Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
83.



Jonathan merapikan Jasnya yang berwarna hitam itu, wajahnya yang dulu begitu mempesona dengan tawa dan senyum yang selalu menggetarkan jiwa, sekarang lebih banyak datar dan juga dingin bagaikan kehilangan alasan untuk bisa tertawa.


Dia keluar dari mobil mewahnya, menapakkan kakinya ke arah sebuah gedung besar, wartawan tampak ramai menumpuk di luar pagarnya dan dengan langkah kaki pasti, dia masuk ke dalamnya.


Semua orang di tempat itu adalah orang-orang penting, petinggi negara dan para pengusaha, dia dengan percaya dirinya melewati mereka semua, menuju ke arah pasti, ke tempat semua orang pasti langsung tertuju saat sampai di sini.


"Aku ucapkan selamat atas pelantikan Anda Tuan Presiden," ujar Jonathan, kali ini senyumnya terlihat.


"Terima kasih, tanpa dukunganmu hal ini akan cukup berat aku raih," ujar Jared menyambut tangan Jonathan yang sudah terulur untuknya.


"Tak perlu merendah, dukunganku tak ada apa-apanya, selamat pada Anda Juga Ibu Negara," ujar Jonathan sekaligus melempar senyum pada ibu negara di samping Jared, Suri hanya membalasnya dengan anggun, perutnya sudah cukup membesar membuatnya susah bergerak, mungkin sebentar lagi bulannya untuk melahirkan.


"Jonathan, akhirnya kau datang juga, kami sudah menunggumu," ujar Aurora menyambut Jonathan, 2 tahun menanggung derita yang sama, membuat keluarga Jofan sudah menganggap Jonathan sebagai keluarga. Aurora memberikan pelukan keibuan untuk Jonathan.


"Aku kira kau tak akan datang, mana ayah dan pamanmu?" tanya Jofan yang segera menyambut kembali salam Jonathan setelah Jonathan mengurai pelukannya dari Aurora.


"Mereka mungkin akan tiba nanti siang dan mengikuti acara sore hari, mereka meminta maaf tentang hal ini," kata Jonathan sungkan.


"Baiklah, itu tak jadi masalah, aku tahu betapa sibuknya mereka di sana," ujar Jofan, dia melirik ke arah anaknya yang baru bergabung, Ceyasa dan Archie datang mendekat, membawa Xander dalam pelukannya.


"Sini sama nenek," kata Aurora yang langsung menculik Xander yang baru saja berumur 1 tahun dari pelukan ibunya,walau lahir prematur tapi Xander tumbuh kuat dan juga terlihat sangat gemuk, Jofan segera menyambut besannya yang juga baru datang, Daihan dan Nakesha sebelumnya di sambut oleh Archie dan Ceyasa.


"Jonathan kapan datang?" tanya Ceyasa yang dari tadi tak melihat Jonathan.


"Baru saja Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Raja," kata Jonathan memberikan salamnya.


"Tak perlu sungkan, ini bukan acara kami, ini acara Presiden, jadi tak perlu sungkan," kata Archie yang memang tak terlalu mempermasalahkan tentang tata krama seperti pamannya dulu.


"Suri duduklah, pasti sangat lelah jika hamil berdiri terus," kata Bella dengan senyuman manisnya, Suri mengangguk tak bisa mengikuti suaminya yang terus saja di ajak berbicara dengan orang lain.


"Paman Angga," kata Jonathan yang juga menyapa Angga yang baru bergabung setelah berbincang dengan beberapa petinggi negara, Angga hanya mengangguk, masih saja seperti dulu yang tak punya minta banyak berbicara jika tak diperlukan.


"Ayo, nikmati saja pestanya, jika ingin banyak berbincang dengan Jared, sekarang lah waktunya, beberapa minggu lagi, kau harus mengatur janji walau hanya untuk bertemu dirinya," canda Jofan yang langsung di sambut tawa semuanya, membuat Xander yang mulai lelap di gendongan neneknya akhirnya menangis, terganggu tidurnya. Aurora segera memberikan Xander pada ibunya, Ceyasa melirik Archie.


"Yah, Seorang Raja juga seorang ayah, aku permisi untuk menemani istriku menidurkan Xander," kata Archie, semua mengangguk memberikan izin karena Xander semakin kuat menangisnya, mungkin kesal waktu ingin tidurnya terganggu oleh canda kakeknya.


