yang tepat. “Jangan salah paham dulu, aku memang menyukainya, dia gadis paling unik yang pernah aku temui, saat pertama kali dia datang, aku bahkan meragukan dia bisa bertahan seminggu ditempat-tempat seperti ini, tapi dia membuktikan bahwa kita tidak bisa memandang seseorang hanya dari penampilannya saja dan juga dia membuktikan bahwa semua orang hanya butuh kesempatan,´dia wanita yang hebat.”
“Ya, dia memang wanita yang hebat,” ujar Jonathan lagi, kedua pria itu melayangkan pandangan mereka ke sosok Jenny yang tertawa lepas.
“Beberapa hari yang lalu aku coba mengutarakan perasaanku padanya, dan belum lagi aku berkata, dia langsung menolakku, dia mengatakan dia memiliki seseorang yang sangat dia cintai, dia mengatakan dia takut untuk kembali dan cintanya tidaklah mudah, lalu aku mendengar ketua kami mengatakan bahwa ada seorang pria yang mencarinya, saat mendengar hal itu, aku bisa melihat binar matanya bahkan dari jauh, karena itu aku rasa dia hanya akan bisa bahagia bersamamu,” ujar Louise melirik ke arah pria di sampingnya.
Jonathan terdiam, dia melihat Jenny dalam, Jenny yang merasa diperhatikan itu jadi melirik ke arah Jonathan dan Louise, dia melempar senyum yang dibalas oleh keduanya.
“Sekali lagi aku berterima kasih padamu, untunglah dia bertemu pria sepertimu, jika tidak, minimal aku harus kembali berjuang untuk bersaing denganmu,” kata Jonathan yang disambut tawa oleh Louise, tawa itu menular pada Jonathan.
“Baiklah, ayo kita menikmati api unggunnya, esok kalian akan pulang,” kata Louise menepuk bahu Jonathan mendorong punggungnya untuk bergabung dengan kerumunan orang di sana.
Suasana malam itu begitu menyenangkan, tawa, canda, lagu dan semuanya membuat Jenny sudah merindukan suasana yang dia rasakan 2 tahun ini.
“Kita bisa datang sesekali nantinya,” ujar Jonathan yang melihat wajah Jenny yang tampak sendu, Jenny melempar senyum sambil mengangguk, dia lalu di tarik dalam pelukan Jonathan karena sudah cukup malam dan anak-anak sudah tidak ada di tempat itu, hanya tinggal Jenny, Jonathan dan juga beberapa pengurus. Louise hanya bisa tersenyum sambil melanjutkan lagunya melihat pasangan romantis itu.
---***---
Hari bergulir pagi dan waktunya pergi pun tiba, dengan sedikit isak tangis dari anak-anak dan juga beberapa orang pengurus, Jenny melemparkan lambaian tangannya yang terakhir kalinya, mereka segera pergi dari sana. Jenny mengusap air mata yang ada di ekor matanya, melirik ke arah Jonathan yang hanya tersenyum menenangkan. Perjalanan mereka cukup jauh untuk bisa mencapai bandara terdekat, itu pun hanya bandara kecil, mereka harus terbang mengunakan pesawat baling-baling untuk menuju pusat kota dan di sanalah pesawat pribadi Jonathan terparkir, dan tanpa buang waktu mereka melanjutkan perjalanan mereka yang kali ini memakan waktu lebih dari 8 jam.
Sudah hampir tengah malam ketika pesawat mereka akhirnya mendarat sempurna di negara asal Jenny, Jenny melirik tempat itu dari jendal kecil pesawat itu, saat sudah terparkir sempurna, Jonathan membantu Jenny membukakan sabuk pengamannya.
Jenny tampak sedikit bingung, jujur saja hatinya serasa gugup, menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Gugup?” tanya Jonathan dengan senyuman manisnya.
“Tidak ada yang berubah, percayalah, mereka akan sangat senang melihat dirimu, kakakmu sudah datang,” kata Jonathan yang menunjuk 3 mobil yang baru saja mendekati pesawat mereka, Jenny melihat ke arah luar, Kakaknya dan beberapa pasukan pengawal presiden turun dari mobilnya. Jenny menatap sendu pada wajah kakaknya yang ternyata tetap sama, tatapannya tajam namun juga begitu hangat.
“Kau memanggil kakakku?” tanya Jenny yang sedikit terkejut, dia melihat kakaknya menunggunya, dia lalu kembali melihat Jonathan.
“Bahkan kepulanganmu langsung disambut oleh seorang presiden,” kata Jonathan.
“Dia apa?” tanya Jenny tak percaya, akhir-akhir ini dia memang tidak lagi melihat berita sehingga tak tahu apa yang terjadi di luar sini.
“Kakakmu sudah berhasil menjabat menjadi Presiden, ayolah, tidak baik membuat seorang Presiden menunggu,” kata Jonathan menarik tangan Jenny hingga dia berdiri, Jenny masih sedikit ragu waktu dia memunculkan dirinya di depan pintu pesawat itu.
Jared yang sedari tadi lekat melihat pintu pesawat itu segera membesarkan matanya, melihat sosok adiknya yang sudah begitu lama tak dia lihat, tak ada yang berubah ternyata, Adiknya tetap secantik yang dia ingat, tanpa sadarnya dia segera berjalan cepat menuju ke arah Jenny yang perlahan sekali menuruni anak tangga itu, haru rasanya melihat teman lahirnya itu mendekatinya, bahkan paspampres sedikit kesusahan mengikuti Jared.
Saat Jared sudah mendekati Jenny, tanpa sungkan dia langsung memeluk adiknya itu, 2 tahun mencari dan mencari akhirnya menemukannya juga, Jared dan Jenny mungkin terlihat berbeda tapi mereka sama, mereka lahir bersama, tumbuh juga bersama, walau punya sifat yang berbeda namun mereka saling menjaga, 2 tahun itu adalah masa paling lama mereka berpisah, tentu Jared sangat merindukannya.
Jenny pun begitu, rindunya pada kakaknya membuatnya tak bisa membendung tangisnya lagi, dia hanya bisa melampiaskan rindunya dengan pelukan erat yang sangat, akhirnya dia kembali pada separuh jiwanya.
Jared melirik kearah Jonathan, seolah matanya yang basah mengucapkan terima kasih yang sangat, Jonathan hanya menangangguk, dan Jared kembali memeluk erat Jenny.
“Maafkan aku membuat kalian semua khawatir dan sedih,” ujar Jenny dengan suara tangisnya, hidungnya merah dan matanya terus berair walaupun dia mencoba tersenyum.
“Tak ada yang perlu dimaafkan, yang penting kau sudah pulang sekarang, jangan pernah pergi lagi,” ujar Jared.
“Ya, Kak,” kata Jenny dengan senyuman yang masih penuh derai air mata.
“Ayo pulang, sudah tengah malam, aku yakin paman dan bibi masih belum tidur, mereka akan sangat senang melihat dirimu pulang,” kata Jared.
“Apakah mereka tahu aku pulang?” tanya Jenny.
“Tidak, aku tidak memberitahu mereka,” kata Jared, Jared lalu melirik ke Jonathan seolah melemparkan pertanyaan itu pada Jonathan.
“Aku juga, baiklah, sudah dingin di sini,” ujar Jonathan.