Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!
85



Jenny hanya menggigit bibirnya, memainkan jari jemarinya, memandang mata seindah safir itu, walaupun Jonatan sudah ada di sini, namun ragu itu masih ada.


"Ada apa?" kata Jonathan yang menangkap sikap ragu itu, jarang sekali terlihat di mata Jenny selama dia mengenalnya.


Jenny hanya diam saja, kembali mengamati Jonathan yang sekarang mengerutkan dahinya, 2 tahun mereka berpisah, tak ada perubahan berarti dari pria di depannya, hanya gaya rambutnya saja yang berubah sedikit yang lainnya tetap sama, seolah dia tak tergerus oleh waktu.


Jenny sedikit mengulum senyumnya, Jonathan semakin penasaran dengan sikap misterius yang ditunjukkan Jenny.


"Sebenarnya ada apa?" tanya Jonathan, "kau tak senang dengan kedatanganku?"


Jonathan merasa sikap Jenny bukanlah penyambutan yang dia inginkan, Jonathan tahu sudah 2 tahun dia tak berhubungan dengan wanita ini, tak ada yang menjamin dia tak akan berubah, penampilannya saja berubah, apa mungkin juga perasaanya?


"Aku hanya ragu, 2 tahun itu waktu yang lama, banyak yang berubah di sekitar kita atau mungkin kita, aku sedikit ragu, apakah sekarang kau masih bisa menerimaku atau tidak?" tanya Jenny perlahan, sedikit bijak terdengar.


Jonathan mengerutkan dahinya lebih dalam, alasan Jenny sebenanya masuk akal, tapi bagi Jonathan bahkan jika Jenny sudah berubah 180 derajat, dia akan tetap menerimanya.


"Aku tak peduli, asalkan perasaanmu padaku tetap sama, maka aku akan tetap menerimamu," ujar Jonathan dengan suara beratnya.


Jenny tersenyum simpul, tipis namun manis sekali, kali ini dia tak lagi melihat mata safir itu, tak tahu, ada kesedihan ketika melihat hal ini, trauma masa lalu dan sakitnya cinta itu masih menghantuinya.


"Bagaimana jika perasaanku yang berubah?" tanya Jenny lagi, seketika membuat Jonathan terdiam. Benar, bagaimana jika perasaan wanita ini berubah, menaklukkannya adalah hal yang paling sulit yang pernah Jonathan lakukan dan dalam dua tahun, siapa yang menjamin cintanya hanya pada Jonathan.


Jonathan berdiri, berjalan mendekati Jenny, dia sedikit menunduk mensejajarkan dirinya pada Jenny, Jenny menggigit bibir dalamnya, nyatanya wajah pria ini begitu dekat dengannya sekarang, detak jantungnya yang selama ini tenang, kembali tak beraturan, membuat napasnya berat seketika.


"Katakan, apa yang kau rasakan?" kata Jonathan, matanya bergerak-gerak menganalisa wajah Jenny, menatap wajah Jenny yang memanas, hembusan napas segar itu menerpa wajahnya, membuat Jenny sesak napas seketika.


"Sudah aku bilang aku tak butuh kata-kata, sekarang aku yakin, kau masih mencintaiku," kata Jonathan seolah berbisik pada Jenny, bibirnya memang bisa mengatakan tidak, namun tubuh Jenny sendiri yang mengatakan bahwa cintanya masih milik pria ini, wajah merah padamnya.


"Ayo, kita pulang," ujar Jonathan tersenyum puas.


Jenny menghela napasnya, dia lalu segera melihat Jonathan kembali.


"Aku tak bisa pulang," kata Jenny pelan, Jonathan kembali mengerutkan dahinya, menatap pada wajah cantik Jenny.


"2 tahun, aku sudah pergi meninggalkan semuanya, menurutmu keluargaku akan menerima bahwa ini semua adalah keputusanku untuk pergi? saat mereka tahu aku pergi bukan karena kecelakaan tapi karena kemauanku, mereka pasti marah besar karena sudah merasa ditipu 2 tahun ini, ini duniaku sekarang, aku rasa aku akan tetap di sini sekarang," kata Jenny menolak, Jenny berdiri hendak menghentikan pembicaraan ini lebih lanjut, perasaan Jenny sekarang campur aduk, dia membencinya, dia tak suka dengan situasi ini lagi.


Namun, baru beberapa langkah, tangan Jenny segera ditarik oleh Jonathan yang segera menariknya, memposisikan Jenny menghadap ke arahnya, dia memegang bahu Jenny.


"Katakan padaku dimana gadis yang selalu menggunakan logikanya, bukan perasaanya?" tanya Jonathan tajam.