Jonathan berdiri sendiri di salah satu sudut ruangan itu, matanya menatap nanar pada foto keluarga yang besar tergantung di sudut ruangan itu, dia terus menatapnya sambil sesekali menyeruput Champagne yang ada di tangannya.


Jonathan melihat ke sebelahnyan, Jared ternyata bergabung dengannya.


"Aku benar-benar berharap dia ada di sini," kata Jared melirik ke arah Jonathan, lalu kembali melihat foto Jenny dalam foto keluarga itu, foto saat pernikahan Ceyasa, dimana keluarga mereka masih lengkap.


"Percayalah aku akan mengerahkan semua kekuasaan ku untuk mencarinya," kata Jared, Jonathan tersenyum.


"Aku percaya, kita juga sudah melakukannya," kata Jonathan.


Apa yang belum dia lakukan? 2 tahun ini melalang buana untuk mencari secercah harapan menemukan cintanya yang hilang, namun semuanya sia-sia, dia tak menemukan apapun, jangankan Jenny, bahkan bayangannya pun tak pernah dia dapatkan kabarnya.


"Jangan menyerah," ujar Jared menepuk pundak Jonathan.


"Tak akan pernah," kata Jonathan, dia membalas Jared yang harus kembali ke kerumuman orang yang sudah ingin berbicara langsung dengannya.


Jonathan kembali menatap ke arah foto itu, gadisnya yang begitu cantik, kemana dia harus mencarinya lagi, dimana dia harus mencarinya?


Cukup lama Jonathan berdiam diri, tak jemu walau hanya bisa memandang pada foto yang tak bergerak, berharap suatu saat saja, dia bisa kembali menikmati senyuman itu kembali.


Baru saja Jonathan ingin kembali ke kerumunan, ponselnya berdering, dia melihat ke arah layar ponselnya, melihat nama Rian terpampang di sana.


"Halo?" tanya Jonathan.


"Tuan, aku rasa aku mendapatkan kabar tentang nona Jenny," ujar Rian yang seketika terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rian itu.


"Apa maksudmu?" tanya Jonathan.


"Seorang pria mengatakan bahwa dia kena dan tahu tentang keberadaan nona Jenny," kata Rian lagi yang memang diperintahkan segera melapor jika ada yang berkaitan dengan Jenny.


"Berapa yang dia inginkan?" tanya Jonathan santai, dalam dua tahun ini dia mencari, cukup banyak laporan palsu yang ujung-ujunganya hanya ingin memanfaatkan keadaannya untuk mendapatkan uang darinya.


"Tidak ada," kata Rian seketika membuat Jonathan berhenti meminum Champagne-nya, "dia hanya mengatakan anda untuk datang, dia bahkan mengirimkan daya foto nona Jenny yang saya rasa ini benar-benar dia, saya sudah mengirimnya pada anda, anda bisa melihatnya," kata Rian, Jonathan segera melihat ke arah ponselnya, tampak Rian mengirimkannya sebuah foto, dengan segera dia membuka foto itu.


Gelas hampir saja terlepas dari tangannya sebelum dia sadar dan menggenggam eratnya kembali, napasnya bagai terputus, dia langsung tak percaya dengan apa yang dia lihat, dia tertawa, rasanya benar-benar tak menyangka hari ini akhirnya datang juga, penantian untuk cintanya selama 2 tahun ternyata tak sia-sia, wanitanya! dia masih ada!


Jonathan menatap wajah wanitanya itu, tampak tak berubah kecuali terlihat lebih polos, dia segera bergegas, bahkan tanpa permisi atau mengatakan apapun dia segera berlari keluar, membuat Jared dan keluarga lain yang mengenalnya hanya memasang wajah bingung dan heran, kenapa Jonathan yang selalu sopan pergi begitu saja tanpa ada alasan?


----------


Kakak2, maafkan skrg aku banyak liburnya ya, banyak banget kerjaan di kehidupan nyata, tapi aku usahain ya semuanya akan up trus, untuk Novel yang lain yang di tunggu juga upnya, aku usahakan membagi tugas upnya yaa...


sekali lagi makasih tetap setia di sini, tanpa kalian saya tak ada artinya, asek...wkwkk