
Jenny menghempaskan ponselnya jauh di atas ranjangnya, rasanya sangat sakit melakukan hal itu, seluruh badannya terasa sangat nyeri sekarang, dia memandang kembali ponselnya, tentu tidak ada lagi getaran, bahkan jika Jonathan meneleponnya 100 kali pun, Jenny tak akan tahu itu, itu lebih baik dari pada mengetahui perjuangan pria itu untuk berhubungan dengannya.
Jenny kembali menark napasnya, jantungnya berdebar begitu kencang, namun saat ini debarannya itu sangat tidak enak, setiap kali berdetak seolah rasa sakit yang mencabik itu terasa sangat dalam, napasnya bahkan begitu tersekat.
Jenny menarik napasnya panjang, dia lalu segera terduduk, jika seperti ini terus rasanya dia bisa mati, mati karena patah hati, dan dia juga tak ingin membuat Jonathan merasa masih memiliki kesempatan dengannya mungkin mempertegas hubungannya dengan Anxel akan menghapus harapan pria itu, Jenny lalu segera mengambil kembali ponselnya, melihat nomor telepon Anxel di sana, awalnya dia ingin membicarakan hubungan mereka lewat ponsel, namun Jenny putuskan untuk lebih baik berbicara secara langsung saja.
Jenny segera menapakkan kakinya ke lantai kamarnya, walau tubuhnya terasa lemah dan remuk, dia tetap melakukan persiapannya, dia memoleskan sedikit perona di wajahnya, perona bibir di bibirnya yang seksi, dia lalu mengikat rambutnya yang menurutnya sedang tidak dalam kondisi terbaiknya, setelah merasa persiapan sederhanannya itu selesai, dia segera berjalan keluar, di ruang tengah dia bertemu dengan Paman dan Bibinya yang sedang bercengkramah, pemandangan baru bagi Jenny.
"Jenny, mau kemana?" Suara Aurora terdengar memanggil Jenny, membuat langkahnya terhenti.
"Oh, aku ingin bertemu dengan Anxel, ada yang harus aku bicarakan, Paman, Bibi aku pergi dulu," kata Jenny segera, Aurora hanya menatap dengan nanar kepergian Jenny, merasa tidak enak dengan kepergian Jenny, Jofan menangkap hal itu segera.
"Ada apa?" tanya Jofan lembut melihat perubahan wajah istrinya.
"Eh, aku rasa aku masih belum bisa menerima hubungan Jenny dan Anxel," kata Aurora, tahu betul keponakannya itu memiliki perasaan dengan Jonathan tapi dia tak bisa mengatakannya, apalagi tahu status Jonatahan sebenarnya.
"Aku akan menyerahkan segalanya pada Jenny, jika memang dia meminta untuk meneruskan hubungannya dengan Anxel aku akan menyetujuinya saja, aku rasa aku tidak akan lagi mencampuri urusan mereka," kata Jofan melihat mata istrinya.
"Bagaimana dengan Jonathan?" tanya Aurora melihat Jofan yang segera terdiam mendengar nama itu keluar dari bibir Aurora.
Jofan tidak bisa menjawab apa-apa, dia punya kesan yang kurang baik dengan anak itu, walaupun sejauh ini sebenarnya dia cukup terkesan dengan sifatnya yang bertanggung jawab ditambah lagi dia pernah melindungi Jenny, namun tak bisa dia pungkiri, masalahnya dengan Liam lah yang sebenarnya masih tak bisa dia terima.
"Kita bicarakan itu nanti, belum tentu juga Jenny ingin dengan Jonathan," kata Jofan lagi.
"Ya," kata Aurora membuang wajahnya, tahu percis sebenarnya yang tersimpan di pikiran Jofan sekarang.
Jenny segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, serasa tahu sekarang Anxel ada di mana, tentu saja di rumah sakit, toh katanya tadi pagi dia sedang ada jadwal jaga, jadi pasti dia ada di sana.
Mobil Jenny memasuki areal rumah sakit, dengan cepat dia segera turun dan segera berjalan ke arah resepsionis rumah sakit itu.
"Ada yang bisa saya bantu?" kata Resepsionis itu.
"Ya, beliau ada di ruangannya, tapi sepertinya beliau juga sedang memiliki tamu," kata Resepsionis itu pada Jenny.
