
Pesawat mereka akhirnya mendarat di tanah basah yang tertutup salju, pendaratan cukup mulus walaupun berbalut sedikit guncangan, lagi-lagi Jenny yang terpaksa di bangunkan karena harus landing hanya memegang pegangan tangan, kali ini sudah tak ingin melirik pasangan di sampingnya.
Sesekali dia menguap, ingin kembali melanjutkan tidurnya yang sedikit tertunda, bagaimana tidak, dia baru saja tidur karena memang tak bisa tidur, baru saja dia ingin mencapai mimpi, seorang pramugari membangunkannya dengan lembut.
Jenny membuka sabuk pengamannya, mengamati dari dalam, menemukan hamparan salju yang luar, udaranya belum terlalu terasa, karena dia sudah menggunakan baju musim dinginnya sejak awal berangkat tadi.
Jonathan kembali menggunakan mantelnya, melihat Chintia yang sedang menggunakan mantel, Jonathan mencoba untuk membantunya, lagi-lagi pemandangan itu mencuri perhatian Jenny.
Tapi kali ini Jenny sudah berjanji, semua keadaanya sekarang adalah kerena dia mudah sekali terpancing. Jika saja dia tidak terlalu menanggapi bagaimana keadaan Jonathan dan Chintia, dia tak akan berakhir di liburan dingin ini sendirian, jadi ... mulai sekarang dia harus bersikap acuh, mungkin dia akan menemukan hiburan tersendiri, lagi pula sudah lama dia tak melihat salju, dan dia juga tak punya urusan dengan mereka berdua.
Pintu Pesawat itu terbuka, semilir angin dingin langsung menerpa, penusuk kulit di bagian wajah Jenny, dingin hingga ingin menggigil, untung saja hanya wajahnya saja yang tak tertutup, jika tidak Jenny pasti sudah memilih kembali duduk di kabin pesawat itu.
Seperti biasa, Jonathan membantu Chintia untuk turun, menapak ke jalanan yang sedikit tertutupi salju, sedangkan yang lain sudah tebal bagikan karpet.
Jenny keluar dari pesawat, melihat sekeliling sejenak, indah, sangat indah, putih sepanjang mata memandang, jika saja tak dingin, Jenny pasti akan lebih sering melihat salju.
Edaran matanya berhenti saat dia melihat sosok pria itu, di bawah sana dia melirik ke arah Jenny, Jenny sedikit kaget, namun dia langsung menutupinya, bersikap acuh tak acuh, perlahan dia turun, tak butuh pertolongan pria mana pun hanya untuk turun dari sana.
Tak lama setelah Jenny turun dari pesawat, dua mobil mewah berhenti di depan mereka, seorang pria dengan pakaian lengkap turun, memberikan sebuah salam pada Jonathan, Jenny langsung tahu pria itu adalah asistennya.
Jonathan segera membuka pintu mobilnya, mempersilakan Chintia untuk masuk, setelah menutup pintunya Jonathan kembali melirik Jenny.
"Aku naik mobil yang satunya saja," kata Jenny melirik mobil yang tak terlalu mewah, terlihat barang-barang mereka di masukkan ke sana, tapi dari pada dia kembali kesal melihat keadaannya yang sendiri, bagus dia menghindar dari pasangan yang sedang di mabuk asmara ini, bersama barang-barang tak terlalu buruk bukan?
Jonathan tak mengiyakan namun juga tak melarang ketika melihat Jenny masuk ke mobil satunya, dia duduk di samping kursi supir, bagi Jenny sebenarnya ini sudah jauh menuruni standarnya, seumur hidup dia tak ingin duduk di samping supir, dan berada 1 mobil dengan barang-barang, sungguh bukan gaya Jenny.
Mobil mereka segera berjalan pelan, perlahan roda itu bergulir, mencoba menerobos jalanan yang licin agar tak tergelincir, karena posisinya sekarang mobil Jenny di belakang mobil Mereka, Jenny masih saja melihat siluet-siluet mereka yang tampak bercengkrama riang, Sial, kenapa bisa begitu tampak bahagia, padahal dia juga akan menikah.
Jenny melihat ponselnya, Tak ada sinyal tentunya sebelum dia mengganti kartu atau mendapatkan WiFi di sana, dia tak bisa mengabari Anxel sekarang.
Tak lama mobil mereka sampai di sebuah Villa musim dingin yang terbuat dari kayu, bergaya perdesaan namun tetap saja indah dan mewah.
Seorang pelayan keluar, membukakan pintu untuk mobil Jonathan, Chintia keluar dengan anggunnya dibalik semua jaket tebalnya.
Chintia dan Jonathan segera masuk ke dalam villa itu, tampak seolah lupa mereka juga mengajak Jenny, Jenny berdiri di luar, menatap sekitar yang di kelilingi pohon Pinus yang juga memutih karena salju, pelayan di sana melihat Jenny, dia memberikan salam.
"Silakan nona, di dalam lebih hangat," kata Pelayan itu ramah, Jenny menyunggingkan sedikit senyum hangat, setidaknya masih ada yang menganggapnya ada, ayo Jenny, bertahan saja, setelah melihat Aurora itu, dia rasa dia akan segera pulang dan membiarkan pasangan itu menikmati bulan madu mereka lebih cepat.
