
"Anxel, kau tidak boleh melakukan ini, kau tahu siapa keluargaku, jika terjadi apa-apa padaku, maka ...." kata Jenny mengancam ke arah Anxel.
"Dia tidak akan melukaimu, dia tidak mengincarmu sama sekali, dia mengincar diriku," kata Jonathan yang mencoba membaca pikiran Anxel, Anxel tertawa kecil, sekali menepuk tangannya, memberikan apresiasi yang seolah mengejek, Jonathan nyatanya benar-benar sudah membaca rencananya.
"Bravo, kau pintar sekali, bagaimana ingin mencoba melawan, aku memang tak akan melukainya, tapi mereka bisa melakukannya, atau kau serahkan sesuatu yang seharusnya menjadi milikku," kata Anxel melirik tajam pada Jonathan.
Jonathan melihat ke arah kanan dan kirinya, 5 orangĀ yang mendekati mereka itu punya badan yang cukup membuat orang gentar, jika Jonathan bisa melawannya pun, mungkin akan sangat sulit, lari pun sudah tak mungkin lagi, Jenny tak mungkin dia seret begitu saja, apalagi dia menggunakan sepatu hak tingginya, dan jika dia melakukannya, Jenny bisa saja terkena imbasnya, Anxel bisa saja mengatakan bahwa orang-orang inilah yang melakukannya, dan dipastikan mereka tak akan ingin mengaku bahwa dalang semua ini adalah Anxel, melawan pun rasanya hasilnya akan sama saja.
Jonathan menggertakkan kedua giginya, membuat rahangnya terlihat keras, setelah itu perlahan dia melepaskan tangan Jenny, Jenny melihat apa yang dilakukan oleh Jonathan membesarkan matanya, dia tak menyangka Jonathan akan melepaskan tangannya, Anxel yang melihat itu tersenyum, dia segera menarik lengan Jenny dengan kasar, Jonathan awalnya mau melawan agar Anxel tak memperlakukan Jenny seperti itu, tapi tangan Jonathan di pegang erat oleh orang-orang yang sekarang sudah mengelilinginya, Anxel menarik Jenny yang masih tidak bisa percaya dan juga cemas melihat Jonathan yang berdiri sendiri di sana.
"Kau, lepaskan aku, Tolong!!" kata Jenny berteriak dengan keras, membuat Anxel makin mengetatkan tangannya, menarik Jenny dengan sangat keras, hingga Jenny akhirnya ada di dekatnya.
"Berteriak dan berbuat gaduhlah, kalau kau terus begitu, aku akan menyuruh mereka menyuntiknya mati," kata Anxel mengancam, Jenny membesarkan matanya, melihat ke arah Jonathan yang tampak dipukul di bagian ulu hatinya membuat Jonathan segera menunduk, saat dia menunduk, seorang dari mereka menyuntikkan sebuah cairan yang membuat Jonathan segera lemas, Jenny membesarkan matanya dengan khawatir, apa yang terjadi pada Jonathan.
"Anxel apa yang kau lakukan dengan Jonathan?" tanya Jenny yang sangat khawatir, Anxel melihat ke arah Jonathan dan dia tersenyum dengan puas.
"Kau akan tahu apa yang terjadi padanya jika kau tidak menuruti apa yang aku katakan," kata Anxel berbisik di telinga Jenny membuat Jenny bergidik ngeri melihat Anxel, Anxel segera menarik tangan Jenny, membawanya segera keluar dari pintu khusus yang hanya bisa dibuka dengan kartu khusus pegawai di sana.
Anxel segera membawa Jenny masuk ke dalam mobilnya, Jenny dengan panik melihat ke arah rumah sakit itu, ternyata Jonathan tidak terlihat sama sekali, Anxel segera meminta supirnya untuk segera pergi dari sana.
Jenny hanya bisa pasrah ketika mereka meninggalkan area rumah sakit itu, dia melirik ke arah Anxel yang sangat tenang, dia membuka jas dokternya.
"Apa sebenarnya maumu? kalau kau sebenarnya mencintai Chintia, kenapa kau ingin menikahiku?" tanya Jenny dengan nada tinggi.
"Jawabnya mudah saja, karena kau lebih baik dari padanya untuk mendampingi dalam mencapai tujuanku," kata Jenny.