"Tamu?" kata Jenny mengerutkan dahinya, rasa penasarannya sedikit terusik.
"Ya, seorang wanita, apa Anda ingin aku memberitahukan kehadiran Anda pada Dokter Anxel?" tanya Resepsionis itu.
"Oh, seorang wanita, ya, ya, aku tahu, dia temanku, Tolong jangan memberitahu keberadaanku, aku datang ke sini malah ingin membuat kejutan," kata Jenny berpura-pura, senyumnya sangat terlihat dibuat-buat, seorang wanita? siapa dia? Jenny entah kenapa merasa begitu penasaran.
"Ehm, baiklah," kata Resepsionis itu.
"Bisa membantu saya untuk menunjukkan dimana ruangannya, saya dan Dokter Anxel sudah lama sekali tidak bertemu," kata Jenny lagi, menunjukkan wajah ramahnya.
"Tentu Nona," kata resepsionis itu, dia sejenak berbicara dengan rekannya yang lain, setelah meminta izin dia segera menunjukkan di mana ruangan Anxel berada.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah sakit itu, melintasi lorong-lorong rumah sakit yang terlihat cukup ramai dan terlihat sangat bersih itu, aroma khas rumah sakit tercium sangat menyengat, membuat Jenny sedikit mual dan pusing menciumnya, dari dulu dia tak pernah menyukai bau rumah sakit.
Tak lama resepsionis itu berhenti, dia sedikit tersenyum sebelum meninggalkan, Jenny hanya membalasnya dengan senyuman dan tak mengucapkan apapun tak ingin ada yang curiga mereka ada di depannya.
Jenny melihat sekeliling, ruangan Anxel sedikit jauh dari keramaian, di sana tergolong sepi, perlahan dia memegang gagang pintu itu, membukanya sedikit demi sedikit, melihat siapa wanita yang sedang bersama dengan Anxel itu, walaupun Anxel adalah pria yang sangat cocok dia jadikan suami, namun dia juga harus tahu, pria macam apa yang akan dia nikahi nantinya ini.
Jenny membesarkan matanya melihat apa yang dia lihat dibalik celah kecil itu, terlihat Anxel dan Chintia yang sedang saling berpautan ria, Jenny menahan napasnya, kaget melihat adegan di depannya, apa ini sebenarnya?
Jenny benar-benar memastikan apa yang dia lihat, pria itu benar Anxel dengan jas dokternya, dan wanita itu, benar dia adalah sepupunya, ada apa ini? pikir Jenny yang tampak masih terlalu syok melihat semuanya di hadapannya, bagaimana bisa? calon suaminya dan sepupunya juga ternyata menyembunyikan hal ini di belakangnya, dia mati-matian merasakan sakit hati dan patah hati karena tak bisa bersama dengan Jonathan, namun ternyata, orang yang dia ingin jaga perasaannya malah melakukan hal ini.
Jenny tentu geram, bagaimana bisa? walaupun dia dan Jonathan juga menjalin hubungan rahasia, tapi bukannya ini juga sangat mengesalkan, lalu apa maksud Anxel tadi pagi yang begitu menggebu ingin mempertegas hubungannya dengan Jenny, apa maunya pria itu sebenarnya?
Jenny baru saja ingin mendorong pintu rumah sakit itu lebih lebar, menangkap basah dua orang yang sudah menghancurkan perasaannya itu, namun tiba-tiba saja sebuah tangan gagah yang kuat menutup mulutnya dan menarik tubuhnya menjauh dari sana, Jenny yang kaget tentu berontak, membut suara gaduh karena sepatu hak tinggi yang terhentak-hentak ke lantai.
Mendengar suara gaduh itu, Anxel dan Chintia tentu kaget, Anxel segera mendorong tubuh Chintia, melepaskan pautan mesra mereka yang sudah cukup memanas, Anxel segera melirik ke arah pintu ruangannya yang terbuka sedikit, dia segera berjalan ke sana dan membuka pintunya, melihat tak ada siapapun di sana, Anxel tampak berwajah kesal dan cemas, dia lalu keluar dan melihat sekitar ruangannya, lorong-lorongnya sepi, tidak ada orang yang terlihat satu pun di sana.