
Jenny menangguk sejenak, matanya masih mengalirkan air mata yang deras, dia menarik napasnya yang terasa tersengal, terpotong-potong hingga kesusahan untuk bisa bernapas normal.
Jenny menumpahkan segalanya cukup lama, hampir setengah jam dia hanya menangis melampiaskan sakit yang ternyata tak berkurang sama sekali, namun lama-lama dia bisa mengendalikan dirinya, dia mulai tenang dan mencoba untuk memutar otaknya yang serasa berhenti dari tadi.
Dia menghapus air matanya, membuat mata bengkaknya itu tak lagi terlihat terlalu basah, Jenny lalu segera melihat sekitarnya, Aurora sejenak meminta izin untuk meninggalkannya, ingin membawakan makan siang untuknya.
Jenny sebenarnya terlihat linglung, dia meraba ranjangnya tapi tak tahu ingin mencari apa, dia melihat sekeliling namun juga tak tahu sebenarnya dia ingin melihat apa, tangannya terus saja meraba semuanya, hingga dia merasakan getaran kecil itu, ponselnya, ya, ponselnya, Jenny mengambil ponselnya, melihat ke arah ponselnya, dia melihat daftar ponselnya, melihat nomor ponsel Jonathan, pria itu pasti membawa ponselnya bukan? bukannya dia pernah mendengar pembicaraan kakak dan pamannya, mereka bisa melacak seseorang dari nomor ponselnya, benar, dia bisa melacaknya, dan dia tahu pada siapa dia harus meminta tolong.
Jenny segera menelepon sesorang, dan baru beberapa kali nada sambung, panggilannya terhubung.
"Halo, Kakak," kata Jenny cepat.
"Ya, ada apa?" kata Jared terdengar seperti biasanya, datar namun penuh kehangatan.
"Kakak sekarang ada dimana?" kata Jenny.
"Aku baru mengantar Suri untuk fisioterapi, sekarang aku ada di rumah sakit, ada apa?" tanya Jared, mengerutkan dahinya, Jenny akhir-akhir ini cukup jarang meneleponnya.
"Oh, aku ingin bertemu dengan kakak, ada sesuatu yang sangat pentiing yang ingin aku lakukan, tapi bisakah kakak datang ke rumah?" tanya Jenny lagi, dia tidak ingin kembali lagi ke rumah sakit, walau rumah sakitnya berbeda, dia merasa tempat itu membuatnya merasa tak nyaman sekarang.
"Baiklah, aku akan datang ke rumah setelah aku mengantarkan Suri pulang, Jenny, ada apa?" suara Jared terdengar sedikit khawatir, apalagi mendengar suara Jenny yang parau, entah kenapa merasa adik kembarnya itu habis menangis.
"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, datanglah saja," kata Jenny lagi.
"Baiklah, tunggu aku," kata Jared.
Jenny hanya diam, dia lalu mematikan ponselnya dan meletakkannya lemah di sampingnya.
Pintu kamarnya terbuka, Jenny segera mengira itu adalah bibinya, namun matanya kembali membesar, melihat sosok yang masuk dengan wajah tanpa berdosa ke dalam kamarnya, Jenny mere'mas selimutnya dengan sangat erat.
"Apa yang membuat kau datang kemari? apa dia menyuruhmu juga untuk memata-matai keadaanku?" tanya Jenny memandang Chintia yang tampak hanya memandang Jenny saja, wajah Chintia sedikit berkerut mendapatkan sebuah sambutan yang tak dia sangka, kenapa Jenny begitu ketus menyambutnya.
"Oh, aku dengar kau dan Anxel sudah bertunangan, aku hanya ingin mengucapkan selamat," kata Chintia yang mengurungkan niatnya untuk mendekati Jenny yang tampak memandangnya kejam.
"Tak perlu basa-basi padaku Chintia, aku sudah tahu semua, tentang hubunganmu dan juga Anxel, kau begitu tega menghancurkan hidupku, seharusnya kau yang memakai cincin menjijikkan ini," kata Jenny mengeluarkan cincin pertunangannya dan melemparkannya pada Chintia, Chintia tampak kaget menima perlakukan itu dari Jenny.
"Hentikan semua ini, tak perlu berlagak polos! kau seharusnya sudah tahu kenapa aku mau bertunangan dengan pria yang kau cintai itu, aku memergoki kalian berciuman di ruangannya, dan kau tahu sekarang, Jonathan sedang disekap oleh pria itu," kata Jenny dengan teriakan histeris, membuat Chintia semakin takut melihat Jenny, Jenny yang marah itu ternyata begitu menakutkan.
