
Jenny membuka matanya mendengar ketukan pintu yang cukup mengganggunya, dia mengangkat kepalanya, melihat ke arah jendela kaca, salju telah turun, sebenarnya cukup indah namun tidak lama dia nikmati karena pintu itu kembali terketuk.
Dia menjejakkan kakinya ke lantai kayu itu, dia menggunakan sendal khusus kamar itu, lucunya sangat cocok dengan ukuran kakinya, mungkin ukurannya sama dengan milik ibu Jonathan.
Jenny berjalan menuju pintu, membukanya sedikit menemukan pelayan yang berdiri dengan tegaknya.
"Selamat siang Nona, Tuan Jonathan mengundang Anda untuk makan siang," kata pelayan itu sopan.
"Oh, baiklah, aku akan turun sebentar lagi," kata Jenny yang masih sedikit lemas karena harus tidur pagi seperti itu.
"Baik Nona, Tuan Jonathan dan Nona Chintia sudah menunggu Anda di ruang makan," kata Pelayan itu lagi mengingatkan, mungkin agar Jenny tak terlalu lama untuk datang ke ruang makan itu.
"Baiklah," kata Jenny lagi, dia segera menutup pintu itu, melirik sekilas pantulan dirinya dari kaca oval yang penuh dengan ukiran di kamar itu, melihat wajahnya yang sempurna namun terlihat sembab karena baru saja bangun tidur, dia harus menyegarkan dirinya dulu sejenak.
Jenny masuk ke dalam kamar mandi, membasuh wajahnya dan sedikit menyegarkan dirinya, setelah dia keluar, dia mengoleskan pewarna bibir agar tak terlalu pucat, rambutnya pun ditatanya sederhana saja, mengganti bajunya dengan baju yang lebih tebal karena dia tidak mungkin menggunakan mantelnya untuk makan siang ini, setelah itu dia baru melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
Dia turun perlahan, seorang pelayan menyambutnya di lantai bawah dan segera mengarahkannya ke sebuah ruangan yang tampak begitu nyaman, berbeda sekali dengan pemikiran Jenny yang merasa ruangan itu akan dingin, ternyata di sana cukup hangat, Jonathan sudah duduk di kursi makan yang cukup minimalis, mungkin karena memang keluarga mereka hanya beberapa orang, jadi meja makannya pun tak terlalu besar.
Chintia duduk di samping pria itu, Jenny yang baru masuk segera membuat seluruh perhatian ke arahnya, Chintia tersenyum manis menatap sepupunya itu, Jenny hanya membalasnya dengan sedikit senyuman tipis, tak melirik pada pria itu sama sekali, dia lalu duduk di depan Chintia.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Chintia lembut.
"Dingin pastinya," canda Jenny sedikit, membuat Chintia sedikit tetawa kecil.
"Sayang sekali Anxel tidak bisa ikut sekarang, kalau dia ikut pasti kau tidak akan kesepian," kata Chintia lagi.
"Ah, aku tidak kesepian, tenang saja, aku punya cara ku sendiri menikmati semuanya, pemandangan di atas juga sangat indah, jadi jika kalian punya acara atau pun sesuatu yang ingin kalian lakukan berdua, lakukan saja, tak perlu memikirkan aku, aku tidak akan mengganggu dan tak perlu khawatir dengan hal ini semuanya," kata Jenny menyakinkan Chintia dan Jonathan bahwa dia baik-baik saja walaupun pergi sendirian, lagi pula setelah menikah, bukannya di syarat pernikahan dirinya dan Anxel ada perjanjian untuk tidak saling menuntut, nantinya jika Jenny ingin liburan dan Anxel tak bisa, dia akan sering menikmatinya sendiri saja, dia harus mulai terbiasa dengan hal itu.
