Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
Bab 36 - Mari membicarakannya nanti.



Mobil yang membawa mereka segera berhenti di depan rumah baru mereka di Royal Palace, melihat pintu gerbang terbuka, Aurora yang sedang duduk di ruang tengah rumah itu segera bangkit dan melihat kedatangan mereka, mobil sedan itu berhenti tepat di gerbang utama rumah tersebut, di belakangnya sebuah mobil Masserati Granturismo Convertile berwarna putih yang dilajukan oleh Anxel berhenti juga.


Pintu terbuka, Jenny dengan gontai turun dari mobilnya, Aurora yang melihat anak perempuannya itu segera tersenyum manis, Jenny segera berhambur ke arahnya, memberikan pelukan hangat pada bibi yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.


"Bibi senang kau sudah pulang," kata Aurora lembut, membenarkan rambut Jenny yang jatuh ke wajahnya.


"Iya, Bibi," kata Jenny.


Jofan segera bergabung, berdiri di sisi istrinya, Anxel pun mendakiti mereka, Jenny hanya meliriknya malas.


"Selamat pagi Bibi," kata Anxel menyapa Aurora.


"Selamat pagi, terima kasih sudah ikut menjemput Jenny, mari kita masuk dulu," kata Aurora sebenarnya hanya basa-basi saja, tanpa Anxel pun, Jofan bisa menjemput anaknya ini sendiri.


Mereka segera masuk ke dalam rumah itu, Jenny duduk di samping Aurora, Jofan duduk di kursi tunggal di tengah, sedangkan Anxel duduk di depan Aurora dan Jenny, teh hangat segera terhidang untuk menyambut mereka semua, memang masih cukup pagi di sana.


"Paman dan Bibi, saya ingin tahu tentang pertemuan esok hari, bagaimana?" tanya Anxel sedikit sungkan melihat Jofan dan Aurora. Aurora melirik ke arah suaminya.


"Pertemuaan apa?" tanya Jenny bingung, dia tidak tahu jika esok ada pertemuan.


"Ayahku berencana untuk melakukan pertemuan dengan keluargamu untuk mempertegas hubungan kita," kata Anxel segera.


"Benarkah? begitu cepat?" kata Jenny yang cukup kaget, jika mungkin hal ini di beritahukan oleh Anxel sekitar 2 hari yang lalu, Jenny pasti akan cukup semangat mendengarnya, tapi dalam waktu 2 hari saja semua sudah berubah, dia bahkan tak ingin cepat-cepat bertunangan bahkan jika bisa tak jadi sama sekali, namun masalahnya hubungannya sudah sampai pada keluarga masing-masing.


"Putriku - sepupu Jenny, akan menikah sebentar lagi, jadi saat ini kami sedang sibuk dengan urusan pernikahan itu, katakan pada ayahmu bahwa mungkin hal ini tidak bisa secepatnya kami lakukan dahulu, jika berkenan, kita akan membicarakan tentang hubungan kalian setelah pernikahan putriku dengan pangeran Archie," kata Jofan yang segera memotong arah perbincangan ini, merasa harus ada pembicaraan lebih lanjut tentang hal ini pada Jenny, setidaknya itulah saran dari istrinya.


"Benar, lagi pula kalian baru saja berhubungan bukan, tak perlu buru-buru untuk segera bertunangan dan menikah, bawalah Jenny dulu untuk bertemu dengan keluargamu, saling mengenal akan lebih baik karena menikah bukan untuk hanya sekejab bukan?" kata Aurora yang segera menyambung perkataan Jofan, merasa hal ini terlalu terburu-buru, tahu sekali bahwa suaminya pasti sangat setuju dengan hubungan ini, tapi ... entah kenapa dia masih belum bisa menerima hubungan ini.


"Ya, lagi pula aku masih terlalu lelah, " kata Jenny yang segera mengiyakan apa yang dikatakan oleh paman dan bibinya, mungkin kalau ini terjadi 2 hari yang lalu, dia akan segera membatahnya dan ingin paman dan bibinya cepat melakukan pertunangan mereka, Jofan dan Aurora segera melempar pandang mereka ke Jenny, bahkan Jofan sampai mengerutkan dahi, merasa Jenny cukup berbeda, biasanya apa yang dia inginkan harus dia dapatkan segera, tak suka penundaan sama sekali, tapi ini?