"Jenny, aku tidak ... Aku yakin Anxel tak akan melukai Jonathan," kata Chintia lagi gelagapan.
Jenny terdiam, artinya Chintia sudah tahu bahwa Jonathan disekap oleh Anxel, kenapa Chintia juga begitu tega? apa salah Jonathan padanya?
Jenny bangkit lalu berjalan cepat ke arah Chintia, bahkan membuat Chintia mundur beberapa langkah.
"Kenapa kalian melakukan itu pada kami? jika kau mencintai Anxel, kenapa kau harus menumbalkan Jonathan, apa salahnya padamu?" tanya Jenny, sekarang suaranya terdengar begitu lirih.
"Aku, ini semua juga salahmu, jika kau tidak menjalin hubungan dengan Jonathan, pasti semua ini akan berjalan mulus saja, kau dengan Anxel dan aku dengan Jonathan, semua akan selesai, dan kita semua akan baik-baik saja," kata Chintia gugup, Jenny memicingkan matanya, bagaimana bisa itu baik-baik saja.
"Lalu kau dan Anxel akan menjalin hubungan dibelakang kami seumur hidup kalian?" tanya Jenny yang segera memegang tangan Chintia erat, geram sekali, itukah rencana mereka.
"Tidak selamanya, Anxel bilang dia akan menceraikanmu dan setelah itu kami akan bersama selamanya, Keluarga Anxel tidak setuju dengan hubungan kami karena aku adalah wanita yang lemah, karena itu Anxel mengatakan dia akan mencari seorang wanita untuk dinikahinya, setelah dia menikah dan dia akan menceraikannya, setelah itu akan menikahiku, karena setelah dia bercerai, orang tuanya tak akan lagi bisa melarang hubungan kami," kata Chintia sedikit terkejut dengan genggaman tangan Jenny yang meremas pergelangan tangannya, dia memang tidak 0bisa mendapatkan tekanan seperti ini.
"Lalu kau setuju dia hany menikahiku sesaat! kenapa aku! kau begitu tega sepupumu sediri dan juga sahabatmu!"
"Tapi kalian juga berselingkuh di belakang kami, bukan?" kata Chintia yang akhirnya melawan, tak ingin menjadi satu-satunya yang salah.
"Ya, memang, tapi aku terus menolak Jonathan karena memikirkan perasaanmu, kami saling mencintai tapi tak bisa bersama karena permainan Keji kalian! sialnya aku harus peduli dengan keadaan dan perasaanmu!" kata Jenny, menyesal sekali tak memperjuangkan cintanya dan beberapa kali ingin menyerah, "tak bisakah kau mencari orang lain yang ingin kau tumbalkan hanya untuk kebahagiaanmu?" lirik Jenny, air matanya kembali tumpah, membuat Chintia tak bisa berkata apa-apa, hanya diam menatap wajah Jenny yang sembab.
"Apa kau tahu bahwa dia ingin menjadi presiden?" kata Jenny menatap Chintia dengan sangat tajam.
"Ya, dia pernah mengatakan dia memang ingin menjadi presiden, tapi dia tidak terlalu memikirkannya lagi," kata Chintia.
"Kenapa? karena dia lebih memilih menikah denganmu dari pada menjadi presiden?" kata Jenny menebak gombalan basi yang mungkin disampaikan oleh Anxel, dan sepupunya yang bodoh sudah tertutup oleh cinta ini percaya begitu saja.
Chintia diam, dia hanya memasang wajah kagetnya, Jenny langsung tahu jawabannya, dia bahkan menggertakkan giginya, menarik napas dari mulutnya, pendek tapi cukup mengisi paru-parunya, menggeleng tak percaya, sebegitu naif atau bodohnya Chintia ini.
"Lalu kau pikir kenapa dia mau menikah denganku! pernahkah kau berpikir kenapa harus aku yang dia nikahi, aku sepupumu, pernahkah kau berpikir jika dia menikahiku dan menceraikanku, apa keluarga kita akan mengizinkan kau menikah dengannya," kata Jenny sedikit berteriak.
"Ya, karena itu dia memintaku menikah dengan Jonathan, setelah itu aku akan melepaskannya, setelah kami sama-sama lepas dari keluarga, kami akan menikah," kata Chintia lagi dengan sedikit meneguhkan dirinya.