Jenny masuk ke dalam Villa itu, tak melihat Jonathan atau pun Chintia, seorang pria yang tadi diasumsikan Jenny sebagai asisten Jonathan segera mendekatinya.
"Nona, saya tunjukkan dimana kamar Anda," kata Pria itu sopan.
"Baiklah, terima kasih," kata Jenny lagi.
Pria itu membawa Jenny ke lantai 2 villa itu, di depan ruangan dia berhenti, Jenny tak berhenti, dia sedikit terkesima melihat pemandangan dari atas balkon di sebelah ruangan yang di tunjukkan oleh asisten Jonathan itu, dari lantai dua Villa itu dia bisa melihat pegunungan yang indah, pemandangannya menakjubkan, walau hanya warna putih yang mendominasi, namun benar-benar bagai negeri dongeng.
"Suka dengan pemandangannya?" suara berat itu terdengar lagi, membuat perhatian Jenny teralih seketika, dia melihat Jonathan hanya menggunakan sweaternya, dia memberikan gestur asistennya agar meninggalkan mereka berdua, membuat Jenny mengerutkan dahinya.
"Ya," kata Jenny seadanya, kembali melihat ke arah luar, tak ingin menanggapi pria ini terlalu banyak, dia harus menarik dirinya dari Jonathan sejauh mungkin.
Tak di sangka, Jonathan juga keluar dan berdiri di samping Jenny, menatap ke arah luar, menikmati pemandangan memanjakan mata.
"Istirahatlah, kita akan pergi malam nanti untuk melihat Aurora, aku sudah siapkan semuanya," lirik Jonathan pada wajah yang cantik itu, menatap dengan sendu hamparan salju di depannya.
"Oh, ok, dimana Chintia?" tanya Jenny, tak melihat sepupunya itu bersama Jonathan, seharusnya dia juga mengajaknya untuk menikmati pemandangan ini bukan?
"Sedang beristirahat di kamar, kau tahu dia bagaimana bukan?" kata Jonathan, kali ini nadanya cukup bersahabat, membuat Jenny sedikit nyaman meladeninya, ah ... saat Jenny ingin menjaga jarak dan menjauh, kenapa pria ini malah bersikap bersahabat.
"Ya, ehm, aku tak tahu ini penting bagimu atau tidak, aku tak bermaksud apapun, tapi kemarin aku melihat tisu yang memiliki noda darah di kamar kecil yang digunakan oleh Chintia, coba kau perhatikan dia, mungkin saja dia mencoba menutupi keadaannya, lebih baik untuk menjaga kesehatannya sebelum kalian menikah, baiklah aku akan masuk ke dalam kamarku," kata Jenny lagi, berbalik dan segera menuju ke kamar yang tadi di tunjukan oleh asisten Jonathan.
"Ya, baiklah, aku tahu, nikmati istirahatmu, ini kamar kedua orang tuaku," kata Jonathan melewati Jenny yang hendak membuka pintunya, Jenny mendengar itu mengerutkan dahinya, kenapa dia malah di berikan kamar utama?
"Kenapa aku diberikan kamar ini? kenapa bukan kalian saja? aku tak masalah memiliki kamar yang kecil," kata Jenny merasa aneh, seharusnya Jonathan dan Chintia lah yang ada di sana, bukankah ini adalah liburan mereka.
Jonathan yang hendak menuruni tangga itu segera terhenti, memandang wajah bertanya dari Jenny.
"Lebih baik kami di bawah saja," kata Jonathan yang hanya mengatakan hal itu, tak memuaskan pertanyaan Jenny sama sekali, setelah itu dia turun, membuat Jenny mengerutkan lagi dahinya.
Jenny membuka pintu kamar itu, melihat kamar yang cukup sederhana namun luas, semuanya tampak rapi, ranjangnya besar ditutupi kelambu putih, di depannya ada sofa panjang dekat perapian, beberapa rak buku, kemari dan meja hias, Jenny berjalan, membuka mantelnya, memang terasa lebih hangat di dalam sini, mungkin karena ada pemanas ruangan, Jenny melirik sebuah foto di atas perapian, menunjukkan foto Paman Liam dengan seorang wanita yang sangat cantik dan anggun, seketika Jenny tahu, itu pasti ibu Jonathan, wajah sempurnanya ternyata turun dari ibunya.
Jenny lalu duduk di ranjang empuk itu, sekali lagi menatap ruangan itu, sepi menyergap, benar-benar sepi hingga tak terdengar apa pun, Jenny tersenyum kecut, inikah alasannya kenapa dia diberikan kamar di atas? agar dia tak mendengar apapun dari bawah, lagi pula hanya ada kamar ini di lantai atas ini, miris sekali rasanya, liburan dalam sepi begini, pikir Jenny menatap kaca balkon yang menunjukkan pemandangan yang sama seperti tadi di luar.
Tak terlalu lama dia memikirkan hal itu, dia segera berbaring dan lelap dalam lelahnya, membalas kurang tidurnya di pesawat itu.