"Baiklah, aku akan mengatakannya pada keluargaku," kata Anxel yang mencoba tetap tersenyum walaupun dia merasa sedikit kecewa, ini merupakan penolakan halus dari keluarga Jenny untuknya.


"Maafkan kami, setelah semua urusan pernikahan ini selesai, kami akan segera menfokuskan kepada hubungan dirimu dan Jenny," kata Jofan lagi.


"Aku pergi dahulu," kata Anxel dengan senyuman manisnya, Jenny hanya membalasnya dengan senyuman tipis, saat Anxel berpaling, Jenny juga sudah hendak kembali ke dalam rumah, namun ternyata Anxel kembali melihat ke arah Jenny, "Jenny?"


"Hmm?" jawab Jenny, kembali mengarahkan tubuhnya ke Anxel.


"Masih ingat yang aku katakan?" tanya Anxel.


"Tentang apa?"


"Tentang kau sekarang adalah calon istriku dan bagaimana kau harus bertindak?" tanya Anxel dengan senyuman tipis, Jenny yang mendengar itu sedikit terdiam, dia lalu memandang wajah Anxel yang masih menyungingkan senyum yang malah mengganggu buat Jenny.


"Ya, aku masih ingat, tenang saja," kata Jenny lemah, dia mencoba memberikan senyumannya namun ternyata tak bisa.


"Baiklah, aku hanya mengingatkan, baguslah jika kau masih ingat," kata Anxel lagi mendekatkan dirimya ke arah Jenny, memberikan kecupan hangat pada dahi Jenny, setelah itu dia baru berbalik dan segera masuk ke dalam mobilnya, mobilnya segera melaju meninggalkan Jenny yang berwajah muram melihat mobil itu menjauh darinya.


Jenny lalu segera masuk ke dalam rumahnya, berjalan dengan gontai menuju ke kamarnya, dia segera memutuskan untuk membersihkan tubuhnya yang dari semalam belum dia bersihkan, ternyata setelah menyegarkan dirinya pun, perasaannya tidak membaik.


Jenny duduk di pinggiran ranjanganya, menatap ke arah ponselnya yang tidak ada apa-apa, apakah dia harus menghubungi Jonathan duluan? tapi rasanya itu benar-benar bukan Jenny, dia tak pernah menghubungi pria duluan, tapi ... di sisi lain, dia juga ingin tahu, pria itu sekarang ada dimana dan sedang apa di sana?


Jenny memutuskan untuk mengetikkan pesan yang mengatakan bahwa dia sudah sampai di rumah dan menanyakan keberadaan Jonathan, namun saat dia ingin mengirim pesannya, dia masih sangat ragu, tapi sepertinya sekarang rasa ingin tahunya lebih besar dari pada egonya, jadi dengan menutup matanya, Jenny menekan tombol kirimnya, saat dia membuka matanya, dia merasa jantungnya kembali berburu, ah, dia seperti anak remaja yang baru mengirimkan pesan pada pria yang dia incar.


Dahi Jenny mengerut mendapatkan bahwa ternyata pesannya tak terkirim, Jenny mengerucutkan bibirnya, kenapa tak terkirim? kemana pria itu?


Jenny sedikit frustasi memikirkannya dia bahkan sampai berdiri dan mondar-mandir melihat ponselnya , namun tiba-tiba pintu kamarnya diketuk seseorang, mungkin karena kaget, Jenny buru-buru membukanya.


"Bolehkah Bibi masuk?" tanya Aurora lembut sambil membawakan senampan roti panggang dan juga susu hangat untuk sarapan Jenny.


"Ya, silakan Bibi'" kata Jenny sambil membuka pintunya lebih lebar. Aurora masuk dan segera meletakkan roti itu di meja dekat dengan sofa yang ada di kamar Jenny, Aurora lalu melihat ke arah Jenny yang tersenyum tipis, merasakan aura yang sedikit berbeda dari Jenny setelah dia pulang dari liburannya ini.


"Sarapan lah dulu," kata Aurora yang duduk di sofa itu, Jenny pun duduk di samping Aurora dan mengambil roti bakar yang disediakan oleh Aurora.