"Gadis itu sudah tidak ada lagi, terakhir kali aku menggunakan logikaku, semuanya jadi kacau, aku sudah tenang di sini, aku bahagia ada di sini," kata Jenny yang ingat, saat dia mementingkan logikanya, dia bermasalah dengan Anxel dan hampir membuat pria ini kehilangan nyawanya. Jonathan terdiam, menatap dalam pada wajah Jenny.


"Kau tahu, itu sangat egois, Kau sangat egois, kau bahagia di sini tapi kau tidak memikirkan bahwa kepergian mu ini sudah melukai hati banyak orang yang menyayangimu, pernahkan kau berpikir bagaimana keadaan paman dan bibimu sekarang? mereka sangat sedih kehilangan putri mereka, bibimu bahkan setelah 2 tahun, setiap hari tidak ada waktu dimana dia tidak memandangi fotomu, Pamanmu walau berusaha tetap tegar, namun dia bahkan tak bisa mengucapkan namamu, karena dia pasti akan segera murung karena mendengarnya," kata Jonathan akhirnya mengeluarkan emosinya pada Jenny, tak dipungkiri, rasa kesal itu terselip diantara rindu dan cintanya, apalagi ketika Jenny dengan gampangnya mengatakan dia tak akan pulang hanya karena merasa senang ada di sini.


Jenny terdiam, dia tak menyangka setelah kepergiannya mereka ternyata sesedih itu, padahal Jenny berpikir setelah putri kandung pamannya datang, maka mungkin kehilangan dirinya tak akan menjadi Masalah besar bagi mereka, apalagi dia sempat mendengar kabar tentang cucu mereka yang baru lahir, Jenny merasa keberadaannya tak akan diperhitungkan lagi.


"Lalu bagaimana denganku? pernahkah kau berpikir apa yang akan terjadi padaku? bagaimana perasaanku saat aku bangun dari koma, dan orang yang sangat ingin aku temui pertama kali malah menghilang tanpa jejak sama sekali, pernahkah kau bayangkan bagaimana sakitnya saat kita berjuang diantara hidup dan mati untuk bisa kembali, namun yang menjadi alasanku untuk kembali bahkan tak bisa aku temui selama 2 tahun ini? bagaimana bisa kau meninggalkanku?" tanya Jonathan bahkan mengguncang tubuh Jenny yang lagi-lagi hanya bisa terdiam.


"Jawablah aku!" kata Jonathan sudah tak bisa menahan kesalnya.


"Saat itu keadaanku sangat terjepit, aku tak punya siapapun yang bisa aku percaya, aku pergi agar kau bisa selamat dan mereka tak bisa menyiksamu, apalagi aku mendengar bahwa kehidupan keluarga kalian semuanya aman sebelum aku datang, karena itu aku putuskan untuk pergi dari kalian semua," kata Jenny yang akhirnya bisa menjawab dengan Isak tangisnya. Emosi Jonathan turun seketika menyaksikan tetasan air mata itu, dia pasti tahu, Jenny sangat tersiksa saat itu


"Kau tahu, dari semua siksaan mereka, kepergianmu lah yang paling parah menyiksaku, aku tak menyalahkanmu untuk pergi, tapi jika kau tetap memilih untuk tinggal dan kabur dari kehidupanmu, percayalah aku tak akan memaafkanmu selamanya," lembut Jonathan mengatakannya, Jonathan menghapus lembut air mata yang mengalir di pipi halus gadisnya itu, Jenny hanya menatap ke arah Jonathan dengan sendu, membuat air matanya malah tak bisa terbendung kembali, membuat Jonathan kembali menarik wanita itu dalam pelukannya, membagi hangat tubuhnya, namun hangatnya sampai ke hati Jenny.


"Lagi pula jika memang kau bersikeras tidak ingin pulang, maka aku yang akan tinggal di sini," kata Jonathan, Jenny mengerutkan dahinya, bukan itu yang dia inginkan, Jonathan benar-benar tak berubah.


"Kenapa?" kata Jenny bingung.


"Karena walau bagaimanapun kau menolakku, aku akan tetap mengejarmu, sudah ku bilang aku akan menangkapmu, walau aku harus mengulanginya terus menerus," kata Jonathan bersikukuh, Jenny hanya bisa tersenyum manis.


"Kau dan Chintia ...." kata Jenny ragu.


"Menikah? tidak aku tak pernah menikahinya, aku sudah katakan, aku tidak akan menikahinya, maka aku tidak akan merubah keputusanku, aku hanya ingin menikahimu, semua Malasah yang kau takuti sudah tak ada lagi, mereka tak akan bisa menyakiti kita lagi," ujar Jonathan lembut, Jenny mendengar gombalan itu, lagi-lagi hatinya merasa kembali hangat, "Pulanglah denganku."


Jenny mengangguk pelan, lagi pula tak ada lagi alasannya untuk tetap pergi.