
Jonathan membuka matanya perlahan, matanya berkunang, kepalanya sangat sakit terutama bagian belakang kepalanya yang hingga menjalar sampai ke tengkuk dan bagian punggungnya, hantaman balok Anxel ternyata tak main-main, untung saja tak menyebabkan hal berati pada dirinya.
Jonathan mencoba mengangkat kepalanya, tangan kanannya yang menangkis serangan tadi serasa mati rasa, saat dia mencoba mengerakkannya, rasanya seperti ada yang menusuk, sakit luar biasa bahkan Jonathan tak bisa menahannya, dia meringis kesakitan.
Mata berkunang Jonathan lalu menangkap tempat itu, hanya ada satu orang penjaga yang menjaganya, pria bertubuh kekar namun sedikit tambun itu tampak tertidur di sofa usang yang ada di sana, penjaga yang lain entah kemana, mungkin tidur di tempat lain, Jonathan mengansumsikan ini sudah tengah malam, terlihat dari celah-celah di dinding yang sudah tak lagi tembus matahari.
Jonathan terus meringis kesakitan berusaha untuk bisa meloloskan dirinya dari ikatan itu, namun dia tidak punya kekuatan yang lebih karena nyeri di tangannya yang luar biasa. Jonathan hanya sanggup melirik ke arah sekitarnya, dia menyimpulkan dia cukup lama tidak sadarkan diri, terbukti dengan bajunya yang sudah tak lagi basah, padahal terakhir dia bangun, dia di siram oleh air.
Jonathan hanya bisa terdiam, mencoba sekuat tenaga namun sepertinya sia-sia, dia tak bisa lagi bergerak, dia hanya pasrah, malah sekarang dia tidak lagi terikat di kursi, dia di ikat di sebuah tiang penyangga gubuk itu, tak mungkin baginya mematahkan tiang itu.
Saat Jonathan pasrah karena sakitnya tapi hatinya menolak, Jonathan kembali lagi mencoba, dia hanya ingin keluar dari sini dan segera menemukan Jenny, Jenny adalah pikirannya semenjak dia sadar, dia harus segera keluar, dia tak mau gara-gara dia Jenny akan menyesal seumur hidup, Anxel pasti sudah merencakan sesuatu, dia sudah berhasil memaksa Jenny bertunangan dengannya, dan Anxel pasti ingin segera mengikat Jenny kejenjang berikutnya, Jonathan lebih baik mati daripada harus melihat hal itu terjadi.
"Argh ... " kata Jonathan tanpa sadarnya, karena tangannya yang benar-benar sakit, di saat itu dia melihat sekelebat bayangan hitam yang berpindah dari pintu yang terbuka sedikit di dekatnya, Jonathan mengerutkan dahinya, tak percaya adanya hantu, dia lalu terus melihat ke arah celah pintu itu, kembali melihat sekelebat bayangan hitam, dia tahu pasti ada sesuatu dari sana.
Jonathan lalu melihat sesorang dengan pakaian lengkap ala militer bahkan membawa senjata, dia sedikit keluar kepalanya dari sana, mata mereka beradu, Pria dengan pakaian lengkap itu segera memberikan gestur untuk diam, Jonathan mengerti, tapi yang membuatnya tidak mengerti, siapa mereka yang ingin menolongnya? bagaimana mereka tahu Jonathan ada di sini.
Jonathan diam dan melirik ke arah penjaganya yang tidur, Jonathan memberikan sinyal pada orang yang sedang menunggu waktu untuk menyergap, ketika Jonathan mengangguk, mereka tahu itu adalah saat yang tempat untuk mereka masuk dan segera menyergap.
"JANGAN BERGERAK!" kata mereka langsung membuat penjaga Jonathan terbangun kaget, dia langsung mengambil ancang-ancang ingin melawan, namun langsung diurungkannya, melihat senjata SS2-V1 mengacung ke arah dirinya, sikap bertahannya berubah langsung melemah.
Dia semakin tak bisa berkutik melihat 4 orang temannya di seret masuk ke masuk ke dalam ruangan itu, sebagian sudah babak belur, semua tangannya sudah terborgol, satu orang dari mereka bahkan kakinya sudah tertembus timah panas, mereka sudah menyergap dan melumpuhkan semua penjaga di sana, ternyata tak begitu banyak, tampak sekali penyekapan ini tak terencana dengan matang dan hanya dilakukan oleh orang amatir.
"Amankan," kata Kolonel David langsung menyuruh prajuritnya, mereka segera melumpuhkan pria satu-satunya yang belum di borgol, dia langsung berjalan ke arah Jonathan, mengeluarkan pisau lalu memotong tali yang mengikat Jonathan pada tiang penyangga gubuk itu.
