
"Itu pasti anak Anxel, Paman, Bibi, Chintia itu punya hubungan dengan Anxel, Chintia, kau bilang kau akan mengatakan sejujurnya pada keluargamu, kenapa kau malah seperti ini, kau belum puas mempermainkan kami sebelumnya?" kata Jenny segera dengan suara menggebu, tadinya dia berusaha untuk percaya pada sepupunya ini yang memberikan janji manis, tapi ternyata dia tak sepolos wajahnya, licik bagaikan ular
"Jenny! jangan begitu kejam, bagaimana bisa kau memfitnah anakku punya hubungan dengan pria lain selain Jonathan, Chintia tak mungkin menerima Jonathan jika dia punya hubungan dengan Anxel, bukannya kau kau punya hubungan dengan pria jahat itu? kau itu saudaranya, bagaimana tega mengambil pria milik sepupumu, oh, apa karena Jonathan adalah pewaris dari keluarga terpandang, sedangkan kau mendapatkan pria yang bahkan harus mendekam dalam penjara?" kata Gladys ketus, dia tahu kabar tentang Anxel, tega sekali Jenny menuduh anaknya dengan pria jahat yang sekarang mendekam dalam penjara itu.
Mendengar itu Jofan tentu merasa terhina, mereka seperti mengatakan Jenny hanya wanita yang mencari pria-pria karena kedudukannya saja, bahkan rela menggoda Jonathan karena dia adalah pewaris keluarga Medison.
"Tolong jaga bicaramu Gladys," kata Jofan masih menahan dirinya.
"Jangan ikut campur, Jofan, lebih baik kau mendidik keponakanku dengan baik, jangan asal berbicara," kata Ayah Chintia yang tak mau istrinya diperingatkan oleh Jofan.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Chintia dan Anxel itu punya hubungan, dan aku yakin Chintia sekarang mengandung anak Anxel bukan Jonathan," kata Jenny yang tak akan percaya Jonathan menghamili Chintia, itu tak akan mungkin.
"Kau punya buktinya? jangan asal bicara," kata Ayah Chintia yang kini mulai begah anaknya difitnah dan di sudutkan, bagaimana pun seharusnya yang salah adalah Jenny, dia tahu Jonathan adalah tunangan Chintia, sepupunya sendiri, bagaimana bisa dia menerima pria ini.
"Aku punya buktinya, aku punya buktinya bahwa Chintia dan Anxel punya hubungan, dan aku akan menunjukkan mereka melakukannya saat dia sudah berstatus tunanganku," ujar Jonathan tajam menatap semua mata yang menghakiminya dan Jenny. Hal itu juga sukses membuat Gladys dan suaminya sedikit kaget.
Chintia yang mendengar itu langsung mengangkat wajahnya, dia menatap wajah Jonathan yang begitu marah, dia benar-benar tak menyangka Jonathan punya hal yang dia katakan tadi, Jantungnya berdetak kencang, dan sesaat semuanya terasa kembali sesak, Chintia memegangi jantungnya yang terbebani itu, Gladys yang melihat tanda-tanda anaknya akan kolaps langsung panik mendekatinya, membuat semua pandangan teralihkan padanya.
Chintia terlihat sangat susah bernapas, bagai ikan yang keluar dari airnya, ibunya segera mencoba mencari obat Chintia, namun sialnya sepertinya Chintia tak membawanya, Chintia melirik ibunya, semua orang mencoba membantu Chintia, hanya Jonathan dan Jenny yang tak bergeming, wanita itu jatuh dan tak sadarkan diri, membuat semuanya jadi panik, Ayah Chintia menggendong anaknya segera keluar dari ruangan itu.
Jenny hanya diam memandang Chintia yang dibawa pergi keluar, lupa bahwa sepupunya itu punya penyakit mematikan itu, tiba-tiba saja sosok Jonathan sudah ada di depannya, bahkan Jenny sampai terkejut, tadi dia benar-benar bingung harus bagaimana.
"Jenny, percayalah padaku, aku akan menikahimu," ujar Jonathan memegang tangan Jenny yang gamang.