Chintia yang mendengar itu malah semakin sungkan, tak mungkin mereka melakukan hal sendiri tanpa Jenny, apalagi dia lah yang sudah mengajak Jenny kemari, namun dia tak melanjutkan percakapan ketika makanan hangat mereka datang, semenjak itu mereka langsung diam dan menyantap makanan itu, mungkin karena dingin, tubuh Jenny membutuhkan bahan bakar yang lebih banyak, hingga dia makan cukup banyak siang itu, setelah selesai mereka sejenak duduk untuk berbincang.
"Oh, katanya mungkin besok, dia sibuk, jadi aku harus menunggu setelah dia menyelesaikan seluruh pekerjaannya, pasiennya tentu lebih penting bukan? tapi tenang aku dan dia tetap saja berhubungan, nih, buktinya," kata Jenny menunjukkan ponselnya yang menunjukkan percakapannya dengan Anxel yang sebenarnya belum di balas oleh Anxel.
Jonathan melirik ponsel Jenny, melihat wallpaper ponselnya yang memperlihatkan foto Jenny dan Anxel saat pesta topeng itu, cukup mesra di sana, Jonathan mengambil air putihnya, mengalihkan pandangannya itu dari ponsel itu.
"Ah, lihat, kalian sangat cocok di foto itu, kalian memang pasangan yang sangat serasi, jika kalian menikah, aku yakin banyak wanita yang akan patah hati," kata Chintia gemas melihat wallpaper itu, Jenny melirik senang, memangnya kalian saja yang bisa tampak manis, bukannya di foto saja mereka terlihat begitu dekat, tunggu saja tanggal mainnya, Jenny pasti menunjukkan yang lebih dari itu semua.
"Ingin berjalan-jalan di sekitaran sini?" tanya Jonathan mengalihkan perhatian dan pandangan Chintia dari ponsel itu. Wajah pria itu terlihat datar dan dingin, dia bahkan tak melirik Jenny sedikit pun.
"Oh, bisakah? Sedang turun salju sekarang," kata Chintia melihat salju yang perlahan turun dari langit, tak tebal, malah indah.
"Tentu, aku bisa membawamu berkeliling dengan motor salju," kata Jonathan lembut, Jenny mendengarnya hanya menggulum bibirnya.
"Baiklah, oh, Jenny, ayo ikut," kata Chintia lagi.
"Eh, aku …. " kata Jenny, belum sempat dia menolaknya, Jonathan segera berdiri, memengang tangan Chintia dan sedikit menariknya.
"Motor saljunya hanya cukup untuk kita berdua, maaf Nona Jenny, kami pergi dulu," kata Jonathan menarik Chintia yang berwajah kaget dan cukup sungkan, Jenny hanya mengerutkan dahinya, tiba-tiba saja bersikap sedingin es seperti itu sih.
---***---
Jenny mengotak atik ponselnya di ruangan tengah lantai bawah, sebenarnya dari tadi Anxel masih tak bisa dihubungi, ponselnya tidak aktif, bukannya pria itu yang tadi mengatakan bahwa dia harus mengabarinya? Tapi setelah di kabari ternyata ponselnya malah tak aktif.
Jenny baru saja ingin keluar dari ruang tengah dan menuju kembali ke kamarnya namun sebelum itu dia harus melewati pintu utama dari vila itu, dia sedikit kaget melihat sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depan villa tersebut, Jenny mengerutkan dahinya, rasa penasarannya sedikit muncul, siapa yang datang? Bukan kah ini adalah Villa pribadi, jangan-jangan malah paman Liam yang datang, ini kan Villa nya, tentu dia bisa sesuka hatinya untuk datang kemari, kenapa Jenny tak pernah memikirkan hal itu ya?
Jenny baru saja mengurungkan niatnya untuk berjalan keluar dan segera berbalik masuk ke dalam Villa, saat ini tentu dia tak ingin dulu melihat Liam setelah apa yang dia lakukan pada bibinya, Liam juga berulang kali meminta maaf padanya, namun dia tak pernah menanggapinya, akan sangat canggung pastinya jika bertemu di sini, apalagi tahu kalau dia tidur di atas, di kamar dia dulu dengan istrinya.