"Bagaimana keadaan Anda Tuan Jonathan?" tanya Kolonel David pada Jonathan.
"Aku tidak apa-apa," kata Jonathan berusaha berdiri, namun dia sedikit sempoyongan, mungkin karena pukulan di kepalanya, dia lalu melihat ke arah tangannya, jejas biru keungan terlihat jelas, sepertinya tangannya cukup parah cederanya.
"Anda jangan bergerak Tuan, sepertinya tangan Anda mengalami cidera yang cukup parah," kata Kolonel David mencoba untuk memeriksa tangan Jonathan, Jonathan mengerang nyeri saat Kolonel David memegan tangan Jonathan.
"Keluarga anda langsung memerintahkan kami, Tuan Raphael datang langsung setelah menerima kabar Anda disekap, dan beliau ingin dalang dari penyekapan anda juga ditangkap dan di hukum langsung," kata Kolonel David menjelaskan, tak lama dia langsung mengabarkan kepada Mayor Jendral Lucas bahwa misi penyelamatan sudah berjalan dengan baik.
Mendengar kabar yang disampaikan dan melihat semuanya dari layar yang terkoneksi di tempat mereka, mereka bagai melihat sebuah film aksi yang begitu menegangkan, namun setelah melihat semuanya selesai dan melihat Jonathan terlihat cukup baik, akhirnya mereka bisa bernapas lega.
"Apa yang akan kalian lakukan sekarang?" tanya Jonathan yang langsung ingin tahu.
"Yang pasti kami akan mengamankan Anda dulu, setelah itu kami akan menjebak Tuan Anxel agar dia tidak bisa berkutik, Tuan saya rasa tangan anda harus segera memerlukan penanganan, serahkan semua ini pada kami," kata Kolonel David, Jonathan hanya diam, sedikit mengangguk, sakit kepalanya cukup nyeri.
"Dari mana di antara kalian adalah ketua kelompok ini?" tanya Kolonel David dengan suara tegas mengelegar khas tentaranya. Mendengar itu mereka segera melihat ke arah satu orang, pria tambun yang tadi menjaga Jonathan.
"Baiklah, sekarang telepon Tuanmu, katakan bahwa ada masalah, Tuan Jonathan mengalami kejang-kejang, suruh dia untuk datang melihat ke keadannya," kata Kolonel David langsung, pria itu yang sudah tampak pucat itu hanya mengangguk, dia mencoba untuk mengeluarkan ponselnya, salah satu prajurit lalu segara mengambilnya dengan kasar,dia segera membantu membuka ponsel pria itu, mencari nomor ponsel Anxel lalu meletakkanya di dekat bibir pria itu.
Kolonel David segera memberikan gestur pada semua orang untuk diam, Jonathan pun hanya diam, tiba-tiba suasana terasa sedikit tegang, suara ponsel itu di loudspeakerkan, setelah beberapa kali nada sambung, panggilan itu dijawab.
"Tuan Anxel," kata pria itu sedikit dengan nada gugup, matanya memandang Kolonel David yang juga memandanganya dengan tatapan begitu menyeramkan.
"Apa yang kau lakukan, kau tidak tahu ini jam berapa?" tanya Anxel sedikit marah tidurnya terganggu.
"Tapi ada yang gawat, tiba-tiba saja Tuan Jonathan kejang-kejang, apa yang harus kami lakukan?" kata pria itu panik, bukan panik karena memang dia pintar untuk bersandiwara, karena Kolonel David menempelkan muncung senapan SS2nya langsung ke pipi pria itu, hal itu sukses membuatnya panik bahkan langsung berkeringat dingin, satu kali muntahan dari senjata itu, dan dia akan mati seketika.
"Kejang-Kejang?" tanya Anxel yang langsung membuka matanya, itu pasti karena pukulannya di area kepalanya tadi, sial, bagaimana jika Jonathan sampai mati, itu bisa sangat menyusahkannya.
"Apa kami harus membawanya ke dokter?" tanya pria itu lagi, membaca tulisan yang diberikan oleh Kolonel David dari ponselnya karena mendengar Anxel tak kunjung menjawab.
"Apa kau gila, jika dia berpura-pura dan nantinya dia di bawa ke dokter, dia akan melarikan diri dan bisa membuat kita susah, apa obat yang aku berikan untuk membuatnya tidak siuman tadi masih ada?" tanya Anxel.
"Sudah tidak ada, kami menyuntikkannya sisanya, dan dia masih saja tidak tenang, bagaimana ini Tuan, apa kita habisi saja?" tanya pria itu lagi, mengikuti instruksi Kolonel David.