"Jadi ini semua hanya tentang kekuasaan? kau merelakan wanita yang kau cintai untuk menikahi ku karena aku bisa membuatmu mencapai tujuanmu?" kata Jenny.
"Kau juga mempermainkan perasaannya?" kata Jenny.
"Kau dan dia sama-sama bisa mewujudkan mimpiku, tapi kau dan Chintia berbeda, Chintia sangat mudah di tahlukkan, gadis yang hanya butuh perhatian, dan dia langsung jatuh dalam pelukanku sayangnya dia punya kekurangan, aku tak bisa menikahi gadis yang nantinya malah menyusahkanku saja, merawatnya sepanjang hidupku, itu akan menghambatku, sedangkan kau ...." kata Anxel memegang dagu Jenny, memicingkan matanya sedikit dengan senyuman sinisnya, "Kau gadis yang sangat berbeda, awalnya semua berjalan lancar sebelum kau mulai bermain api dengan Jonathan, sebenarnya aku tak suka melakukan hal ini, tapi sepertinya, Jonathan sudah mulai curiga dengan hubunganku dan Chintia, dia sampai menyuruh orang menyelidiku, karena itu aku harus melakukan hal ini, Jenny, tak ada yang bisa menghalangiku menuju keinginanku," kata Anxel dengan suara kejamnya, Jenny menapis tangan Anxel, membuat Anxel sedikit tersenyum, keras seperti biasanya.
"Bagaimana kau bisa seperti ini, kau seorang dokter, kau sudah di sumpah untuk menyelamatkan orang lain, bukan menyelakakan orang lain," kata Jenny pada Anxel.
"Aku di sumpah untuk menyelamatkan pasienku, tapi aku tidak pernah bersumpah untuk melukai pria yang sudah merebut calon istriku," kata Anxel lagi pada Jenny, "Lagi pula status dokter ini hanya kamuflaseku, seorang dokter yang terkenal, sering menolong orang, tentu saja akan membuat masyarakat menyukaiku bukan?" kata Anxel lagi, membuat Jenny ngeri.
"Aku tidak akan mau berhubungan denganmu, aku akan mengatakan pada pamanku tentang hal ini, dan dia pasti tak akan mau menikahkanku denganmu," kata Jenny mengancam.
"Baiklah, coba saja, kau tahu kan siapa yang sekarang ada di dalam tanganku, jika sampai kau dan aku tidak menikah, maka, mungkin Jonathan hanya tinggal nama, sudah aku bilang, dia tak punya apapun di sini," kata Anxel mengancam kembali, Jenny terdiam.
Dia memandang wajah Anxel yang sangat ingin dia hancurkan sekarang, namun dia tak bisa melakukan apapun, Jenny memutar otaknya, apa yang dia harus lakukan untuk bisa menolong Jonathan.
"Ayah dan ibuku sudah sampai di rumah mu," kata Anxel lagi melihat ke arah ponselnya, Jenny langsung kaget medengarkan hal itu.
"Mau apa mereka ke sana?" kata Jenny lagi.
"Aku sudah mengatakan bahwa kau setuju bertunangan denganku, dan mereka ke sana untuk mempertegas hal itu, jika keluargamu tak punya waktu bertemu dengan keluargaku, maka keluargaku punya waktu untuk bertemu dengan mereka, tak mungkin paman dan bibimu menolak kehadiran orang tuaku, setelah ini kita akan bertunangan," kata Anxel mengambil sebuah kotak perhiasan dari jas dokternya, Jenny menatap kotak cincin itu, ternyata Anxel benar-benar sudah menyiapkan semuanya, Anxel lalu tersenyum melihat 2 cincin itu, melirik ke arah Jenny yang tampak kaget.
"Ingat jika kau menolak, mungkin keadaannya lebih parah dari ini," kata Anxel menunjukkan foto Jonathan yang tak sadarkan diri, terikat di tangan, kaki dan matanya, mulutnya di sumpal oleh kain, dan tampak dia meringkuk di dalam mobil, Jenny memasang wajah cemasnya, dia melirik ke arah Anxel lagi, menggigit bibirnya.
"Kau mengerti?" tanya Anxel santai.
Jenny menggertakkan giginya, dia melirik ke arah Anxel yang menuntut jawab darinya, setelah itu segera menganggukkan kepalanya, mau tak mau, dia mengikuti keinginan Anxel.