Saat Jenny mulai melihat Jonathan, tiba-tiba di depannya pamannya muncul di antara mereka berdua, dan dengan cepat mendorong Jonathan menjauh, untung saja Jonathan yang tak siap itu segera ditangkap oleh Liam, sekarang Jofan dan Liam yang memang awalnya memiliki hubungan buruk kembali bertentangan, Aurora hanya menatap keduanya, memeluk Jenny yang tampak bingung, hari yang dia bayangkan akan menjadi begitu bahagia, tiba-tiba menjadi berantakan sudah.
"Aurora bawa Jenny, kita pulang," kata Jofan tegas, namun matanya tak sedikit pun teralih dari Liam yang hanya diam memandangnya tajam, Aurora mendengar hal itu hanya mengangguk, mendorong Jenny yang tampak masih bingung, namun sesaat sadar akan keadaannya.
"Paman, aku harus mengejar Jenny," ujar Jonathan panik, cemas, kasihan melihat wanitanya itu mencoba bertahan tetap di sana, namun tetap di seret keluar.
"Kau tidak bisa melakukannya," kata Raphael.
"Jonathan, kau tak bisa ke sana saat ini, bagaimana pun situasimu sekarang sangat tidak menguntungkan, jika kau mengejar Jenny, itu juga akan semakin memojokkan Jenny, semua orang sedang dalam emosinya, tunggulah sejenak, kita akan pikirkan caranya," kata Clara lembut berbicara pada keponakannya ini.
Jonathan diam, menggigit bibirnya, tak tahu harus apa sekarang, bagaimana semua orang tak percaya padanya, dia hanya bisa menahan kesalnya sendiri, frustasi dengan apa yang terjadi, hingga hanya bisa berteriak keras sekali.
---***---
Jenny dimasukkan paksa ke dalam mobil mereka, bahkan seperti dia diculik, dia masih berusaha untuk keluar dari mobilnya, dia ingin kembali pada Jonathan, karena dia tahu hanya dia saja yang percaya pada Jonathan sekarang.
"Jenny, tetap di tempatmu!" kata Jofan yang langsung mengeluarkan suara tegasnya, membuat Jenny diam seketika, seumur hidupnya, walaupun semarah apapun Jofan tak pernah bersuara keras dan tegas pada Jenny, hal ini tentu langsung membukamnya.
Jofan membawa Jenny kembali ke rumah mereka, Jenny hanya bisa menangis dalam pelukan Aurora, Jofan yang ada di sana hanya mondar mandir tak tahu harus berbuat apa.
"Aku yakin semua ini hanya permainan, Jonathan bukan pria yang seperti itu, aku yakin dia bukan pria yang mempermainkan wanita seperti itu, lagi pula bukannya kau tahu Chintia memang punya hubungan dengan Anxel?" kata Aurora mencoba membela anaknya.
"Ya, aku tahu, tapi yang aku tidak tahu bahwa Jonathan sudah bertunangan dengan Chintia, itulah salahnya, jika tidak, mungkin kita bisa membantunya, namun sekarang statusnya adalah tunangan sah dari Chintia, kita tak bisa apa-apa, dan mereka menyalahkan Jenny tentang hal ini, itu yang aku tak bisa terima," kata Jofan yang tahu walaupun anak mereka salah, orang tua Chintia rasanya tak akan mau melepaskan Jonathan, bagaimana pun jika memang diketahui itu anak Anxel, akan sangat memalukan bagi mereka, jadi walaupun mereka tahu tingkah anaknya, mereka tak akan melepaskan Jonathan, "saat ini kita hanya bisa menunggu bagaimana sikap dari keluarga Jonathan, selama hal ini masih menjadi masalah, kau sama sekali tak boleh berhubungan dengan Jonathan, atau kau akan menambah malu untuk keluarga kita," kata Jofan, merasa cukup terhina karena kasus ini, dia tak tahu lagi harus apa, upayanya untuk bisa berdamai dengan dirinya sendiri agar tidak menghakimi orang berdasarkan apa yang keluarganya lakukan, ternyata sia-sia. Dia langsung meninggalkan ruang tengah mereka.
Jenny hanya bisa menangis, air matanya tak bisa lagi dia bendung, sekali lagi dia harus merasakan sakit yang menusuk tubuhnya, jika jatuh cinta bisa sesakit ini, kenapa begitu banyak orang ingin merasakannya.
"Sabarlah, aku yakin Jonathan akan memperjuangkan mu," kata Aurora berbisik pada Jenny. Jenny hanya mengangguk, dia tahu Jonathan pasti melakukannya. dia yakin, dia akan datang.